Nillaku

Nillaku
Nillaku 94


__ADS_3

Tidak lama Jhico pergi lagi ke klinik, Joana tiba di apartemen sahabatnya. Tanpa menunggu waktu lama, Vanilla langsung menyambutnya.


Joana dipersilahkan duduk. Sementara Vanilla langsung sibuk mengeluarkan beberapa yang akan dipromosikannya.


"Sebanyak ini, Van?"


"Iya, sampai pihak keamanan bilang 'Nona, ada banyak kiriman seharian ini. Banyak sekali yang baik hati pada Nona,' sepertinya beliau tidak tahu kalau pekerjaan ku memang akan menerima banyak kiriman untuk dipromosikan,"


"Sekarang aku paling senang kalau dapat makanan," lanjut Vanilla.


"Bisa kamu makan ya?"


"Iya, banyak makanan yang enak, aku lebih semangat promosi,"


Vanilla menunjukkan berbagai makanan dari banyak brand. Ada juga yang Ia keluarkan dari lemari pendingin. "Ini salad buah banyak sekali. Kemarin datang, tadi saat kuliah aku lupa membawanya untukmu. Nanti kamu bawa pulang, Joana."


"Aku tidak menolak, terima kasih. Aku juga paling senang kalau kamu endorse makanan, aku pasti kebagian,"


Tawa mereka berdua terdengar. Ternyata hobi kedua sahabat itu sama. Suka makan, tapi badan tidak gemuk-gemuk. Vanilla mulai terlihat gemuk semenjak hamil saja. Dulu sebanyak apapun dia mengemil tetap saja berat badannya tidak berubah.


"Apa yang mau kamu makan, makan dulu, Joana. Kita foto nya santai saja. Anggap photoshoot sendiri,"


"Aku yang jadi fotografer nya jadi santai. Benar tidak?"


"Benar sekali. Tapi kamu sudah selesai mengantar waffle?"


"Tentu saja sudah,"


"Yeaayy artinya kamu bisa lama di sini?"


"Ya tidak juga,"


"Hih kenapa?"


"Ini bukan rumahku,"


Vanilla berdecak seraya mendorong bahu Joana yang sedang terkekeh. Joana tampak menikmati makanan yang disediakan oleh Vanilla. Banyak sekali karena terdapat makanan untuk endorse juga.


Setelah merasa kenyang, barulah Joana siap dengan kamera nya dan Vanilla sudah memakai satu dress pantai.


"Astaga, ini bagus sekali. Apalagi kalau dipakai dengan tubuh yang ramping,"


"Kamu masih ramping,"


"Ah bisa saja kamu. Memakai baju ini, aku jadi ingin ke pantai,"


"Buat pantai sendiri coba. Bisa tidak?"


"HAHAHAH,"

__ADS_1


"Gila kamu ya. Mau menikah malah stress begini. Seperti Jane saja,"


"Aduh kamu mengingatkan aku dengan perjodohan itu lagi,"


Joana menghentikan pembahasan. Ia segera menyuruh Vanilla berpose di set yang sudah disiapkan. Mengingat Vanilla adalah seorang model sekaligus orang yang bekerja di bidang pemasaran, Vanilla memiliki satu ruangan khusus untuknya berfoto. Di sana sudah disetting sedemikian rupa agar saat ada foto sendiri di apartemen, Vanilla tidak perlu sulit lagi menyiapkannya. Ada properti juga yang turut meramaikan set foto. Jhico menjadi orang yang begitu setia mendampingi Vanilla dalam menyiapkan semua itu saat hari pertama Vanilla tinggal di apartemen itu.


"Kalau perutmu sudah besar sepertinya Deni akan menghentikan kamu untuk sementara waktu, Van."


"Jhico juga tidak mengizinkan aku. Saat perutku semakin besar, kegiatan permodelan akan dihentikan. Tapi untuk endorse ini tetap,"


"Iya, karena aku yakin nanti semakin banyak brand yang menjual perlengkapan bayi, atau kebutuhan kamu menjelang persalinan yang ingin menggunakan kamu sebagai media promosi,"


Vanilla sudah berganti baju. Yang kali ini Vanilla pakai adalah pajamas untuk tidur. Tidak hanya ukuran dewasa yang dikirimkan, untuk anak bayi pun ada. Vanilla yang melihatnya menjadi gemas sendiri.


Vanilla senang karena beberapa brand yang menjual pakaian couple untuk Ibu dan anak menjadikan Ia sebagai media promosi. Dengan begitu, Ia bisa menambah koleksi baju yang sama dengan anaknya.


Setelah Vanilla kembali mengganti baju, pajamas yang couple itu, Joana foto lagi. Karena anak Vanilla belum lahir jadi belum bisa dipakai sementara mereka harus mempromosikan semua ukuran.


"Sekarang kita akan berfoto dengan tas dari brand yang juga aku sukai koleksinya,"


Vanilla berseru senang. Ia mengganti baju dengan tema yang semi formal menyesuaikan model tas nya.


Meskipun sedang mengandung, Vanilla tetap lihai memperlihatkan bakatnya dalam menarik perhatian orang. Perut yang mulai membesar tidak menjadi penghalangnya untuk berpose di depan kamera.


Dengan tas yang harganya cukup menguras saku, sepatu boot yang lumayan tinggi, dan blazer berwarna hitam serta inner berupa kaus putih, Vanilla tampak menawan. Ia tepat sekali menjadi media iklan untuk tas yang brand nya cukup ternama itu.


"Tidak salah aku menjadikan kamu sebagai model idolaku," ucap Joana dibalik kamera yang akan dia bidik ke arah Vanilla.


Vanilla berkata seraya tertawa kecil. Ia sengaja memasang raut haru hingga Joana terkekeh.


*****


Di sela pekerjaannya, Jhico membuka sosial media yang jarang sekali terjamah olehnya. Karena Vanilla mengatakan hari ini akan foto endorse, jadi Ia membuka sosial media dimana istrinya memposting foto.


Vanilla baru memposting dua jam yang lalu. Setelah melihat-lihat fotonya, Jhico penasaran dengan orang-orang yang diikuti balik oleh Vanilla. Ia baru sadar kalau Vanilla tidak mengikutinya.


Jhico terkekeh kecil dan tidak mempermasalahkan. Sejak awal menikah Ia sudah mengikuti Vanilla dan entah Vanilla menyadarinya atau tidak. Dan mungkin alasan Vanilla tidak mengikutinya balik karena Ia jarang aktif di sosial media. Sekalinya aktif hanya untuk melihat kegiatan Vanilla. Ia seperti mata-mata.


Saat sedang berkutat dengan ponsel, Ghea, perawat di kliniknya mengetuk pintu ruangannya. Jhico menyuruh Ghea untuk masuk.


"Dokter, ada teman-teman Dokter yang datang,"


"Siapa?"


"Yang pernah bekerja di rumah sakit yang sama dengan dokter dulu, katanya."


"Oh mereka, okay aku akan keluar,"


Denaya, Vander, Nares, dan Fenelly menatap seluruh penjuru klinik. Mereka berdecak kagum melihat kesuksesan Jhico dalam membangun klinik ini dari nol. Mereka tahu betul perjuangan Jhico selama ini yang sering berganti-ganti tempat kerja karena selalu dikejar oleh kakeknya. Arlan selalu membeli saham dimanapun Jhico bekerja sehingga Jhico merasa terkekang.

__ADS_1


"Mimpi apa aku semalam didatangi kalian semua?"


Mereka saling memeluk setelah Jhico keluar dari ruangannya. "Kita berbincang di ruanganku saja, lebih privasi. Di sini---"


Jhico melirik keadaan sekitarnya lalu berujar pelan, "Ada pasien."


Kondisi klinik memang tidak sepi. Ada beberapa pasien yang sedang duduk usai diperiksa oleh Jhico. Sepertinya mereka menunggu panggilan petugas apotek juga untuk menerima obat.


Jhico mengajak mereka ke ruangannya. Mereka semakin dibuat kagum dengan Jhico yang ruangannya sama seperti di rumah sakit dulu, sederhana sekalipun di sini Ia lah pemiliknya.


Jhico segera meraih ponselnya untuk memesan makan dan minum. Setelah itu, Ia mulai berbincang.


"Kalian tidak tugas hari ini?"


"Jam tugas kita beda-beda hari ini,"


"Bisa kompak begini ya?"


"Bisa lah, kita sudah sepakat. Yang terakhir lepas tugas tadi Denaya. Kita menunggu Denaya, barulah berangkat ke sini,"


"Terima kasih sudah meluangkan waktu istirahat kalian untuk datang ke sini. Aku tidak menyangka kalian datang. Ternyata masih ingat aku ya?"


"Gila kau. Tentu saja masih. Siapa yang bisa melupakan dokter idola di rumah sakit?"


"Hahhaah bisa saja. Sekarang aku bukan lagi idola di sana,"


"Idola di klinik sendiri?"


"Aku tidak merasa begitu. Tapi mungkin iya," ujar Jhico dengan wajah yang dibuat angkuh. Lelaki itu menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan.


"Aduh, Co. Jangan begitu gayamu. Aku semakin sulit move on nanti,"


"Ingat kekasihmu hey!"


Fenelly mendorong bahu Denaya yang baru saja bicara seperti itu dengan nada bercanda. "Kamu bekerja sendiri di sini? aku boleh ikut bergabung tidak?"


"Astaga, Denaya! Sinting perempuan ini,"


"Aku bisa membantu Jhico. Memang apa salahnya?"


"Salah! karena kamu tidak akan benar-benar bekerja di sini,"


Tawa Denaya meledak setelah mendengar ucapan Ibu satu anak itu. Fenelly tahu betul betapa kuatnya pesona Jhico hingga Denaya yang sudah memiliki kekasih masih suka lupa dengan status Jhico sekarang.


"Hmmm kebetulan sudah ada dokter lain juga di sini. Aku tidak sendiri," Jhico bicara jujur. Ada dokter Kenzo yang membantunya.


"Penolakan yang begitu nyata, Denaya. Kamu tidak diinginkan. HAHHAHA,"


"Sialan kau, Fen."

__ADS_1


-------


Kl ada si Nilla pasti dia bilang 'canda lu ga lucu!'🤣 santay aja sist, Si Den udh pny doi wkwk


__ADS_2