
Vanilla dan Jhico sudah sampai di penginapan. Tetapi mereka memutuskan untuk langsung beristirahat sebelum menjelajahi negara ginseng itu.
Sebenarnya Vanilla sudah tidak sabar ingin keluar dari hotel, tapi karena suaminya menyuruh istirahat yang mana hal itu untuk kebaikannya, maka Ia tak ingin membantah.
"Hot matcha, mau tidak?"
"Mau-mau," Jhico antusias menjawab pertanyaan istrinya.
"Hubungi petugas hotel saja, Nilla. Biar kamu jangan----"
"Aku bisa buat sendiri,"
Minuman sejenis teh, susu dan yang lainnya sudah disiapkan pihak hotel. Tapi bila memang membutuhkan bantuan mereka untuk membuatkannya, tidak masalah.
Vanilla beranjak ke meja bar untuk membuat matcha. Sementara di kamar, Jhico sedang menerima panggilan video dari Devan di ponsel istrinya.
"Sudah sampai? Vanilla dimana?"
"Sudah, sedang membuat minuman hangat,"
"Kalian datang ke sana di musim yang kurang tepat,"
"Iya, benar sekali. Keluar dari pesawat langsung terasa menusuk dinginnya karena musim di sini,"
"Okay, selamat berlibur untuk kal---"
"Uncle, bagaimana perjalanan nya? Uncle dan Aunty baik-baik saja 'kan?"
Adrian yang berbaring di samping Devan memunculkan wajahnya di layar. Seperti biasa, setiap kali berkomunikasi dengan orang lain di ponsel selalu saja Adrian mengganggu nya.
"Perjalanan kami menyenangkan,"
"Syukurlah, semoga adik bayi senang diajak berlibur,"
"Ya, itu pasti."
"Jangan lupa bawakan aku----"
"Aku tutup teleponnya, Jhi."
Tut
Tut
Tut
Setiap dia tahu orang terdekatnya berlibur, selalu minta dibawakan buah tangan. Tanpa diminta juga pasti dibawakan. Apalagi Vanilla adalah aunty yang sangat baik pada keponakannya.
Jhico terkekeh kecil, membayangkan Adrian yang tengah memarahi Devan karena menyelesaikan panggilan seenaknya padahal Ia belum selesai bicara. Pasti anak itu lucu sekali ketika berceloteh pada Daddy nya.
Vanilla kembali memasuki kamar, Ia mengerinyit saat melihat suaminya terkekeh sendiri.
"Kamu sampai di sini tidak menjadi gila 'kan, Jhi?"
"Aku baru saja berbicara dengan Adrian,"
"Anak itu menelpon mu?"
"Devan menghubungi mu lalu kami berbicara sebentar sebelum Adrian mengambil alih ponsel Devan,"
"Oh begitu. Aku jadi merindukan Adrian,"
"Tadi dia mengatakan jangan lupa bawa buah tangan setelah pulang dari sini,"
__ADS_1
"Itu pasti. Aku tidak pernah lupa dengan yang satu itu. Masalah buah tangan, jangan ragukan aku. Aku tidak akan lupa dengan mereka yang di sana,"
"Makan malam di dalam hotel atau di luar, Nilla?"
"Terserah padamu saja,"
"Kita makan di luar. Street food seperti nya lezat untuk dinikmati malam-malam begini,"
"Yeaayy akhirnya keluar,"
"Pakai baju yang hangat ya,"
Vanilla mengangguk. Saat ini Ia hanya mengenakan baju tidur berlengan panjang dan juga celana stelan nya yang panjang. Tapi tetap terasa dingin bila hanya memakai itu di luar. Akhirnya Vanilla menggunakan coat yang cukup tebal berwarna merah muda. Sementara Jhico juga melapisi kaus nya dengan coat berwarna cokelat.
*******
Vanilla dan Jhico membeli hotteok, sejenis pancake dan digoreng. Memiliki isi berupa madu, kacang, dan juga biji wijen.
"Hmm lezat..."
Jhico terkekeh melihat Vanilla yang tidak sabaran sekali mencicipi. Vanilla mengulurkan hotteok pada suaminya untuk ikut mencicipi.
"Aku juga punya. Tapi nanti di hotel saja makan nya,"
"Ya sudah, cicipi dulu hotteok punyaku,"
Jhico menurut, Ia membuka mulutnya untuk mencicipi. Ia mengangguk seraya mengangkat ibu jarinya.
"Lezat ya,"
Sembari berjalan mencari makanan yang lain, Vanilla menghabiskan hotteok nya yang sisa sedikit. Ia semangat sekali menghabiskannya.
"Wah kalau ada Adrian, dia pasti suka sekali dengan ini,"
Jhico terkekeh menyetujui. Tak bisa dibayangkan akan seantusias apa Adrian bila datang ke sini karena banyak sekali tipe makanan yang dia sukai.
Mereka berjalan sembari berbincang kecil. Ketika asik mengobrol, ada makanan yang menarik perhatian Vanilla.
"Bentuknya menggemaskan sekali,"
Vanilla membeli kue berbentuk ikan yang isinya adalah kacang merah dan rasanya manis bernama bungeoppang.
Jhico hanya memperhatikan istrinya makan. Bahagia saja melihat Vanilla begitu menikmati perjalanan mereka kali ini.
"Kamu tidak mau beli yang lain?"
"Aku bingung, semua terlihat lezat,"
"Ah kamu rakus juga ternyata,"
"Ya, rakus. Tapi aku hanya mencicipi sedikit hotteok milikmu,"
"Oh maksud mu aku yang rakus ya? karena aku sudah makan banyak jenis makanan di sini?" Vanilla bertolak pinggang menatap suaminya yang sudah terkekeh geli. Tanpa disindir keras, Vanilla sudah sadar.
"Aku tidak mengatakan kamu rakus,"
"Tapi aku tahu maksud kalimat mu. Ya, aku memang banyak makan," ujar Vanilla dengan raut merajuk. Bibir perempuan itu mengerucut. Jhico segera mengusap pipi berisi milik Vanilla.
"Tidak apa, aku senang melihat kamu banyak makan,"
"Kamu senang aku yang bingung nanti bagaimana caranya menormalkan kembali berat badanku,"
"Tidak kembali ke berat badan semula juga tidak apa. Aku tetap mencintaimu,"
__ADS_1
Vanilla memasang raut geli mendengar suaminya yang jarang sekali mengatakan cinta secara gamblang.
Vanilla membeli gun bam, kacang yang panen mendekati musim dingin sehingga bisa dinikmati sebagai camilan selama musim dingin.
Menjelajahi street food tidak melelahkan bagi Vanilla. Justru membuat Ia ingin terus mencari dan mencari makanan yang sesuai dengan seleranya.
Jhico menemani kemanapun Vanilla berhenti di stand makanan. Ia hanya membeli sedikit, berbeda dengan Vanilla. Ada yang sudah dimakan selama berjalan, ada juga yang sengaja dikemas agar bisa dimakan saat di hotel nanti.
******
Sampai di hotel, Vanilla segera menyiapkan mangkuk dan piring untuk menyajikan semua makanan yang sudah dibeli oleh nya dan Jhico.
Sementara menunggu istrinya menyiapkan, Jhico menyalakan televisi. Mereka akan menikmati makanan seraya menonton televisi.
"Ughh aroma nya membuat lambung bergetar, Nilla."
"HAHAHAHA,"
"Ssstt, malam-malam tertawa begitu buat aku merinding, Nilla."
"Maaf-maaf,"
"Hffttt," Vanilla membungkam mulutnya sendiri untuk memendam suara tawa nya. Kalimat Jhico terdengar lucu di telinga nya. Lambung bergetar, memang bisa?
Jhico duduk di hadapan banyaknya jenis makanan yang mereka beli di food street Korea malam ini.
"Aku mau yang pedas dan yang hangat juga,"
"Semua ini masih hangat," jawab Vanilla.
Vanilla menikmati mandu-guk dan susu hamil nya. Sementara Jhico menyantap makanan yang sudah menjadi salah satu ciri khas Korea yaitu tteokbokki.
"Hmm lezat sekali. Aku mau coba punyamu boleh?" tanya Vanilla menatap makanan milik suaminya.
"Boleh, tapi sedikit saja karena ini pedas,"
Jhico menyuapi istrinya. Mata Vanilla langsung terbuka lebar saat mencicipi tteokbokki itu. Rasanya sangat nikmat dan juga pedas, tapi menurutnya rasa pedas itu masih standar. Ia adalah orang yang sangat menyukai pedas. Vanilla sudah sering menikmati makanan yang lebih pedas dari itu.
"Pedas ya,"
"Menurutku tidak,"
Mata Jhico berotasi mendengar ucapan Vanilla. Jelas-jelas itu pedas sekali. Tapi mungkin selera pedas Vanilla lebih ekstrim lagi.
Satu mangkuk tteokbokki sudah membuat Jhico kenyang. Sementara Vanilla mencicipi makanan yang lain, tidak cukup hanya mandu-guk.
Vanilla mencicipi gyeran bbang yang berbahan utama roti dan telur disertai topping Mozarella, garam, dan lain-lain.
Masih ada beberapa jenis makanan lainnya dan Vanilla mencoba seluruhnya tapi tidak habis. Ia sudah menyerah, perutnya sudah terasa penuh sekali. Sementara Ia mencicipi semua makanan tadi, Jhico sudah beranjak duduk di depan televisi usai menghabiskan tteokbokki nya.
"Jhi..." panggil Vanilla pada suaminya.
"Ya?" Jawab Jhico seraya menoleh.
"Makanan nya tidak habis,"
"Sudah kenyang?"
"Kenyang sekali, jangan ditanya."
"Okay, biarkan saja di sana. Nanti aku yang makan, sebagai temanku menonton. Kamu istirahat lah,"
-------
__ADS_1
Udh nyampe ceritanya di Kowreyah pemirsahh. Aku jg ikut tp nebeng di bagasi pesawat nya🤣🤣 Gmn kabar kalian? baek-baek kan? semoga sehat selalu yaa manteman onlenku🤗