
Raihan dan Rena datang tepat waktu memenuhi permintaan cucunya untuk makan siang bersama di ruang perawatannya.
Karina dan Hawra pun langaung kembali ke ruangan Grizelle usai membawa menu maka siang mereka.
Setelah kakek dan neneknya dari sang Ibu lengkap, Grizelle masih harap cemas menunggu kedatangan kakek dari ayahnya.
"Kakek kemana ya? Kakek sudah janji padaku untuk datang. Tidak mungkin Kakek ingkal (ingkar) janji," batinnya menatap kosong para orang dewasa yang kini sedang mengobrol ringan sembari menunggu kedatangan Thanatan yang sudah beberapa kali ditelpon oleh Karina namun tidak kunjung mendapat jawaban.
"Griz memang belum lapar?"
"Belum, Glandpa. Aku ingin menunggu Kakek datang,"
Raihan tersenyum memahami. Apapun yang diinginkan cucunya itu pasti akan Ia penuhi. Sebenarnya hari ini adalah jadwal keberangkatannya menuju suatu tempat karena ada masalah dengan pekerjaannya, tapi karena semalam cucunya meminta untuk makan siang bersama, maka Ia tak mungkin menolak.
"Griz, kita tidak usah menunggu Kakek ya,"
"Memang kenapa, Nay-Nay?"
Karina tak mampu menjawab dengan lisannya. Hanya mampu menyahut dalam hati," Karena Nay-Nay tidak yakin Kakekmu akan datang,"
"Biar saja kalau Griz mau tunggu Thanatan, Kar," Rena tersenyum memaklumi. Memang akan lebih menyenangkan kalau makan bersama. Jarang sekali mereka seperti itu.
"Nanti setelah makan, Grandpa dan Grandma langsung pulang ya. Kami tidak boleh terlalu lama di sini biar kamu istirahat,"
*****
Rekan kerjanya, Hanaiko tak bisa menerima permintaan Thanatan untuk mengundur pertemuan mereka karena rencana sudah ada sejak beberapa hari lalu.
Thanatan tak ada pilihan lain. Ia tidak ingin dicap sebagai orang yang tidak profesional. Karena selama ini Ia begitu totalitas dalam pekerjaan sehingga tidak ada celah sedikitpun untuk orang lain menilainya seperti itu.
Ia tidak bisa memenuhi permintaan cucunya sekalipun Ia sudah berjanji.
Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk menjadi kakek yang baik bahkan untuk sekali ini saja. Apa yang ada dipikiran Grizelle setelah ini? Ia telah ingkar dan tega pada Grizelle.
Disaat seseorang tengah mengambil waktu jeda disela presentasi, Thanatan mengirimkn pesan pada istrinya yang sudah menghubungi berkali-kali dan juga mengirimkan pesan yang isinya sama.
-Kamu dimana,Thanatan? Grizelle sudah menunggu kamu-
Thanatan menghela napas pelan seraya memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa aku merasa bersalah sekali ya?" batinnya mulai membayangkan apa reaksi Grizelle nanti setelah mengetahui isi pesan yang Ia kirimkan pada Karina.
-Aku tidak bisa datang. Ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan-
__ADS_1
****
Hati Karina mencelos saat membaca pesan dari suaminya. Bagaimana Ia harus menyampaikan ini pada Grizelle yang masih setia menunggu kehadirannya.
"Griz,"
"Iya, kenapa, Nay-Nay? Kakek masih di jalan ya? ah sudah aku duga. Tidak apa, Nay-Nay, aku akan menunggu,"
Karina mengulum bibirnya bimbang. Ia tidak tahu caranya menjelaskan pada Grizelle. Anak itu sudah benar-benar berharap akan kehadiran kakeknya.
Setelan menelan ludahnya susah payah karena Ia merasa seperti ada godam yang menekan suaranya agar tidak keluar, akhirnya Ia mengatakan yang sejujurnya pada Grizelle. Lebih baik dikatakan secepatnya daripada membuat anak itu berharap terlalu lama.
"Griz, Kakek baru saja mengirim pesan permintaan maaf karena tidak bisa makan siang bersama kita,"
Wajah Grizelle yang sebelumnya sumringah, berubah pias. Matanya kosong menatap Karina seolah mencari kejujuran dari sorot mata Karina. Ya, Ia mendapatkannya.
Nay-Nay nya tidak mungkin berbohong. Ia gagal makan siang dengan Kakeknya. Padahal ia sudah menantikan momen ini.
"Ya sudah, kita makan sekarang ya. Nanti lain kali, kita bisa makan bersama Kakek,"
Raihan berusaha menghilangkan kesedihan dalam diri Grizelle. Ia membujuk dengan senyuman tulusnya.
Entah apa alasan yang membuat Thanatan tidak datang, yang jelas Raihan pun kecewa karena Thanatan telah membuat cucunya kecewa.
Hati Jhico merasa berdenyut mepihat Grizelle yang terlihat tidak semangat lagi menyantap makan siangnya.
"Aku tidak mau makan," gumam Grizelle.
Vanilla segera meraihnya dalam pelukan. "Tidak boleh seperti itu. Nanti kalau Griz sudah sembuh, kita ajak Kakek makan bersama. Sekarang Griz harus makan, biar cepat sembuh lalu kita atur ulang waktu makan bersama dengan Kakek, Nay-Nay, Grandma, Grandpa dan Oma,"
"Nanti kalau Kakek tahu Grizelle tidak mau makan hanya karena Kakek tidak datang, pasti Kakek sedih,"
Jhico kehilangan suaranya bahkan untuk sekedar membujuk putrinya. Ia bingung harus bagaimana disaat penyebab kesedihan anaknya saat ini adalah ayahnya sendiri.
"Ayo, makan dengan Nay-Nay. Mau tidak?"
Grizelle menggeleng dengan bibirnya yang melengkung ke bawah. Kemudian tak lama, Ia menangis.
"Biasanya tidak mudah menangis begini,"
Vanilla mengusap punggung anaknya yang kini menyembunyikan tangis dalam rengkuhannya.
Hanya karena Thanatan tidak datang untuk makan siang bersama, Grizelle sampai menangis seperti ini. Padahal Vanilla sendiri maklum. Mungkin memang ada hal yang tidak bisa ditinggalkan Thanatan demi menuruti permintaan sederhana cucunya.
__ADS_1
"Sudah, jangan menangis. Grandpa tidak suka melihat Griz menangis,"
"Kenapa Kakek ingkal (ingkar) janji? padahal aku sudah belhalap (berharap) kakek datang, Mu," Ia bicara dengan susah payah disela isak tangisnya.
"Manusia itu hanya bisa berencana. Terlaksana atau tidak, itu kehendak Tuhan. Kakek memang sudah janji dengan Grizelle, tapi kalau Tuhan belum berkehendak, kita harus apa?"
Vanilla menghela rambut anaknya ke balik telinga. Ia ingin menatap Grizelle tapi anak itu malah kian meringkuk dalam pelukannya.
"Kakek mungkin sedang banyak pekerjaan, atau mungkin ada sesuatu yang penting jadi tidak bisa menepati janjinya pada Grizelle,"
"Masih banyak waktu. Nanti Griz ajak Kakek lagi ya,"
Grizelle diam. Entah Ia jera meminta kakeknya untuk datang makan bersamamya, atau Ia sedang berusaha memahami apa yang dikatakan oleh Mumunya bahwa sang kakek sedang banyak pekerjaan yang menyebabkan Ia harus ingkar janji.
Beberapa menit terdiam, akhirnya Jhico yang mengambil alih anaknya.
Ia membawa Grizelle duduk berhadapan dengan stand meja dimana makanan miliknya telah tersaji.
"Griz tidak boleh sedih hanya karena Kakek tidak jadi datang,"
Jhico menghapus air mata putrinya. "Ayo, dimakan,"
"Pupu juga makan,"
"Iya, kita semua akan makan,"
Mereka makan dengan tenang. Grizelle ditemani oleh Mumunya sementara yang lain makan berpencar di sofa-sofa yang tersedia dalam ruangan Grizelle.
Mereka makan dalam diam berkutat dengan pikiran masing-masing. Makan siang Grizelle kali ini terasa hampa karena tidak berjalan sesuai rencana.
Mereka yang ada di sana melihat sendiri bagaimana reaksi Grizelle ketika harapannya tidak terwujud, mengumpulkan kakek dan neneknya dimana momen itu jarang sekali terjadi.
******
Seperti yang dikatakan Raihan tadi, usai makan siang mereka semua pulang.
Grizelle mengucapkan terimakasih pada mereka yang telah menyempatkan waktu untuk datang makan siang bersamanya.
Ketika pamit, Raihan memeluk erat cucunya cukup lama seraya berbisik, "Jangan pernah sedih karena siapapun ya."
-----
Eyoo aku dtg lg stlh kemarin bolos up😆gmn kabarnya hr ini? kalian malam minggu kemana nih? oiya, aku akan up lg bwt menemani kalian yg malam minggu nya cuma rebahan aja kek aku😆😆Tungguin yak😊Tp like, komen nya jgn dikiitt. Ogheey?
__ADS_1