
Vanilla bangun saat bumi masih cukup gelap. Seperti biasa, kalau Ia bisa bangun pagi maka Ia akan menyiapkan sarapan dibantu oleh asisten nya. Tapi kalau Ia bangun sedikit siang saja, maka sudah ada yang melakukannya.
Vanilla beranjak dari tempat tidur tanpa mau bermalas-malasan. Hal yang pertama dilakukan adalah memeriksa kondisi Grizelle yang terlelap diantara dirinya dan Jhico. Ia masih bisa merasakan hangat di kening dan perpotongan antara leher serta bahu Grizelle. Kemudian Ia mengambil thermometer. Suhu Grizelle tiga puluh tujuh koma sembilan.
"Masih demam. Apa aku bisa meninggalkan Grizelle nanti ya?" bimbangnya antara anak atau acara kelulusannya yang juga merupakan momen penting dalam hidupnya selain pernikahannya dengan Jhico dan juga kelahiran Grizelle.
"Aku minta pendapat Jhico saja nanti aku harus bagaimana,"
Vanilla segera mengikat asal rambutnya yang selalu berantakan ketika bangun tidur. Ia minum air putih sebentar kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menyikat giginya dan membasuh wajah. Setelahnya, Ia keluar dari kamar sang putri menuju dapur agar ketika Grizelle bangun, bisa langsung makan dan minum obat.
"Hari ini aku ingin membuat makanan yang berkuah. Griz biasanya suka itu kalau sedang sakit," ujarnya pada Bibi yang langsung merespon, "Griz sakit, Nona?"
"Ya, semalam demam,"
"Ya ampun. Griz kelelahan pasti,"
"Terlalu banyak minum ice cream juga, Bi," tambah Vanilla seraya terkekeh mengingat pengakuan Grizelle semalam padanya dan Jhico.
"Tapi di rumah ini sudah tidak ada lagi minuman semacam itu,"
"Griz kemarin 'kan datang ke rumah kakek dan neneknya. Disana dia bebas,"
Bibi terkekeh geli mendengar kata 'bebas' yang diucapkan Vanilla. Tapi memang benar. Kalau di rumah ini Grizelle akan sangat dijaga, ada pantangan. Kalau di tempat lain pasti tidak berlaku apalagi jika tidak ada Mumu dan Pupunya. Terutama Pupunya yang tegas luar biasa sebagai dokter pribadi Grizelle.
******
Jhico melenguh seraya membuka matanya. Ia meregangkan seluruh otot tubuhnya kemudian menatap ke samping.
Vanilla sudah tidak ada di tempatnya semalam. Sementara Grizelle masih terlelap menghadapnya dan melingkarkan satu tangannya di perut Jhico.
Jhico menyentuh dahi Grizelle. Sudah tidak begitu panas seperti semalam. Ia menyingkirkan tangan anaknya dengan pelan. Tapi tetap saja Grizelle terbangun.
"Pupu..." panggilnya dengan manja. Suaranya serak dan terlihat masih lemah.
"Kenapa, Sayang? Pupu 'kan di sini,"
"Minum ya? ayo, bangun dulu nanti tidur lagi,"
"Aku mau bersiap,"
Alis Jhico bertaut. Bersiap? ini anaknya masih mengigau atau bagaimana? bersiap kemana maksud Grizelle?
"Griz mau kemana?"
"Ikut Mumu dan Pupu. Hali (hari) ini Mumu lulus 'kan?"
__ADS_1
Jhico mengangguk paham kalau ternyata Grizelle ingin bersiap untuk ke kampus Mumunya.
"Griz di rumah saja ya. Pupu dan Mumu saja yang pergi. Biar Griz cepat sembuh jadi harus banyak istirahat,"
"Aaa tidak mau. Aku tidak mau di lumah (rumah). Aku halus (harus) ikut," Grizelle merengek tidak terima dengan keputusan ayahnya yang tidak mengizinkan Ia untuk pergi.
Jhico membimbing anaknya untuk duduk kemudian Ia mengambilkan air minum hangat untuk Grizelle.
"Dihabiskan,"
Cklek
"Oh Griz yang cantik sudah bangun,"
Vanilla datang ke kamar anaknya dengan satu baki di tangan. Ia membawa sarapan untuk Grizelle pagi ini.
"Aku biasanya salapan di meja makan. Tidak boleh makan di tempat tidul (tidur) kata Mumu,"
"Kalau lagi sakit tidak apa,"
Vanilla meletakkan baki tersebut di nakas kemudian Ia duduk di dekat Grizelle.
"Griz tidak ikut kita. Tidak apa 'kan?"
Jhico meminta persetujuan istrinya. Vanilla mengangguk, "Iya. Tadi aku pikir apa aku tidak usah datang saja ya---"
"Aku mau ikut,"
Grizelle mengepalkan tangannya kemudian dengan gemas memukul pahanya sendiri. Ia ingin ikut kenapa dilarang? Ia tahu ini acara luar biasa. Ia harus ikut menyaksikan.
"Kamu sakit. Tolong dengarkan Pupu ya,"
"Pu, nanti aku bisa sembuh kalau ikut. Benal (benar), aku tidak bohong, Pu,"
"Aku mau ikut ya, Mu,"
Meminta dukungan dari Vanilla, Grizelle memegang tangan Vanilla yang tengah menyuapinya makan.
"Lebih baik istirahat di rumah, Griz. Hari ini kamu tidak sekolah. Biar besok bisa kembali sekolah, hari ini kamu harus istirahat supaya cepat sembuh,"
Grizelle yang terkadang keras kepala sama seperti ibunya, menggeleng tidak mau hanya istrahat di rumah.
"Ya sudah, Griz ikut. Tapi langsung pulang dengan Pupu setelah melihat rangkaian acaranya,"
"Mumu kemana kalau kita pulang?"
__ADS_1
"Mumu biar sama teman-temannya dulu. Ini hari terakhir mereka berkumpul,"
"Tidak, nanti aku langsung pulang,"
Jhico menggeleng. Ia tahu bagaimana euforia saat kelulusan. Terasa ada yang kurang kalau tidak kumpul dulu dengan teman-teman, foto dan makan bersama sepuasnya.
"Kamu nikmati hari ini, tidak usah memikirkan Griz. Karena aku bisa menghandel semuanya. Okay, Nilla?"
"Ya lihat nanti. Sepertinya sulit senang-senang dengan teman sementara anak sedang sakit di rumah,"
"Griz akan segera sembuh. Kamu jangan khawatir,"
Jhico mengecup pelipis Istrinya sebelum beranjak meninggalkan kamar putrinya menuju kamarmya dan Vanilla.
Ia meraih bathrobe di stand hanger kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
*****
Thanatan berdehem usai menghabiskan sarapannya dan meneguk air minum.
Karina melirik suaminya yang terlihat seperti ingin berkata sesuatu.
"Hari ini ada acara kelulusan di universitas Vanilla. Dan acara itu untuk angkatan Vanilla. Dia lulus 'kan? berarti hari ini hadir?"
Hawra menggeleng pelan mendengar menantunya bicara seperti itu. 'Dia lulus kan?' terdengar sangat merendahkan Vanilla.
"Aku yakin dia bisa lulus. Karena pada dasarnya dia tidak bodoh. Hanya saja ada beberapa hal saja yang membuatnya terhambat dalam menyelesaikan pendidikan,"
Manusia tidak ada yang bodoh. Semua memiliki kepintaran masing-masing. Dan tidak semua orang memiliki kepercayaan diri untuk mengakui itu.
"Benar begitu, Pa? Papa dapat informasi darimana?"
"Universitas itu milik Raihan tapi dijalankan oleh orang-orang yang berkompetensi dibidangnya. Salah satunya, teman Papa,"
Karina mengangguk dan mengingat-ingat jadwalnya hari ini. "Sepertinya Mama bisa hadir,"
"Mama berusaha datang ke sana. Ibu mau ikut?" tanya Karina beralih pada Hawra yang langsung mengangguk.
"Kalaupun kamu tidak bisa hadir nanti, Ibu akan tetap hadir,"
Ia tahu Karina juga sibuk meskipun tadi Ia mengatakan akan berusaha untuk hadir. Kalau dirinya, sudah dipastikan akan hadir. Walaupun Ia menyesali kenapa Jhico tidak membagikan kabar bahagia ini sebelumnya. Ia malah mendengar dari Thanatan.
"Papa tidak bisa datang," ujar Thanatan tanpa ditanyai sebelumnya sebab Karina tahu bahwa suaminya tidak mungkin ada keinginan untuk datang. Saat kelulusan putranya di perkuliahan kedokteran saja Ia tidak hadir. Tapi untuk kelulusan saat masa sekolah Thanatan terbilang sering datang walaupun terlambat.
------
__ADS_1
Heyooo pagi pagi pagiiii bangoon yukk hari minggu nih. Semangat! masa kalah sama Icelle yg udh bangun?😆