
Kendaraan roda empat milik Jhico berhenti di parking area klinik miliknya. Ia memutari mobil untuk membuka pintu di sisi lain.
Grizelle turun dibantu dengannya. Saat akan digendong, anak itu menggeleng cepat "Aku bisa sendili, Pu,"
Jhico tersenyum seraya mengacak lembut rambut sang putri yang gemar sekali dililit setelah dibagi menjadi tiga bagian.
Jhico yang gemas terkadang memilin ujung rambut anaknya. Kelembutan bisa Ia rasakan ketika menyentuh rambut Grizelle, sama seperti rambut milik istrinya.
"Pintar, kamu semakin mandiri ya,"
Grizelle tersenyum dan mengangkat satu alisnya. Jhico terkekeh melihatnya. Lelaki itu segera membawa sang anak masuk ke dalam.
"Yeayy ada Griz,"
"Icelle cantik,"
Sapaan dari para pegawai Jhico di klinik langsung terdengar begitu Grizelle masuk. Anak Jhico yang memang murah senyum itu, langsung tersenyum lebar dan memberikan lambaian tangannya.
"Hallo, aku ikut ke sini,"
Kehadiran Grizelle menjadi hiburan tersendiri untuk mereka. Grizelle tidak pernah rewel. Dan Grizelle tahu keadaan. Kalau dilihatnya mereka tengah sibuk, maka Ia tak akan mengajak bermain. Ia memilih untuk sibuk dengan gadget ayahnya.
"Nanti main ya,"
"Iya, kalau tidak ada yang belobat (berobat)," katanya, menjawab salah satu perawat yang memang sering menjadi teman bermainnya. Dia juga sosok perawat yang dimaksud Grizelle ketika menceritakan kebohongannya pada sang Ibu. Perawat itu baik hati sekali, begitu anggapan Grizelle ketika Ia mau diajak Grizelle membeli ice cream.
******
"Van, besok ada commercial shoot ya. Jam sepuluh,"
"Untuk brand sliming tea itu?"
"Iya, ada model laki-laki juga,"
"Oh, siapa?"
"Artis film kemarin yang sempat booming itu. Ah kamu mana tahu? karena kamu di rumah sakit saat penayangan nya,"
Vanilla hanya bergumam
"Ya sudah, ingatkan aku lagi besok pagi ya,"
Setelah mendapatkan jawaban 'ya' dari Nein, managernya, Vanilla memutuskan panggilan.
Besok Ia ada pekerjaan. Tidak salah Ia memilih hari ini untuk pergi dengan Grizelle. Kebetulan Joana mengajaknya, jadi akan lebih baik kalau Ia turut membawa Grizelle.
Ponselnya bergetar dan pesan dari Nein masuk. Vanilla segera membacanya
__ADS_1
Jangan terlambat.
Vanilla mendengus. Nein cemas sekali kalau Ia akan terlambat. Tidak tahu saja Ia sangat profesional. Terlalu profesional sampai terkadang anaknya belum bangun, Ia sudah berangkat bila ada pekerjaan yang harus Ia selesaikan di pagi hari.
Vanilla keluar dari ruangan yang sejak beberapa waktu lalu ditempatinya untuk mengerjakan tugas. Ia melihat Nada yang akan memasuki kamar Grizelle.
"Nada, mau menyiapkan baju sekolah Griz ya?"
Vanilla menghampiri wanita yang membantunya mengurus sang anak. "Biar aku saja," imbuhnya ketika sampai di depan kamar Grizelle.
"Aku tidak ada kesibukan sekarang. Jadi lebih baik mengurusi keperluan Grizelle,"
Nada bergegas membiarkan Vanilla melakukan apa yang diinginkannya. Vanilla memasuki kamar putrinya. Aroma wangi buah-buahan yang begitu manis langsung menyambut indera penciumannya. Ia sampai memejamkan mata sebentar untuk menikmati harum khas putrinya itu.
"Hmmh, aku selalu nyaman ada di sini," gumamnya pelan. Matanya mengedar, memperhatikan seluruh sisi ruangan yang menjadi tempat ternyaman untuk anaknya itu.
Kakinya melangkah menuju almari untuk menyiapkan baju sekolah Grizelle yang akan dikenakan esok hari. Setelah itu Ia membenarkan tata letak barang-barang kecil di meja belajar Grizelle, sekaligus menyiapkan buku yang akan di bawa Grizelle ke sekolah.
******
"Aku mau ambil rumah susun di mobil, Pu,"
Grizelle beringsut mendekati sang ayah yang baru saja menjelaskan sesuatu pada seorang ibu yang lima belas menit lalu datang ke klinik dengan keluhan sakit kepala dan leher belakangnya yang terasa sakit.
Setelah melihat pasien selesai bicara dengan Jhico kemudian beranjak mengambil obat di bagian farmasi, Grizelle langsung mengungkapkan keinginannya yaitu mengambil salah satu mainan favorit nya yang sengaja ditinggal di dalam mobil Jhico.
Jhico segera meraih kunci mobilnya di atas meja kemudian bergegas keluar untuk menghampiri mobil.
"Griz letakkan dimana, Sayang?"
Jhico yang masuk ke dalam mobil sementara Grizelle menunggu di luar.
"Ada di kulsi tengah. Kalau tidak ada mungkin jatuh ke bawah, Pu,"
Jhico segera memeriksanya. Ia tak menemukannya di kursi. Kemudian Ia mendengarkan ucapan anaknya tadi untuk mencari juga di bawah karena barangkali terjatuh. Benar, ada di bawah dekat kursi.
"Ini, Sayang,"
Grizelle segera menerima pouch berukuran sedang berisi potongan-potongan yang akan menjadi sebuah rumah bila disusun dengan benar.
Ia kembali ke dalam sementara Jhico berjalan di belakangnya. Grizelle tampak tidak sabaran kembali ke klinik lalu membuat pengumuman pada tiga orang perawat di meja resepsionis.
"Aku bawa ini. Ada yang mau ikut main? kalau sibuk, tidak usah," ujarnya dengan senyum riang.
"Sebentar, aku selesaikan ini dulu," ujar seorang perempuan berpakaian putih dan hijau lembut sembari masih menatap fokus pada layar datar di hadapannya.
"Ayo, dengan ku saja," sahut temannya.
__ADS_1
"Aku mau ikut juga,"
Grizelle bermain dengan dua orang, sementara yang satu orang sedang menyelesaikan pekerjaan. Grizelle sudah mengatakan kalau sibuk, tidak usah.
"Nanti makan siang, bermainnya berhenti dulu ya,"
Jhico berpesan pada sang anak. Ia tidak mempermasalahkan selagi kliniknya tidak ada pasien. Namun Grizelle juga harus diberi waktu.
"Siap, Pu,"
Grizelle menegakkan tubuhnya dengan tangan kanan di pelipisnya, bersikap layaknya hormat. Hal itu membuat Jhico terkekeh.
Jhico kembali ke ruangannya. Sementara Grizelle bermain di salah satu jajaran kursi tunggu untuk pasien yang saat ini sedang kosong.
Masih ada perawat lain yang bekerja, tentunya. Sehingga Jhico juga tenang karena anaknya tidak mengajak semua orang di sana ikut bermain dengannya.
"Aku akan buat lumah (rumah) impian. Sepelti (seperti) kastil. Nanti lihat ya,"
"Kenapa kastil?"
"Biar seperti pala putli (para putri). Aku 'kan putli juga. Putli nya Pupu dan Mumu," ucap anak itu tersenyum lebar. Siapapun yang berada di dekatnya pasti akan dibuat gemas dengan Grizelle. Dua perawat yang sedang bermain dengannya bahkan tidak tahan mencubit pelan pipinya.
"Ah sakit. Aku adukan pada Pupu ya," ancam anak itu yang sebnarnya tidak serius. Namun berhasil membuat mereka panik.
"Maaf-maaf, Sayang,"
"Kamu sih,"
"Kamu juga tadi sama,"
Mereka berdua saling menyalahkan. Grizelle terbahak, senang mengerjai orang. Grizelle mulai jahil karena mungkin sering dijahili juga oleh Adrian.
"Ah aku sudah lindu Adlian (rindu Adrian) padahal belum lama ketemu,"
"Aku hanya belcanda (bercanda). Jangan panik ya," lanjutnya seraya mengerlingkan satu matanya pada kedua orang yang tadi di kerjainya.
Bagaimana tidak panik? mereka membuat anak Jhico, pemilik klinik, kesakitan. Walaupun mungkin Jhico tidak akan sampai memecat mereka, tapi rasanya sungguh kurang sopan berbuat sesuatu yang menyakiti anaknya hingga mengadu.
"Takut dimalahi Pupu ya? tidak, Pupuku baik,"
-------
SELAMAT PAGI🌄
selamat menjalani hari untuk semua pembacaku. Sehat-sehat yaa kalian.
UDAH MAMPIR DI BECAUSE OF YOU? MAMPIR DONG, DIJAMIN BETAH😜CUSS RAMEIN JUGA LAPAK ITU YAA.
__ADS_1
Terimakasih🙏