Nillaku

Nillaku
Nillaku 384 Tentang Jane


__ADS_3

Jane benar-benar melakukan apa yang Ia ucapkan pada Vanilla. Ia mengemasi pakaian yang akan Ia bawa esok.


Suaminya Richard kembali masuk ke dalam kamar, dan tentu lelaki itu terkejut dengan apa yang dilakukan istrinya.


"Kemana, Jane?"


"Aku mau pulang,"


"Pulang kemana? rumahmu di sini,"


"Tidak, aku mau pulang ke tanah kelahiranku," lugas Jane masih sibuk dengan kegiatannya. Menata baju untuk dimasukkan ke dalam koper.


"Jane, jangan kekanakan. Aku sudah---"


"Kekanakan bagaimana? aku ingin pulang! dan kamu tidak berhak melarangku"


"Aku berhak! kamu istriku,"


"Giliran aku diperlakukan tidak baik, kamu tidak bicara setegas itu, Ri," sindir Jane dengan telak membuat Richard jujur merasakan sesak di dadanya.


"Jane, aku mohon jangan seperti ini. Kamu tidak setiap saat bertemu dengan keluargaku 'kan? jadi anggap saja ucapan mereka adalah angin lalu bila bertemu kamu itu---"


"Tidak setiap saat bertemu karena kita tidak satu rumah dengan mereka. Tapi tetap saja setiap bertemu, selalu membuat aku tertekan. Aku tidak bisa lagi baik-baik saja disaat kenyataannya tidak begitu,"


Richard menahan lengan istrinya. "Dengarkan aku dulu kali ini. Aku mohon,"

__ADS_1


"Kamu yang seharusnya dengarkan aku! aku rindu dengan tempat asalku. Aku tidak suka, tidak nyaman di sini! kamu bisa paham tidak?!" Jane menyentak suaminya yang kini mencengkram tangannya agar Ia berhenti mengemasi pakaian.


"Aku sudah bilang, nanti kita akan kembali. Tapi belum sekarang waktunya. Urusanku di sini masih banyak, Sayang," Richard membujuk dengan lembut tapi kali ini Jane tidak mau peduli. Sebanyak apapun urusan suaminya, Ia akan tetap pulang.


"Kalau kamu mau bertemu dengan aku, silahkan kamu datang. Tapi aku tidak mau lagi ke sini. Tempatku bukan di sini," lugas Jane yang benar-benar tidak ingin dibantah. Ia harus segera pergi sebelum meledak dan menyakiti semua semua yang telah menekannya.


"Aku akan pindah ke sana. Aku akan mencari rumah dan aku bisa tinggal sendiri, sekalipun tanpa kamu, Ri,"


"Kamu bicara apa sih? kamu tidak bisa seperti ini. Kita bisa bicarakan dulu dengan kepala dingin,"


"Aku sudah bicara denganmu baik-baik. Aku ingin pulang, selalu itu yang aku minta dari kamu,"


"Aku selalu memenuhi kalau kamu ingin pulang. Kita ke sana, tapi harus kembali lagi ke sini. Selama ini begitu 'kan?"


"Apa? kamu jarang membawa aku pulang! padahal kalau berlibur, aku ingin pulang tapi kamu tidak setiap saat memenuhi itu padahal kamu tahu sendiri kalau aku sangat ingin datang ke sana, melepas rinduku dengan tempatku tumbuh besar. Aku ingin mengunjungi Aunty dan uncle ku yang sudah berperan besar dalam hidupku,"


"Ya sudah, kita datang ke sana. Bersama, setelah itu kita kembali lagi ke sini ya,"


"Tidak mau! aku mau tetap di sana,"


Jane bersikeras pada keinginannya. Ia tidak mau hanya sesekali saja pulang! Ia ingin menetap di tempat Ia berada seharusnya. tidak mau kembali lagi ke sini sekalipun suaminya berada di sini dan masih memiliki banyak urusan.


"Kalau aku dibuat nyaman, tenang di sini, aku tidak masalah sampai kapanpun di sini. Tapi masalahnya, aku malah dibuat sedih dan tertekan terus selama di sini. Sudah berapa tahun ini, Ri?! aku bertahan, tapi kamu tidak mau memahami aku 'kan?"


Jane akan senang hati terus berada di sisi suaminya selama suaminya itu menyelesaikan pekerjaan di tempat mereka saat ini. Tapi masalahnya Ia selalu dipancing untuk sakit hati, tersinggung, sedih, dan bahkan hampir stres dengan sikap dan perilaku keluarga suaminya yang semakin hari semakin menyakitinya saja.

__ADS_1


"Kamu bisa cari yang baru, Ri kalau mau," dengan canda seorang paman Richard berkata seperti itu pada Jane saat mereka kumpul keluarga dimana sebelumnya Jane sudah menolak untuk datang karena Ia tahu akan bagaimana jadinya bila Ia datang, tapi suaminya tetap saja ingin datang dan memaksanya untuk ikut.


Jane menganggap ucapan itu bukan canda tapi serius. Walaupun Richard tidak menanggapi, tapi hatinya tetap saja sakit. berbagai pikiran buruk menghantuinya. Bagaimana kalau Richard benar mencari yang lain? yang bisa membuatnya bahagia dengan hadirnya seorang buah hati.


"Biasanya jarang ada laki-laki yang bertahan diatas lima tahun pernikahan kalau istrinya tidak bisa diandalkan. Dalam hal apapun itu, termasuk bila tidak bisa memiliki anak,"


Richard ini anak satu-satunya, mungkin itu yang menjadi penyebab keluarganya begiu mendambakan seorang pewaris. Jane awalnya berpikir seperi itu. Tapi lama-lama Ia gerah juga bila terus menerus ditanyai tentang hal yang sama. Bahkan bukan ditanya lagi, tapi sudah dicecar bahkan tak jarang diejek.


"Ya sudah, terserah kamu. Tinggal di sana, atau bagainana, terserah! kamu tidak bisa lagi aku beri tahu ya! kamu sudah keterlaluan membangkang!"


Richard keluar dari kamar dengan menyentak pintu kamar hingga Jane semakin dibuat bergetar ketakutan. Percayalah, segalak apapun perempuan, ketika diperlakukan kasar maka akan ketakutan juga. Sekalipun Ia tidak dipukul, tapi menyaksikan laki-laki yang dicintainya marah, Jane tetap saja merasa takut.


"Selalu seperti itu. Seolah aku yang salah. Tidak pernah mau berani bicara pada keluarganya, tidak pernah mau berani membela aku," Gumam Jane dengan hati yang sudah benar-benar terluka. Ia harus sabar sampai tiba di rumahnya, tempat yang paling nyaman selama Ia hidup.


"Kalau aku pulang, aku banyak teman cerita. Aunty Rena, Lovi, Vanila, bahkan anak-anak mereka pun perhatian sekali padaku dan bisa menjadi teman juga,"


Jane tidak sabar untuk berkumpul lagi dengan keluarga terdekatnya. Ia tetap akan memilih hal apa yang harus Ia bagi dan tidak perlu ia bagi pada keluarganya yang tentu akan terkejut mendapati ia pulang tiba-tiba terutama Rena dan Raihan, sementara kalau Vanilla sudah lebih dulu tahu.


******


"Aku kira mereka itu baik-baik saja, Nilla,"


"Kelihatannya begitu ya? tapi ternyata tidak selalu. Namanya juga pernikahan pasti ada saja masalahnya,"


Menjelang tidur, Vanilla dan Jhico kembali membahas Jane. Jhico kini tahu kalau yang membuat Jane sampai memutuskan untuk pindah karena perlalan keluarga suaminya yang ia anggap tidak baik.

__ADS_1


"Semoga mereka baik-baik saja. Karena aku bisa melihat kalau keduanya itu saling mencintai. Hanya saja untuk saat ini, mungkin mereka sedang butuh waktu sendiri-sendiri,"


Jhico menarik pinggang istrinya untuk Ia peluk erat. Ia mengusap punggung Vanilla hingga menghadirkan kenyamanan untuk wanita itu dan tak lama kemudian terlelap.


__ADS_2