Nillaku

Nillaku
Nillaku 76


__ADS_3

"Ya sudah, jangan terlalu ikut campur. Biarkan itu menjadi urusan Vanilla dan dia,"


"Tapi aku tidak mau melihat rumah tangga sepupuku berantakan hanya karena perhatiannya itu. Kamu sebagai laki-laki pasti tahu betul seberapa besar emosi yang dirasakan saat melihat istri begitu dipedulikan oleh lelaki lain. Pastilah ego laki-laki dalam diri Jhico merasa tersentil dan tidak terima karena secara tidak langsung keberadaannya sebagai suami tidak dianggap,"


Jane nampak menggebu menyampaikan kerisauan hatinya. Ia tidak menyangka hubungan kakak adik antara Vanilla dengan Deni akan serumit ini.


*****


"Aku mau ke bioskop, Jhi."


"Jangan dulu. Nanti kalau sudah pulih,"


"Aku sudah baik-baik saja,"


"Benar? semalam yang teriak mengeluh pusing di kamar mandi siapa?" Jhico mengingatkan kejadian semalam. Vanilla buang air kecil dan Ia tidak ingin ditemani oleh Jhico karena katanya sudah kuat berdiri sendiri bahkan berdiri sedikit lama juga sudah bisa. Akhinya Jhico biarkan dia sendirian ke kamar mandi tapi Jhico tetap menunggu Vanilla didepan pintu kamar mandi.


Baru juga satu menit berada di sana, Vanilla sudah memanggilnya. Ia mengeluh sakit kepala dan tanpa banyak bicara Jhico langsung masuk ke kamar mandi lalu menggendong istrinya.


"Sudah buang air kecil?"


"Beruntungnya sudah,"


Jhico mengangguk dan membantu menyelimuti tubuh istrinya agar segera terlelap.


"Kapan aku pulih?" kembali pda saat ini. Vanilla masih belum selesai membujuk Jhico agar mereka bisa pergi menonton di bioskop.


Namun tetap saja Jhico menggeleng tegas. "Aku tidak tahu kamu pulih kapan. Yang jelas, kalau belum pulih, kamu tidak boleh pergi kemana pun,"


Jhico beranjak sebentar ke dapur untuk mengambil piring. Ia segera menyiapkan makanan sehat yang Ia beli khusus buat Vanilla.


Sementara Jhico sibuk menyiapkan makanan, buah, dan air minum, Vanilla justru mendapat panggilan dari Jane.


"Hallo, Jane."


"Hmm, bagaimana kondisimu?"


"Semakin membaik. Ada apa?"


"Seharusnya balas dulu basa-basiku,"

__ADS_1


"Aku mau makan sebentar lagi,"


"Oh okay. Aku hanya ingin memberi tahu, untuk sementara waktu kamu digantikan dulu oleh model lain di pemotretan yang sempat tertunda kemarin,"


"Kenapa begitu?"


"Produk akan launching sebentar lagi. Foto produk belum ada. Sementara kamu belum bisa dipastikan kapan akan pulih. Akhirnya Deni memutuskan untuk mencari model lain tapi hanya untuk sementara waktu. Kamu akan tetap menjadi model sekaligus brand ambassador produk Deni,"


"Siapa modelnya?"


"Sepertinya model yang ada di foto produk keluaran bulan kemarin,"


"Oh iya model untuk foto produk Deni banyak ya. Aku lupa," kekeh Vanilla yang sebelumnya hanya ingat bahwa dirinya saja yang menjadi model di produk Deni.


Setiap ada produk baru yang dikeluarkan, model yang berfoto bersama produk baru tersebut pasti berbeda-beda.


"Kamu hanya hamil tapi kenapa pelupa begitu? padahal usia masih muda 'kan?"


"Ck! jangan bahas usia. Aku ini masih muda. Meski sudah tua sekalipun, aku sudah memiliki suami jadi tidak perlu khawatir lagi,"


Jane segera mematikan sambungan telepon. Pada akhirnya Vanilla menjahili Jane dengan pembahasan suami. Vanilla terkekeh seraya menatap layar ponselnya.


"Kamu mau bekerja lagi?"


"Iya, seperti biasa 'kan?"


"Sudah makan?"


"Sudah, tadi sahabatku datang ke klinik. Maaf, tidak makan bersama kamu,"


"Siapa yang datang?"


Vanilla mendekati meja makan dan duduk dengan tenang, bersiap untuk menyantap makan siangnya.


"Tiano dan Dante,"


"Hanya mereka?"


"Iya, siapa lagi?"

__ADS_1


"Kamu memiliki sahabat yang cukup banyak,"


"Hanya mereka bertiga, yang lainnya teman dekat. Dan tadi tidak ada perempuan. Itu 'kan yang kamu takutkan?"


Vanilla tidak menjawab dan Jhico anggap tebakannya benar. Sebelum kembali ke klinik, Jhico meneguk air minum dulu untuk menghilangkan rasa hausnya. Mengejar waktu untuk memastikan Istri dan anaknya di apartemen baik-baik saja sementara di klinik pasien tidak ada habisnya, membuat Jhico kelelahan. Tapi Ia menikmati ini semua. Pengorbanan seperti inilah yang akan diingatnya ketika sang anak sudah lahir. Ia akan merindukan momen-momen seperti ini.


Jhico meraih kepala Vanilla dan dikecupnya singkat. "Aku kerja lagi. Bye,"


Vanilla yang diperlakukan semanis itu tentu merasa bahagia. Ia tidak menyangka pernikahannya akan sehangat ini. Padahal di awal pernikahan, saling menyapa saja rasanya sangat enggan.


Semua bisa berubah dan kebahagiaan rumah tangga yang selama ini Ia anggap tidak mungkin dapat Ia rasakan, nyatanya menjadi kenyataan.


******


Vanilla, calon tunanganku datang untuk membahas hari pernikahan. Saat itu tiba, aku harus kabur, Van.


Joana mengirimkan pesan bermakna curhat kepada sahabatnya saat laki-laki yang akan dijodohkan dengan dirinya datang bersama orang tuanya.


Ia ingin menangis saja rasanya saat mereka membahas hari pernikahan. Tunangan saja belum, tapi sudah berpikir sejauh itu. Astaga, memang mereka pikir Ia mau menikah dengan orang yang hanya bertemu dengannya di masa kecil? Ia saja lupa kalau mereka pernah bertemu. Ibunya lah yang mengingatkan.


"Sekali lagi ditegaskan, keluarga kami tidak terpandang seperti kalian---"


"Kalian terpandang," sanggah ibu dari calon tunangan Joana. Ibunya Joana, Bela menggeleng dengan senyum hangatnya. Kerut di wajah tak menghilangkan cantiknya wanita yang kini menjual waffle.


"Itu dulu, sebelum suami saya korupsi,"


"Semua punya masa lalu. Dan keluarga kami tidak mempermasalahkan hal itu,"


Yang mau dijodohkan dengan Joana adalah anak dari rekan kerja Ayahnya Joana dulu. Tapi beliau sudah lama meninggal. Saat Joana kecil, mereka pernah membicarakan rencana perjodohan ini. Calon tunangan Joana bernama Milano. Lelaki itu ingin sekali mewujudkan keinginan ayahnya. Sekalipun harus mengorbankan kebahagiaannya. Sebenarnya Milano menyukai perempuan lain.


"Kapan Nendra selesai menjalani hukuman?"


"Masih empat bulan lagi,"


"Kita harus menunggunya keluar dari penjara agar Ia bisa menyaksikan putri semata wayangnya menikah dengan laki-laki pilihannya dulu,"


Joana dan Milano sedari tadi hanya diam. Sesekali Milano melirik gadis di hadapannya saat ini. Terlihat sekali bahwa Joana adalah gadis yang sangat kaku dan polos, yang mungkin dulunya hanya tahu belanja. Apakah Ia bisa menjalani hidup bersama Joana, gadis kecil yang dulu sempat bertemu dengannya tapi mereka tidak bermain bersama karena Joana memiliki banyak teman perempuan, begitupun dengan dia yang lebih sering bermain dengan teman-temannya.


Sedari tadi Joana melirik ponselnya, menantikan balasan pesan dari Vanilla. Beberapa menit menunggu, akhirnya Vanilla memberi tanggapan.

__ADS_1


Wow, selamaaaat berjantungan ria. Hey tidak boleh kabur. Mungkin dia memang jodohmu. Percaya padaku, kalau sampai hari itu tiba dan semuanya dipermudah, artinya kalian jodoh, Tuhan merestui kalian!


__ADS_2