Nillaku

Nillaku
Nillaku 58


__ADS_3

Vanilla berjalan di koridor kampus usai bertemu dengan pengajarnya di ruangan. Seraya bermain ponsel, Ia tak menyadari kalau langkah kakinya menuju kelas telah mengotori hasil kerja Anneth, cleaning service yang sedang membersihkan lantai sehingga sedikit basah.


"Nona, jangan diinjak lagi,"


Vanilla mengangkat kepalanya, mengalihkan fokus dari ponsel. "Yang aku tahu, waktu untuk mengepel lantai di kampus ini adalah ketika mahasiswa sudah banyak yang pulang. Biasanya sore hari," Vanilla memperingati.


"Kalau sudah kotor memang seharusnya langsung dibersihkan. Tidak menunggu sore, Nona."


Alis Vanilla menukik sebelah. Dulu, saat Renald berbuat kesalahan karena tak sengaja membuat baju Vanilla kotor akibat cara kerjanya yang tidak benar, Renald tak seketus ini saat ditegur. Bahkan dengan suka rela Ia menuruti keinginan Vanilla pada saat itu untuk mengganti baju mahalnya yang telah menjadi korban cara kerja Renald yang sembarangan. Renald membawa air bekas membersihkan lantai lalu tak sengaja menabrak tubuh Vanilla hingga akhirnya air itu tumpah mengenai baju Vanilla yang dulu masih kejam pada orang lain. Sehingga Renald benar-benar dipermalukan oleh Vanilla.


Kesalahan Vanilla kali ini tidak fatal. Tinggal dipel lagi, apa sulitnya? sepertinya cleaning service yang beberapa hari ini Vanilla perhatikan akrab sekali dengan Renald sedang mencari masalah dengannya.


"Aku mengepel ini dengan tenaga, biasakan menghargai orang lain," ujarnya yang membuat emosi dalam diri Vanilla bergejolak. Gadis itu pergi, bukannya malah membersihkan jejak kaki Vanilla di lantai yang sudah dipelnya.


Dulu, orang-orang seperti itu tidak akan diberikan kesempatan hidup tenang oleh Vanilla. Tapi sekarang, Vanilla tidak ingin melakukan apapun yang kejam. Biarkan saja tangan Tuhan yang bekerja.


Saat Vanilla akan kembali melangkah, Ia melihat di ujung koridor gadis itu terjatuh ke lantai yang sedang Ia bersihkan.


"Beberapa detik yang lalu dia mencari masalah dengan aku, sekarang jatuh. Tangan Tuhan tidak akan pernah salah dalam memberikan pelajaran," batin Vanilla seraya tersenyum. Vanilla berjalan mendekatinya. Lalu mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu bangkit.


Anneth menatap Vanilla dengan sinis. Lalu tak lama Renald hadir di antara mereka berdua. Renald terkejut melihat temannya sudah duduk di lantai. Lelaki itu langsung membantu Anneth untuk bangkit.


"Kamu apakan Anneth?" nada bicara Renald pelan tapi tajam seolah Ia melihat Vanilla telah melakukan sesuatu terhadap Anneth.

__ADS_1


"Aku apakan? aku tidak melakukan apapun. Dia jatuh sendiri," jawab Vanilla dengan jujur. Renald menggeleng nampak tidak percaya. Mengingat Vanilla pernah mempermalukannya karena sebuah kesalahan dulu, mungkin saat ini Anneth tengah berada di posisinya dulu.


"Kamu sudah menjadi orang baik, Vanilla. Jangan rusak citra itu," ujar Renald sebelum pergi bersama dengan Anneth yang kesulitan berjalan sehingga dibantu oleh Renald.


"Dia kenapa? melihat kekasihnya jatuh, sampai seperti itu marahnya. Huh!"


Vanilla tak mau memikirkan itu. Ia memutuskan untuk masuk ke dalam kelasnya. Lalu memulai kegiatan belajar hari ini.


"Lama sekali bicara dengan dosen?"


"Ada masalah sedikit tadi,"


"Masalah apa?"


Joana mendengus saat rasa penasarannya tak terjawab. Ia membiarkan Vanilla untuk duduk. Joana memperhatikan wajah Vanilla yang duduk di sampingnya.


Vanilla terlihat tidak fokus. Sehingga Ia tepuk bahunya. "Ada apa? cerita padaku!"


"Di kampus ini ada cleaning service baru ya?"


Joana menggeleng, "Aku tidak tahu. Untuk apa mengurusi hal itu?"


"Aku perhatikan Renald sedang dekat dengan salah satu cleaning service yang belum pernah aku lihat,"

__ADS_1


"Lalu masalahnya apa?"


"Tidak ada, Joana. Aku hanya---"


"Tapi kamu terlihat sibuk memikirkan sesuatu. Jangan katakan, kalau kamu sedang cemburu pada Renald dan perempuan yang sedang dekat dengannya itu,"


"Tidak!"


"Terus kenapa? cepat cerita padaku!"


Joana tidak akan berhenti menekan Vanilla sampai Vanilla mengeluarkan beban pikirannya. Akhirnya Vanilla menceritakan semua kejadian tadi yang tak disangkanya itu.


Selama bercerita, wajah Joana tampak kesal. Seperti menahan amarah juga, sama seperti Vanilla tadi. Apa lagi begitu Vanilla mengulangi ucapan Renald.


"Perempuan tadi namanya Vanilla. Dia melakukan apa padamu?"


Renald membawa Anneth ke ruangan khusus cleaning service yang sering digunakan untuk beristirahat.


"Aku sedang mengepel lantai, dia malah mengotorinya,"


"Lalu dia membuatmu terjatuh?"


Anneth diam sebentar sampai Renald memaksanya melalui sentuhan tangan yang lembut agar Anneth menjawab.

__ADS_1


Anneth mengangguk pelan. Entah dorongan darimana Ia berani menjadikan Vanilla pihak yang bersalah padahal Vanilla menyentuhnya pun tidak. Tetapi pada saat Ia melihat Vanilla untuk pertama kalinya tadi, ada rasa tidak suka dalam dirinya untuk Vanilla. Ketika Ia melihat ada sorot sedih di mata Vanilla saat Renald berbicara, ditambah lagi dengan sikap Renald yang tak canggung sama sekali pada Vanilla sampai tidak ragu untuk menegur Vanilla, dan memanggil Vanilla tanpa sebutan lebih sopan seperti 'Nona', semua itu membuktikan bahwa hubungan mereka lebih dari apa yang Ia bayangkan. Tidak mungkin cleaning service seperti Renald berani menegur Vanilla dengan perkataan menohok seperti tadi sampai membawa-bawa citra baik seolah Renald sudah tahu betul bagaimana sosok Vanilla selama ini.


__ADS_2