Nillaku

Nillaku
Nillaku 279 Grizelle ingin konsep berbeda pada ulang tahunnya kali ini


__ADS_3

Tak mau hanya menghabiskan waktu di dalam kamar dan di balkon yang menghadap hutan, Devan mengajak anak dan istrinya untuk mendatangi hutan terawat itu.


Auristella berlarian seraya merentangkan tangannya. Suasananya benar-benar beda dari yang biasa Ia temui.


Auristella yang sebelumnya kurang antusias karena lebih memilih berenang di waterpark saja, kini justru sebaliknya.


"Auris, tolong jangan berlebihan ya. Tidak usah berlari kesana kemari. Aku pusing tahu tidak?"


"Adrian, biar saja adikmuĀ  melampiaskan kebahagiaannya seperti itu. Jangan dikomentari," Lovi menasihati anak keduanya dengan lembut. Nanti kalau Auristella menjawab, pasti akan berdebat lagi. Begitu saja terus alurnya.


"Kamu juga ngapain di situ?"


Auristella menatap kakaknya yang berbaring di atas jaring yang tali ujungnya terikat di batang pohon.


"Ya suka-suka aku lah"


"Hah sama! suka-suka aku juga mau berlari atau mau terbang sekalipun,"


Adrian menahan tawa melihat adiknya yang berseru tak ingin kalah.


Devan dan Andrean juga duduk di jaring namun di tempat yang berbeda dengan Adrian. Sementara Lovi duduk di akar salah satu pohon tempat dimana terikatnya salah satu tali dari jaring yang ditempati suami dan anak tertuanya.


"Aku mau tinggal di sini, Dad,"


"Mulai lagi anehnya," kali ini Andrean bergumam mendengar ucapan Adrian. Devan menoleh padanya dan terkekeh karena merasa lucu ketika mendengar Andrean yang jarang menanggapi kedua adiknya yang terkadang memang aneh.


"Aku juga, Dad,"


"Tambah lagi yang aneh,"


Tawa Devan kian pecah. Andrean mungkin sudah kesal dengan kedua adiknya yang tak henti mempunyai gagasan atau kalau tidak, berdebat.


"Di sini nyaman, tenang, dan damai, Dad. Kita pindah ke sini saja,"


"Kamu saja yang tinggal di sini. Daddy tidak," ujar Devan usai menyudahi tawanya.


"Memang kenapa, Dad?"


"Karena bukan ini tempat Daddy,"


"Tapi di sini nyaman 'kan, Dad?"


"Iya, memang nyaman. Maka kita berlibur di sini,"


"Hutan seperti ini tidak bisa Daddy buat ya, Dad? hanya Tuhan yang bisa. Sayang sekali. Padahal kalau bisa, aku minta dibuatkan,"


Devan menghembuskan napas pelan seraya memijat kepalanya. Auristella bicara hal tak masuk akal dengan ringan sekali. Tanpa peduli dirinya yang sudah kehabisan kata untuk menanggapi.


"Hanya Tuhan yang bisa, Auris,"


"Iya, Mom. Padahal kalau Daddy bisa, aku minta dibuatkan di rumah. Supaya sesekali aku bisa tinggal di hutan begini,"


"Oh kamu berani? nanti malam tidur di sini ya," seru Adrian menunjuk adiknya seraya tertawa. Ia menantang adiknya yang pasti tidak ada keberanian untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


"Aku berani,"


"Benar? okay, nanti malam buktikan. Akan aku kunci penginapan kita biar kamu tidak bisa masuk dan kamu tidur di sini. Akan bertemu dengan binatang buas, kalian akan berteman. Karena sama-sama buas,"


Auristella menggeram, secepat kilat Ia berlari ke arah Adrian dan mengguncang-guncang jaring yang ditempati Adrian. Kakak keduanya itu langsung takut jatuh ke bawah.


Setelah ditegur Devan, barulah Auristella berhenti menjahili kakaknya. Ia menatap Adrian dengan raut mengejek. Saat Adrian akan memberinya pelajaran, Ia berlari sekencangnya tak tentu arah.


Sampai tiba saatnya Adrian jatuh. Ia yang menyadari itu, langsung menghampiri, begitupun Lovi.


Se-menyebalkan apapun sang kakak, Auristella tetap takut bila kakaknya terluka.


"Kamu tidak apa 'kan? maaf ya," ujar anak bungsu Devan dan Lovi itu pada kakak keduanya.


"BOHONG, AKU BOHONG," Adrian berseru dan tertawa puas. Wajahnya tak menampilkan raut kesakitan lagi malah raut bahagia diatas kesedihan orang lain yang ada.


"Adrian ini benar-benar ya,"


Tak hanya Auristella yang kesal, Lovi pun demikian. Ia menatap tajam pada anak lelakinya yang kini berlari menghindari pukulan Auristella.


"Daddy kenapa tidak ikut menghampiri? Dad tidak khawatir?" tanya Andrean penasaran pada ayahnya. Karena disaat Lovi dan Auristella panik, Devan diam saja di tempatnya, begitupun dengan dirinya sendiri.


"Daddy tahu dia pura-pura,"


"Sama, aku pun berpikir seperti itu. Ternyata benar,"


Ayah dan anak pertamanya itu menggeleng pelan. Tak habis pikir dengan tingkah Adrian yang seperti itu. Jahil, pintar berakting, dan menyebalkan.


"Griz, baca apa itu?"


Vanilla mendekati anaknya yang tengah membaca selembar kertas dengan serius di depan televisi.


"Ini aku dapat dari temanku. Ayahnya seorang promotorrl (promotor) sebuah tempat liburrlan (liburan), Mu,"


Grizelle memperlihatkan brosur untuk promosi yang dibawa temannya ke sekolah tadi. Ia yang ingin tahu menerima dengan senang hati lembar kertas tersebut.


"Coba Mumu lihat,"


Grizelle memberikannya pada sang Ibu. Kemudian Vanilla langsung membacanya dan memahami isinya.


"Griz mau ke sini?"


Grizelle mengangguk cepat. "Kalau berrliburrl (berlibur), aku tidak perrlnah (pernah) menolak, Mu,"


"Oh hanya mau berlibur saja?"


Vanilla sudah mulai mencari tahu hal apa yang diinginkan anaknya itu yang akan Ia jadikan sebagai kado ulang tahun nanti.


"Iya, memang boleh berrlliburl (berlibur), Mu?"


"Boleh, Sayang. Tapi nanti ya,"


"Okay, Mu,"

__ADS_1


"Terus selain berlibur, hal apa lagi yang tidak akan pernah Griz tolak?"


Anak itu bergumam berpikir. Ia mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.


"Semua yang diberrlikan (diberikan) tidak akan mau aku tolak. Kita harrlus (harus) mengharrlgai (menghargai), Mu,"


Vanilla menggaruk tengkuknya bingung. Ia tak mendapat jawaban apapun dari sang putri. Malah kesannya Grizelle tengah mengajarinya agar tak pernah menolak apa yang diberikan sebagai bentuk menghargai.


"Baiklah, nanti kita bilang pada Pupu soal rencana liburan ini ya,"


"Kita berliburrl (berlibur) nya ke sana, Mu?"


Grizelle menunjuk brosur itu yang langsung diangguki Mumunya.


"Iya, Griz inginnya ke sana 'kan? atau mau ke tempat lain?"


"Aku mau coba datang ke sana, Mu,"


Vanilla mengangguk setuju. Ia akan memenuhinya. Permintaan itu akan Ia berikan di hari ulang tahun.


Vanilla membuka ponselnya. Ia mulai mempersiapkan untuk pesta ulang tahun Grizelle mulai dari tempat, kostum anaknya, Ia serta sang suami, dekorasi, dan juga konsumsi. Yang terakhir undangan. Ia hanya mengundang orang-orang yang Ia kenal saja dan juga teman-teman Jhico.


"Griz sekarang lagi suka karatkter apa sih?"


Vanilla bingung menentukan dekorasi sekaligus kostum. Maka Ia bertanya pada Grizelle sekarang ini sedang menyukai suatu karakter tertentu atau tidak.


"Tidak, Mu. Itu untuk ulangtahun ku ya?" tebaknya yang langsung tepat sasaran. Vanilla terkekeh mengusap rambut anaknya.


"Iya, Griz tahu?"


"Mumu selalu buat pesta ulangtahun untukku,"


"Iya, jadi Griz mau seperti apa pestanya nanti? konsep dengan karakter apa, maksud Mumu,"


"Hmm...aku tidak tahu sedang menyukai apa, Mu. Atau temanya boneka saja, Mu,"


"Setiap tahun kalau tidak barbie pasti boneka ya,"


Grizelle mengangguk dengan senyumnya. Tak ada lagi yang Ia sukai sampai sekarang kalau bukan itu.


"Mu, kalau temanya ada hewan-hewan. Boleh tidak?"


"Oh Griz mau itu? jadi seperti kebun binatang ya?"


Grizelle mengangguk,itu maksudnya. Dan ternyata Ibunya mengerti.


"Tapi boleh, Mu?"


"Boleh, Kalau Griz memang inginnya itu,"


"Tapi tidak seperrlti (seperti) anak laki-laki 'kan, Mu?"


"Tidak, bukan hanya anak laki-laki saja yang suka hewan,"

__ADS_1


__ADS_2