Nillaku

Nillaku
Nillaku 290 Ternyata Auristella juga punya hadiah dari Grandpa


__ADS_3

tak hanya keluarga kecilnya saja, Jhico pun turut mengajak penghuni rumahnya yang lain untuk ikut berlibur. Grizelle semakin bahagia karena itu artinya suasana saat berlibur nanti tak ada bedanya dengan di rumah, bersama orang-orang terdekatnya.


Mereka berangkat saat pagi hari, tepatnya usai sarapan. Jhico bersama anak dan istrinya dalam satu mobil yang sama dan Ia sebagai pengendaranya. Sementara satu mobil lainnya dikendarai oleh drivernya dan diisi oleh Nada, Bibi, Ariella,dan satu driver lagi.


Tapi sebelum berangkat menuju sebuah resort dengan suasana di tepi kota, mereka menghadiri pembukaan resmi area bermain yang dibuat Raihan untuk Grizelle terlebih dahulu.


Grizelle yang memotong pita di bagian depan area bermain tersebut sebagai tanda bahwa benar-benar dibuka dan siapapun boleh bermain di sana.


"Aku akan mengajak temanku ke sini setelah pulang berrliburl (berlibur). Boleh ya, Grrlandpa?"


"Tentu, Sayang. Griz dan teman-teman boleh datang ke sini, kapanpun,"


Grizelle bersorak senang. Ia sudah tak sabar mengajak teman-temannya datang dan bermain di sana. Tak menyangka kalau keinginannya menjadi kenyataan. Ia pikir keinginannya untuk membawa teman-teman sekolahnya ke tempat bermain miliknya adalah mimpi.


Tapi sebenarnya Grizelle masih belum mengakui itu miliknya. Ia menegaskan bahwa itu punya kakeknya yang diberikan pada Ia dan ketiga kakak sepupunya.


Setelah bermain sebentar di sana, Jhico dan Vanilla segera meminta Grizelle untuk selesai bermain sebab mereka akan segera pergi berlibur.


Grizelle tentu tak menolak. Untuk saat ini berlibur dulu yang Ia utamakan. Lagipula bermain di sana bisa kapanpun, begitu kata kakeknya tadi.


"Bye, Grrlandpa, Grrlandma. Aku perrlgi berrliburl (pergi berlibur) dulu ya,"


"Iya, Sayang. Hati-hati ya,"


"Senang-senang di sana. Okay?"


Grizelle mengangguk dan menyambut tangan Raihan yang mengajaknya ber-high five.


"Nanti telepon aku saja kalau rrlindu (rindu)," kata anak itu seraya tertawa kecil.


"Siap, Tuan putri kecil," Raihan memposisikan tangannya di pelipis bersikap layaknya sedang memberi hormat. Hal itu membuat Grizelle tertawa lagi.


"Baik, aku perrlgi (pergi) dulu,"


Grizelle mengikuti apa yang dilakukan Raihan. Ia juga bersikap hormat. Raihan dibuat sangat gemas dengan tingkah cucu dari anak perempuannya. Ia memberikan ciuman yang bertubi-tubi di pipi Grizelle hingga anak itu merengek meminta pada kakeknya agar berhenti melakukannya.


"Sudah, jangan begitu. Cucumu lagi berlibur malah merusak suasana hatinya," tegur Rena.


"Aku mau perrlgi (pergi). Aku sebal dengan Grrlandpa," Grizelle mengatakannya dengan cemberut.


"Oh benar ya?"


Grizelle tersenyum lebar kemudian menggeleng. Ia tak serius ketika mengatakannya. Tak ingin kakenya sedih Ia segera membantah.

__ADS_1


"Tidak, Grrlandpa. Aku tidak serrlius (serius) tadi,"


"Ayo, Sayang. Kita tidak pergi-pergi ini," ajak Vanilla menyaksikan perpisahan anaknya dengan kakek dan neneknya yang berujung lama. Ia tahu, Grizelle memang seperti itu kalau ingin berpisah dengan orang terdekatnya. Tak heran lagi. Tapi masalahnya mereka sudah membuat janji untuk masuk penginapan pukul sepuluh dan sekarang sudah lebih dari pukul delapan.


****


"Grandpa, kenapa hanya Icelle yang diberikan tempat bermain? kenapa aku tidak? kata Icelle, di sana banyak permainannya,"


Begitu Raihan menjawab panggilan Devan, suara Auristella


langsung menyerbu telinganya.


"Tidak ada kalimat pembuka dulu, Sayang? seperti, 'Grandpa aku rindu sekali' langsung menyerbu Grandpa seperti itu? hmm?"


Auristella mendengus mendengar ucapan kakeknya. Ia sudah terlanjur kesal dengan Grandpa nya maka tak ada lagi kalimat sapa yang hangat seperti biasa.


"Kenapa Grandpa hanya memberikannya pada Icelle? aku 'kan juga suka bermain, kenapa tidak diberikan playground juga yang seperti di pusat perbelanjaan itu?"


"Itu untuk bersama, Auris," ujar Raihan memberi penjelasan dengan kalimatnya yang lembut.


"Tapi kenapa diberikan tepat di hari ulang tahun Griz? berarti hanya untuk Griz 'kan?"


"Sebenarnya iya,"


"Huwaa Grandpa jahat padaku, dan kedua kakakku,"


"Grandpa tidak adil. Huh, aku kesal pada Grandpa,"


Terdengar suara Adrian yang menyahuti. Raihan menghela napas pelan. Kini Ia diserang oleh kedua cucunya.


"Kalian sudah pernah daddy buatkan playground di dekat rumah. Saat kalian masih kecil. Sudahlah, tidak usah meributkan hal itu,"


Devan menengahi, Ia kira Auristella meminjam ponselnya untuk menghubungi sang ayah karena Auristella rindu ingin bicara dengan kakeknya itu. Tapi ternyata malah melampiaskan kekesalannya.


"Tapi beda, Daddy. Itu dari Daddy, kalau dari Grandpa tidak ada,"


"Grandpa buatkan nanti. Kalau perlu dibuatkan satu-satu,"


"Ya ampun, tidak usah, Pa. Tidak perlu melakukan itu. Untuk apa? buang-buang uang saja,"


"Bisa buat investasi juga itu, Dad," sela Adrian yang mulai pandai mengenai peluang bisnis.


"Nanti kita buka untuk umum," tambah Auristella seraya terkekeh.

__ADS_1


"Tentu saja. Kalau hanya dibuka untukmu yang ada sia-sia. Karena tidak bisa menghasilkan uang dari sana,"


Raihan dan Devan menggeleng pelan mendengar pembicaraan mereka berdua.


Raihan berdehem sebentar membuat kedua cucunya fokus pada sambungan telepon lagi.


"Grandpa, aku ingin juga," Auristella merengek dan langsung mendapat tatapan tajam dari Devan.


"Kamu itu sudah lebih besar dari Grizelle. Seharusnya tidak lagi banyak bermain," kata Devan memperingati anak perempuannya itu. Devan tidak ingin anaknya seperti itu. Pasti akan membuat Raihan kepikiran nantinya. Dan sudah cukup juga semua yang diberikan pada ketiga anaknya. Tak hanya cinta dan kasih sayang, melainkan materi juga. Padahal Ia sendiri sangat mampu untuk mencukupi ketiga anaknya tapi pemberian Raihan untuk simpanan masa depan mereka banyak sekali.


"Sebenarnya Grandpa juga sedang buatkan untukmu,"


"HAH?! YANG BENAR, GRANDPA?!"


Raihan sampai harus menjauhkan ponselnya dari jangkauan telinga sebab suara Auristella yang menggelegar dan hampir membuat telinganya tak bisa mendengar lagi.


Adrian di seberang sana langsung bereaksi juga. Ia segera membungkam mulut adiknya dengan tangan hingga Auristella meronta minta dilepaskan.


"Suaramu itu seperti kaca pecah, tahu tidak? berisik!" marah Adrian seraya melepaskan tangannya dari mulut sang adik. Auristella mendengus dan memberikan tatapan emosi pada kakaknya itu.


"Apa?! diberi tahu malah kesal,"


Adrian melotot, tak ingin diam saja melihat adiknya yang memberi tatapan penuh permusuhan padanya.


"Auris, jadi sebenarnya Grandpa sedang buatkan untuk kamu. Sebenarnya pembangunan milik kamu dan Grizelle itu bersamaan tapi karena ada beberapa kendala pada milikmu, maka yang selesai lebih dulu adalah milik Grizelle. Dan Grandpa bersyukur karena saat Grizelle berulang tahun semuanya susah selesai bahkan tadi sudah dibuka secara resmi,"


"Tadinya Grandpa memang ingin membuat itu khusus untuk dipakai kalian saja, tidak untuk umum. Tapi menurut saran Grandma dibuat untuk umum saja. Dan ternyata kamu juga inginnya seperti itu ya? untuk investasi,"


Auristella mendengarkan ucapan kakeknya dengan seksama tak menyela sedikitpun.


"Kenapa Grandpa tidak buatkan untuk Adrian dan Andrean juga, karena mereka sudah lebih besar dari kamu dan Grizelle, maka Grandpa pikir, mereka tidak usah dibuatkan area bermain. Lebih baik mereka dibuatkan yang lain saja. Tapi karena Grandpa masih bingung, maka Grandpa belum membuatkan apa-apa untuk mereka. Mungkin nanti akan Grandpa pikirkan lebih serius lagi,"


Auristella tersenyum senang. Ia bersorak lagi namun kali ini Ia berhasil mengendalikan diri sebelum kakak keduanya itu mengamuk.


"Terimakasih ya, Grandpa. Aku senang sekali akhirnya punya bisnis playground sendiri,"


Tawa Raihan pecah seketika. Niatnya ingin membuat tempat bermain itu khusus untuk digunakan oleh cucunya saja tapi ternyata saran dari Rena lebih baik dibuka untuk umum saja agar semua bisa menggunakannya.


Dan ternyata Auristella pun menginginkan hal demikian karena katanya untuk investasi.


"Punyamu belum jadi, maka Grandpa katakan pada Griz itu untuk digunakan bersama dengan kamu maupun kedua kakamu bila memang kalian ingin. Dan Griz tidak keberatan dengan itu. Malah dia mengatakan itu bukan miliknya. Tapi milik kalian bereempat yang diberikan Grandpa,"


"Ian dan Ean tidak usah lah, Grandpa. Mereka sudah sepuluh tahun, tidak suka bermain lagi di playground,"

__ADS_1


"Hee aku masih suka bermain. Tapi memang tidak seperti dulu lagi," tangan Adrian menarik gemas daun telinga adiknya. Siapa bilang Ia tidak suka bermain di playground? Ia masih menyukainya dan Andrean pun demikian.


Tapi memang tak seperti dulu lagi. Sekarang lebih banyak sibuk dengan sekolah maupun private class. Mereka juga sudah mulai berpikir mengenai masa depan mereka nantinya.


__ADS_2