Nillaku

Nillaku
Nillaku 82


__ADS_3

Sampai di apartemen, Jhico menoleh ke samping. Rupanya Vanilla tertidur setelah menjelaskan tadi.


Jhico menggeleng pelan. Ia sampai ketiduran seperti ini pasti karena kelelahan. Ia tidak ingin membangunkan Vanilla. Lelaki itu menggendong Vanilla untuk sampai di unit apartemennya walaupun sempat dibuat kesulitan saat harus menutup pintu, menekan tombol lift, dan membuka pintu unit apartemen.


Setelah meletakkan Vanilla di atas ranjang, Ia segera turun lagi ke basement untuk mengambil barang-barang Vanilla yang tadi dibawa ke studio foto.


"Tuan Jhico..."


Jhico menoleh saat dipanggil oleh penjaga apartemen nya. Penjaga itu mendekati Jhico yang akan naik membawa barang istrinya.


"Ada apa?"


"Tadi orangtua Tuan Jhico datang,"


"Oh iya? jam berapa?"


"Sekitar sepuluh menit yang lalu, Tuan."


"Belum lama berarti ya?"


"Iya, Tuan."


"Baik, terima kasih."


"Iya, Tuan."


Jhico segera melanjutkan langkahnya untuk naik ke lantai empat puluh dua. Seraya berjalan, Ia memikirkan tujuan kedatangan orangtuanya ke sini beberapa menit yang lalu. Yang Jhico tahu dari Hawra, mereka sedang ke Italia.


Vanilla mengerjap saat tubuhnya tak lagi terasa berada di dalam mobil. Begitu matanya terbuka, pemandangan kamar lah yang Ia dapati.


"Dimana Jhico?" gumamnya sendiri.


Ia keluar dan menemukan Jhico yang baru saja mengunci pintu apartemen. Vanilla langsung masuk lagi ke kamar dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur. Ia benar-benar lelah dan ingin sekali melanjutkan tidur.


Jhico masuk ke dalam dan melihat ranjang sudah kosong. "Nilla, kamu mandi?" tanya Jhico dengan nada yang lumayan kencang agar istrinya di kamar mandi mendengar.


"Iya, Jhi. Kamu mau mandi juga? mandi saja di kamar mandi luar,"


Jhico mendengus, selalu Ia yang mengalah. Kamar mandi di dalam kamar mereka sudah seperti milik Vanilla sendiri. Tanpa Vanilla ajari juga, Jhico pasti akan mandi di kamar mandi luar karena kalau menunggu Vanilla selesai, bisa-bisa Ia ketiduran.


"Jangan lama mandinya!" kata Lelaki itu seraya mengetuk pintu kamar mandi dimana Vanilla berada.


"Iya,"


"Jangan 'iya' saja tapi tidak dipatuhi. Kamu semenjak hamil jadi lama mandinya,"


"Iya lah, 'kan aku memandikan anakku juga,"


"Ck! alasan,"


Semenjak hamil, Vanilla jadi lebih memperhatikan perawatan tubuhnya.Yang biasanya mandi tidak terlalu lama, sekarang jauh lebih lama. Tak hanya itu saja, tadi setelah menjelaskan perihal kesalahannya hari ini, Ia meminta izin pada Jhico untuk pasang eyelash extension.


"Boleh ya, Jhi? aku mau bulu mataku lentik,"


"Untuk apa sih, Nilla? yang alami saja, tidak perlu pasang-pasang begitu. Jangan lagi tampil sempurna, kamu sudah menikah,"


"Kalau sudah menikah memang tidak boleh tampil sempurna begitu?"

__ADS_1


"Tidak usah, menurut aku kamu sudah cantik, sempurna, dan tiada dua. Jadi tidak perlu!"


Saat lampu lalu lintas berubah merah. Jhico segera merangkum wajah istrinya yang merengut.


"Okay? menurutku kamu sudah sangat-sangat cantik,"


Istrinya mandi, Jhico pun melakukan hal yang sama. Yang biasanya jarang berendam, setelah hamil, Vanilla jadi suka berendam, itulah salah satu faktor yang membuat Ia lama berada di kamar mandi.


***


"Kenapa dibawa pulang lagi?"


Hawra menunjuk beberapa paper bag yang ada di tangan Karina. "Jhico belum pulang, Bu."


"Oh sayang sekali. Padahal kalian membawa buah tangan untuk mereka,"


"Besok aku antar ke apartemennya," ujar Thaatan menawarkan diri, langsung ditolak mentah-mentah oleh istrinya.


"Tidak mau, nanti tidak sampai pada mereka. Kamu punya dendam pada baju anak perempuan yang aku beli. Aku takut bajunya kamu cabik-cabik,"


Usai mengatakan itu Karina masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Thanatan yang menggeram dan Hawra yang terkekeh.


"Karina tahu saja niatmu ya?"


"Aku tidak mau melakukan itu. Otaknya terlalu berpikir negatif,"


Hawra menggeleng melihat perdebatan. Sebenarnya tidak aneh melihat mereka berdebat karena sejak Jhico masih kecil sudah menjadi rutinitas mereka berdebat bahkan di depan Jhico sekalipun. Tapi yang membuat Karina salut, rumah tangga anak dan menantunya bisa bertahan cukup lama meski sering diwarnai perbedaan pendapat dan keinginan.


***


"Aku buat puding. Kau mau tidak?"


Vanilla melirik suaminya dengan sinis. Jhico tidak percaya sekali dengan makanan buatannya.


"Kalau tidak mau, ya sudah. Aku tidak memaksa,"


Jhico terkekeh dan segera mendekati istrinya yang tengah menikmati puding buatannya sendiri di tepi ranjang.


"Seharusnya kamu makan di meja makan, Nillaku. Aku sudah pernah katakan,"


"Aku mau makan di sini. Kamu tidak usah berisik!"


Jhico menggeram gemas melihat wajah Vanilla yang cemberut. Langsung dirangkumnya wajah cantik itu hingga bibirnya mengerucut. Setelah itu, tanpa menunggu waktu lama, Ia mengecup bibir Vanilla.


"Hmm enak,"


"Jhico, kenapa diambil?!"


"Tadi kamu menawarkan aku 'kan? ya sudah, aku makan."


"Ya, tapi jangan diambil juga puding yang ada dimulutku!"


Jhico mengambil puding dari mulut ke mulut. Masalahnya, kalau Jhico bersikap seperti itu, jantung Vanilla langsung bekerja tidak normal. Iramanya tidak beraturan.


"Padahal Jhico hanya mengambil puding dari mulutku tapi gemetarnya sampai ke tulang-tulang. Hmm okay aku berlebihan," batin Vanilla yang sungguh bahagia sekaligus salah tingkah.


"Ini, kamu makan saja yang ada di piring."

__ADS_1


"Aku tidak mau makan yang ada di piring. Mau---"


"Jangan aneh-aneh! mulutmu bau, tahu tidak?"


Jhico langsung tersenyum miring seraya menunjuk Vanilla, "Benar ya? mulutku bau jadi aku tidak akan cium-cium kamu,"


Vanilla langsung menggeleng dan menangkap telunjuk Jhico yang mengarah padanya. "Tidak boleh!"


"Ya, memang aku tidak mau mencium kamu. Mulutku bau,"


"Haaaa maksudnya tidak boleh begitu! kamu harus cium aku!" rengeknya dengan tawa kecil. Jhico langsung mengalihkan wajahnya seraya memasang raut datar.


"Tidak mau, mulutku bau. Untuk apa minta cium dari orang yang mulutnya bau?"


"JHICO!" bentak Vanilla yang kesal. Ia kesal pada dirinya sendiri yang kelepasan bicara seperti itu. Akhirnya Ia juga yang dibuat ketakutan tidak mendapat ciuman dari sang suami.


Bibir Jhico sudah menjadi candu untuknya. Begitupun sebaliknya. Sehari saja Ia tidak dicium Jhico, hati terasa tidak tenang.


Vanilla meletakkan piring berisi puding di atas nakas lalu memeluk Jhico yang pura-pura fokus menatap layar televisi yang menampilkan sebuah talkshow.


"Jhi, kamu jangan tersinggung begitu. Aku hanya bercanda, serius."


"Jadi, bercanda atau serius?" tanya Jhico seraya menoleh sebentar pada istrinya.


Vanilla berdecak dan merebut remote televisi yang tombolnya sedang ditekan-tekan secara asal oleh Jhico yang kali ini tidak ingin menghiraukannya.


"Bercanda!"


"Hmm..."


"Awwss. Sakit, Nilla." Karena Ia hanya mengeluarkan dehem, Vanilla segera menarik daun telinganya.


"Kamu kenapa hanya berdehem?!"


"Aku harus apa?"


"Jadi kamu tetap mau mencium aku 'kan?"


Dengan tingkah manja yang dimilikinya, Ia merayu Jhico yang sebenarnya hanya pura-pura tersinggung. Biar dikatakan mulutnya bau ini dan itu sekalipun, Ia tidak akan pernah berhenti mencurahkan kasih sayangnya pada sang istri salah satunya dengan cara mengecup Vanilla.


"Sekali-sekali kamu yang cium lebih dulu. Masa aku terus yang memulai?"


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Vanilla mengecup pipi kanan, kiri, kening, dagu, dan terakhir bibir suaminya biar Jhico puas sekalian. Selama ini Vanilla memang jarang sekali menciumnya terlebih dahulu. Sekarang, Ia melakukannya dan dengan jumlah yang tidak sedikit. Bahkan semua bagian wajah disinggahi oleh bibirnya.


--------


Singgah di lapaknya triple A yaaa👇

__ADS_1



__ADS_2