Nillaku

Nillaku
Nillaku 307 Kuteks dari Auristella


__ADS_3

"Hoaaam aku kenyang,"


Puk


Puk


Puk


Adrian menepuk-nepuk pelan perutnya sendiri. Benar-benar puas makan malam ini. Seperti manusia yang tak makan berhari-hari saja padahal Mommy dan Daddynya memberi makan yang cukup dan bergizi.


"Besok badanku seperti gorila,"


"Tidak usah tunggu besok. Sekarang pun sudah menyerupai,"


Grizelle tertawa keras mendengar ejekan Auristella pada kakak laki-lakinya yang nomor dua. Terlalu puas tertawa sampai Adrian kesal sekali menyaksikannya. Auristella dan Grizelle ini memang saling melengkapi. Auristella yang mengejek dan Grizelle akan menjadi tim sorak sorai nya.


"Jangan tertawa! lebar sekali mulutmu. Seperti kudanil,"


"Hei! sembarrlangan (sembarangan) kalau bicarrla (bicara) ya,"


Grizelle memasang raut galak. Matanya melotot pada Adrian dan Ia juga berkacak pinggang. Kali ini Adrian yang tertawa, merasa berhasil membalaskan dendam pada Grizelle.


"Ya habis puas sekali menertawakan aku,"


"Lucu, makanya aku terrltawa (tertawa). Salahkan saja Aurrlis (Auris) yang melucu sampai membuat aku terrltawa (tertawa),"


"Sudah, jangan adu mulut kakak dan adikku. Lebih baik kita lanjut makan lagi,"


"Ya ampun tidak ada kenyangnya kamu ya," Adrian bergidik melihat nafsu makan adiknya yang belum luntur.


"Ya biarrlkan (biarkan) saja. Kalau masih laparrl (lapar), lanjut saja," ujar Grizelle membela Auristella.


"Aku sudah cukup,"


"Aku juga," tambah Adrian setelah kakaknya berujar lebih dulu.


"Besok aku harus mulai gym,"


"Memang boleh? kamu 'kan masih dibawah umur. Pasti dilarang Daddy. Banyak olahraga yang tepat untuk anak seusiamu. Berenang saja. Itu kolam di rumah sudah jarang sekali digunakan. Hei, besok kamu yang gantian datang ke rumahku ya, Icelle. Kita berenang di sana," Tanpa henti Auristella berceloteh.


Yang tadinya sedang membahas olahraga Adrian, akhirnya malah meminta Grizelle untuk datang ke rumahnya.


"Aku izin dulu. Pulang sekolah ya,"


"Iya, kami juga besok harus sekolah dulu,"


"Okay, nanti bantu aku bicarrla (bicara) juga dengan Mumu dan Pupu ya,"


Auristella mengangguk cepat. Belum puas menghabiskan waktu seharian dengan Grizelle, Auristella ingin menambah kebersamaan mereka yang sempat hilang akhir-akhir ini karena Ia terpaksa pergi mengikuti perjalanan bisnis Daddynya.


"Hah, aku sudah juga,"

__ADS_1


Auristella mengangguk. Ia pun sama dengan Grizelle. Puas dengan barbeque malam ini.


"Cukup?"


"Lebih dari cukup, Bibi. Kami sudah kenyang sekali sekarang,"


Mereka yang kecil sudah berhenti makan sementara yang dewasa masih menyantap dan tak lagi memanggang.


Jhico tersenyum memperhatikan dari rooftop kamarnya. Anak-anak itu terlihat duduk meluruskan kaki seperti yang sudah pasrah saja ditangkap polisi.


"Aku mengantuk,"


"Sama,"


"Tidak boleh tidurrl (tidur) barrlu (baru) habis makan," larang Grizelle.


Andrean dan Adrian mengangguk. Andrean yang awalnya mengeluh telah diserang rasa kantuk kemudian disusul adik kembarnya.


Jhico kembali memasuki kamarnya. Ia terkekeh pelan dan itu membuat Vanilla mengerinyit.


"Kenapa?" tanya Vanilla pada sang suami.


"Mereka lucu sekali,"


"Keempat anak itu?"


Jhico mengangguk membenarkan. Ia benar-benar memantau sesekali. Ada saja yang Ia temui ketika Ia ke rooftop untuk memperhatikan mereka. Mereka sibuk makan sambil mengobrol, lalu tadi Ia melihat perdebatan antara anaknya dengan Adrian. Ia terkekeh pelan menyaksikan anaknya yang kelihatan galak pada Adrian. Ia tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena Ia di atas, tapi Ia tahu dari sikap tubuh mereka.


"Iya,"


Jhico beranjak sebentar meninggakkan kamarnya dan sang istri. Ia menghampiri Grizelle dan ketiga saudaranya yang duduk tak berdaya di halaman.


"Sudah senang-senangnya?"


Mereka kompak menoleh pada lelaki yang menjadi tuan rumah.


Keempatnya mengangguk.


"Sudah, Uncle,"


"Sudah, Pu. Apa Pupu mau tambah? itu masih ada," Ia menunjuk sisa yang masih ada, belum terjamah. Jhico menggeleng tersenyum. Bagiannya dan Vanilla masih ada juga di kamar tersisa dua slice yang diberikan tadi tujuh. Vanilla yang lebih banyak makan.


"Kita tidak makan malam lagi. Sudah makan daging tadi,"


"Iya lah, Griz. Yang benar saja kamu masih mengajak kita makan malam?"


Kalau jawaban Grizelle 'iya' benar-benar Adrian dibuat tak habis pikir. Beruntungnya Grizelle menggeleng.


"Makan malam kita ya tadi,"


"Benarrl (benar)!" seru Grizelle membenarkan ucapan Autistella.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang istirahat ya,"


"Aku ingin tidur di kamarmu,"


"Okay, silahkan," Grizelle tak keberatan sama sekali kamarnya juga ditempati oleh Auristella.


"Kita di kamar biasa kalau kita menginap di sini ya, Uncle,"


Jhico mengangguk, mengacak lembut rambut Adrian yang meminta izin padanya.


"Berganti pakaian dulu biar nyaman tidurnya," pesan lelaki itu pada mereka yang tentu dipatuhi. Begitu tiba di kamar masing-masing, mereka segera berganti pakaian. Andrean dan Adrian langsung terbaring tak berdaya di ranjang sementara Auristella dan Grizelle masih terlibat meeting bisnis kalau kata Jhico bila melihat anaknya sibuk mengobrol dengan Auristella. Si kembar tak bisa benar-benar menuruti larangan Grizelle tadi yang mengatakan bahwa tidak boleh tidur dulu sehabis makan. Adrian dan Andrean sudah sangat mengantuk maka mereka terkapar tidak berdaya di ranjang.


"Icelle, aku punya kuteks baru,"


"Oh iya, mana hadiahku. Katanya kalau sudah pulang, mau bawakan hadiah untuk aku. Cokelat, make up, kuteks," Grizelle baru ingat untuk menagih janji sepupunya itu.


Auristella yang tengah membuka ranselnya guna mengeluarkan kuteks barunya terkekeh pelan.


"Aku cuma bawa kuteks ke sini. Yang lainnya masih ada di rumah. Maka kamu harus datang ke rumahku ya,"


"Oh iya aku belum minta izin dengan Pupu dan Mumu,"


"Ya sudah, besok saja tidak apa,"


"Kalau tidak diizinkan bagaimana?" Raut Grizelle mendung seketika. Ia sangat berharap diizinkan menginap di rumah sepupunya.


"Nanti aku bantu bicara pada mereka. Aku juga minta izin supaya kamu dibolehkan,"


"Ya sudah, bantu aku ya?"


"Iya, tenang saja,"


Auristella memberikan satu buah pouch berisi banyak kuteks kepada Grizelle yang menerimanya dengan senang hati.


"Woahhh terrlimkasih ya. Ini banyak sekali," Grizelle gemas dengan warna-warna pastel dari kuteks yang diberikan Auristella. Ia mengeluarkan semua pewarna kuku itu dari dalam pouch kemudian diletakkannya di atas ranjangnya agar Ia bisa lebih mudah melihat secara keseluruhan.


"Suka?"


"Suka sekali. Ini sangat banyak. Terrlimakasih (terimakasih) ya," Ia tersenyum hangat menatap Auristella.


"Iya, sama-sama. Aku masih punya lagi untukmu. Tapi di rumahku. Aku hanya bawa yang ini saja,"


"Kenapa tidak dibawa semua?"


"Sengaja, biar kamu mau datang ke rumahku mengambil pesanan-pesanan kamu,"


"Cokelat tidak bawa?"


"Tidak, Griz. Aku takut cokelatnya hancur, jadi aku biarkan saja di lemari pendingin. Besok kamu makan sepuasnya. Karena aku punya banyak tapi hati-hati saja dengan Ian. Dia itu penggemar cokelat. Aku juga sebenarnya. Tapi dia itu pelit," Ia mencibir kakaknya yang selalu mengajak berdebat bahkan hanya karena cokelat. Padahal Ia sendiri juga suka, bukan Adrian saja tapi Adrian seolah pemilik semuanya.


"Yah...padahal kalau kamu bawa sekarrlang (sekarang), aku mau makan selagi tidak ada Mumu dan Pupu," bisiknya seraya terkekeh.  

__ADS_1


__ADS_2