
Auristella merengek saat melihat foto-foto Grizelle yang berlibur. Sengaja Grizelle meminta Mumunya agar mengirim itu pada Auristella. Barangkali Auristella dan kedua kakaknya jadi cepat pulang.
"Huh! Mommy, kapan kita liburan? Griz saja sudah dengan Nay-Nay nya,"
"Ya mintalah pada Daddy,"
Auristella menoleh pada ayahnya yang tengah bermain game bersama Adrian dan Andrean di atas ranjang.
Ia yang sedang berada di balkon kamar bersama Lovi segera masuk ke dalam kamar.
"Daddy, ayo kita liburan. Griz sudah liburan itu,"
"Sudah, seminggu yang lalu,"
"Liburan terus. Memang tidak bosan?" Adrian ikut menyambar. Padahal yang sedang diajak bicara Devan.
"Mana ada liburan membosankan? tidak ada,"
"Sebentar lagi exam, Auris. belajar, bukan berlibur yang dipikirkan,"
"Iya, benar itu, Dad!" seru Adrian memanasi situasi. Auristella menatapnya kesal. Ia mengepalkan tangannya kemudian mengarahkan itu pada Adrian. Seketika Adrian menjulurkan lidahnya.
"Ayo, kalau berani," tantangnya. Adrian tahu adiknya tidak mungkin berani macam-macam karena ada ayahnya di dekat mereka. Mungkin kalau Mommy mereka yang melerai, masih sulit bertemu dengan kata damai. Tapi kalau Daddy mereka sudah turun tangan, maka detik itu juga mereka berdamai.
"Dad, Adrian itu. Mulutnya ingin ku lem saja biar tidak berisik,"
Adrian terkekeh menyebalkan. Ketika Devan menoleh padanya Ia memasang raut polos.
"Aku tidak melakukan apapun, Dad,"
"Kamu menggoda Auris terus,"
"Ya habisnya untuk apa liburan, Dad? benar kata Daddy tadi. Lebih baik pikirkan exam daripada liburan. Nanti bisa lupa semua materi pelajaran kalau berlibur,"
"Ya tidaklah! memangnya liburan bisa membuat amnesia?!" sentak Auristella yang sudah kelewat kesal dengan kakaknya.
"Lagipula biasanya kamu mendukung sekali kalau mau berlibur,"
"Aku harus fokus belajar untuk exam,"
"Halah!"
Tak tahan bila tidak melayangkan apapun ke wajah tengil kakaknya, akhirnya pilihan Auristella jatuh pada bantal sofa. Ia meleparnya tepat ke arah Adrian.
"Kamu malah bermain itu,"
"Sudah dibolehkan Daddy. Tadi juga sudah belajar, sedikit,"
"Sedikit tapi masuk ke otakmu tidak?"
"Ya masuklah. Aku pintar, jadi walaupun belajar sedikit tidak akan berpengaruh. Memangnya Andrean yang belajarnya harus rajin. Hih otaknya tidak terbakar juga ya,"
Andrean menoleh pada Adrian dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa. Ia tidak ikut campur sedari tadi tapi pada akhirnya Adrian membawa serta namanya juga.
"Ean itu pintar dan rajin. Kalau kamu apa? pintar tapi pemalas!"
__ADS_1
"Sudah, jangan bertengkar sehari saja. Bisa tidak?"
Devan tak sepenuhnya fokus pada game yang tengah Ia geluti karena harus mendengarkan perdebatan Adrian dan Auristella.
Adrian pun demikian. Fokusnya terbagi antara game dan adiknya. Tapi kalau berdebat, memang bisa Ia lakukan disegala kondisi. Kemampuannya dalam hal itu tak perlu diragukan lagi.
"Nanti kalau sudah selesai exam, kita berlibur," putus Devan yang merasa tak tega bila menghiraukan permintaan sang putri.
"Yeaayyy terimakasih, Dad,"
"Ya, Sayang,"
"Lalu kapan kita pulang, Dad? aku sudah rindu dengan rumah, dengan Grandma dan Grandpa. Rindu juga dengan Grizelle,"
"Kalau tidak ada masalah, dua minggu lagi pekerjaan Daddy di sini selesai. Mungkin kita bisa langsung pulang nanti,"
"Yeaayy," Auristella bersorak lagi untuk yang kedua kalinya.
"Nanti dibicarakan lagi dengan Mommy ya. Sekarang biarkan Daddy bermain dulu dengan Ian dan Ean,"
Auristella mengangguk kemudian menjauh dari tiga lelaki yang menjadi teman hidupnya itu. Ia kembali ke balkon dimana Ibunya tengah serius membuat design sebuah gaun.
Ia duduk di samping Lovi kemudian memperhatikan hasil kerja Mommynya tanpa niat mengganggu.
"Bagaimana? kapan berlibur lagi kata Daddy?" Lovi menoleh singkat pada putrinya sebelum akhirnya kembali fokus menekuri kegiatannya.
"Setelah exam sekolah, Mom,"
"Ya sudah, maka harus semangat exam nya. Karena sudah ada rencana untuk berlibur. Nanti kalau nilai tidak sesuai harapan Daddy, bisa jadi liburannya dibatalkan,"
"Haaa jangan lah, Mom. Aku akan berusaha mendapat hasil yang baik, seperti biasanya. Mommy tenang saja,"
"Iya, aku jadi ingin liburan juga. Griz enak sekali berlibur dengan Nay-Nay. Kenapa Uncle Jhico dan Aunty Vanilla tidak ikut ya, Mom?"
"Mungkin karena Aunty Vanilla sedang hamil jadi mengurangi perjalanan,"
"Oh iya, Mommy benar. Kasihan Aunty Vanilla ya, Mom. Dia jadi tidak bisa kemanapun,"
"Bukan tidak bisa. Hanya mengurangi aktivitas dan perjalanan saja. Karena kandungannya lemah dan dokter juga menyarankan untuk banyak beristirahat,"
*****
Jhico terkekeh dan menggeleng pelan ketika melihat putrinya menunggu di depan pintu dan melompat-lompat ringan menyambut kedatangannya.
Semua rasa lelah usai bekerja sirna seketika begitu mendapati sambutan Grizelle yang seperti ini.
"Apa itu?"
Jhico baru sadar anaknya membawa sebuah cup berukuran lumayan kecil di tangannya dan juga sendok.
"Ice cream,"
"Kenapa minum itu? radangnya bagaimana?"
"Sudah diberrli (beri) izin Mumu. Ini ice cream dari tempatku berlriburl (berlibur), Pupu. Aku bawa banyak. Tapi tidak untukku semua,"
__ADS_1
Grizelle mengangsurkan satu sendok ice cream pada ayahnya. Jhico menunduk kemudian menyantapnya.
"Hmm..."
"Dingin ya?" tanya Grizelle melihat ayahnya yang bergidik dan menggumam.
"Namanya juga ice cream," sahut Jhico.
Lelaki itu mengajak anaknya masuk ke dalam. "Akhirlnya (akhirnya) Pupu pulang. Aku sudah rlindu (rindu) tidak berrltemu (bertemu) Pupu seharli (sehari),"
"Iya, Pupu juga begitu. Bagaimana liburannya?"
"Aku senang. Banyak teman juga, Pu,"
"Oh ya? banyak anak-anak yang ikut?"
"Iya, teman-teman Nay-Nay semuanya bawa cucu,"
"Jadi bermain terus di sana?"
"Iya, ada balbeque, ada pesta kembang api, lalu mengunjungi industrli (industri) susu sapi dan peterlnakan (peternakan) sapi,"
"Menyenangkan sekali kedengarannya. Pasti Griz lupa dengan Pupu ya?"
"Tidak, aku justrlu (justru) selalu ingat dengan Mumu dan Pupu. Aku sedih juga krlena (karena) aku hanya berliburl (berlibur) dengan Nay-Nay saja,"
Jhico masuk ke dalam kamar dan menemukan Vanilla yang tengah membongkar travel bag Grizelle. Ingin Ia bereskan sekarang karena tadi begitu Grizelle tiba belum sempat.
"Sudah pulang rupanya. Bagaimana hari ini?" sambut Vanilla. Jhico langsung mengecup kening istrinya dan juga mengusap tempat tinggal anak keduanya sekarang, yaitu di perut istrinya yang kini masih datar.
"Cukup padat. Tapi tidak melelahkan," ujar Jhico seraya tersenyum. Semua penat hilang begitu menginjak rumah dan juga melihat Grizelle dan Vanilla yang menyambutnya dengan senyum.
"Minum ice cream," ujar Jhico seraya melirik Grizelle. Vanilla terkekeh mengangguk. Ia tahu suaminya pasti masih bertanya-tanya mengapa Ia sudah izinkan Grizelle.
"Radangnya sudah tidak sakit lagi katanya dan Griz juga sudah janji untuk tidak menambah,"
"Dilarang juga percuma anak ini. Memang Pupu harus menutup semua pabrik ice cream supaya Griz tidak kenal lagi dengan ice cream,"
"Jangan, Pu. Kasihan yang suka ice cream, nanti jadi merrlasa (merasa) kehilangan,"
"Pupu tutup untuk Griz saja. Kalau untuk orang lain tidak perlu,"
Jhico meraih anaknya dalam gendongan dan Ia lupa Grizelle tengah memegang cup ice cream.
"Haaaa Pupu, Ice cream ku tumpah,"
Jhico segera menurunkan anaknya. Tadinya Ia ingin menyerang wajah Grizelle dengan ciuman gemasnya yang bertubi-tubi. Tapi Ia tak jadi melakukannya karena Grizelle yang berseru riuh ketika melihat ice creamnya ada yang tumpah.
"Huwaa Pupu!"
Grizelle menatap ayahnya dengan sorot kesal. Rugi sekali kehilangan ice cream yang kini di lantai. Padahal hanya sedikit, paling dua sendok.
"Cuma sedikit,"
"Tapi aku rlugi (rugi) ice cream yang aku minum jadi berlkurlang (berkurang) karlena (karena) Pupu,"
__ADS_1
Aku post lanjutannya skrg aja deh mumpung gk mager koreksi wkwk. Bestie, makasih ya untk dukungannya🙏jgn lupa selalu tinggalkan jejak. Ai wuf yu💙