
Adrian membantu kakaknya keluar dari mobil. Ia merangkul sebab khawatir kakanya yang sedang sakit kepala itu terjatuh.
Maid juga membantu anak itu masuk ke dalam kamarnya mereka tahu kalau Andrean sedang tidak sehat.
"Apa yang kamu rasakan, Ean? kepalamu sakit sekali?"
Andrean mengangguk pelan, "Lumayan," katanya singkat. Adrian menatap kakaknya sejenak.
"Ganti baju saja dulu,"
Pulang sekolah Andream bukannya semakin membaik malah kala Adrian perhatikan menjadi parah. Kakaknya kelihatan lesu sekali.
"Sebentar lagi Mommy pasti sampai,"
"Jangan menghubungi Mommy," pesan Andrean yang langsung diangguki patuh oleh adik kembarnya.
"Aku ganti baju dulu kalau begitu," Ujar Adrian ebelum keluar dari kamar kakaknya.
Rumah sepi, adiknya sedang melakukan latihan bermain piano sebab kemungkinan akan mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan piano. Sedang dalam tahap seleksi. Kalau Auristella lolos, maka Ia yang akan berangkat membawa nama baik sekolah.
Usai mengganti bajunya, Adrian mengambilkan makan dan air minum untuk kakaknya. Dengan perhatian Ia membawa baki berisi makan dan air minum itu ke kamar kakaknya. Sekesal apapun Adrian pada Andrean kala Andrean sudah menghiraukannya, tapi tetap saja Ia tidak bisa melihat kakak ataupun adiknya sakit.
Saat maid yang akan membawanya ke kamar Andrean, Adrian menolak dan bersikeras agar Ia dibiarkan membawa baki sendiri.
Ia hanya meminta agar dibukakan pintu kamar Andrean. Setelah itu Ia masuk ke dalam.
Pengasuh Andrean yang bergerak tabggap ingin menyuapi Andrean tapi Andrean menolak.
"Mungkin dia mau makan dengan Mommy," pikir Adrian.
"Aku ingin istirahat dulu,"
"Ya sudah,"
Adrian keluar dan Andrean dijaga oleh pengasuhnya. Tak mungkin Andrean ditinggal sendirian dengan kondisinya yang seperti ini.
__ADS_1
Begitu Mommynya tiba, Adrian akan mengatakan kalau kakaknya belum sembuh dan belum makan serta minum obat juga. Pasti itu semua sudah menjadi urusan Mommynya, seperti biasa.
Ia memutuskan untuk mengerjakan tugas di ruang keluarga sembari menunggu kedatangan sang Ibu.
Lima belas menit Ia berkutat dengan tugas, akhirnya Lovi datang dengan wajah cerianya. Adrian juga menyambut Mommynya dengan ceria.
"Bagaimana keadaan kakakmu, Ian?" Lovi langsung bertanya mengenai kondisi Andrean pada putra keduany itu.
"Ean belum sembuh, Mom. Aku sudah bawakan makanan tapi dia tidak mau makan. Katanya mau istirahat dulu,"
"Ya ampun, Mommy lihat dulu,"
Adrian mengangguk, membiarkan Mommy melihat sendiri bagaimana kondisi kakaknya. Ia hanya bisa menjelaskan secara singkat saja.
"Huh, Ean...Ean, kenapa harus sakit? jadi makin sunyi saja dunia ini. Tidak ada Auris, kamu juga sakit," celoteh anak itu seraya membolak balik tugasnya.
"Aku kurang paham tugas ini. Kalau aku tanya Ean tidak mungkin. Dia saja lagi sakit. Yang ada aku disuruh Mommy pergi dari kamar kalau berani-berani menanyakan ini," kata Adrian yang menduga kalau Mommynya akan tega mengusir bila Ia nekat bertanya tentang tugas pada Andrean.
"Ah sambil makan dan minum sesuatu pasti lebih menyenangkan. Aku mungkin langsung paham nanti,"
Ia bergegas mencari makanan dan minuman yang menggugah seleranya usai pulang sekolah hari ini.
Ia membawa cake satu kotak penuh ke ruang keluarga. Ia menikmatinya sambil menunggu minumannya datang.
Begitu lemon tea sudah ada di hadapannya, Ia mengucapkan terimakasih dan tanpa menunggu waktu lama langsung meneguknya.
"Hah bukan main rasanya," Ia mengeleng pelan. Perpaduan yang tepat. Makan cake dengan teh yang dingin. Adrian tidak salah pilih.
Ia kemudian melihat tugasnya lagi, mengamati dan mencoba untuk memahami. Ia berdecak, mengacak rambutnya.
"Tetap saja cake dan lemon tea itu tidak membuat aku paham," gerutunya tapi masih tidak menyerah. Ia harus bisa mengerjakannya sendiri. Sebab Ia yang minta agar ayahnya tak lagi memperkerjakan guru pribadi untuk membantu pembelajaran ketika di rumah. Devan memenuhi keinginan Adrian itu. Ia pikir anak ya memang sudah bisa mandiri dalam belajar. Hanya sesekali saja butuh dibimbing. Adrian juga mengatakan kalau Ia punya guru pribadi yang tak perlu dibayar, yaitu kakanya sendiri yang tulus mengajari bila Ia memang butuh diajarkan.
"Bisa! pasti bisa. Nanti kalau tidak bisa, Daddy datangkan guru pribadi lagi,"
Adrian merasa kalau diajari guru pribadi malah tidak bisa Ia terima dengan baik penjelasannya. Lebih baik ia belajar sendiri dengan cara mencari tahu, mengamati, lalu kemudian berusaha untuk memahami. Lebih mudah dipahami juga penjelasan Andrean atau kedua orangtuanya kalau sudah mengajari.
__ADS_1
Auristella dan Andrean jadi ikut-ikutan lepas dari guru pribadi mereka juga dan belajar mandiri. Devan sudah verjanji pada dirisnya sendiri kalau senadainya mereka malah membuat prestasi mereka menurun, Ia akan kembali meminta guru pribadi untuk mengajarkan ketiga anaknya. Tapi ketika mengambil hasil belajar anak-anaknya, Devan dan Lovi tudak menemukan perbedaan. Tetap saja nilai mereka stabil. Bahkan ada beberapa yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Maka Ia putuskan untuk memenuhi keinginan mereka yang ingin belahar tanpa guru pribadi.
"Hah aku tahu,"
Adrian yang sedari tadi memutar otak mulai mendapat pencerahan. Ia cepat-cepat mengerjakan tugas itu berdasarkan apa yang Ia pahami.
****
Lovi membangunkan anaknya yang terlelap. "Sayang, Mommy pulang. Makan dan minum kbat dulu ya?"
Lovi mengguncang pelan lengan Andrean agar terjaga dari tidurnya. Amdrean mulai mengerjapkan mata dan Lovi senang sekali.
"Ayo makan dulu, Sayang. Setelah itu minum obat. Barulah kamu bisa istirahat lagi," bujuk Lovi.
Tadi Andrean tidak mau disuapi oleh pengasuhnya. Sekarang pun saat Lovi akan menyuapinya, ia sempat menolak. Tapi Lovi berujar tegas bahwa Ia tidak bisa terlalu lama membiarkan perutnya kosong tanpa minum obat juga.
"Sudah Mommy larabg untuk sekolah tadi lagi tapi kamu tetap keras kepala. Daddy juga sudah melarang. Kamu tidak mau mendengar. Ini pasti karena kamu kelelahan di sekolah,"
"Aku tidak ada kegiatan apapun selain belajar, Mom. Aku tidak kelelahan," elak Andrean. Di sekolah juga ia merasa bail-baik saja. Ia belajar seperti biasanya. Kecepatan otak ya menyerap materi yang disampaikan pengajar juga tidak ada yang berubah. Tapi begitu meninggalkan sekolah, justru Ia baru merasakan yang ia rasakan saat di rumah pagi harinya.
"Bgaimana bisa konsentrasi belajar kalau dalam kondisi sakit seperti ini?percuma juga ke sekolah kalau--"
"Aku tetap konsentrasi, Mom. Aku belajar seperti biasanya saja, seperi saat tidak sakit,"
"Habiskan makannya,"
Lovi tahu gelagat putra sulungnya yang kelihatan tidak ingin menghabiskan makanan yabg kini Ia suapkan ke dalam mulut. Seperti orang sakit kebanyakan, kalau sedang sakit pasti jadi tidak nafsu menyantap makanan apapun.
"Ian dimana, Mom?"
Andrean bertanya mengenai keberadaan adiknya yang tadi kelihatan sekali perhatian kepadanya sampai membawa makanan ke kamar dan membantunya untuk kelur dari mlbil dalam berjalan masuk ke rumah.
"Seertinya tadi Mommy lihat sedang mengerjakan tugas,"
"Oh iya, aku punya tugas,"
__ADS_1
"Namti saja memikirkan itu. Kondisimu sedang tidak sehat, Ean,"
Bisa-bisanya memikirkan tugas disaat bibir pucat, badan panas, dan lesu seperti saat ini.