
"Kamu itu sakit karena kelelahan, Sayang," ujar Devan sesaat setelah melepas kepergian dokter.
Adrian langsung menyahuti ucapan Daddynya, "Kelelahan kenapa, Dad? Ean saja tidak aktif seperti aku ya. Dia diam terus,"
"Ya bukan lelah fisik. Tapi lelah pikiran juga bisa,"
"Ya ampun Ean...Ean, kamu masih kecil sudah lelah pikiran saja. Memang apa yang kamu pikirkan?"
"Sudah, jangan bicara terus. Biarkan Ean istirahat,"
*****
Usai dari sekolah Grizelle, Jane mengajak Vanilla untuk singgah ke cafe sebentar membicarakan perihal rumah, barulah nanti mereka bergegas melihat langsung.
"Kalau menurutku, ini tepat untukmu. Desain nya bagus dan sesuai untuk ditempati oleh kamu dan Richard. Coba tanya Richatd juga,"
"Astaga, aku minta pendapat kamu, Van,"
"Iya, ini bagus untukmu. Dan ini juga,"
Vanilla menunjuk dua rumah di katalog yang berhasil menarik perhatiannya.
"Kamu menyukainya juga tidak?"
"Aku suka dan kebetulan kamu juga suka. Tapi menurutmu yang paling bagus, yang mana?"
"Aduh, aku bingung. Aku ingin semuanya,"
Jane berdecak mendengar sepupunya mengeluh. Ia menyukai dua-duanya dan menginginkan keduanya.
"Ya ampun, kalau kamu suka, minta Jhico untuk membelikan,"
"Ah nanti-nanti saja lah,"
Vanilla melihat kembali rumah yang Ia suka dan mencoba untuk mencari yang paling menarik untuknya. Mulai dari desain sampai pada harganya juga.
"Aku paling suka ini, Jane. Sudahlah yang ini saja,"
Jane tiba-tiba berseru seraya memukul meja pelan beruntung air minum tidak tumpah sebab ulahnya.
"Kenapa sih?"
Vanilla bingung menatap Jane yang kini tersenyum berbinar. "Aku juga paling menyukai yang ini. Kenapa pilihan kita sama? woah! kita satu selera,"
"Oh iyakah? tapi kalau sudah punya pilihan sendiri kenapa meminta pendapatku?"
"Aku perlu, Van. Supaya ada bahan pertimbangan,"
"Okay, jadi bagaimana? kita lihat yang ini sekarang ya?"
"Sebentar, aku hubungi dulu. Khawatirnya saat kita tiba rumahnya dikunci. 'Kan tidak lucu. Nanti ada yang mengira kita akan mencuri,"
Vanilla akhirnya membiarkan Jane menghubungi seseorang yang menjadi pemilik rumah baru tersebut untuk meminta izin melihat rumah secara langsungĀ baik dari luarnya maupun di dalam sebelum ada kesepakatan untuk melakukan transaksi setelahnya.
*****
__ADS_1
"Ean, mau makan apa, Sayang? Mommy perhatikan kamu semakin tidak nafsu makan. Mau Mommy buatkan sesuatu untuk makan siang nanti?"
Disela kesibukannya melanjutkan rancangannya untuk gaun pengantin yang belum selesai untuk tiga bulan lagi, Lovi menanyakan keinginan Andrean saat ini. Biar Andrean nafsu makan, mungkin Ia bisa membuatkn sesuatu untuknya.
"Tidak mau, Mom,"
Andrean beringsut menyelimuti dirinya sendiri dan Ia memejamkan mata untuk kembali terlelap di waktu menjelang siang ini.
Lovi mengusap kepala anaknya menunggu hingga anaknya terlelap. Pekerjaannya bisa dilanjut nanti.
"Mommy lanjutkan saja kegiatannya. Aku akan tidur," ujar Andrean sebelum terlelap. Ia ditemani setiap saat seperti ini saja sudah merasa senang. Ia tidak ingin sampai mengganggu pekerjaan Mommynya.
Tok
Tok
Tok
"Nona Lovi, ada tamu yang datang,"
Lovi menoleh pada pintu. Ia beranjk membuka pinru untuk bertanya pada maidnya ituĀ
"Siapa yang datang?"
"Ada Nona Vanilla dan Nona Jane,"
"Oh iya, sebentar,"
Lovi menghampiri anaknya lagi. Ia liht anaknya belum terlelap sekarang tengah menatapnya.
"Mommy bertemu Aunty Vanilla dan Aunty Jane dulu ya,"
Andrean yang tadinya akan terlelap kini tidak ingin lagi. Andrean memilih untuk melihat hasil karya Mommynya.
Ia menggeleng pelan melihatnya. "Mommy hebat sekali," Jarang bicara apalagi untuk memuji, nyatanya Andrean tidak akan segan melakukan itu bila memang apa yang Ia lihat sangatlah luar biasa dan menarik perhatiannya.
"Cantik," katanya menatap gaun yang hampir jadi digambar oleh sang ibu.
******
Jane mengedarkan pandang ketika tiba di kediaman Devan dan Lovi. Sudah lama sekali ia tidak datang ke sini! sama halnya dengan rumah Vanilla yang juga lana tidak Ia datangi.
"Sepi ya, Van,"
"Mereka bertiga sekolah,"
"Oh iya, waktunya sekolah. Icelle saja sedang sekolah ya,"
Sunyi sekali kediaman Devan, tidak ada suara anak-anak tuan rumah. Maka membuatnya bingung.
Lovi datang dengan langkah tepatnya menghampiri mereka. Ia berseru senang dan memeluk Jane dengan erat kemudian memeluk Vanilla juga.
"Akhirnya benar datang!"
"Benarlah, aku tidak akan bohong. Kemana Devan dan anak-anakmu? bekerja dan sekolah ya?"
__ADS_1
"Iya, tapi Andrean hari ini tidak sekolah,"
"Kenapa? sakit?"
"Pasti sakit!"
Seolah tahu keadaannya Vanilla dan Jane langsung menebak tepat sasaran. Lovi mengangguk membenarkan.
"Iya, belum lama ini Auris yang sakit. Sekarang Ean,"
"Ya ampun, demam?"
"Ya, demam, batuk, kepalanya sakit, tenggorokannya juga sakit,"
"Aduh kasihan keponakanku yang tertua itu. Sekarang dia tidur?"
"Iya, tadi ingin tidur. Entah sekarang sudah tidur atau belum,"
"Ah sayang sekali aku tidak bertemu dengn Devan ya,"
"Kamu di sini tunggu sampai
Devan pulang saja. Auris juga berharap sekali kamu datang ke sini dan bertemu dengan kamu,"
"Hmm ya sudah, kamu di sini saja sampai mereka datang. Biar aku pulang lebih dulu dan menjemput Icelle,"
"Oh begitu? tidak apa memangnya?"
"Tidak apa, Jane. Biar aku saja yang menjemput Icelle. Nanti aku hubungi Mr Jun agar menjemputku di sini lalu ke sekolah Icelle dan kembali ke rumah," kata Vanilla yang tidak ingin Auristella kecewa sebab tidak jadi bertemu Jane hari ini bila Jane menjemput Grizelle yang pastinya akn langsung pulang ke rumahnya.
"Nanti saja pulangnya. Baru juga datang," Lovi melarang Vanilla untuk pulang sekarang. Mereka baru bertemu.
"Iya, aku mau lihat keadaan Ean juga. Boleh ya?"
"Boleh, Van. Silahkan,"
Lovi mengantar Vanilla dan Jane yang juga mau melihat Andrean di kamarnya.
"Kira-kira anakmu tidur tidak? kalau dia tidur, kita tidak perlu melihatnya dulu," ujar vanilla yang khawatirnya sang keponakan malah terbangun kalau mereka membuka pintu kmar untuk melihat keadaannya.
"Coba aku lihat sebentar,"
Lovi membuka pintu dengan hati-hati. Kemudian Ia memasukkan sedikit kepalanya untuk melihat ke dalam.
Andrean menoleh padanya. "Aunty sudah pulang, Mom?" tanya anak itu langsung. Sebab Ia bingung Momnynya sudah kembali lagi ke kamar dalam waktu yang singkat.
Lovi membuka pintu lebih lebar mempersilahkn Vanilla dan Jane masuk.
"Ean, kamu sakit ya?"
"Masih belum lebih baik ya, Sayang?"
Vanilla dan Jane mendekat pada Andrean yang langsung bangkit menyambut keduanya dengan posisi duduk. Meskipun kepalanya masih pening bila tidak dibawa tidur.
"Sudah, tidur saja. Tidak usah bangun," suruh Jane pada Andrean yang langsung menggeleng pelan.
__ADS_1
"Aunty sudah lama sampai di sini? tidak dengan Uncle Richard?"
Jane mendengkus pelan. Semua keponakan yang nertemu dengannya saat ini selalu menanyakan Richard. Kemarin saat ia tiba Grizelle yang bertanya, Auristella juga sempat bertanya tentang Richard saat bicara dengannya melalui telepon. Dan sekarang Andrean juga melakukan hal serupa. Tinggal Adrian lagi yang belum dan Ia yakin akan bertanya juga karena memang mereka terbilang dekat dengan Richard.