
Auristella berjalan dengan menyelinap menghampiri Ayahnya yang serius menatap ke depan.
Ia segera memeluk lelaki itu hingga membuatnya terkejut.
"Daddy, aku sudah selesai exam. Jadi liburan 'kan?"
Auristella memanggil manja Ayahnya yang tengah bersantai di depan televisi.
"Memang sudah selesai?"
"Sudah, jangan bilang kalau Daddy lupa dengan janji itu?"
"Janji apa? memang Daddy pernah berjanji padamu?"
Auristella segera menyerang ayahnya dengan pelukan seraya merengek.
"Daddy jangan begitu. Janji harus dipenuhi,"
"Itu Daddy tidak janji, Auris,"
"Haaaa Daddy kenapa jahat?"
Auristella merangkum wajah ayahnya kemudian menggeram kesal dengan mata yang melotot.
"Daddy,"
"Kamu meminta tapi kenapa galak begitu ya?"
Auristella langsung melunakkan ekspresinya. Ia bahkan tersenyum manis hingga mengundang dengusan Devan.
"Daddy, kita liburan ya?" bujuknya dengan raut yang tak lagi galak.
"Besok,"
"Yeeeayy benar, Dad?"
"Hmm..."
Devan kembali fokus menyaksikan siaran sepak bola di televisi menghiraukan Auristella di sebelahnya.
Beberapa detik Auristella terdiam menahan keinginannya untuk teriak senang, akhirnya Auristella bertanya pada ayahnya,
"Kita berlibur kemana, Dad?"
"Di sekitar sini saja. Keliling,"
Auristella merengut, dan Devan yang menyadari itu langsung terkekeh dan meraih anak perempuannya dalam pelukan.
"Bercanda, jangan cemberut begitu. Nanti Daddy batalkan ya,"
"Jangan, aku mau beribur, Dad. Dan liburannya bukan di sekitar sini hanya keliling saja," serunya kesal tak terima dengan rencana ayahnya itu.
"Iya, Daddy tidak serius tadi. Mau berlibur kemana? terserah kalian saja, Daddy hanya ikut dan memfasilitasi seperti biasa,"
"Aku yang menentukan ya,"
"Oh tidak bisa begitu wahai Nona Auristella. Aku akan ikut menentukan,"
__ADS_1
Auristella memutar bola matanya mendengar suara menyebalkan itu. Ia dengan cepat menoleh dan menatap tajam orang yang tiba-tiba menyahutinya barusan. Siapa lagi kalau bukan kakak keduanya?
"Aku yang meminta liburan, jadi aku yang tentukan!"
"Tidak ada peraturan seperti itu,"
Sahut Adrian santai seraya bergabung di duduk di depan televisi.
"Waktu aku minta liburan, kamu memarahi aku. Sekarang kenapa jadi mau ikut liburan? huh?!" kelewat jengkel dengan musuh yang berkedok kakaknya itu.
Ia ingat sekali saat Ia meminta liburan pada ayahnya, Adrian mengatakan bahwa dirinya tidak boleh sering berlibur, Ia juga dikatakan banyak mau.
"Berhubung anak Daddy ada 3, jadi yang menentukan tujuan berlibur adalah ketiganya. Bukan salah satu,"
"Hah!" seru Adrian puas mendengar keputusan ayahnya. Adrian menatap adiknya dengan alis yang sengaja diturun naikkan. Wajahnya menyebalkan sekali di mata Auristella.
*****
"Auris, sudah makan apa?"
"Ice,"
"Makan?"
Grizelle menggeleng polos saat pemilik acara tersebut bertanya padanya.
"Makanlah, Sayang. Jangan ice saja,"
"Sejujurrlnya (sejujurnya) aku masih kenyang," Grizelle menolak halus dengan senyum manisnya.
"Opa ambilkan ya?" tawa Kakek evelyn padanya. Grizelle segera menggeleng, "Opa, tidak perrlu. Nanti aku ambil sendirirli (sendiri),"
"Seharusnya kamu yang perhatian begitu pada Grizelle," desis Karina menegur Thanatan yang bergeming.
Saat dibawakan chicken carbonara sauce, Grizelle tak mungkin menolak lagi. Ia langsung berujar terimakasih dengan sopan.
"Opa baik sekali. Padahal aku sudah besarrl (besar) bisa ambil makanan sendirrli (sendiri),"
"Tidak apa, ayo dimakan. Habis bermain pasti lelah,"
Kakek Eveleyn beranjak menjauh membiarkan Grizelle makan. Anak itu menoleh pada neneknya.
"Nay-Nay, aku masih kenyang. Bantu aku ya,"
"Kamu kenyang makan apa?"
"Di rrlumah (rumah) aku sudah makan sebenarrlnya (sebenarnya),"
"Oh pantas,"
"Kakek, mau?" tawarnya pada Thanatan yang duduk di sebelah kirinya. Thanatan menggeleng.
"Setelah makan, kita datang ke acara yang satu lagi," ucapnya.
Grizelle menatap kakeknya bingung. "Aku jadi ikut, Kakek?"
"Ya, Kakek tidak ingin menghabiskan waktu dengan mengatarmu lalu pergi lagi,"
__ADS_1
*****
Malam mulai datang dan Grizelle masih berada di tengah pesta ulang tahun pernikahan teman kakeknya.
Di sana Ia tak menemukan banyak anak seusianya. Dan ia pun mengantuk, jadi kurang semangat tak seperti di acara ulang tahun Evelyn tadi.
"Sayang, biasanya acara-acara seperti ini lebih lama daripada yang tadi. Kamu pulang lebih dulu saja dengan Nay-Nay ya? biar Kakek di sini sendiri,"
"Tidak apa, Nay-Nay. Aku pulangnya nanti saja,"
"Tapi kamu pasti sudah mengantuk,"
"Belum, barrlu (baru) jam delapan,"
Karina yang duduk di samping Grizelle memeluk kepala anak itu dan mengusapnya yang malah membuat Grizelle semakin terlena untuk segera mendatangi alam mimpinya.
Sampai akhirnya Grizelle benar-benar terlelap padahal belum lima menit Ia mengatakan belum mengantuk.
Karina terus memeluknya, menjaga agar Grizelle nyaman terlelap di sebuah acara besar. Bahkan kini Ia membawa Grizelle ke atas pangkuan dan merengkuhnya.
Sembari berbincang dengan teman-temannya, Karina mengusap lembut punggung Grizelle.
"Bagaimana kabar Vanilla di kehamilan keduanya ini?"
Kabar mengenai kehamilan Vanilla memang sudah banyak diketahui oleh teman-teman Karina.
"Baik, doakan ya supaya tidak ada kendala apapun sampai persalinan nanti,"
"Iya, tentu. Aduh, semakin hari kamu pasti semakin tidak sabar menantikan kelahirannya,"
"Ya, padahal masih lama," sahut Karina seraya terkekeh.
"Maklum, baru punya cucu satu jadi saat mau hadir cucu kedua, rasa ingin menyambutnya tak kalah besar dari yang pertama,"
"Dan semoga bertambah lagi. Rasanya dua saja tak cukup bagiku," ucap Karina.
"Iyalah, kamu hanya punya Jhico. Jadi hanya dari Jhico saja yang diandalkan,"
Mereka terkekeh bersama. Memang tak ada lagi yang bisa memberikan cucu untuknya kalau bukan Jhico. Sebab Ia hanya memiliki satu anak dan itu Jhico.
"Anak hanya satu, semoga cucunya lebih banyak,"
"Semoga, dipenuhi Tuhan,"
Karina berharap begitu memang. Tapi itu semua kembali lagi pada Tuhan. Ia akan diberikan dua saja sudah luar biasa bersyukur. Apalagi kalau bertambah. Masa tuanya akan sangat bahagia ditemani cucu yang banyak.
Thanatan terlihat berjalan mendekati istrinya usai berbincang sedikit dengan pemilik acara dan temannya yang lain.
Ia melihat cucunya yang memeluk Karina, pasti terlelap. "Ayo pulang,"
Karina mengangguk. Ia pamit pada wanita di dekatnya, dan Thanatan merengkuh Grizelle dalam gendongannya. Saat dipindah tangankan, Grizelle melenguh.
Thanatan menenangkan dengan mengusap punggungnya pelan. Ia menoleh pada Karina yang berjalan di sampingnya.
"Seharusnya kamu ajak pulang saja tadi sebelum dia tidur,"
"Tadi sebelum tidur, sudah aku ajak pulang. Tapi dia tidak mau. Dia mau menunggu kamu,"
__ADS_1
Sampai di basement hotel dimana acara digelar, mereka langsung menuju mobil. Karina dengan sigap membuka pintu tengah agar suaminya membaringkan tubuh kecil Grizelle di sana.
Setelah itu, Ia duduk memangku kepala Grizelle dan suaminya segera melaju meninggalkan hotel kedua yang mereka kunjungi malam ini.