Nillaku

Nillaku
Nillaku 347 Melepas rindu dengan Jane melalui telepon


__ADS_3

"Hoh,"


"Hoh,"


"Hoh,"


Grizelle meraup oksigen sebanyak mungkin setelah tiba di ujung yang menjadi tempat kesepakatan, Grizelle bersorak. Grizelle berhasil mengalahkan Kakeknya yang kini tersenyum tipis. Salut sekali dengan tekad dan kerja keras Grizelle.


"Yeayy Aku bisa kalahkan Kakek. Kakek berrlenang (berenangnya) nya kurrlang (kurang) cepat darrli (dari) aku,"


"Iya, Kakek mengaku kalah,"


Thanatan tidak menyangka kalau Grizelle tidak bisa Ia remehkan. Tadinya Ia santai sekali dan yakin akan menang. Ternyata kenyataannya berbeda seratus persen.


"Ah payah," ledek Karina pada suaminya bahkan Ia mengacungkan ibu jarinya ke bawah. Thanatan menggeram kemudian sengaja memainkan air ke arah Karina yang duduk di tepi kolam.


"Erghh Thanatan!" Karina berseru kesal ketika suaminya itu membuat bajunya basah.


"Kakek, tidak boleh begitu," Grizelle menegur Kakeknya yang langsung mendengus ketika cucunya membela neneknya.


"Biar saja. Nenekmu itu meledek Kakek,"


"Kakek 'kan memang payah. Buktinya kalah darrliku (dariku),"


"Oh kamu juga meledek Kakek,"


"ARGHH KAKEK,"


Grizelle tersentak saat tiba-tiba di gendong oleh Kakeknya lalu memutarnya.


Grizelle tertawa geli karena perbuatan Kakeknya itu yang jarang sekali mengajaknya bercanda.


Thanatan puas menggendong tubuh cucunya dan memutarnya. Setelah itu Ia mendudukan Grizelle di tepi kolam.


"Sudah berenangnya, ya?"


"Sudah, dingin," Grizelle memeluk tubuhnya sendiri. Saat di air, Ia tak merasakan dingin tapi begitu keluar, Ia menggigil.


"Nay-Nay aku kedinginan,"


Karina menghampirinya seraya membawa bathrobe dan membalut tubuh cucunya.


"Sudah, kamu juga sebaiknya segera mandi," kata Karina pada Thanatan.


Thanatan memgangguk dan keluar dari kolam. Bila cucunya sudah, maka Ia pun akan menyudahi. Niatnya berenang tadi untuk menemani Grizelle.


Kegiatan renang mereka tadi adalah yang paling menyenangkan untuk Thanatan maupun Grizelle. Grizelle bisa merasakan kehangatan dari sosok Thanatan yang selama ini tidak seperti itu padanya. Selama berenang Thanatan sering mengajaknya bercanda. Dan Thanatan juga menganggap bahwa ini renang paling menyenangkan karena Ia bisa melihat senyum dan tawa lepas Grizelle.


******


"Jane, ya ampun, kamu benar-benar sudah melupakan aku ya?!"


Jane di seberang sana tertawa mendengar sepupunya, Vanilla bicara seperti itu.

__ADS_1


"Maaf aku jarang menghubungimu,"


"Ck! sibuk sekali memangnya?" nada bicara Vanilla tidak santai sama sekali. Ia kesal karena sepupunya yang dulu sangat dekat dengannya itu jarang sekali berkomunikasi dengannya. Seolah lupa bahwa Ia memiliki sepupu.


"Iya, sibuk sekali,"


Vanilla memutar bola matanya. Selalu begitu alasan setiap orang kalau jarang bertemu atau berinteraksi.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Vanilla.


"Baik, Grizelle dimana?"


"Ya ampun, bukannya tanyakan kabarku juga, Jane,"


Jane tertawa lagi. Vanilla benar-benar kesal sepertinya. Sampai pertanyaan mengenai Grizelle saja menjadi permasalahan.


"Bagaimana kabarmu sepupuku yang cantik?"


"Baik, Jane. Bagaiman dengan Richard? suamimu itu baik juga?"


"Dia baik. Jhico juga 'kan?"


"Ya, kami di sini baik, Jane. Semoga kamu di sana juga ya,"


"Aku lupa bertanya tentang Devan. Bagaimana kabar sepupuku yang tampan itu?"


"Kenapa tidak bertanya langsung?"


Vanilla terbahak mendengar ucapan Jane yang terdengar memaki kakak satu-satunya.


"Mungkin dia takut kalau kamu akan kembali mengincarnya,"


"Sudah gila! aku sudah punya suami dan aku mencintai suamiku Richard,"


"Ya, ya, cinta,"


"Tolong sampaikan salam rinduku pada Devan ya,"


"Sialan, kalau Lovi tahu--"


"Rindu sebagai keluarga. Memangnya kenapa?"


"Oh iya, nanti aku sampaikan,"


"Sampaikan juga salam rinduku untuk Lovi dan anak-anak mereka ya,"


"Tentu, aku sampaikan nanti. Tapi jangan ada niat menyukai Devan lagi ya,"


"Tidak, sialan!"


Ternyata Jane masih suka bar-bar sebagai perempuan. Vanilla terkekeh ketika mengingat bagaimana mereka dulu.


Jane ini sempat memiliki perasaan pada Devan. Bahkan sempat membenci Lovi. Jane memang sudah gila. Menyukai sepupunya sendiri.

__ADS_1


Dan dia sebenarnya pernah mengalami gangguan mental. Tapi ketika menyukai Devan itu sebenarnya sudah dalam keadaan sembuh. Maka sampai sekarang Vanilla tak habis pikir bagaimana bisa Jane menyukai sepupunya sendiri bahkan setelah Devan menikah pun tak berubah. beruntungnya Jane segera sadar dan menemukan pendamping hidup.


Ia sembuh dan itu berkat kedua orangtua Devan juga yang mau mengurus Jane bahkan menganggap Jane sebagai anak disaat orangtua Jane kurang peduli pada Jane.


"Nanti aku coba telepon Lovi dan Devan,"


"Awas kamu membuat mereka bertengkar ya. Aku habisi nanti,"


"Ck! tenang! sudah aku katakan, aku sudah punya pendamping hidup, Vanilla sayangku,"


"Hih," Vanilla bergidik saat Jane terlalu manis memanggilnya.


"Pindah ke sini lagi lah, minta pada Richard,"


"Asal kamu tahu, aku sudah sering merengek ingin kembali lagi ke sini. Tapi dia belum mau!"


"Ya sudah, kalau begitu sabarlah,"


"Oh iya, bagaimana dengan kandunganmu? terakhir kali aku mendapat kabar kalau kamu mengandung untuk kedua kalinya,"


"Ah makanya kamu itu rajin-rajin menghubungiku! di kandunganku yang kedua, aku gagal menjaganya. Tapi syukurnya, sekarang aku sedang mengandung lagi,"


"Ya ampun, kamu serius, Van? ya Tuhan, selamat untukmu dan Jhico. Kamu beruntung sekali bisa langsung mendapat pengganti,"


Vanilla tersenyum lagi-lagi mengucap syukur pada Tihan yang telah berbaik hati padanya. Jane yang mendengarnya saja seperti tidak menyangka sekaligus bahagia. Apalagi dirinya yang mengalami ini semua?


"Doaan aku supaya aku bisa segera menyusul ya. Anakmu yang pertama sudah berusia lima tahun. Aku belum ada sama sekali,"


Ya ampun, Vanilla ingin sekali menghibur saudata sepupunya itu. Ia tahu bagaimana perasaan Jane ketika diusia pernikahannya yang sudah lumayan lama, Jane belum dianugrahi keturunan oleh Tuhan. Pasti tidak mudah untuk Jane dan Richard.


"Aku doakan, aku selalu berharap dan meminta pada Tuhan agar aku secepatnya diberi keponakan darimu,"


Tidak terasa Jane mengusap air mata yang tiba-tiba mengalir dari matanya. Ia sudah menginginkan pernikahan yang lengkap dengan kehadiran anak. Sampai rasanya Ia sudah lelah berharap dan berkeinginan seperti itu. Tapi tetap, Ia tidak pernah berhenti berdoa.


"Ya sudah, aku tutup teleponnya ya,"


"Sering hubungi aku! aku tidak mau tahu,"


"Ya, kamu juga hubungi aku ya. Takutnya aku lupa kalau aku punya sepupu seperti kamu,"


"Erghh kamu," Vanilla menggeram yang mengundang tawa Jane.


"Salam untuk Grizelle, si Cantik,"


"Aku rasa dia juga lupa punya Aubty seperti kamu,"


"Hah tidak mungkinlah! sudah ya, hati-hati, Van. Jaga kesehatan,"


"Ya, kamu pun begitu ya. Baik-baik di sana. Cepat pindah ke sini,"


Vanilla dan Jane mengakhiri sesi perbincangan mereka. Vanilla tersenyum singkat menatap layar ponselnya.


Niatnya untuk menghubungi Jane sudah terpenuhi. Sekarang rasa rindu nya pada Jane sudah sedikit berkurang walaupun Ia ingin sekali Jane tinggal dekat dengannya lagi. Dulu saat masih sama-sama sendiri, Jane tinggal bersamanya, di rumah Raihan dan Rena. Tapi sekarang, keduanya sudah sama-sama memiliki kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2