
"Nona Vanilla, Griz sudah pergi dengan Tuan Jhico,"
Vanilla yang sedang mengoprasikan alat vakum di sofa menoleh ke pintu kamar dimana Nada berdiri bicara padanya.
"Oh iya, terimakasih, Nada,"
"Sama-sama, Nona,"
Vanilla kembali melanjutkan kesibukannya sembari menunggu suami dan putrinya selesai mengelilingi lingkungan mereka dengan golf cart milik Jhico.
Vanilla sudah selesai menatap ranjang, membersihkan meja di depan sofa, dan nakas, tersisa mengeluarkan kotoran dari sofa yang sudah satu minggu tidak Ia bersihkan. Kemudian kalau Ia masih sanggup, ingin membersihkan pintu penghubung antara kamar dan rooftop yang terbuat dari kaca.
****
Grizelle meminta ayahnya unuk berhenti sebentar di supermarket yang tak jauh dari rumah mereka tentu saja.
"Griz mau beli apa memangnya?"
"Mau beli apa saja yang aku mau nanti saat masuk ke dalam," kata anak itu.
"Pupu saja yang belikan, Griz tunggu di sini. Kakimu masih sakit,"
"Aku ingin masuk ke dalam, Pu,"
"Ya sudah, Pupu gendong ya?"
Grizelle tak menolak. Jhico membawanya ke dalam gendingan dengan penuh hati-hati takut goresan di kulit anaknya Ia sentuh.
"Aman 'kan?" tanya Jhico memastikan yang kemudian diangguki oleh putrinya itu.
Jhico membawa putrinya masuk ke dalam supermarket. Lebih baik juga kalau Ia turut serta membawa Grizelle. Sebab kalau Ia membiarkan Grizelle sendiri di golf cart, Ia khawatir. Kalau digendong seperti ini, Ia jadi tenang sebab Grizelle ada bersamanya.
"Mau beli apa?"
Jhico mengajak anaknya menyusuri supermarket agar anaknya bisa melihat isi secara keseluruhan.
"Aku mau ini,"
"Cokelat lagi. Lagi dan lagi ya,"
"Mau cokelat,"
"Yang lain,"
Grizelle merengut saat ayahnya bicara seperti itu. Jhico tersenyum tipis. Ia mencubit pipi anaknya yang menggemaskan itu baik ketika senyum, marah, atau menangis sekalipun.
"Mau apa aku bingung,"
"Memang sudah tujuannya datang ke sini mau beli itu ya?"
Grizelle mengangguk jujur. Ia bingung ingin membeli apa. Jadi cokelat saja pilihannya.
"Itu ada mainan,"
"Mainan apa?"
Jhico membawa anaknya mendekati tempat mainan. Lumayan banyak yang dijual tapi sepertinya Grizelle tidak tertarik satupun.
"Ini ada pasir berwarna. Nanti kamu buat istana pasir,"
__ADS_1
"Aku sudah punya di rrlumah (rumah), Pu,"
"Lalu apa?"
Jhico bingung juga. Beginilah kalau membawa anak ke tempat berbelanja. Lama sekali memilihnya. Sama seperti ketika Ia pergi dengan Vanilla. Tapi kalau Vanilla, terbilang wajar. Karena Ia belanja untuk keperluan bersama. Sementara Grizelle saat ini untuk dirinya sendiri.
"Aku mau cokelat," Grizelle merengek seraya mengayun kakinya yang menggelantung.
"Berapa?"
"Pupu yakin berrltanya seperrlti (bertanya seperti) itu?" tanya Grizelle dengan senyum lebarnya. Kalau ia ditanya mengenai jumlah colelat yang akan dibeli, Ia akan mengatakan ingin beli semuanya.
Jhico mengambil satu. Ia lupa kalau saat ini tengah bertanya pada anaknya yang tengah menginginkan cokelat. Ia terbiasa bersama Vanilla dan selalu menanyakan seerti itu bila Vanilla ingin membeli sesuatu.
"Sudah 'kan?"
"Belum,"
"Mau apa lagi?"
Grizelle menunjuk makanan berbentuk bunga yang ketika dipegang Jhico bentuknya lembut dan kenyal. Ini pasti sejenis lolipop luna yang rasanya manis.
"Cokelat saja," kataya menolak permintaan Grizelle.
"Pupu aku mau itu. Kan sekali-sekali belinya. Pupu seperrlti (seperti) kehabisan uang saja. Membelikan aku itu saja tidak mau,"
Jhico mendengkus. Bukannya tidak mau. Tapi yang diminta Grizell tak jauh-jauh dari yang senang Ia konsumsi. Kali ini Jhico bersyukur Grizelle tidak meminta ice cream.
Usai membayarnya, Jhico dan Grizelle kembali menempati golf cart. Grizelle sudah membuka cokelatnya tak sabaran.
"Langsung pulang ya, Tuan putri?" tanya Jhico menoleh pada anaknya yang kini tengah menikmati cokelatnya.
"Iya, Pu,"
"Sudah lama? di rumah Auris habis berapa itu? Pupu lupa,"
Grizelle terkekeh meringis. Ia menepuk dahinya pelan. "Aku lupa,"
******
Vanilla berhasil menaiki kursi dan membersihkan pintu kaca penghubung kamar dengan rooftop.
Vanilla berkegiatan seorang diri. Ia menolak dibantu siapapun karena yag lain juga tengah bekerja membersihkan bagian rumahnya yang lain. Kalau Ia hanya membersihkan di kamarnya saja. Kamar Grizelle sudah dibersihkan oleh Nada.
Jhico berseru kaget saat melihat Vanilla yang berada di atas kursi. Ia terkejut sekali karena yang dilakukan Vanilla ini benar-benar membuatnya tak habis pikir, Vanilla nekat.
"Nilla, turun!" titahnya tegas pada Vanilla yang menoleh terkejut. Ia tersenyum menyapa, "Sudah pulang ternyata. Bagaimana jalan-jalan---"
"Ya ampun, Mumu. Kenapa naik ke atas situ? nanti jatuh!"
Grizelle yang baru melihat Mumunya pun tak kalah terkejut. Matanya membola dan kini mengekori Jhico yang berdiri di bawah kursi yang ditempati Vanilla.
"Vanilla, turun sekarang!" titah Jhico yang kini menggunakan nama istrinya tanpa panggilan khusus yang biasa Ia berikan.
Vanilla berdecak pelan. "Sebentar. Ini akan selesai sebentar lagi,"
"Vanilla, turun sekarang! jangan membantahku,"
Jhico menekan suaranya agar tidak membentak. Cukup sorot matanya saja yang tidak terkendali. Sorotnya sudah marah sekali.
__ADS_1
Akhirnya Vanilla turun dari kursi. Ia berdiri di hadapan Jhico yang kini menggertakan giginya kesal.
"Bisa-bisanya kamu melakukan itu ya. Tidak tahu bahayanya seperti apa? hmm?" desisinya tajam pada Vanilla.
"Aku hanya ingin membersihkan,"
"Aku bisa melakukannya kalaupun tidak ada satu orangpun di rumah ini yang bersedia melakukan itu. Kenapa harus kamu?itu bahaya, Nilla. Kalau kamu jatuh, tidak hanya kandunganmu saja yang dikhawatirkan. Tapi kondisimu juga tidak kalah penting," Jhico jadi bicara panjang lebar pagi ini pada istrinya yang sangat rajin. Benar-benar rajin.
"Biasanya juga Ariella yang bersihkan. Tapi kali ini aku ingin membersihkannya sendiri,"
"Lain kali aku yang akan membersihkannya,"
"Aku bisa,"
"Ya memang bisa. Tapi kondisimu tidak memungkinkan,"
Grizelle menatap interaksi ayah dan ibunya. Beruntung Jhico kalau marah tidak bentak-bentak. Jadi Grizelle pun terbilang masih aman kalaupun menyaksikannya.
"Mumu ini nakal. Tidak boleh begitu. Pupu jadi marrlah (arah) kan," kata Grizelle yang ikut menegur Mumunya dengan gigi yang penuh dengan cokelat. Vanilla baru sadar. Ia segera berkacak pinggang menatap anaknya.
"Jangan menasihati Mumu. Itu apa yang kamu makan? cokelat?"
Grizelle terkekeh memperlihatkan giginya. "Iya, cokelat. Dibelikan Pupu. Supaya aku cepat sembuh,"
Jhico menoleh padanya. "Kapan pupu bilang begitu?"
"Ya, aku yang bilang tadi,"
Vanilla berdecak pelan. Jhico pun demikian. Mengarang bebas sesuka hati supaya tidak dimarahi oleh Mumunya.
Jhico mengembalikan kursi yang dipakai Vanilla ke tempatnya di luar kamar, sering digunakan untuk mencapai tempat-tenpat yang tinggi ketika bersih-bersih.
"Kamu meremehkan aku yang biasa bersih-bersih ya, Nilla?kamu tahu 'kan aku sudah mandiri bahkan sejak selesai sekolah. Aku tinggal sendiri di apartemen. Aku biasa melakukan itu,"
"Tapi kamu 'kan kerja, Jhi,"
"Ya, dan ada yang bisa melakukannya di rumah ini. Kenapa harus kamu?"
"Maaf," Vanilla menunduk saat Jhico menatapnya lebih tajam dari tadi.
"Aku juga bisa melakukan itu,"
"Apa? kamu saja tidak bisa mencapainya. Tinggimu belum cukup," ledek Vanilla pada anaknya itu yang kini menggigit cokelat lagi.
"Nanti kalau sudah besarrl (besar),"
"Masih lama,"
"Ya sudah kalau mau cepat, sulap aku saja, Mu, biarrl (biar) cepat tinggi,"
Vanilla terpingkal mendengar penuturan putrinya yang menjawab dengan wajah merengut.
"Untuk apa beli cokelat? pemberian triple A masih ada itu,"
"Dimana, Mu? mau-mau,"
"Tapi Mumu sembunyikan,"
"Nanti aku minta ya, Mu,"
__ADS_1
"Hari ini sudah cukup. Kamu sudah makan itu,"
"Tidak apa, Mu. Nanti gigiku jadi seperrlti drrlakula (seperti drakula),"