Nillaku

Nillaku
Nillaku 175


__ADS_3

Karina keluar dari butik nya saat menjelang siang. Lalu ia bergegas ke toko rotinya. Setelah mengecek di sana, Ia langsung pergi ke rumah anaknya yang sudah ditempati mulai hari ini.


Ia membuktikan ucapannya pada Thanatan bahwa siang hari Ia akan datang menemui Grizelle. Sebelumnya Ia telah membeli makanan kesukaan Vanilla dan Jhico untuk dijadikan sebagai bawaan nya.


Tiba di sana, rupanya ada Rena dan Raihan yang belum pulang. "Tidak datang bersama Thanatan?" tanya Raihan mengira kalau Karina pasti datang bersama suaminya. Tapi Ia tidak menemukan kehadiran Thanatan di samping Karina.


"Tidak, Raihan. Mungkin dia akan menyusul," Karina bingung ingin menjawab apa. Jadi Ia katakan saja suaminya akan menyusul.


Vanilla senang sekali melihat makanan yang dibawa Karina. "Wow terimakasih, Ma."


"Iya, dimakan dan habiskan ya,"


"Tidak disuruh habiskan juga pasti akan aku habiskan, Ma. Sekarang hobiku makan,"


"Baguslah, bukan hobi bersenang-senang lagi,"


Vanilla terkekeh mendengar Raihan menyahutinya seperti itu. Raihan masih ingat dengan hobinya dulu. Setiap malam tidak pulang, lebih nyaman di kelab malam lalu mabuk. Beruntungnya Raihan menyebut 'bersenang-senang' bukan 'mabuk' jadi Vanilla tidak merasa terlalu malu didepan Grizelle yang saat ini sedang dipangkuan ayahnya.


"Hobinya bukan belanja lagi," tambah Rena yang tahu betul betapa borosnya Vanilla dulu apalagi setelah bisa mencari uang sendiri. Ia semakin semena-mena dalam menggunakan uang. Saat kebutuhannya masih sepenuhnya ditanggung Raihan, Vanilla sudah boros sekali. Ketika sudah bisa mencari uang sendiri, borosnya makin menjadi sampai setiap hari kegiatannya hanya belanja, menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting.


"Sekarang giliran diminta untuk memenuhi rumah dengan furniture malah inginnya pelan-pelan,"

__ADS_1


"Aku ingin cari yang bagus, Pa dan itu butuh waktu,"


"Hmmm ya, okay."


Itu alasan mendasar yang digunakan Vanilla ketika Papanya bertanya kenapa rumah masih sepi perlengkapan. Hanya ada furniture yang memang sangat sering dipakai seperti meja dan kursi makan, sofa, almari, dan beberapa lainnya.


*******


"Kalau Karina datang ke apartemen kalian , Apakah Thanatan pernah datang juga?"


"Hmm kenapa bertanya seperti itu, Pa? Papa Thanatan sering juga datang. Apalagi setelah ada Griz,"


Walaupun cukup terkejut karena pertanyaan Papanya, tapi Vanilla tetap menjawab tanpa membuat buruk nama baik salah satu orangtua suaminya, Thanatan, yang bahkan baru sekali bertemu dengan Grizelle dan itupun karena Vanilla serta Jhico yang membawa Grizelle ke rumah Thanatan.


Raihan sengaja bicara seperti ini melalui telepon karena kalau bicara langsung tadi ada Karina bersama mereka. Ia sudah lama akan bertanya seperti ini karena kalau diperhatikan hubungan antara Jhico dengan Thanatan tetap dingin sampai sekarang.


"Papa juga jarang datang menemui Griz,"


"Tapi Papa bahagia memiliki Griz. Bukan berarti kalau jarang menemui, Papa tidak bahagia, Vanilla. Lagipula, sudah diwakilkan oleh Mama salam rindu Papa untuk Griz setiap Mama datang menemui Griz,"


"Iya, sama. Papa Thanatan pun seperti itu. Selalu menitip salam untuk Griz pada Mama Karina,"

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu. Maaf sudah membahas hal ini,"


"Tidak apa, Pa. Aku tahu Papa pasti khawatir kalau Griz tidak diterima dengan baik,"


Jhico mendengarkan pembicaraan istrinya yang tak menyadari kalau dirinya sudah keluar dari kamar mandi.


"Papa menelpon? apa katanya? membahas Papaku yang jarang sekali menemui Griz ya?"


"Iy---iya, tapi aku sudah jelaskan agar Papa tidak salah paham,"


"Hmm iya, wajar Papa bertanya begitu. Papa banyak mata-mata, Nilla. Jadi Papa pasti tahu kalau Papaku hampir tidak pernah bertemu dengan Griz sejak Griz lahir. Baru kemarin saja bertemu dan itupun kita yang datang ke rumah orangtuaku,"


"Tapi aku bersyukur. Setidaknya Papa menerima kedatangan kita kemarin bahkan menggendong Griz sampai makan malam nya tertunda,"


Padahal seorang kakek menggendong cucunya adalah hal yang biasa terjadi. Tapi entah mengapa Vanilla sangat senang ketika Thanatan melakukan itu pada Grizelle.


Jhico mengusap kepala Vanilla dengan lembut. Ia juga meninggalkan kecupan di puncak kepala Istrinya.


"Maafkan Papaku ya, Nilla."


 

__ADS_1


Babang Jhi jd ngerasa bersalah tiba-tiba. Segini dulu yaa. Bsk lanjut lg. .


__ADS_2