Nillaku

Nillaku
Nillaku 386 Panggilan Princess tua untuk Mumu karena Mumu orangtua Grizelle


__ADS_3

"Jangan begitu. Tidak boleh kesal pada Pupu,"


"Ya habisnya Pupu lama,"


"Belum tiga puluh menit sepertinya,"


"Kalau menurrlut (menurut) hitunganku sudah lebih,Mu," Ia mengatakan itu seraya mengangkat pergelangan tangannyam Ia baru ingat tidak pakai arloji. Vanilla terkekeh melihat itu.


Vanilla duduk di samping anaknya. Mereka terdiam sedang mencari topik pembahasan lain. Sampai akhirnya Grizelle yang memang hampir tidak pernah kehabisan topik, mengeluarkan suaranya lagi.


"Mumu, Trliple A sudah tahu belum ya kalau adikku ini perrlempuan (perempuan)?"


"Pasti sudah tahu. Mumu sudah beri tahu Aunty Lovi. Pasti sudah disampikan oleh Aunty Lovi,"


"Hmm, Mu,"


Vanilla menoleh ke samping saat anaknya memanggil. "Kalau aku sudah sembuh, aku mau ke tempat berrlmain (bermain) ya dengan merrleka berltiga (mereka bertiga),"


"Boleh, kalau kakinya sudah benar-benar sembuh ya. Percuma juga datang ke sana kalau kaki kamu masih sakit. Pasti tidak bisa bermain,"


"Iya, tapi sudah mau sembuh ini, Mu,"


Grizelle menatap lukanya yang kini tidak dibalut lagi karena mulai kering dan atas saram Jhico juga bila tak keluar rumah, tidak perlu dibalut.


"Icelle,"


Jhico menyelinap memasuki taman sebab Ia tak menemukan anaknya di halaman. Benar dugaannya kalau sang putri ada di taman.


"Ayo, jalan-jalan,"


"Pupu lama,"


"Sebentar,"


"Lama, aku sampai ketidurrlan menunggu Pupu,"


Jhico terkekeh geli. Ketiduran padahal yang Ia lihat sekarang anak itu sedang sibuk dengan Mumunya membicrakan sesuatu.


"Ketiduran? Tadi mengobrol dengan Mumu"


"Iya, tapi sudah sempat tidurrl (tidur),"


Ia memperagakan tidur dengan tangannya yang diletakkan di pipi. Vanilla dan Jhico menggeleng pelan. Bisa saja bentuk protes anak ini. Sampai melebihkan dengan mengatakan Ia sampai terlelap karena menunggu Jhico datang.


"Kamu ingin ikut, Nilla?"


"Tidak, aku di rumah saja,"


"Ya sudah, aku ajak Icelle jalan dulu," kata Jhico yang diangguki sang istri. Jhico meraih anaknya dalam gendongan. Ia menggendong sengan bridal style layaknya menggendong seorang princess. Memang Grizelle princess kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak dan tidak menjadi princes kecil lagi melainkan princes pertama.


"Ayo princess pertama, kita berangkat,"


"Aku yang pertama. Icelle ke dua, adiknya ke tiga," Vanilla protes yang akhirnya menghentikan labgkah Jhico. a


"Aku tidak mau kedua! aku perrltama (pertama)," Grizelle juga tidak mau menjadi princess kedua. Karena Ia merasa bahwa Ia anak pertama, maka benar apa yang dikatakan Jhico bahwa Ia princess pertama.


"Mumu yang pertama,"


"Aku, Mu,"


Jhico menghela napas pelan. Bisa-bisanya anak dan ibu ini tidak mau mengalah hanya karena sebutan.


"Ya sudah, princess pertama tetap Icelle,"

__ADS_1


Vanilla nampak tidak terima terlihat dari reaksinya sekarang. Ia menatap Jhico dengan tajam dan bibir yang melengkung ke bawah.


"Adiknya Icelle princes kecil,"


Vamilla makin murung. Ia tak disebut sama sekali? ah Jhico jahat. Ia juga ingin disebut.


"Kalau Mumu, itu princess Pupu juga,"


"Namanya princess apa?" tanya Vanilla.


"Princess--apa ya. Aku juga bingung,"


"Prlinces tua saja. 'kan Mumu orrlangtua (orangtua) aku dan adik,"


"Hii tidak mau. Masa tua?"


Jhico terbahak mendengar usul anaknya kemudian langsung mendapat protes dari sang istri.


Ia jadi menunda jalan-jalannya bersama Grizelle karena pembahasan mengenai princess belum usai.


"Tadi Mumu minta nama 'kan? sudah aku berrli (beri) nama, Mumu tidak mau,"


"Tidak mau 'tua' namanya," Vanilla merengek menggemasksn sekali di mata Jhico padahal sudsh mau punya dua anak tapi masih saja kelihatan seperti anak kecil.


"Princess tua kata Icelle, Mu," jelas Jhico membenarkan.


"Tetap saja tidak mau karena ada 'tua' nya,"


"Memang kamu orangtua 'kan?"


"Iya, tapi kan--"


"Itu bagus, Mu. Pemberrlian (pemberian) aku itu,"


Grizelle menjelaskan masih dalam gendongan ayahnya. Ia tersenyum saat Vanilla akhirnya mengangguk.


Tak seharusnya juga Ia meributkan panggilan. Baru ingat kalau Ia sudah ibu beranak dua.


Ia melambai pada suami dan anaknya itu. "Bye, hati-hati ya,"


"Iya, Mumu,"


Jhico menurunkan anaknya di dalam golf cart. Malah Grizelle yang tersengal napasnya padahal Jhico yang menggendongnya.


"Kamu sudah semakin berat ya, Sayang,"


"Iya, aku 'kan berrltumbuh (bertumbuh) dan berlkembang (berkembang), Pu,"


Jhico tersenyum seraya mencubit puncak hidung anaknya itu. Grizelle sudah tidak sabaran untuk menelusuri jalanan lagi.


"Nanti kita ajak adik juga ya, Pu,"


"Iya, kalau adik sudah sedkit besar. Kalau masih bayi, Pupu belum berani mengajaknya,"


"Iya, nanti adik juga kedinginan kalau dibawa keluarrl (keluar) kasihan dia,"


"Tidak mau ke suatu tempat dulu?"


"Tidak mau, jalan-jalan saja, Pu,"


"Okay, siap, princess pertama,"


Grizelle terkekeh dan senang mendengar panggilan itu lagi. Ia pertama dan adiknya kedua. Kalau Mumunya, princess tua. Vanilla sudah sepakat tadi.

__ADS_1


Berhubung Vanilla orangtuanya maka Ia memberi saran seperti itu.


*****


"Ayo-ayo bangun. Kita ke playground,"


Devan membangunkan ketiga anaknya yang tadi malam hingga pagi tiba terlelap di kamarnya bersama Lovi.


Lovi sudah bangun lebih dulu seperti biasa, sementara dirinya dibangunkan oleh Lovi. Kini Ia sudah mandi dan akan mengajak ketiganya untuk mendatangi tempat bermain Auristella yang hari ini dibuka resmi.


Auristella yang paling tenang, belum menunjukkan reaksi apapun setelah dibangunkan oleh ayahnya. Sementara dua kembar kakak beradik kini sudah beranjak bangun.


"Ini masih pagi, Dad. Tidak sekolah juga,"


"Tidak mau melihat playground?"


"Mau, tapi harus sekarang? aku masih mengantuk,"


"Siapa yang menyuruh menonton siaran sepak bola sampai malam?"


"Daddy juga,"


"Tapi Daddy tidak mengantuk lagi sekarang. Sudah mandi juga," Devan memperlihatkan dirinya yang tidak lagi mengenakan pakaian tidur.


"Ayo, cepat mandi. Hari ini dibuka secara resmi,"


"Oh, ya sudah,"


Andrean sudah bernajak lebih dulu saat adiknya tengah bicara dengan ayah mereka. Kemudian Adrian menyusul.


Tugas Devan kini membangunkan sang putri yang masih terlelap. Devan menggelitiki kaki Auristella agar anak itu bergegas meninggalkan alam mimpinya.


"Auris, ayo bangun,"


Auristella masih belum memberikan reaksi apapun. Devan kini mencium kening anaknya berkali-kali kemudian hidungnya juga hingga Auristella yang merasa sangat terganggu memutuskan untuk bangun.


"Daddy, aku masih ingin tidur sampai siang,"


"Tidak mau ke playground? hm?"


Tak ada sahutan dari pitrinya. Devan menghela napas, mencoba sabar dan terus berusaha membangunkan anaknya yang kini kembali terpejam setelah Ia berhenti menciumnya.


"Auris, bangun. Nanti Daddy tinggal ya,"


"Enghh"


"Oh benar? daddy tinggal sekarang"


Lenguhan anaknya tadi Ia anggap persetujuan tapi ia bertanya memastikan dulu.


"Ayo bangun. Kamu ikut-ikutan saja menonton sepak bola. Akhirnya jadi tidur malam dan sulit dibangunkan,"


Devan kembali menggelitiki kaki anaknya. Auristella berdecak kesal. Ia memutuskan untuk berguling ke dekat dinding, menghindari gangguan yang dibuat sang ayah. Devan tidak menyerah, Ia mendekati anaknya lagi. Kini Ia memeluk erat Auristella. Kemudian menggelitiki perut anaknya dengan kepalanya yang sengaja Ia gerak-gerakkan hingga Auristella kegelian.


"Daddy, berhenti! jangan ganggu,"


"Harus bangun. Kita playground. Ayolah, Mommy sudah menunggu di meja makan itu,"


Devan akhirnya bangkit dan membawa kepala anaknya untuk meninggalkan tempat ternyamannya. Ia terkekeh melihat Auristella yang masih bisa terpejam setelah Ia ganggu habis-habisan. Devan meniup wajah Auristella hingga anak itu mengerinyitkan kening dan membuka matanya.


"Ayo bangun. Kita ke playground hari ini,"


"Iya,"

__ADS_1


Auristella akhirnya menurut. Ia beranjak dengan malas dari tempat tidur kemudian melangkah mendekati pintu. Matanya belum terbuka sempurna maka Ia hampir beradu dengan pintu kalau saja Devan tak menahannya dari belakang.


"Melangkah dengan benar, Sayang. Nanti kepalamu sakit kalau terantuk sesuatu,"


__ADS_2