Nillaku

Nillaku
Nillaku 416 Kebersamaan Devan dengan kedua anaknya


__ADS_3

"Masih ingin melihat senyum cantik kamu itu, Lov,"


Lovi menahan senyumnya, Ia bahkan menampar-nampar kecil pipinya yang terasa panas.


Devan terbahak melihat apa yang dilakukan Lovi dan Lovi pun tidak kuat untuk ikut tertawa.


"Sudah, jangan tertawa! lihat anak-anakmu. Jaga mereka dengan baik, jangan lengah!"


"Iya-iya, Lovi sayangku. Bye, Lov,"


Kali ini Devan benar-benar mengakiri panggilan mereka. Kemudian Lovi menatap Andrean yang lurus menatapnya.


"Kenapa, Sayang?"


"Mommy seperti remaja yang sedang jatuh cinta saja,"


Lovi tertawa, tidak biasanya Andrean menggodanya seperti ini. Bila yang melakukannya adalah Auristella atau Adrian, Ia tidak heran.


Rupanya Andrean menatap lurus ke arahnya karena mungkin merasa aneh dengan dirinya yang tadi merona dan menahan senyum ketika Devan bicara manis padanya hingga membuat Ia salah tingkah.


"Maaf ya, Sayang. Mommy jadi seperti remaja ya. Tapi 'kan memang Mommy masih remaja,"


"Remaja dengan tiga anak, Mom?"


Lovi terkekeh dan Ia mengangguk membenarkan. Ia masih muda dan sudah berhasil melahirkan tiga malaikat kecil jadi tidak masalah menyebut dirinya sendiri adalah remaja.


*****


"Ya ampun, persis Ibunya sekali. Sering tidur ketika di mobil,"


Jane menggeleng pelan mepihat Grizelle yang kini terlelap dengan nyaman di bahunya. Pantas saja selama Ia bermain ponsel, bahunya terasa dibebani sesuatu. Rupanya kepala Grizelle yang terjatuh di bahunya karena Ia terlelap.


"Padahal perjalanan tidak jauh. Tapi dia masih bisa tidur,"


Jane terkekeh. Ia mengusap kepala Grizele dan menyandarkannya di kursi. Mereka sudah tiba, Ia segera membuka pintu mobil.


Kemudian Ia meraih Grizelle dalam gendongan. Grizelle sempat melenguh tapi tidak terbangun.


Jane pun tidak niat membangunkan sebab tidak tega melihatnya.


Begitu tiba di dalam rumah, Rena langsung menyanbutnya senang. Ia berdesis meminta Rena untuk mengecilkan suaranya.


"Grizelle tidur, Aunty,"


"Oh ya ampun. Bawa ke kamarku,"


Jane mengangguk, di depannya Rena mengarahkan langkahnya agar ke kamarnya.


Rena membukakan pintu kamar kemudian membiarkan Jane masuk ke kamarnya dengan Grizelle dalam gendongan.


Jane meletakkan Grizelle di ranjang. Ia mengusap kening Grizelle yang menggeliat. Kemudian Rena menyelimuti cucunya.


"Dia sudah makan, Jane?"


"Aku tidak tahu. Tadi aku sampai, kami langsung bersiap untuk ke sini,"


"Apa dibangunkan saja biar dia makan,"


"Nanti saja, Aunt. Kasihan kalau dibangunkan,"


"Iya juga, tapi takutnya dia lapar,"

__ADS_1


"Kalau lapar pasti bangun sendiri,"


Jane mengajak Rena keluar dari kamar, membiarkan Grizelle istirahat sebentar untuk mengisi dayanya sampai penuh hingga bisa digunakan untuk bermain dan berceloteh nanti bersama kakek dan neneknya.


Jane tidak lupa menelpon Vanilla memberi tahu bahwa mereka sudah sampai di rumah Rena.


"Van, kami berdua sudah di rumah Mamamu ya,"


"Okay, Jane,"


"Anakmu tidur. Sudah di kamar,"


"Oh iya, terimakasih, Jane,"


"Sayang, Anakmu sudah makan?" Rena bertanya pada anaknya sebelum panggilan diselesaikan.


"Sudah, Ma,"


"Oh begitu. Ya sudah, kamu jangan khawatir ya. Grizelle akan baik-baik saja di sini. Okay, Sayang?"


"Iya, Ma. Terimakasih ya, Ma,"


"Ya, Sayang,"


******


Vanilla bergegas menghampiri suaminya yang sedang menikmati udara luar di rooftop kamar mereka dengan satu mug teh hijau.


"Ssttt,"


Vanilla memanggil Jhico dengan desisannya yang mengerikan. Jhico menoleh seketika dengan wajah terkejut.


Vanilla terbahak melihatnya. Ia mendekati Jhico dan duduk di sampingnya.


"Aku ingin di sini menemanimu. Oh iya, Icelle dan Jane sudah sampai tapi Icelle tidur,"


"Tidak heran," kekeh Jhico yang seolah tahu anaknya memang tidak jarang seperti itu.


*****


"Auris, ayo sudahi bermainnya,"


"Tapi belum puas, Daddy,"


"Sudah pukul berapa ini?"


Devan mengajak anak perempuannya untuk segera mengakhiri kegiatan bermainnya.


"Entah pukul berapa. Aku tidak menggunakan jam tangan,"


Devan menunjukkan layar ponselnya yang menyala pada sang putri untuk menunjukkan waktu.


"Ayo, Auris! jangan lama-lama. Aku sudah lelah ini,"


Auristella mendengkus, tapi Ia menuruti juga pada akhirnya. Ia segera mendekat pada Daddynya dan menggenggam tangannya.


"Beli gelato dulu ya, Dad,"


"Erghh mulai banyak sekali mau kamu ya,"


Adrian melirik kesal pada adiknya. Yang kini merengut. Ia menatap Ayahnya berharap dipenuhi keinginannya.

__ADS_1


"Iya, kita beli sekarang ya,"


"Yeayyy,"


Auristella melompat riang. Daddynya memang jarang menolak permintaannya. Ia menatap Adrian dengan jumawa. Seolah berkata 'Dibolehi Daddy. Huuu!'


Akhirnya setelah keluar dari playground mereka tidak langsung ke rumah melainkan mencari gelato dulu.


"Ice cream saja,"


"Gelato,"


"Ice cream,"


"Aku mau gelato, bukan ice cream!"


Devan menghembuskan napas kasar. Ia menatap datar keduanya sesaat sebelum memasuki mobil. Mereka langsung menutup mulut rapat-rapat.


"Hampir sama itu. Jadi tidak usah berdebat,"


Sama-sama minuman dengan bahan susu dan dingin hanya bedanya gelato memiliki kadar susu yang lebih mendominasi daripada ice cream.


Hampir enam puluh menit mencari-cari tempat dimana gelato dijual. Adrian sudah menyerah dan meminta pulang saja. Tapi beruntungnya ketemu.


Mereka keluar dari mobil dan masuk ke dalam cafe yang menjual gelato juga dessert.


"Aku mau lima cup ya, Dad,"


"Iya boleh. Tapi nanti kalau batuk, Daddy biarkan ya?"


Auristella terkekeh tidak serius menginginkan hal itu. Dia saja cukup baginya.


Adrian pun hanya menginginkan dua cup. Sementara Devan hanya satu cup saja. Orang-orang yang ikut Devan juga diajak menikmati gelato.


"Kita bawakan untuk Ean boleh, Dad?"


"Akan mencair, Sayang. Lagilula Ean lagi sakit radangnya. Tidak usah dulu menikmati makanan atau minuman seperti ini,"


"Hmm okay, Dad,"


Adrian ingin sekali membawakan kakaknya. Biasanya apa yang Ia makan, kakaknya juga demikian. Tapi sayang Kakaknya sedang sakit dan gelato nya juga pasti mencair sebelum tiba di rumah.


"Setelah ini kita langsung pulang ya,"


"Iya, Dad. Memang kita mau kemana lagi?"


"Hanya menegaskan padamu, agar tidak mengajak Daddy kemanapun lagi,"


Auristella yang sedang menyesap gelato dari sendok kecil di tangannya tersedak oleh tawanya sendiri.


"Hah makanya jangan kelihatan gigi kalau lagi makan atau minum,"


Devan tertawa dan mendapat peringatan serupa dari Adrian yang kelihatannya serius. Tapi anehnya malah membuat Devan kian tertawa hingga giginya kelihatan.


"Daddy sudah aku bilang jangan kelihatan gigi klau sedang menyantap sesuatu supaya tidak tersedak,"


"Ya masa harus tutup mulut terus seperti ini. Hm!" Auristella mengatakannya seraya menutup bibirnya rapat-rapat. Adrian terkekeh gemas dengan kelakuan adiknya.


"Iya, begitu terus. Selamanya kalau perlu. Jadi aku tidak punya teman adu mulut,"


Auristella mengepalkatgannya seolah ingin memberi bogem mentah untuk kakaknya. Devan yang melihat itu langsung meraih tangan putrinya meniup hingga perlahan tangan Auristella tidak lagi mengepal.

__ADS_1


"Tidak boleh begitu, Sayang,"


"Aku sedang ingin belajar bela diri, Dad. Seperti ini," elak Auristella seraya meninju-ninju udara.


__ADS_2