
"Aku ada agenda pergi berlibur dengan teman-temanku, Pa. Ikut tidak?"
"Kamu saja yang pergi, aku tidak,"
"Suami mereka ada yang ikut pergi,"
Thanatan menggeleng tak mau seperti suami-suami dari para teman istrinya yang ikut berlibur. Pasti akan membosankan.
"Mereka juga ada yang menjadi rekan kerjamu 'kan?"
"Iya memang, tapi aku tetap tidak mau. Aku belum merasa perlu untuk berlibur,"
Karina mendengus jengkel. Entah sampai kapan Thanatan bosan dengan hidupnya yang seperti ini terus. Banyak uang tapi jarang sekali dipakai untuk menyenangkan diri ataupun keluarga. Contoh kecil liburan bersama.
"Ajak saja menantumu. Dia bisa jadi teman berlibur untukmu,"
"Vanilla sedang hamil! aku belum berani mengajaknya pergi-pergi,"
Thanatan langsung menoleh padanya. Alisnya terangkat satu. "Kenapa?" tanya Karina yang merasa ditatap oleh suaminya.
"Vanilla mengandung?"
"Iya, oh---kamu belum tahu juga ya?"
"Lalu dia masih di Dubai?"
"Sudah mau pulang,"
"Baguslah sudah tahu kalau dia hamil. Jadi bisa lebih waspada menjaga diri sendiri, jangan sampai hal kemarin terulang lagi. Bagaimana katanya? apa dia akan berhenti bekerja?"
"Aku tidak tahu. Itu bukan ranahku, jadi aku tidak berhak untuk ikut campur,"
Karina menjawab seraya masih fokus dengan obrolan bersama teman-temannya.
"Coba bawa Griz. Dia akan senang ikut kamu berlibur," saran Thanatan yang langsung mendapat respon berupa sorot berbinar dari mata Karina.
"Oh iya, benar juga. Tumben kamu ingat Griz," sindirnya di akhir yang membuat Thanatan mendengus.
"Kalau Griz ikut, kamu juga ikut?"
"Aku tidak mau, Karina. Jangan paksa!"
Karina menghembuskan napas, berusaha sabar. Padahal Ia ingin sekali mengajak suaminya yang jarang-jarang liburan ini. Biar pikiran suntuknya hilang, tidak hanya pekerjaan yang seharusnya Ia lakoni melainkan menghibur diri juga perlu. Apalagi jika bisa mengajak Grizelle, pasti akan lebih menyenangkan.
"Ya sudah, aku coba izin dulu dengan Jhico dan Vanilla. Kalau mereka memberi izin untuk aku membawa Griz, maka aku akan berlibur dengan Griz,"
"Ah senangnya liburan berdua dengan cucu pertamaku itu,"
Karina meremas ponselnya membayangkan bagaimana liburannya nanti. Ia keluar dari kamar menuju meja makan dengan membawa ponsel. Ia akan menghubungi Jhico dan Vanilla saat ini juga.
******
__ADS_1
Grizelle menjemput Mumunya di bandara bersama sang ayah. Akhirnya yang Ia tunggu datang juga.
Anak itu menyambut kedatangan Vanilla dengan tepuk tangan ringan bahkan ketika Vanilla masih berjalan ke arahnya, keluar dari bandara.
"Mumu, aku di sini,"
Padahal vanilla sudah lihat, tapi memang dasar Grizelle yang tak sabaran. Sikapnya itu mengundang geraman gemas orang-orang yang melihatnya.
Jhico menunduk pada anaknya yang berdiri di sebelahnya. Grizelle riuh sekali, seperti sudah ditinggal berbulan-bulan oleh Mumunya.
Begitu tiba di hadapan Grizelle, Vanilla segera memeluknya. Ia akan menggendong anak itu, namun suara Jhico menginterupsi.
"Lagi mengandung,"
"Oh iya, lupa,"
"Ih kenapa Mumu lupa sih? Mumu tidak boleh lupa kalau sudah ada adik di sini," tegur Grizelle seraya mengusap perut Ibunya.
"Dengar anaknya bicara itu,"
"Iya, Jhi. Iya,"
Jhico akan didukung oleh Grizelle dalam menjaga kandungan ketiga Vanilla.
"Ayo, kita pulang,"
"Iya, bial (biar) Mumu cepat istilahat (istirahat)," ujar Grizelle.
"Mumu, aku diajak belibul (berlibur) oleh Nay-Nay. Boleh tidak?"
"Oh ya?" alis Vanilla terangkat. Jadi ceritanya, Vanilla pulang, anaknya yang akan pergi?
"Iya, aku dan Nay-Nay saja yang pelgi (pergi) Kakek tidak ikut,"
"Sudah dizinkan Pupu?"
"Sudah, tadi Nay-Nay telepon Mumu juga tapi tidak dijawab,"
"Iya, lagi diperjalanan tadi,"
"Hmm...Nay-Nay mau bicala (bicara) juga dengan Mumu,"
Vanilla mengangguk, di rumah nanti Ia akan menghubungi Karina. Kini Ia mulai bercerita mengenai kegiatannya selama pergi pada Grizelle, sementara Jhico sudah mulai melajukan mobil.
"Di sana itu sebenarnya bekerja bisa sambil liburan. Tapi Mumu tidak bisa. Saat hari kedatangan saja Mumu, Aunty Jo, dan Aunty Nein jalan-jalan. Setelah itu, kita diam saja di hotel. Apalagi setelah Mumu tahu kalau Mumu sekarang ini sedang mengandung, Mumu jadi inginnya istirahat terus,"
"Iya, bagus, Mu. Mumu pintal (pintar)," Ujar Grizelle seraya mengangkat ibu jarinya yang mengundang tawa Vanilla.
"Tapi kenapa tidak langsung pulang saja setelah acara?"
"Perlu waktu untuk mempersiapkan semuanya, Sayang. Harus disesuaikan juga dengan jadwal kepulangan yang sudah dipilih,"
__ADS_1
"Aku makin bosan pulang ke lumah (rumah) Mumu tidak ada. Beluntung (beruntung) ada Glandma. Kemalin Glandma buat cake. Telus (terus) Pupu sibuk di kamal (kamar) adik,"
Vanilla menoleh ke samping dimana suaminya tengah mengemudi.
"Sibuk apa, Jhi?" tanya dirinya seraya tersenyum.
"Ya, merapikan saja. Pindah-pindah posisi barang di sana,"
"Kenapa sekarang? masih lama digunakannya. Nanti setelah lahir juga masih tidur dengan kita, sama seperti Griz dulu,"
"Iya, memang. Kemarin 'kan Griz sibuk dengan Mama Rena. Daripada aku diam saja, lebih baik ada kegiatan. Ya sudah, aku putuskan untuk menyibukkan diri di kamar itu,"
"Memang kamu belum mulai bekerja lagi?"
"Tadi pagi sempat ke klinik. Griz belum jadi sekolah. Karena dia ingin menjemput kamu,"
"Ya ampun, jadi liburnya diperpanjang?"
"Bukan dipelpanjang (perpanjang) Mumu. Tapi aku 'kan mau lihat Mumu pulang. Nanti kalau aku sekolah, aku tidak bisa langsung beltemu (bertemu) Mumu," Grizelle berusaha mengelak padahal memang Ia yang minta pada ayahnya untuk istirahat sehari ini lagi, barulah besok sekolah.
Jhico mengangguk, Ia pikir agar stamina Grizelle benar-benar penuh dulu sebelum kembali sekolah. Lagipula selama tidak hadir ke sekolah pun, Grizelle tetap mengerjakan tugas. Ia tidak meninggalkan kewajibannya.
*****
"Mumu, ini cake buatan Glandma. Maaf sisa sedikit lagi, kalena (karena) aku makan banyak,"
Usai mandi, Vanilla mengajak anak dan suaminya makan. Namun Jhico mengatakan masih kenyang, Ia akan kembali ke klinik. Akhirnya teman Vanila saat ini hanya Grizelle saja di meja makan.
"Bi, sudah makan?"
"Sudah, Nada juga sudah. Griz 'kan tidak pelit. Sesuka apapun dia pada makanan, pasti tetap berbagi. Cake nya lezat, seperti biasa,"
Vanilla mengangguk, kemudian Ia mulai mencoba cake buatan Mamanya. "Lezat 'kan? aku sempat bantu Glandma buat ini, Mu. Tapi habis itu aku tidak bantu lagi kalena (karena) aku bosan,"
Grizelle naik ke atas kursi di samping Mumunya, memperhatikan sang Ibu makan.
"Mumu halus (harus) banyak makan, supaya adikku tidak kelapalan (kelaparan),"
"Yeaay senangnya yang mau punya adik," ledek Bibi pada anak itu.
"Memang sudah pantas jadi kakak. Karena Griz sudah dewasa,"
"Belum, aku masih anak-anak," Ia menggeleng tak mau dikatakan dewasa sama seperti ketika di rumah sakit, Ia menggeleng tak ingin saat Ibunya berkata bahwa kelak Ia akan menjadi orangtua.
"Ya anak-anak yang dewasa, maksud Bibi,"
"Aku maunya jadi anak-anak saja. Kalau dewasa, nanti Mumu dan Pupu tidak sayang aku lagi. Iya, Mu?"
Vanilla menelan cake yang ada di dalam mulutnya, kemudian menjawab, "Tidak mungkin. Kasih sayang orangtua akan terus mengiringi anaknya sampai kapanpun,."
-----
__ADS_1
Griz mulai resah kasih sayang bwt dia berkurang stlh adk nya lahir. Gk akan lah ya. Semua sayang Griz trmksh aku😆aku double up nih. Aku post ini jam 20.33 semoga kalian blm tidr yaa.