Nillaku

Nillaku
Nillaku 335 Triple A tidak jadi ke playground bersama Grizelle


__ADS_3

"Mumu yang jemput terrlnyata (ternyata) aku pikirrl (pikir) Mr Jun,"


"Kita tidak ke rumah triple A ya, Sayang,"


Vanilla membukakan pintu untuk putrinya. Setelah itu mempersilahkan malaikat kecilnya itu masuk.


Di dalam mobil Grizelle langsung bertanya pada Mumunya itu. "Memang kenapa kita tidak ke rrlumah (rumah) merrleka (mereka), Mu? aku 'kan pulangnya besok. Sekarrlang (sekrang) aku ingin berrlmain (bermain) di playground,"


Vanilla belum melajukan mobilnya. Ia tersenyum, mengusap rambut putrinya.


"Sayang, Kakek sakit. Dan kamu datang ke sana ya. Temani Kakek biar Kakek mau istirahat di rumah dan tidak bosan,"


"Ya ampun, Kakek sakit?"


"Iya, Griz diminta Nay-Nay datang ke sana. Griz mau 'kan?"


Terang saja Grizelle mengangguk. Ia khawatir sekarang. Apakah kakeknya baik-baik saja atau tidak. Jelas Ia ingin datang ke sana dan melihatnya langsung.


"Tidak apa ya bermainnya ditunda dulu?" Vanilla meyakinkan pada putrinya itu.


"Iya, Mu. Tidak apa. Aku ingin menjenguk Kakek,"


"Okay, tapi sebelum itu kita beli sesuatu dulu untuk Kakek ya?"


Grizelle mengangguk cepat. Vanilla mulai melajukan mobilnya ke salah satu pusat belanja untuk membeli buah dan cake untuk Thanatan. Tidak mungkin Ia datang ke sana tanpa apapun. Meski siapapun tidak memintanya, tapi tetap saja Vanilla harus membawa sesuatu untuk menjenguk ayah keduanya itu.


*****


Sudah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian, Thanatan berbaring di ranjang. Karina yang melihat itu diam-diam menghela napas lega. Karena akhirnya sang suami mau berbaring. Ia kira ada hal lain yang akan dilakukan pria itu setelah dengan gilanya bersepeda disaat demam dan sakit kepala masih melanda. Yang Karina syukuri sampai saat ini adalah pulang dalam keadaan baik-baik saja, tidak jatuh ketika bersepeda atau bahkan sampai tidak sadarkan diri. Karina bukan berpikiran yang buruk. Tapi memang itu yang Ia cemaskan ketika tahu dari ibunya bahwa suaminya itu akan bersepeda.


"Mau makan siang sekarang? atau menunggu Icelle?"


"Nanti," jawab Thanatan dengan tenang. Kini Ia menangkup kedua tangannya di belakang kepala dan mulai memejamkan mata.


Karina memilih untuk bungkam, tak bersuara sama sekali agar suaminya bisa terlelap.


Ia akan terus di kamar menjaga suaminya. Tujuannya pulang cepat seperti itu.


*****


Vanilla dibantu oleh Grizelle untuk berburu buah dan juga cake.

__ADS_1


Anak itu seperti biasa, selalu antusias kalau diajak ke pusat perbelanjaan. Tentu karena Ia juga akan membeli sesuatu untuk dirinya sendiri.


Usai membeli buah, cake, dan juga mainan punya Grizelle, Vanilla dan Grizelle bergegas keluar dari pusat perbelanjaan.


Mereka kembali melaju menuju kediaman orangtua Jhico. Di samping Vanilla yang sedang menyetir, Grizelle terlihat serius menikmati popcorn nya.


"Saat mendapat hadiah ulangtahun, Griz bilang tidak mau beli mainan dalam satu tahun ini. Ternyata tidak benar ya," cetus Vanilla seraya melirik anaknya yang kini terkekeh.


"Mumu ingat ucapanku terrlnyata (ternyata),"


"Tentu saja,"


"Aku tidak bisa, Mu,"


"Ya, memang sudah Mumu duga. Pasti Griz tidak akan bisa menahan keinginan untuk mengoleksi mainan lagi meskipun sudah diberikan banyak oleh orang-orang yang datang ke pesta ulang tahun Griz,"


"Tapi...Mumu tidak marrlah (marah) 'kan?"


"Tidak, Sayang,"


Vanilla mencubit gemas pipi anaknya yang ternyata takut bahwa dirinya akan marah bila Ia membeli mainan lagi dan lagi. Setiap ke pusat perbelanjaan memang begitulah Grizelle. Sama dengan kebanyakan anak-anak kecil di luar sana yang selalu antusias bila ke pusat perbelanjaan sebab bisa membeli sesuatu untuk dirinya sendiri disamping belanja hal yang lainnya.


*****


"Ya, terimakasih,"


"Sama-sama, Nyonya,"


Saat maid akan beranjak, Hawra segera menahannya dengan pertanyaan "Sebentar, Karina dimana? bukankah dia sudah pulang?"


"Nyonya Karina sudah pulang. Mungkin sekarang sedang mengurusi Tuan yang sakit,"


"Oh iya, terimakasih,"


Seingat Hawra juga anaknya sudah pulang dari restoraurant dan juga cake store miliknya. Tapi biasanya kalau sudah berada di rumah makan akan makan bersamanya. Saat ini Ia tidak menemukan keberadan Karina di meja makan.


Hawra memilih untuk beranjak ke kamar anak dan menantunya itu. Kemudian tangannya menekan bel di samping pintu dan juga mengetuk pintunya agar cepat dibukakan.


Karina yang sedang diam memandang suaminya dalam diam, seketika beranjak meninggalkan tempatnya sekarang untuk membukakakn pintu.


"Ibu," sapanya begitu ada sosok Hawra.

__ADS_1


"Tidak makan siang?"


"Aku nanti saja, Ibu,"


"Ya sudah, bagaimana keadaan suamimu,"


"Baru saja aku cek, masih demam. Suhunya masih sama,"


"Ya ampun, apa tidak mau dibawa ke rumah sakit saja,"


"Pasti dia tidak akan mau, Ibu. Mungkin suhunya belum turun karena Ia juga tidak istirahat. Malah bersepeda tadi. Nanti aku coba bicara padanya apa ingin ke rumah sakit saja atau tidak,"


Hawra mengangguk, Ia sedikit menimbulkan kepalanya di cela pintu untuk melihat Thanatan dari luar kamar.


"Dia tidur sekarang?" tanya Hawra yang tak bisa sepenuhnya melihat Thanatan. Ia hanya bisa melihat lelaki itu berbaring namun entah tidur atau tidak.


"Iya, tidur,"


Karina menutup pintu usai Ibunya pergi. Ia menatap sosok di tengah ranjang sejenak.


"Benar-benar tidak berdaya kamu," gumamnya. Melihat suaminya yang terlelap pulas, Karina sadar bahwa jarang sekali Ia melihat suaminya seperti ini. Tidur di siang hari dimana biasanya Ia tengah sibuk di kantor. Akhirnya Ia tidak berdaya juga setelah beberapa waktu tidak seperti ini. Thanatan termasuk orang yang jarang sakit. Tapi biasanya bila sudah sakit, akan mengkhawatirkan kondisinya. Seperti sekarang, tak ada perubahan dari kondisinya.


*****


Adrian dan Andrean baru pulang, mereka tak pulang bersamaan dengan Auristella. Mereka keluar dari mobil. Andrean berjalan dengan langkah tegas dan pasti sementara Adrian berlari sangat aktif. Langkah keduanya menunggu ruang keluarga sebab biasanya kalau sudh pulang, Lovi akan berada di sana atau di kamar. Mereka tahu Lovi sudah pulang terlihat dari mobil yang biasa digunakan ibu mereka.


"Mommy,"


Adrian berseru memanggil Lovi yang sedang sibuk dengan lembaran kertasnya di sofa yang berhadapan dengan televisi. Adrian segera memeluk Mommynya dan langsung duduk di samping Lovi. Andrean pun melakukan hal serupa dengan adiknya.


"Auris dan Icelle dimana? apa kita tidak jadi pergi?"


Seharusnya mereka berdua sudah Adrian lihat saat ini, seharusnya mereka sudah siap untuk pergi ke playground. Tapi Adrian bingung saat tak mendapati mereka berdua.


"Kakeknya Icelle sakit. Jadi Icelle menjenguknya,"


"Hah? sakit, Mom? Ya Tuhan, semoga cepat sembuh,"


Lovi mengaminkan apa yang diutarakan putranya itu. Adrian kelihatan tulus sekali ketika berujar seperti itu.


"Jadi sekarang Icelle di rumah Kakek Thanatan?"

__ADS_1


"Iya, Icelle di sana karena Nay-Nay meminta Ia datang. Kalian tidak jadi dulu ke playground ya,"


Lovi menatap kedua anaknya meminta pengertian yang tentu tidak sulit tidak seperti saat bersama Auristella tadi yang harus sedih dan sedikit kesal dulu karena Grizelle tidak ke rumahnya dan ada kemungkinan tidak menginap lagi di rumahnya.


__ADS_2