Nillaku

Nillaku
Nillaku 57


__ADS_3

Vanilla sedang menunggu kedatangan Jhico dan Adrian yang tengah pergi untuk menuruti keinginan anak itu, membeli robot besar.


"Lama sekali mereka datangnya ya?"


"Kamu seperti tidak tahu kebiasaan Adrian saja. Dia kalau sudah dibawa ke toko mainan pasti sulit diajak pulang," jawab Lovi yang masih menyesali keputusan Vanilla dan Jhico untuk menuruti keinginan Adrian yang aneh itu.


Vanilla menunggu dengan jenuh. Ia tidak tahu kalau Jhico dan Adrian lama karena Jhico sedang berusaha membuat Adrian mengerti bahwa robot yang Ia beli harus diantar ke alamat yang dituju, tidak bisa dibawa secara langsung oleh pembelinya karena ukurannya yang super besar.


Seraya menunggu, Vanilla menjelajahi akun sosial media miliknya. Melihat-lihat kiriman foto atau video milik orang lain memang kegiatan yang menyenangkan. Ada satu foto yang menjadi postingan milik Renald dua jam lalu.


Foto itu hanya shadow yang terbentuk di jalan raya sebagai medianya. Bayangan itu ada dua. Yang satu berambut pendek, tentu saja itu adalah Renald dan yang satu lagi berambut panjang dengan porsi tubuh yang terlihat sekali bahwa itu perempuan. Vanilla yang penasaran langsung membuka kolom komentar di postingan itu. Lumayan banyak teman-teman Renald yang singgah di foto tersebut lalu meninggalkan komentar yang maknanya hampir semua sama yaitu menggoda Renald yang memang jarang sekali memposting foto lalu sekalinya posting, adalah foto berdua dengan orang lain. Biasanya tentang alam dan foto dia sendiri.


"Sudah memiliki kekasih kah?"


Vanilla terkekeh kecil seraya menggeleng pelan. "Sepertinya belum lama dia mengatakan cinta padaku. Sekarang sudah pindah ke lain hati atau bagaimana?"


Vanilla keluar dari laman tersebut karena mendengar suara langkah kaki yang tak lain milik Adrian dan suaminya.


"Kenapa lama? Adrian mencari mainan yang lain?"


"Tidak, dia harus aku bujuk dulu supaya mau pulang---"


"Benar kataku 'kan? dia akan sulit diajak pulang kalau sudah ke tempat-tempat seperti itu. Keinginannya tak pernah habis," sambar Lovi yang masih menyimpan gemas atas sikap anaknya itu. Tidak dipenuhi oleh Devan keinginannya, malah merajuk. Setelah Jhico yang memenuhi langsung berbunga sekali hatinya.


"Bukan seperti itu. Dia tidak mau kalau robotnya diantar. Mau di bawa pulang langsung. Tapi itu sangat besar jadi ada mobil khusus untuk membawanya,"


"Memang sebesar apa, Co?"

__ADS_1


"Besar sekali, melebihi manekin yang ada di mall-mall, Lovi. Bisa bayangkan tidak?"


Lovi menggeleng terperangah. Sampai ada mobil khusus untuk mengantarnya berati robot itu memang sangat besar. Lovi jadi tidak sabar melihatnya. Seperti apa robot yang begitu diidamkan oleh sang putra sampai Ia menangis ketika Devan tidak mau membelikannya robot itu.


"Kami pulang dulu ya."


"Huh? padahal belum lama di sini. Baru satu menit," ujar Lovi yang masih belum mau adik ipar dan suaminya pulang. Ada mereka di mansion membuat Lovi tidak kesepian karena suaminya di kamar, begitu pun dengan kedua Mamanya. Sementara Raihan sedang lari sore.


"Satu menit kamu hitung sejak kapan? jelas-jelas aku sudah makan di sini, sudah segalanya. Tidak mungkin baru satu menit,"


"Terima kasih sudah datang. Sering-seringlah datang ke sini. Auris butuh teman,"


"Auris atau kamu?"


"Aku juga," sahut Lovi atas pertanyaan Vanilla. Mereka tertawa kecil lalu Lovi bersama Auristella dan Adrian mengantar suami istri itu ke mobilnya.


"Tidak masalah, Lovi. Mereka juga seperti anakku sendiri,"


"Lain kali jangan seperti ini lagi. Dia akan melunjak nanti," Lovi mengatakannya dengan nada tajam seraya melirik Adrian yang mencebik kesal.


"Ada saatnya dituruti, ada saatnya tidak. Tenang saja, aku tahu kapan harus melakukan itu semua,"


"Dia juga tegas, Lovi. Aku saja sering dibuat menciut,"


Tawa Lovi meledak setelah mendenegar ucapan vanilla. Gadis yang selama ini dikenal keras dan angkuh bisa juga dibuat menciut oleh Jhico. Memang Jhico yang ditakdirkan Tuhan untuk memperbaiki hidup Vanilla dari sisi manapun.


*******

__ADS_1


"Adrian kamu belikan sesuatu. Aku belum pernah,"


"Kamu tidak pernah minta,"


Vanilla mendengus dan membuang arah pandangnya ke luar jendela mobil. Jhico memang selalu menyerahkan sejumlah uang kepadanya setiap awal bulan. Tetapi kalau memberikan sesuatu yang berupa barang, sepertinya belum pernah.


"Kamu yang kurang peka. Biasanya laki-laki itu memberi tanpa diminta,"


"Aku tidak tahu kamu mau apa. Daripada tidak digunakan, lebih baik tidak usah,"


"Ck! kamu tidak romantis seperti mantan-mantanku dulu," Vanilla sengaja melibatkan masa lalunya agar Jhico bangkit dan menunjukkan reaksi yang diinginkan Vanilla. Cemburu, merajuk atau apapun itu yang menunjukkan kalau Ia memang masih mencintai Vanilla.


"Untuk apa romantis kalau tidak berhasil memiliki? lebih baik aku yang biasa-biasa saja tetapi bisa menarik perhatian kamu,"


"Huh? jangan terlalu percaya diri,"


"Ada yang salah dengan ucapan aku? kamu mau menikah dengan aku pasti ada rasa tertarik juga,"


"Astaga, jangan merona wahai pipiku. Aku malu!" Batin Vanilla berteriak seraya menahan senyumnya. Ucapan Jhico sepertinya tepat semua.


"Kamu yang memaksa aku untuk mau menikah dengan kamu. Ingat ya!"


Setelah sampai di basement apartemen dan mobilnya berhenti, Jhico menoleh dengan senyum hangatnya. Ia meraih jemari Vanilla lalu dikecupnya.


"Nillaku, pemaksaan tidak akan terwujud kalau kamu lebih kuat lagi untuk menolak. Aku bisa saja mundur pada saat itu kalau kamu lebih keras lagi menolak aku. Sayangnya, usaha kamu dalam menolak aku masih kurang. Itu menurutku ya,"


Vanilla mengerang gemas. Kurang gigih apa lagi dia dalam membuat Jhico terpental dari hidupnya? hampir setiap saat Ia melakukan penolakan yang menurutnya sudah luar biasa keras tapi pada dasarnya keinginan Jhico memang tidak bisa ditepis.

__ADS_1


__ADS_2