Nillaku

Nillaku
Nillaku 331 Thanatan mulai bosan


__ADS_3

"Nanti kita jadi ke playground?"


"Jadi, Icelle,"


Auristella dan kedua kakaknya sudah siap diantar oleh driver  Grizelle masih sempat menanyakan perihal itu guna memastikan rencana mereka sebelumnya.


"Hati-hati Aurrlis, Ean, dan Ian. Belajarrl (belajar) yang semangat ya!"


"Semangat juga untukmu ya," Auristella meraih kedua tangan Grizelle kemudian mengepalkannya dan menghentaknya ke atas.


"Semangat!" seru Grizelle kemudian mereka berdua tertawa.


"Sudah jangan lama-lama salam perpisahannya. Icelle belum siap,"


Grizelle baru sadar bahwa ketiga kakak sepupunya sudah akan berangkat sementara Ia mengenakan sepatu saja belum. Hanya pakaian sekolah saja yang sudah Ia kenakan. Rambutnya  juga belum dirapikan karena sengaja menunggu Mumunya.


"Bye, hati-hati," kata Grizelle melepas kepergian mereka bertiga ke sekolah.


"Mumu, tolong ikat rrlambutku (rambutku)," rengeknya pada sang ibu.


Vanilla segera menyatukan seluruh helai rambut sang putri. Namun anak itu merengek, "Jangan semuanya. Setengah saja," tuturnya yang lagi-lagi dipenuhi Vanilla.


Lovi yang masih ada di dekat mereka, tepatnya saat ini mereka masih berada di ruang makan, nampak tersenyum memperhatikan Vanilla dan Grizelle.


"Menyenangkan punya anak perempuan ya, Van?"


"Iya, tapi tidak jarang kesal juga kalau sudah berisik,"


Tawa Lovi pecah seketika. Tapi membenarkan juga dalam hati. Ia pun demikian kalau Auristella sudah ceriwis mulutnya, terkadang membuat Ia kesal sendiri.


"Mumu kenapa bicarrla (bicara) begitu? memang aku berrlisik (berisik) ya?"


"Terkadang, Sayang. Tadi, berisik. Minta diikat rambutnya, saat mau diikat, ada peraturannya, harus setengah saja yang diikat. Kamu itu terkadang cerewet, berisik,"


Lovi menggeleng pelan melihat Grizelle yang wajahnya merengut dan Vanilla tersenyum.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang ya?"


Grizelle mengangguk. Ia sudah siap untuk pergi ke sekolah. Pakaian sekolah dan bukunya hari ini sudah dibawa sang ibu kemarin maka hari ini Vanilla hanya membawakan sarapan saja untknya.


"Pamit dulu pada Aunty dan Uncle,"


Grizelle segera menuruti ucapan Ibunya. Ia pamit pada Lovi kemudian pamit pada Devan dari luar kamar seperti ketiga saudaranya tadi karena lelaki itu sedang mandi.

__ADS_1


Vanilla mengantar Grizelle ke sekolahnya. Hari ini tidak seperti yang lalu sebab Grizelle hanya di antar oleh Vanilla tanpa Jhico yang punya jadwal bekerja lebih pagi dari kemarin.


*****


"Thanatan tidak sarapan, Kar?"


"Sudah, Ibu. Di kamar tadi,"


Hawra melamban kan gerak mulutnya yang sedang mengunyah. Alisnya bertaut mendengar penuturan sang putri.


"Tidak biasanya dia sarapan di kamar,"


"Dia tidak bekerja hari ini karena sakit, Ibu. Maka aku bawakan makan ke kamar,"


"Ya ampun, jadi dia sakit? pantas saja Ibu belum melihatnya sampai sekarang. Biasanya sudah siap ke kantor,"


"Iya, Ibu. Suhu tubuhnya tinggi,"


"Lalu sudah kamu beri obat?"


"Sudah, setelah makan tadi, aku berikan obat,"


Karina mengangguk pelan. Ia turut cemas mengetahui suami dari putrinya itu tengah tumbang kondisi tubuhnya. Yang biasanya selalu kelihatan tampil prima, tegas, dan bijaksana, sekarang  tengah mengalami kondisi tubuh yang kurang sehat.


"Tidak, tadi sempat mau bekerja. Tapi aku larang. Sempat juga berkeras ingin kerja. Tapi akhirnya menurut juga dengan laranganku,"


"Benar-benar suamimu itu. Keras kepala sekali. Padahal dia yang merasakan sakitnya, tapi kenapa malah orang lain yang begitu peduli terhadap kondisinya?"


"Iya, aku pun bingung, Ibu,"


Thanatan seolah tak merasakan sakitnya bila sudah tumbang seperti ini. Padahal ketika sehat orang-orang terdekatnya sudah mengingatkan, sudah peduli terhadap kesehatannya dengan cara menasihati agar tidak terlalu keras dalam bekerja.


"Lalu kamu akan kemana sekarang?" tanya Hawra pada Karina yang tampil dengan menawan pagi ini. Memakai stelan blezer berwarna cokelat tua.


"Mengunjungi resto dan cake store ku, Ibu,"


Hawra mengangguk pelan. Kemudian Ia berpesan pada Karina, "Jangan terlalu lama pergi keluar. Suamimu sedang sakit," Hawra meminta agar Karina tak terlalu sibuk hari ini. Sebab suaminya tengah membutuhkan perannya saat ini.


"Iya, Ibu. Aku hanya keluar sebentar saja, setelah itu kembali lagi,"


Hawra dan Karina menghabiskan sarapan mereka tanpa seorang lelaki yang biasanya ada di tengah-tengah mereka.


*****

__ADS_1


"Nona, jarang ke butik setelah pulang ke sini,"


Lovi terkekeh mendapat sambutan dari pegawai butiknya begitu Ia tiba.


"Iya, sedang ada keponakan di rumah. Jadi lebih sering di rumah saja, menemani keponakanku dan anak-anakku," kata Lovi seraya terkekeh.


"Woahh semakin ramai ya,"


"Iya, aku merasa seperti punya anak lagi. Jadi empat," Lovi mengangkat keempat jarinya.


Lovi semalam sudah berencana untuk mengunjungi butik pagi ini. Guna membantu pekerjaan di sini. Selama mengikuti suaminya bekerja, Ia tentubtidak pernah ke sini dan setelah kembali juga baru sekali datang seingatnya karena di rumah ada Grizelle dan ketiga anaknya juga masih belum terbiasa ditinggal. Apalagi nanti kalau Grizelle sudah pulang, pasti mereka akan semakin meparang Lovi untuk kembali berkegiatan sebagai wanita karir paruh waktu.


Lovi pergi ke butik, suaminya tengah berpenampilan. Lelaki itu tak jadi mengantar anaknya sebab tidak sempat lagi karena Ia belum selesai mandi ketika anaknya akan berangkat.


Lovi mengabari suaminya bahwa Ia sudah tiba di butik.


-Aku sudah sampai ya. Apa kamu sudah berangkat?- isi pesan lovi pada suaminya yang tak lama dibalas.


-Okay, Lov. Aku akan berangkat. Semangat ya-


Lovi tersenyum membaca pesan suaminya. Kemudian Ia menyudahi diri untuk menatap ponsel karena tujuannya datang ke sini ingin mengecek pekerjaan di butiknya sekaligus membantu apa yang belum bisa diselesaikan pegawainya.


*****


Thanatan berdecak tatkala merasa bosan hanya berbaring di ranjang. Biasanya dari pagi ia sudah sibuk, produktif. Saat ini malah hanya diam, berbaring menatap langit-langit tanpa mepakukan apapun.


Tadi Ia sempat ingin mengecek pekerjaannya, hanya saja kepalanya tak bisa diajak kerja sama. Ia masih merasakan pening, hembusan napasnya juga masih terasa panas.


"Benar-benar menyiksa kalau sudah sakit begini. Aku benci seperti ini," geramnya.


Ia bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Ia memutar matanya menatap suasana kamarnya dalam diam.


"Tidak ada yang bisa aku kerjakan dan tidak ada teman yang bisa aku ajak bicara,"


Ia menoleh saat istrinya memasuki kamar. Ia tahu bahwa Karina akan pergi sekarang usai sarapan.


"Aku pergi sebentar ya untuk mengecek saja. Nanti aku kembali lagi,"


Thanatan mengangguk pelan. Sulit sekali mengatakan langsung pada wanitanya itu bahwa Ia keberatan bila Karina pergi.


Ia ingin Karina tetap di sini, menemaninya karena Ia benar-benar butuh teman sebagai pengalihan dari rasa bosan akibat sakit yang berakibat Ia tak bisa melakukan apapun.


"Hanya sebentar?" tanya nya datar namun penuh keingin tahuan.

__ADS_1


"Iya, sebentar saja. Tidak akan lama. Kenapa memangnya? kamu tidak bisa aku tinggalkan?" tanya Karina dengan sorot jenaka menurut Thanatan. Karina tersenyum miring padanya. Tahu sekali kalau suaminya itu memang butuh teman untuk mengusir kebosanannya. Maka Ia berjanji tidak akan pergi lama.


__ADS_2