Nillaku

Nillaku
Nillaku 128


__ADS_3

"Uncle, Keyfa tidak usah datang ke sini lagi,"


Tangan Jhico yang tadinya ingin menyuapkan sarapan ke dalam mulut langsung terhenti. Ia menatap Adrian bingung.


"Kenapa memangnya?"


"Aku tidak suka," jawab Adrian dengan cepat. Jhico segera menatap istrinya, meminta bantuan untuk menjelaskan pada Adrian.


"Dia baru kemarin datang ke sini, Adrian." ucap Vanilla.


"Iya, besok-besok tidak usah lagi,"


"Dan juga, kenapa Uncle mengajak dia?"


"Uncle tidak mengajak. Dia yang mau datang,"


"Dia membuat Griz menangis. Dan dia sok akrab dengan Griz,"


Jhico menggeleng pelan mendengar itu. Adrian masih saja salah paham. Padahal Ia sudah mengatakan sejak semalam bahwa Grizelle menangis bukan karena Keyfa. Lagi-lagi Adrian membahas masalah kecil semalam.


"Habiskan sarapanmu, Adrian." Jhico menyelesaikan pembicaraan. Ia tidak akan menuruti ucapan Adrian yang melarang Keyfa datang ke sini. Apa salah nya Keyfa ingin bermain dengan Grizelle? dia anak yang baik. Seharusnya Adrian bisa menilai itu.


****


Adrian melompat kesenangan saat Jane datang ke apartemen Vanilla.


"Aunty tahu aku ada di sini?"


"Sebelumnya tidak tahu. Setelah bertemu kamu, baru tahu,"


"Yahh, jadi tidak bawa oleh-oleh untukku?"


"Oleh-oleh apa? Aunty tidak berlibur kemarin,"


Jane menarik Adrian untuk dipangkunya. "Kamu sudah berat ya,"


"Masa ringan terus? aku tumbuh dan berkembang, Aunty."


Adrian membuka pizza yang dibawa oleh Jane lalu mengambil satu slice kemudian disantapnya.


"Van, aku belum terlambat datang bulan juga,"


Saat Adrian fokus makan, Jane mengeluarkan keluh kesahnya. Lagi-lagi berhubungan dengan dirinya yang belum juga bisa mengandung.


"Sabar, Jane. Tidak semua pernikahan cepat diberi anugrah berupa anak oleh Tuhan,"


"Tapi, aku sudah ingin sekali,"


"Iya, aku tahu. Tapi kamu harus sabar, jangan dipikirkan. Kalau memang sudah waktunya, pasti diberikan oleh Tuhan,"


"Aunty mau punya adik bayi?"


Jane tidak menjawab, Ia hanya menghembuskan napas dengan wajah yang murung.


Adrian mengusap wajah Jane. "Sabar, Aunty. Pasti nanti punya. Tidak boleh sedih,"


Ia terus mengusap sampai lupa tangan yang Ia gunakan adalah tangan yang baru saja memegang pizza.


"AAAAAA ADRIAN! TANGANMU!"

__ADS_1


"Astaga, Maaf, Aunty. Maaf, aku benar-benar tidak sengaja,"


Vanilla tertawa terpingkal-pingkal. Jane berlari ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang terdapat saus dari pizza. Aroma keju, daging, bercampur jadi satu di wajahnya.


Adrian pun tertawa. Ia menghampiri Jane ke kamar mandi, memperhatikan Jane yang tengah menggosok wajahnya dengan sabun.


"Aunty, itu 'kan sabun aku,"


Sempat-sempatnya Adrian protes karena Jane menggunakan sabun cair miliknya yang beraroma cokelat yang dibawa Devan di pagi pertama Ia menginap.


"Sabun siapa saja tidak penting. Yang terpenting wajah Aunty tidak beraroma pizza lagi,"


*****


Oeekk


Oeekk


Oeekk


Tangisan Grizelle membuat Adrian terbangun bersamaan dengan Vanilla juga. Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu duduk memperhatikan Vanilla yang sedang memeriksa popok Grizelle, ternyata penuh. Vanilla melihat jam, memang sudah waktunya anak itu ganti popok. Dan biasanya satu atau dua jam setelahnya Ia membunyikan alarm tangis lagi karena haus.


"Adrian tidur saja,"


Adrian mengangguk.Ia kembali berbaring kemudian terlungkup. Dia selalu bangun kalau Grizelle menangis di tengah malam.


Usai memastikan anaknya nyaman dengan popok baru, Vanilla kembali membaringkan Grizelle di tempatnya namun anak itu menangis lagi.


"Oh sudah haus?"


Vanilla meletakkan Grizelle di dada nya kemudian mengarahkan Grizelle untuk menyesap air susu nya.


Grizelle semangat sekali menyantap susu nya. Sepertinya Ia memang sedang haus. Vanilla sampai terkantuk-kantuk menunggu anaknya menyusu dan kembali tertidur.


****


Dini hari, Grizelle lagi-lagi membuat orang terbangun, namun hanya Adrian. Adrian berusaha menenangkan adik sepupunya. Karena Ia kira Grizelle hanya sedang mengigau.


"Bukannya tadi dia sudah ganti popok? kenapa sekarang menangis? apa dia haus ya?" gumam nya sendiri. Mata nya melirik jam.


"Ah sepertinya dia memang haus. Biasanya Griz bangun jam segini karena haus," lanjutnya lagi.


Anak itu membangunkan Vanilla. Vanilla tidak langsung bangun, karena Ia benar-benar sedang lelap tertidur. Mendengar suara Adrian yang semakin cepat membangunkan Vanilla, malah Jhico yang membuka matanya.


Jhico mendekati istrinya lalu menepuk-nepuk lengan Vanilla. "Nilla, Griz menangis,"


"Hmm, aku baru tidur," gumam Vailla masih terpejam. Tangis Grizelle masih terdengar.


"Aunty, bangun. Kasihan Griz, cepat Aunty bangun. Aunty!"


Adrian menggerak-gerakkan lengan Aunty nya agar membuka mata. "Aunty, bangun! Griz menangis,"


"Nilla--"


"Haaaahh,"


Vanilla langsung duduk dan menguap lebar. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu segera menatap Grizelle.


"Apa lagi, Griz? tadi sudah minum susu," ujarnya seraya menggendong Grizelle. Ia menimangnya dengan lembut.

__ADS_1


"Biasanya kalau sudah menyusu setelah ganti popok, tidak bangun minta susu lagi,"


"Ya sudah, berikan saja."


Vanilla mengangguk menuruti apa kata suaminya.


"Ah aku tidak bisa tidur lagi sepertinya,"


"Karena Griz menangis ya?" tanya Jhico.


Adrian mengangguk. Sebenarnya Ia masih mengantuk, tapi sepertinya Ia tidak bisa lagi memejamkan mata.


"Uncle usap-usap punggungnya,"


Biasanya Adrian akan cepat tertidur kalau diusap-usap begitu. Adrian harus tidur lagi karena waktu masih malam. Kalau dia tidak lanjut tidur, bisa-bisa esok hari mengantuk terus bawaannya.


"Boleh, thank you, Uncle."


*****


Bukan hanya Andrean, Auristella pun ikut menjemput Adrian di apartemen Vanilla. Saat ditanya mau ikut atau tidak, Auristella mengangguk dengan semangat.


Ia bahkan mandi dengan cepat, biasanya ada drama tangis dulu karena Ia yang belum ingin selesai bermain air, tapi saat mandi dengan Senata tadi, Ia menurut begitu diajak keluar dari kamar mandi.


Auristella benar-benar sudah merindukan kakak keduanya. Terbukti dari pelukan nya yang begitu erat saat Adrian menyambutnya di depan pintu apartemen.


"Kamu pasti kesepian tidak ada aku ya?"


Auristella mengangguk lucu. Hal itu membuat Adrian besar kepala. Adiknya yang memiliki gengsi selangit itu akhirnya mengaku juga kalau dia kesepian tanpa Adrian di rumah.


"Makanya kalau ada aku, jangan menyebalkan!"


"Ndak,"


"Ndak apa? kamu menyebalkan,"


"Kamu juga menyebalkan. Mommy mewakili Auris untuk menjawab,"


"Ayo, masuk dulu. Bicaranya sambil duduk," interupsi Jhico mempersilahkan Lovi dan Auristella dalam gendongannya agar masuk. Sementara Devan dan Andrean sudah duduk di ruang tamu.


"Auris, Aku bawa Griz ke rumah ya?"


"Ndak!"


"Memang kenapa? dia juga adikku,"


Auristella menggeleng tegas, namun raut wajahnya sedih dan sedetik kemudian Ia menangis.


"Kenapa menangis? memang kamu mengerti aku bicara apa?"


"Ya mengerti lah. Dia sudah bisa memahami apa yang dibicarakan orang, Adrian." Devan menatap anak keduanya dengan tajam. Adrian gemar sekali menjahili adiknya. Adrian sengaja berkata begitu agar Auristella menangis. Meskipun masih kecil, Auristella sudah posesif sekali. Tidak boleh ada anak kecil lain yang akrab dengan kedua kakaknya.


Grizelle dan Vanilla menghampiri mereka di ruang tamu. Adrian langsung mencium kening Grizelle. Melihat itu Auristella kembali menangis kencang lalu menunjuk Adrian dan Grizelle.


"Tidak boleh begitu. Grizelle kan adiknya Adrian, Andrean, Auris juga. Harus sayang dengan adik," Lovi memberi pengertian pada anak bungsunya.


"Kamu kalau di telepon gemas sekali dengan Griz. Giliran bertemu langsung malah begini," cibir Adrian pada adiknya. Sebenarnya kalau Adrian tidak cari masalah, Auristella tidak akan sebal dengan Grizelle hingga menangis seperti itu. Adrian memang berniat untuk membuat adiknya jealous dengan kedekatannya bersama Grizelle.


 

__ADS_1


---------


Malem gengss. Tadi makan malem pake apa? mau tau dungs biar aku yg sedang mager makan ini langsung gercep ambil makanan stlh liat komen kalian😂😂


__ADS_2