
Pukul enam, dokter melakukan visit ke ruang Grizelle untuk memeriksa kondisinya pagi ini.
"Dokter Jhico, Hb Grizelle masih rendah ya. Belum bisa pulang kalau belum bertambah," ujar lelaki bername tag Drey.
"Demamnya juga masih,"
Jhico dan Vanilla mendengarkan seksama hasil pemeriksaan dokter pada putri mereka pagi ini.
"Apa keluhannya semalam? Hidungnya masih tersumbat? pusing? batuknya bagaimana?"
Grizelle mengangguk sebagai jawaban atas semua pertanyaan itu.
"Semalam sampai muntah karena batuk, Dokter,"
"Minum air hangat terus, Icelle. Jangan nakal ya,"
Drey menyentuh hidung Grizelle yang berbaring menatapnya. "Sekarang Grizelle pakai Nebulizer dulu,"
Melihat mata Grizelle yang memandangnya bingun, Drey tersenyum menjelaskan, "Jadi Grizelle akan diberikan obat melalui uap. Grizelle hanya tinggal mengirup uap itu. Tidak sakit, Dokter janji,"
Grizelle mengangguk mengerti. Kemudian satu perawat sudah membawa alat dan obatnya.
"Oh ini yang namanya nebuzel (nebulizer) Aku pelnah (pernah) pakai ini,"
"Iya pakai ini supaya batuk Grizelle bisa sembuh. Dan hidungnya tidak tersumbat lagi. Jadi, tidak takut 'kan?"
Grizelle menggeleng yakin. Vanilla tersenyum melihat anaknya yang memang tidak terlihat takut sama sekali.
Setelah obat dimasukkan ke dalam alat dan obat tersebut mulai berubah menjadi uap, Grizelle segera memakai masker nebulizer itu dan mulai mengirup uap yang keluar dari sana.
"Jadi keluhan masih sama ya. Demam, batuk, pusing, flu, kelihatannya juga masih lemas. Obatnya terus diminum. Jangan malas makan supaya tidak lemas, Icelle. Lalu minum air hangat jangan lupa,"
"Tapi semua makanan pahit. Tadi aku makan buah pil (pear) lasanya (rasanya) pahit,"
"Iya, tapi itu tidak bisa jadi alasan Grizelle agar tidak makan,"
"Hb nya dipantau terus ya," pesan Drey pada perawat.
"Baik, Dokter,"
Selama diuap, Vanilla dan Jhico terus berada di samping Grizelle. Bahkan Vanilla merengkuh anak itu. Sembari Grizelle diuap, perawat menulis mengenai perkembangan kondisi Grizelle. Drey sudah keluar terlebih dahulu dari ruangan Grizelle untuk mendatangi pasien anak yang lain.
"Sudah,"
"Belum, takaran obatnya belum habis itu,"
Vanilla melarang anaknya yang akan membuka masker nebulizer. Grizelle mulai bosan mengenakan itu dan merasa tidak nyaman.
"Sabar sebentar ya," pinta perawat pada Grizelle dengan lembut.
__ADS_1
*****
Nein menggerutu saat dua hari ini Vanilla tidak ada kabar berita padahal tiga hari lagi adalah jadwal keberangkatannya ke Dubai untuk mengikuti Dubai fashion week.
Vanilla sudah tahu mengenai rencana itu sejak sebulan yang lalu. Dan seperti biasa, Nein akan sering mengingatkan.
"Jhico, Vanilla baik-baik saja 'kan? aku khawatir tidak ada kabar darinya dua hari ini. Aku juga ingin memberi tahu jadwal keberangkatan ke Dubai tiga hari lagi untuk urusan pekerjaannya,"
Nein tak memiliki pilihan lain. Jhico adalah orang yang tepat untuk dihubungi saat ini.
Jhico langsung menyerahkan ponselnya pada sang istri yang akan menyuapi Grizelle makan.
"Bicara dulu dengan Nein,"
Jhico mengambil alih kegiatan Istrinya. Namun Grizelle menggeleng menolak. "Makan disuapi Mumu,"
Jhico tersenyum lalu mengangguk. Kalau biasanya Grizelle selalu makan sendiri, sejak Grizelle sakit, Vanilla tak pernah absen menyuapi Grizelle.
"Kalau sama Pupu harus habis makannya,"
Jhico berdecak pelan. Jadi Vanilla dijadikan pilihan utama karena Grizelle bisa menawar. Kalau dengan Jhico, memang Grizelle tidak bisa menolak.
"Ya sudah, biar Mumu terima telepon dulu,"
"Hallo, Nein."
"Kamu kemana saja? aku menghubungi kamu tapi tidak direspon,"
"Grizelle masih sakit?"
"Iya, tadi malam masuk rumah sakit,"
"Ya ampun, lalu bagaimana dengan rencana kita tiga hari lagi?"
Vanilla memijat pelipisnya pening. Ia baru ingat lagi tentang acara yang harus Ia hadiri di Dubai.
"Aduh dibicarakan nanti saja ya, Nein,"
"Ya sudah, aku mengerti. Aku ingin datang ke rumah sakit ya. Oh iya, Joana sudah tahu Griz di rumah sakit? aku ingin mengajaknya. Barangkali kita bisa menjadi penghibur Griz,"
"Joana belum tahu. Ya sudah, aku mau suapi sarapannya Griz dulu ya,"
"Okay, bye,"
Karena anaknya menolak untuk makan bersamanya, maka Jhico memutuskan untuk tidur. Hampir dini hari Grizelle muntah lalu tertidur, Jhico tak memejamkan mata sedikitpun. Ia tak tenang bila tidak melihat Grizelle barang sedetik saja.
"Jangan berisik, biar Pupu istirahat,"
"Memang Pulu belum istilahat, Mu? padahal semalam kata Pupu, kalau aku tidul (tidur), Pupu akan tidul juga,"
__ADS_1
"Tidak, Mumu 'kan tidur tapi sebentar-sebentar bangun untuk cek kamu. Dan Mumu tidak melihat Pupu tidur sama sekali,"
Grizelle memandang Jhico yang berbaring di atas sofa dengan posisi terlentang dan kedua lengan yang menutupi matanya.
"Kasihan Mumu dan Pupu. Kalau aku sakit pasti sepelti (seperti) ini telus (terus),"
"Maka jangan sakit-sakit lagi ya,"
"Aku juga tidak mau sakit, Mu,"
"Tidak mau sakit tapi dicari penyebab sakitnya," cibir Vanilla mengingatkan Grizelle yang tidak sekali dua kali seperti ini.
Sakitnya Grizelle kali ini sebenarnya bukan hanya karena kelelahan dan perkara terlalu banyak minum ice cream saja, tapi juga ada beberapa hal yang mungkin membuat pikiran Grizelle lelah hingga tubuhnya drop.
Jhico langsung menyambungkan kejadian saat di rumah orangtuanya dengan Grizelle yang sakit sekarang. Apa mungkin penyebab lainnya adalah Grizelle yang melihat dirinya dan sang ayah berdebat hebat. Mungkin putrinya terpuruk melihat semua itu dan menjadi beban pikirannya.
"Sudah, Mu. Aku sudah kenyang,"
"Sekarang mau makan apa?"
"Pil (pear) lagi,"
Sebelum makan tadi, Grizelle sudah habis setengah buah pear. Vanilla mengatakan jangan terlalu banyak dulu makan buah karena Ia belum sarapan. Grizelle menurut.
"Ini ada jeruk juga, Sayang. Ada anggur. Mau anggur?"
"Tidak mau, pil (pear) saja,"
Vanilla mengangguk tak memaksa. Saat sakit begini memang ada baiknya Grizelle diberi makan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dan terkadang berlawanan dengan Jhico. Jhico mengatakan berilah yang diperlukan bukan yang diinginkan. Tapi kalau anaknya tidak mau, Vanilla harus apa? Tadi malam sebenarnya Jhico kesal juga dengan Vanilla yang mengizinkan Grizelle makan snack malam-malam dimana seharusnya Ia istirahat. Tapi Ia urung menegur. Dan pada akhirnya Grizelle tidak jadi menikmati snack karena Ia muntah.
Beruntung tidak jadi karena Jhico sempat melihat anaknya memegang snack berupa kulit ayam crispy. Makanan itu mengandung minyak sementara Grizell sedang batuk.
"Nilla, itu snack-snack yang tidak dipanggang, mengandung minyak, buang saja lah. Jangan dilihat Grizelle lagi,"
Saat Grizelle tidur dan Vanilla bangun untuk memeriksa keadaan putrinya, Jhico berkata seperti itu. Langsung di patuhi oleh Vanilla. Ia hanya menyisakan cookies panggang berbagai rasa untuk anaknya sementara yang lain, Ia pisahkan. Tidak akan Ia buang, karena akan Ia makan.
"Lagipula itu sebenarnya camilan kamu atau Griz sih? kenapa banyak snack kesukaan kamu?"
"Ada camilan khusus untuk dia. Tapi dia tidak mau,"
Vanilla memang meminta dibawakan box camilan khusus milik Grizelle berupa makanan anak-anak. Tapi Grizelle inginnya membongkar box camilan milik Vanilla dan Jhico.
"Aku 'kan mau ada camilan juga, Jhi,"
"Iya, aku tidak melarang. Tapi jangan terlihat Griz. Dia itu mulai bosan dengan makanan anak-anak jadi makanan punya kita dicobanya lalu jadi suka karena sudah mencoba sekali,"
Susah memang kalau punya istri yang hobi mengemil kemudian anaknya pun demikian. Lebih susahnya lagi, Grizelle tidak selamanya bisa diatur. Sekalipun dia tahu itu bukan untuknya, kalau Ia penasaran dengan rasanya, maka akan Ia coba. Setelah Ia coba dan menurutnya sesuai selera, maka akan berkelanjutan.
------
__ADS_1
Met siang semuanyaaa. Udh makan siang blm? yang blm makan, sok atuh makan dulu biar segerrr lanjut kerjanya😆udh follow aku blm? follow atuh, jgn baca aja ya😉