Nillaku

Nillaku
Nillaku 254 Manisnya calon ayah dua anak


__ADS_3

Jhico dan Vanilla mengantar kepulangan Romy usai mereka makan malam bersama.


Terlalu banyak topik obrolan sampai Romy mengatakan bahwa Ia pulang terlalu malam dan Ia benar-benar meminta maaf pada Jhico.


Sementara Jhico tak memeprmasalahkan sama sekali karena memang yang mereka bahas bukan hanya tentang rencana perubahan design kamar saja melainkan hal-hal lain juga.


"Kamu sudah mengantuk ya? kenapa tidak tidur lebih dulu saja?"


"Belum,"


Jhico mengajak istrinya untuk segera beristirahat di kamar. Sebelum terpejam, Vanilla coba menghubungi Karina. Ia ingin tahu apa putrinya sudah tidur atau belum. Tapi sayangnya panggilan tidak dijawab oleh Karina.


"Aku telepon Mama Karina tapi tidak dijawab. Mungkin Mama sudah tidur dengan Griz ya,"


Jhico yang hendak ke kamar mandi menoleh. "Iya, ini sudah terbilang malam. Mungkin mereka berdua sudah tidur,"


Jhico yang sedang berada di kamar mandi untuk mencuci wajah dan membersihkan mulutnya. Vanilla pun akan melakukan hal yang sama sebelum beristirahat.


Ketika Jhico keluar, Vanilla segera masuk. "Hati-hati kalau ke kamar mandi ya," pesan Jhico entah untuk yang ke berapa kalinya. Karena Jhico jadi lebih sering mengingatkan hal itu sejak mengetahui Vanilla mengandung.


Tak bisa melihat lantai licin sedikit, Jhico bergegas mengeringkan. Sikapnya benar-benar menunjukkan rasa tanggung jawab. Seperti saat ini, Ia langsung mengganti pengering di depan kamar mandi karena dirasanya sudah tak layak lagi dipakai sebab lumayan basah.


Vanilla keluar dan menemukan suaminya tengah menunduk meletakkan kain pengering untuk kaki yang baru.


"Itu baru diganti, Jhi,"


"Sudah lumayan basah. Biar saja aku ganti," ujarnya seraya menegakkan tubuh dan tersenyum pada istrinya.


"Istirahat lah,"


Vanilla mengangguk. Tanpa disuruh pun Ia akan istirahat karena Ia sudah merasa lelah padahal tak ada kegiatan berati yang Ia lakukan.


"Aku jadi mudah lelah sejak hamil,"


"Iya, itu wajar. Nanti ketika usianya sudah besar, kamu semakin lelah lagi. Tapi aku harap, kamu kuat ya," ujar Jhico sebelum memadamkan lampu utama kamar kemudian menyalakan lampu tidur.


Vanilla memeluk suaminya yang kini bergabung di tempat tidur bersamanya. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jhico.


"Tentu saja aku akan kuat. Karena ada kamu dan Griz yang selalu menguatkan aku,"


*****


Setelah beberapa kali Karina mendapat penolakan dari grizelle ketika Ia hendak memeluk, akhirnya Karina bisa mendekap cucunya yang kini terlelap setelah hampir satu jam menangis hanya perkara minuman dingin kesukaannya itu.


Grizelle tidur karena lelah terisak. Karina mengubah posisi tidur Grizelle agar tidak berbaring terlungkup sebab Ia khawatir Grizelle sesak sehabis menangis.


Setelah memastikan Grizelle nyaman dalam tidur, Ia segera berbaring di samping cucunya yang malam ini mencoba untuk menguji kesabarannya.


"Beruntung nya Kakekmu tidak ikut, Griz. Nay-Nay takut dia marah padamu kalau sikapmu seperti tadi,"

__ADS_1


Ia bisa memaklumi karena memang begitulah anak kecil, tak selamanya bisa diminta untuk mengerti, terkadang justru mereka yang meminta pengertian.


Ia mewajari sikap Grizelle malam ini. Tak hanya Grizelle saja, mungkin anak-anak lain pun ada kalanya berontak ketika permintaannya tak dipenuhi sekalipun dengan alasan kebaikan.


Karina menatap cucunya yang tetap saja cantik meskipun hidungnya merah sebab menangis. Ia tersenyum kecil. Kemudian menghela rambut Grizelle yang beberapa helai melekat di pipinya karena air mata.


"Anak Jhico ini benar-benar luar biasa," takjubnya. Ia yakin cucu keduanya nanti juga menakjubkan untuknya, tak kalah dari si sulung dalam dekapannya ini.


****


Seperti ada alarm dalam kepalanya, Thanatan bangun dini hari untuk melaksanakan niatnya sebelum tidur, yaitu menyelesaikan pekerjaannya yang Ia bawa pulang.


Akhirnya rasa lelah itu sirna setelah Ia tidur. Dan anehnya, Ia bisa memjamkan mata setelah melihat foto Grizelle yang tersenyum menatap kamera.


Thanatan segera beranjak ke ruang kerjanya. Kemudian bergelut dengan pekerjaan hingga pagi datang.


Pukul enam Ia beranjak dari kursinya. Ia meregangkan seluruh ototnya sebentar.


Ia membereskan semua lembaran di atas meja, kemudian membawanya ke dalam kamar.


Lelaki itu langsung ke kamar mandi, tanpa mau bermalas-malasan di ranjang terlebih dahulu.


Setelah bersiap, Ia ke meja makan namun bukan untuk sarapan melainkan minum saja.


"Silahkan, Tuan"


"Aku tidak sarapan,"


"Disiapkan bekal, Tuan?"


"Tidak perlu,"


Maid mengangguk paham dan Thanatan langsung pergi ke kantornya.


Harinya memang membosankan tanpa Karina. Kalau ada wanita itu, setidaknya meskipun ada perdebatan tapi tetap ada warna.


*****


"Hallo, Ma. Selamat pagi,"


"Hallo, Van. Pagi, Mama baru bangun ini. Griz masih tidur,"


"Bagaimana dengan Griz, Ma? dia menyulitkan Mama?"


Sembari menata makanan di atas meja makan, Vanilla menghubungi Karina pagi ini sementara suaminya sudah Ia bangunkan agar segera mandi kemudian setelahnya bergegas ke meja makan untuk sarapan bersamanya.


"Tidak, Griz tidak menyulitkan sama sekali. Kamu tenang saja. Anakmu ini pintar,"


"Semalam tidur malam sekali ya, Ma?"

__ADS_1


"Kami hanya ikut barbeque saja,"


"Oh, lalu rencana hari ini apa, Ma?"


"Kami akan pergi ke industri susu untuk melihat-lihat kegiatan di sana. Setelah itu barulah pulang,"


"Baiklah, Mama belum sarapan berarti?"


"Belum, Mama baru bangun. Sekarang ingin mandi dulu, baru membangunkan Griz,"


"Ya sudah, Ma. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Terimakasih, Ma, sudah sabar dengan Griz,"


"Ah kamu jangan bicara begitu. Mama mandi sebentar ya;"


"Iya, Ma,"


Vanilla melepaskan ponsel yang ia apit dengan bahu dan telinganya kemudian Ia letakkan benda tipis canggih itu di atas meja.


Vanilla kembali ke dapur untuk membuat susu dan green tea untuk suaminya.


Setelah susu kandungannya jadi, Ia lantas membuat green tea kesukaan suaminya belakangan ini.


Ia kembali ke meja makan usai membuat dua gelas minuman dan Jhico rupanya sudah di meja makan.


"Aku mual, Nilla. Baru hari ini,"


"Kenapa? kamu salah makan?"


"Seingatku tidak,"


"Oh mungkin karena aku hamil. Pagi ini aku belum mual. Mungkin mualnya pindah ke kamu ya," ujar Vanilla seraya terkekeh.


"Kalaupun iya, tidak apa. Biar aku juga ikut berkorban,"


Vanilla tersenyum menatap suaminya. "Ah kamu jangan terlalu manis,"


"Aku? biasa saja,"


Jhico tak merasa bahwa sikapnya manis sekali pada Vanilla. Namun Vanilla selalu mengatakan itu setiap Ia melakukan sesuatu untuk anak dan istrinya. Jhico hanya melakukan apa yang memang seharusnya Ia lakukan yaitu memastikan istri dan anaknya baik-baik saja.


*****


Karina keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang sudah segar.


Ia menatap Grizelle sebentar. Anak itu masih tertidur pulas dengan posisi tidur yang menggemaskan sekali menurut Karina. Grizelle berbaring miring dan menangkup kedua tangannya di pipi.


-----


Bayangin Griz tidur kaya begitu gemezz bgt ya😭pen disimpen dlm kantong aja gt wkwk. Btw, selamat pagi guys. Selamat menjalani aktivitas dan tetap jaga kesehatan yaa. I luh yu💙

__ADS_1


__ADS_2