Nillaku

Nillaku
Nillaku 372 Mendapat undangan dari orang masa lalu


__ADS_3

Vanilla menghidu aroma manis yang menguar setelah Grizelle mandi. Anaknya cantik sekali, mengenakan stelan baju tidur berwarna biru laut.


"Pakai baju tidur?"


"Iya, Mumu yang pakaikan. Aku di rrlumah (rumah) jadi pakai ini tidak apa,"


Jhico terkekeh mendengarnya. Jhico izin diam di rumah bersama putrinya selagi Grizelle tidak sekolah. Tapi Ia punya kewajiban lain.


"Hati-hati di rumah ya. Bantu Pupu jaga Mumu. Okay, sayang?"


"Okay, Pu. Siap!"


Jhico mencium singjat puncak kepala putrinya yang harum shampo kemudian Ia juga mencium pipi Grizelle.


Jhico juga mengecup kening dan perut Vanilla terlebih dahulu sebelum pergi. Kemudian Ia bergegas mengendarai mobilnya.


"Ayo, kita masuk. Tidur lagi,"


"Tidurrl terrlus (tidur terus), Mu,"


"Ya habisnya mau apa lagi, Sayang?"


"Aku mau dibacakan cerrlita (cerita) saja,"


"Dibacakan Mumu?"


"Iya, tidak mungkin Pupu. Karrlena (karena) Pupu sudah perrlgi bekerrlja (pergi bekerja),"


Vanilla mengangguk. Ia mengambil salah satu buku cerita milik Grizelle. Anaknya itu bermain game di ponselnya.


"Jadi mau bermain game atau mau mendengar cerita Mumu?" tanya Vanilla padanya.


"Dua-duanya,"


Vanilla mengangguk, mengikuti saja apa yang diminta anaknya. Ia ingin bermain silahkan dan ingin sambil dibacakan cerita juga Ia tidak masalah.


"Mumu, ini ada yang telepon,"


Grizelle melaporkan pada Ibunya ketika ada nomor tanpa nama menghubungi ponsel Mumunya. Ia segera menyerahkan ponsel di tangannya pada sang Ibu.


"Siapa ya?"


Grizelle mengendikkan bahunya, menggeleng pelan. Vanilla saja tidak tahu. Bagaimana dengan dirinya?


"Oh sudah dimatikan, Griz. Biar saja lah,"


Vanilla menyerahkan kembali ponselnya pada malaikat kecilnya yang kini setengah berbaring di sampingnya.


Baru juga ponsel itu dipegang Grizelle, sudah ada yang menghubungi lagi.


"Nomorrlnya seperrltinya (nomornya sepertinya) sama," ucap anak itu pada Mumunya.


"Siapa sih,"


Vanilla akan menjawab, namun sudah terlanjur dimatikan sambungannya.


"Errgg ganggu saja orrlang (orang)," Grizelle menggerutu kesal. Ia kembali bermain game dan berharap tak ada lagi yang membuatnya harus menghentikan kegiatannya.


Drrt


Drrt


"Hah Mumu, ini ada yang kirrlim (kirim) pesan," sungutnya makin kesal. Ia segera memberikan ponsel kembali pada Mumunya.

__ADS_1


Vanilla segera membuka pesan yang dikirim untuknya. Keningnya mengerinyit saat membaca pesan.


-Vanilla, ini aku Renald. Datang ke acara pernikahanku dan Anneth ya. Aku menghubungimu tapi tidak dijawab. Aku ingin mengundang kamu-


Alis Vanilla bertaut. Ternyata Renald masih menyimpan nomor teleponnya berbeda dengan Ia yang sudah menghapus nomor telepon Renald.


"Bukannya dia sudah menikah? oh mungkin foto yang aku lihat itu baru tunangan," gumamnya pelan.


Grizelle penasaran, Ia menyerukan kepalanya untuk mencari tahu pesan apa yang dibaca Mumunya.


"Itu siapa, Mu?"


"Teman Mumu, Sayang,"


Grizelle mengangguk pelan. Ia membaca sampai akhir untuk menuntaskan rasa penasarannya.


Vanilla menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung. "Biasanya tidak penasaran dan mau tahu," ledeknya pada Grizelle.


"Aku mau lihat,"rengek anak itu. Vanilla segera memperlihatkan pesan Renald.


"Oh Mumu diundang ke pesta. Kalau Mumu ikut, aku ikut juga ya?"


"Tanya Pupu dulu nanti. Biar Pupu yang memastikan apakah kita akan hadir atau tidak,"


"Memang kenapa harrlus (harus) tanya pupu dulu? itu teman Mumu yang mengundang,"


Vanilla hanya tersenyum saja. Anaknya tidak tahu kalau Renald ini masa lalunya dan Jhico sedikit sensitif kalau sudah berhubungan dengan Renald. Vanilla ingat sekali dengan beberapa hari lalu dimana ketika mereka sedang mengingat momen-momen masa lalu. Jhico kelihatan kesal ketika mengingat Renald pernah menempati hati Vanilla di masa llalu. Cleaning service tampan itu membuat istrinya menghiraukan dirinya.


"Pupu pasti bolehkan. Karrlena (karena) itu teman Mumu yang mau menikah,"


******


"Tidak biasanya datang ke sini membawa makan siang,"


Karina melangkah ke sofa usai meletakkan makan siang yang ia bawa untuk suaminya. Stilleto terdengar menghentak ditiap saat Ia mengambil langkah.


Wanita itu duduk di sofa, mengeluarkan ponselnya. Hal itu membuat suaminya bingung. "Tidak pulang?"


"Tidak, memang kenapa? aku tidak boleh diam di ruangan suamiku sendiri?"


"Biasanya tidak nyaman lama-lama di sini. Bosan lah, sepi, sunyi lah. Banyak sekali alasanmu,"


Karina tertawa membenarkan. Biasnaya Ia begitu kalau sudah berada di dalam ruangan suaminya.


"Aku pulang dengan kamu nanti. Setelah itu kita langsung ke rumah Jhico ya?"


"Memang harus hari ini?"


"Kamu menyuruhku supaya secepatnya memberikan boneka itu pada Griz,"


"Ya semoga aku bisa selesai cepat hari ini,"


"Harus bisa! jangan sampai tengah malam. Jhico tidak akan menerima tamu tengah malam,"


"Ya kalau sudah tengah malam langsung pulang saja ke rumah. Untuk apa ke rumah Jhico lagi?"


"Jangan sampai tengah malam, aku ingin hari ini ke rumah Jhico, bertemu Cucuku yang cantik itu,"


******


-Jhico, sore nanti periksa kandungan ya. Kemarin belum jadi-


Vanilla diminta datang nanti sore oleh dokter kandungannya untuk periksa kandungan. Maka Ia memberi tahukan perihal itu pada suaminya.

__ADS_1


Vanila tak berharap mendapat balsan cepat karena Ia tahu suaminya mungkun tengah sibuk sekarang.


"Griz, istirahat,"


"Nanti, Mu,"


"Tadi disuruh makan tidak mau, sekarang disuruh istirahat juga tidak mau,"


Grizelle tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang kecil dan tertata rapi itu.


"Ke dokter gigi kalau sudah sembuh kakinya"


"Memang kenapa dengan gigiku?"


"Ya kan memang sudah jadwalnya periksa. Enam bulan sekali periksa,"


"Hmm okay, Mu,"


"Malah seharusnya lebih rajin lagi karena kamu sering makan-makan manis. Cokelat, ice cream, dan teman-temannya,"


"Tapi gigiku kelihatan sehat, Mu. Masih putih berrlsih (bersih), karrlena (karena) aku rrlajin (rajin) sikat gigi juga,"


"Kelihatan sehat bukan berarti sudah pasti sehat. Harus diperiska oleh dokter gigi secara langsung,"


Vanilla melihat ponselnya saat layar menyala dan terdengar getar.


-Iya, Nillaku. Nanti aku antar ya," balasan pesan dari Jhico rupanya.


Melihat Vanila yang tersenyum menatap ponsel, Grizelle bertanya penasaran.


"Kenapa Mumu senyum?"


"Memang tidak boleh Mumu senyum?"


"Bukan tidak boleh. Tapi aneh saja,"


"Aneh bagaimana?"


"Kalau senyum tanpa sebab namanya aneh, Mu,"


Vanilla merangkum dagu anaknya dengan gemas. Ia menggigit gemas ujung hidung Grizelle dan anaknya itu langsung merengek.


"Haaa Mumu jangan begitu. Nanti hidungku bisa berrlubah (berubah)," katanya seraya melepaskan tangan Ibunya yang mencengjram dagunya hingga mulutnya mengerucut.


"Mana bisa berubah? memang Mumu oprasi?"


"Tapi aku takut. Nanti hidungku berrlubah (berubah),"


Grizelle mencubit-cubit pelan hidungnya sendiri yang tadi gigit oleh Mumunya.


"Griz lucu kalau sepeti ini,"


Vanilla kembali menekan dagu Grizelle hingga pipinya terhimpit dan bibirnya mengerucut.


Vanilla terkekeh melihat anaknya yang memang kelihatan semakin menggemaskan.


"Mumu, jangan,"


Grizelle merengek lagi. Vanilla langsung melepasnya. Ia meminta maaf pada anaknya itu.


"Mumu gemas sekali dengan Kakak Icelle,"


"Kenapa sama? Pupu juga mau memanggil aku begitu katanya,"

__ADS_1


__ADS_2