Nillaku

Nillaku
Nillaku 408 Evelyn kembali bertemu Kakek Thanatan


__ADS_3

Jhico meminta istrinya agar segera memanggil Grizelle dan menyuruhnya untuk beristirahat. Tapi sudah lima belas menit Vanilla malah tidak kembali ke kamarnya.


Jhico memadamkan lampu utama kamar dan menghidupkan lampu tidur. Sudah selesai memeriksa berkas dari kliniknya, kini Jhico ingin beristirahat.


Jhico memejamkan matanya karena memang sudah sangat mengantuk maka memilih untuk tidak menghampiri Istrinya yang Ia yakini sedang berbincang dengan sepupunya.


*****


"Jane tidak menginap di sini, Ma? kapan dia datang dan kapan juga dia pulang?"


Raihan sudah sangat merindukan Jane juga. Tapi sayangnya begitu Ia tiba, istrinya mengatakan Jane tadi datang tapi kemudian pulang. Ia datang bersama Grizelle dan Vanilla.


"Sepulang Grizelle dari sekolah, mereka langsung ke sini. Sore mereka pulang,"


"Oh, cepat ya,"


"Apa yang dia bicarakan tentang permasalahannya bersama Richard?"


Rena menyuruh suaminya untuk segera duduk berhadapan dengan meja makan. Begitu keluar dari mobil, Ia langsung mengeluh lapar.


"Lagipula bukannya makan malam dulu sebelum pulang,"


"Aku ingin makan bersama kamu. Lagipula aku yakin kalau kamu menunggu aku untuk makan malam bersama. Ternyata benar kamu menungguku aku datang,"


Mereka kemudian makan malam bersama. Seperti biasa, hanya berdua. Makanya Raihan sebenarnya berharap Jane datang dan menginap di rumahnya untuk sementara waktu. Jadi seperti masa dimana anak-anaknya masih tinggal bersamanya. Ia rindu dengan momen itu.


"Nanti aku minta pada Jane agar dia mau menginap di sini. Masalahnya bukan hanya pada jae saja, Pa. Tapi Cucu kita Grizelle juga ingin Auntynya terus berada di rumahnya. Bahkan meminta Jane untuk tinggal di sana selamanya,"


Raihan terkekeh mendengar penuturan istrinya. Ternyata Grizelle sampai begitu setelah Jane datang ke sini.


Raihan meneguk minumnya saat Ia sedikit tersedak akibat tawanya sendiri.


"Kalau aku mengajak Jane ke sini pasti akan bertentangan dengan Grizelle. Tapi aku akan bicara pada Jane nanti. Kalau perlu Griz ikut menginap di sini," Rena berharapnya seperti itu. Tapi apakah cucunya mau berpisah sementara waktu dengan Mumu dan Pupunya yang setiap hari bersamanya.


*****


Vanilla dan Jane membasuh wajah mereka setelah sesi masker berjalan dengan lancar sampai akhir. Hasilnya memuaskan, bahkan mereka sampai menatap takjub pada diri mereka sendiri yang tergambar di cermin.


"Icelle, terimakasih ya,"


"Ya ampun, Aunty sudah berkali-kali mengucapkan kata itu,"


Jane terkekeh. Ia memeluk hangat anak itu. Bagaimana Ia tidak sanhat berterimakasih? berkat Grizelle ia tidak perlu menggunakan tangannya sendiri untuk memakai masker di wajahnya. Ia hanya tinggal membilasnya saja hingga bersih. Kemudian siap untuk istirahat.


"Mumu juga berterimakasih pada Kakak Icelle,"


"Okay Mumu,"


"Ayo,kita istirahat,"


"Aku keluarrl (keluar) dulu ya, Aunty. Selamat malam, mimpi yang indah. Makanya mimpikan aku saja biarll (biar) indah," katanya yang mengundamg tawa Vanilla dan Jane.


Grizelle memeluk Jane setelah Jane memintanya. Kemudian Ia keluar dari kamar Jane mengikuti Mumunya.


"Ayo kita tidur Kak,"

__ADS_1


"Mumu jangan panggil aku Kak. Aku bukan kakaknya Mumu,"


Grizelle yang sedang berjalan bersama Mumunya berdampingan dengan tangannya yang dalam genggaman Vanilla, memprotes panggilan Vanilla untuknya.


"Adikmu akan memanggilmu seperti itu, Sayang,"


"Hmm jangan, Mu. Panggil Icelle saja. Lebih bagus sepertltinya (sepertinya),"


"Okay, berarti ingin dipanggil Icelle saja?"


"Iya, aku berrli (beri) kemudahan untuk adikku yang mungkin akan sulit bila memanggilku dengan nama asli,"


Vanilla mengangkat ibu jarinya. Ia menjawil hidung anaknya singkat. Vanilla mengantar Grizelle ke kamarnya.


"Pupu sudah tidurrl (tidur) ya?"


"Mungkin, Mumu juga tidak tahu,"


"Aku mau melihat Pupu dulu,"


Alih-alih masuk ke kamarnya, Grizelle justru melangkah ke kamar orangtuanya untuk melihat ayahnya apakah sudah tidur atau belum.


"Oh Pupu sudah terdamparrl (terdampar)," gumamnya begitu melihat sang ayah yang shdah terlelap di antara temaram lampu.


Ia kembali menutup pintu dan ia tersentak saat ada Vanilla di belakangnya.


"Ya ampun, Mumu. Aku kaget, Mumu tidak bilang kalau mengikuti aku,"


Vanilla terkekeh dan Grizele meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. Mengisyaratkan vanilla agar tidak bersuara.


"Okay, Ayo Mumu temani Icele tidur,"


"Tidak usah, aku tidurrl sendirrli (tidur sendiri) saja,"


"Mumu temani sampai kamu tidur,"


"Tidak usah, Mumu,"


"Ya sudah, Mumu tidur ya?"


"Iya, selamat malam, Mumu,"


"Malam, Sayang,"


Vanilla mengusap rambut anaknya kemudian mencium keningnya sebelum berpisah.


Vanilla menahan pintu kamarnya dulu kemudian melambai pada Grizelle yang masih ada di depan pinty kamarnya.


"Icelle langsung istirahat ya,"


"Iya, Mu. Cepat Mumu masuk. Barrlulah (barulah) aku masuk,"


Vanilla akhirnya melakukan apa yang diminta anaknya. Ia diminta untuk masuk lebih dulu.


Setelah Mumunya masuk, Grizelle kemudian bergegas ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Waktunya tidurrll (tidur),"


Grizelle menghentak badannya ke ranjang Ia meringis saat kakinya sesikit nyeri.


"Huh! masih sakit saja kamu," Grizelle duduk dan menatap tajam lukanya. Padahal menurutnya sudah sembuh. Sebab ia sudah bisa berjalan normal tanpa dibantu lagi.


Grizelle berbaring kembali. Ia menatap langit-langit kamar seraya menunggu kantuknya datang.


Tiba-tiba Grizelle membayangkan liburannya bersama keluarga nanti setelah adiknya lahir.


Ia menggeleng berkali-kali. "Ah kenapa aku malah memikirrlkan (memikirkan) itu sekarrlang (sekarang) sih?!" gerutunya kesal.


Grizelle berbaring miring memeluk boneka singanya. Kemudian mencoba untuk memejamkan mata.


Bermenit-menit Ia lalui tapi belum bisa juga terlelap. Ia menghela napas pelan. Kemudian berganti posisi menjadi miring ke kanan.


"Ayo tidurrl (tidur), pasti bisa,"


Grizelle memilih untuk membuat dirinya mengantuk dengan cara bernyanyi pelan.


"Icelle, tidurrlah (tidurlah),"


"Tidurrlah (tidurlah),"


"Tidurrlah (tidurlah),"


"Ayo tidurrl (tidur),"


Suara Grizelle mengalun pelan sampai akhirnya mulai tak terdengar lagi sebab sudah mulai terlelap.


******


Evelyn kali ini ikut kakeknya lagi untuk melakukan pertemuan dengan Thanatan di sebuah restoran untuk membahas pekerjaan mereka.


"Kakek tidak mengajak Grizelle lagi? haaaa padahal aku sudah bilang waktu itu agar mengajak Grizelle kalau mau bertemu dengan aku,"


Thomas menegur cucunya yang merengek seperti itu pada Thanatan yang kini tersenyum padanya.


"Kakek tidak tahu kalau kamu akan datang,"


"Hmm baiklah. Lain kali aku bilang pada Kakek kalau aku mau bertemu Grizelle,"


"Ya, Evelyn dari sekolah langsung ke sini?"


"Iya, Kakek. Aku dijemput Opa di sekolah dan kami langsung ke sini,"


Thanatan mengangguk pelan. Pantas saja Ia menemukan Evelyn yang kini masih mengenakan seragam sekolahnya yang berwarna biru laut.


Makanan datang dan Evelyn langsung mempersilahkan Thanatan untuk menikmati hidangan layaknya menjadi seorang tuan rumah. Thanatan dan Thomas tertawa melihat anak itu.


"Padahal kalau ada Grizelle,aku bisa bermain dengannya di sini sementara Kakek dan Opa membicarakan pekerjaan. Aku bosan pasti,"


"Opa tidak memaksamu untuk ikut, Sayang,"


Evelyn tertawa memeluk kakeknya itu. Thomas memang tidak mengajaknya untuk ikut sebab Thomas tahu cucunya akan bosan tapi anak itu memaksa ingin ikut. Tidak mungkin Thomas melarangnya. Dan lagipula meskipun ikut bersamanya, Evelyn tidak pernah mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2