
"Aku hanya pergi ke kafe sebentar, Astaga. Ya sudah, maafkan kelalaian aku. Karena aku, hampir terjadi sesuatu pada Grizelle,"
"Itu yang ingin aku dengar, kamu meminta maaf. Bukannya malah bicara mengenai pekerjaan aku," gerutu Vanilla yang membuat suaminya geram.
Jhico duduk di tepi ranjang, menatap istrinya dari cermin, saat bibirnya terbuka ingin bicara lagi, pintu kamar mereka terbuka. Grizelle datang dengan piyama nya berwarna lilac. Kedua tangannya Ia masukkan ke dalam saku baju, lalu Ia memperhatikan kedua orangtuanya.
"Mu, temani aku tidul malam ini ya? aku masih telingat dengan kejadian yang tadi siang telus,"
"Iya, sayang."
Tanpa berpikir panjang, Vanilla bersedia untuk menemani anaknya tidur di kamarnya sendiri. Ia mempercepat kegiatannya lalu segera membawa Grizelle ke kamar.
Jhico menghela napas pelan. Malam ini Ia tidur sendiri. Tidak apa, yang terpenting anaknya bisa merasa aman dengan kehadiran Mumunya.
Jhico berbaring, menangkup kepalanya dengan kedua tangan yang menyatu. Pandangannya fokus pada langit-langit kamar. Ia belum bisa tidur, memikirkan maksud dari lelaki tadi mendekati putrinya. Sebelumnya Ia tidak pernah dibuat secemas ini. Ia melihat langsung bagaimana seseorang mencoba untuk mengganggu ketenangan Grizelle.
*******
"Okay, ganti set dulu,"
Vanilla mengangguk, Ia baru menyelesaikan pemotretan sepatu couple dengan seorang model laki-laki. Pemotretan kali ini merupakan pemotretan yang sempat tertunda.
Vanilla akan berganti pakaian dan juga mengganti tema make up nya. Saat Ia berjalan menuju wardrobe, Ia merasa perutnya tiba-tiba saja nyeri.
Ia cepat-cepat melangkah ke dalam ruangan lalu duduk di salah satu kursi. Di dalam ruangan tersebut, Joana tengah mengeluarkan kostum yang akan Vanilla kenakan. Dan Ia bingung melihat Vanilla yang tiba-tiba saja memasuki ruangan dengan langkah terburu-buru.
"Kenapa, Van?"
"Ah? tidak, perutku sedikit sakit saja,"
"Kamu habis makan apa tadi? pasti yang pedas-pedas ya?"
"Hmm iya, tadi aku makan spicy salmon mentai rice,"
"Astaga, lalu bagaimana? sebentar, aku carikan obat dulu,"
__ADS_1
Tangan Vanilla mengudara, menahan Joana. "Tidak usah, Jo. Aku baik-baik saja,"
"Kita masih ada pemotretan, Van. Kalau kamu sakit, bagaimana bisa selesai?"
"Okay, tolong carikan obat untukku, kalau begitu,"
Vanilla ingin setiap pekerjaan nya selesai dengan sempurna. Ia tidak mau membuat beauty shoes kecewa untuk yang kedua kalinya.
Joana memang selalu membawa obat-obatan di dalam satu boks kecil setiap Vanilla bekerja. Sebagai asisten pribadi sekaligus sahabat, Ia sudah tahu obat apa saja yang biasa dikonsumsi bila Vanilla mengalami sakit.
Ia memberikan satu butir obat penghilang nyeri perut dan air minum. Vanilla langsung menenggak nya. "Terimakasih, Joana."
"Iya, kamu tunggu dulu di sini. Akan aku panggilkan MUA nya. Kemana juga sih dia? bukannya langsung datang ke ruangan ini, mendandani kamu. Pasti sedang mengobrol atau mencari perhatian dengan laki-laki di sini,"
Vanilla terkekeh mendengar sahabatnya menggerutu sebelum akhirnya keluar dari ruangan, mencari make up artist yang seharusnya langsung merias Vanilla untuk tema pemotretan selanjutnya.
Make up artist yang menangani Vanilla memang suka tebar pesona untuk mencari perhatian dari laki-laki. Maklum saja, karena Ia belum memiliki kekasih.
*******
"Maaf ya, Van. Aku sedang cari peluang tadi,"
"Peluang apa?"
"Peluang untuk menjerat laki-laki, tentu saja,"
Vanilla dan Joana menggeleng pelan mendengar perempuan itu yang berucap tanpa sungkan.
"Sudah bosan menyendiri," ujarnya seraya menambahkan nada hingga terdengar seperti lagu.
Ia datang membawa satu botol yang Vanilla dan Joana ketahui isinya. "Mencari peluang untuk menjerat laki-laki dengan cara ngefly bersama?" tanya Vanilla dengan jahil.
"Baru sedikit aku minum. Kamu mau?"
"Tidak, terimakasih. Perutku sedang nyeri,"
__ADS_1
"Aduh, kenapa itu? hamil jangan-jangan,"
"Ah kamu jangan bicara sembarangan,"
"Santai saja wajahmu, Van."
Vanilla mendengus saat wajahnya ditunjuk-tunjuk oleh perempuan itu sembari tertawa.
"Kenapa tegang? biarpun hamil, kamu punya suami jadi tidak perlu memikirkan biaya hidup anakmu. Suamimu juga mapan. Kamu saja yang bodoh, mau-mau nya bekerja,"
Vanilla mulai dirias. Sembari tangannya bekerja, perempuan itu terus bicara hingga tanpa sadar rasa nyeri di perut Vanilla perlahan berkurang.
*******
Vanilla kira darah yang keluar dari bagian bawah tubuhnya karena memang sudah waktunya Ia datang bulan. Tapi Ia merasa nyeri yang begitu hebat bahkan ketika kakinya berpijak di rumah nya.
Ia yang merasa bingung dengan kondisi tubuhnya sendiri, akhirnya memutuskan untuk langsung meminta bantuan pada Mr Joe agar mengantarnya ke rumah sakit.
Ternyata yang Ia alami bukan sekedar nyeri biasa, melainkan nyeri karena mengalami pendarahan. Ia yang tengah hamil sangat muda terpaksa kehilangan calon janin nya itu karena pendarahan yang Ia alami.
Vanilla berat sekali ingin memberikan kabar itu pada suami, orangtua, dan juga mertuanya. Tapi Ia harus memberi tahu mereka.
Orang pertama yang Ia beri tahu tentu saja adalah Jhico. Lelaki yang sedang menangani pasien di kliniknya itu, langsung melimpahkan pekerjaan nya pada Kenzo, yang bahkan baru saja tiba di klinik. Ia tidak bisa berlama-lama lagi membiarkan istrinya hanya ditemani oleh Bibi dan Mr Joe.
Hanya Nada yang berada di rumah karena Ia harus menemani Grizelle yang saat Vanilla pergi ke rumah sakit belum pulang dari sekolah nya.
Vanilla masih sangat lemah. Ia hanya bisa tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Mereka baru saja kehilangan. Oleh sebab itu, tak bisa mengeluarkan satu katapun dari mulut. Semua terjadi begitu tiba-tiba. Mereka belum tahu kehadiran adik dari Grizelle, tapi sayang, Tuhan sudah berkehendak lain.
"Jangan pikirkan apapun. Aku ada di sini untukmu, Nilla."
"Kata Dokter, Aku harus bed rest, Jhi. Aku terlalu kelelahan,"
Jhico memeluk kepala Istrinya yang kini nampak sangat terpukul. Vanilla terlalu kelelahan dan kondisi kandungannya juga lemah oleh sebab itu Vanilla dan Jhico harus kehilangan anak mereka yang bahkan belum diketahui wujudnya.
-------
__ADS_1
Firasat Grandma Rena bener :( Van hamil tp gk ada tanda² getoohh.