Nillaku

Nillaku
Nillaku 68


__ADS_3

"Itu dia yang aku maksud,"


"Hmm?"


Jhico terperangah saat lengannya ditarik oleh Vanilla saat melewati cleaning service yang sempat mengibarkan bendera perang pada Vanilla.


Anneth tengah membersihkan kursi-kursi di depan kelas, Vanilla dan Jhico berjalan melewatinya ingin pergi ke kantin kampus.


Anneth menyadari ada Vanilla dan Ia melirik dengan raut datar saja sementara Vanilla tak menoleh sama sekali ke arah gadis itu.


Begitu sampai di tempat banyaknya makanan yang dijual khusus untuk penghuni kampus, Vanilla segera duduk dengan tenang, Jhico mengambil posisi di depannya.


Tiba-tiba saja Jhico terkekeh, membuat sang istri bingung. "Tujuanmu memeluk lenganku tadi apa?"


"Entah, aku hanya ingin melakukannya,"


"Takut aku berpaling?"


"Aduh, jangan terlalu percaya diri. Aku tidak setakut itu kehilangan kamu,"


"Lalu kenapa?" tantang Jhico yang tak puas dengan jawaban istrinya. "Aku refleks saja,"


"Vanilla dengan segala gengsinya," kalimat singkat namun berhasil membuat Vanilla sangat tersindir. Memang dia gengsi? sepertinya tidak.


*******


"Kamu belum hamil juga?"


Itulah sapaan pertama yang diterima Vanilla ketika Ia dan Jhico menginjakkan kaki di kediaman keluarga Jhico.


Jhico sengaja datang ke rumah orangtuanya untuk mengantarkan buah tangan yang sempat mereka beli saat berlibur kemarin sekaligus mengusir kesedihan Hawra yang berlibur tanpa Jhico.


"Sambut dulu, Ibu rasa kalimat itu tidak pantas diucapkan oleh Tuan rumah saat tamu baru datang,"


Thanatan mendengkus dan langsung masuk ke dalam. Sementara genggaman tangan Vanilla pada Jhico mengerat. Batinnya terguncang. Ia jadi memikirkan hal yang sama sekarang padahal sebelumnya tak pernah terlintas dalam benaknya masalah anak.


Vanilla pikir mereka baru melakukannya beberapa kali. Bukankah semua butuh proses? tetapi kalau semakin banyak orang bertanya mengenai hal itu, Ia jadi pesimis dan merasa takut.


"Kita sudah sepakat untuk tetap baik-baik saja selama di sini. Jangan buat aku khawatir,"

__ADS_1


Vanilla mengangguk berat. Jhico sudah mewanti-wanti sejak awal. Ia baru saja melakukan kesalahan yaitu memilih berlibur bersama keluarga Vanilla daripada keluarganya sendiri, pastilah menimbulkan rasa geram dalam diri Thanatan.


Rupanya Arlan juga ada di sini. Lengkap sudah penyerang Jhico. Kakek nya bahkan bisa lebih parah dari Papanya, Thanatan.


"Bagaimana liburan kalian? Hebat, Vanilla. Kamu bisa membuat suamimu semakin lupa dengan keluarganya sendiri,"


Vanilla langsung merasa sesak mendengar kalimat kakek dari suaminya. "Ada ya orang sekejam dia?" Vanilla tak habis pikir. Padahal Ia tak melakukan apapun agar Jhico lupa dengan keluarganya. Ia tidak menyangka kalau liburan kemarin akan membuat mereka semua kepanasan. Vanilla juga tidak tahu kalau liburan keluarganya dan keluarga Jhico hampir berlangsung secara bersamaan, kalau tahu begitu, mungkin mereka bisa ikut kedua-duanya walaupun Ia tak yakin Jhico akan mau. Mengingat suaminya itu selalu membatasi diri dengan keluarga yang sering menyakitinya itu.


Jhico sudah mengatakan, "Kita sedang dalam masalah karena berlibur dengan keluargamu. Papa akan semakin sinis padaku nanti. Tapi kamu jangan terlalu memikirkan hal itu," Jhico tahu istrinya juga akan menjadi korban, jadi Ia sudah memperingati Vanilla agar tak ambil pusing dengan cercaan mereka.


"Vanilla tidak membuat aku lupa dengan keluarga. Kami datang ke sini atas kemauan dia. Sebenarnya aku malas, tapi karena permintaan istriku, maka aku turuti," jawab Jhico sesuai kenyataan. Niat mereka baik untuk berkunjung, tapi selalu saja diperlakukan seolah mereka adalah terdakwa.


Hawra dan Karina mempersilahkan Vanilla dan Jhico untuk ke ruang makan. Mereka akan makan siang tadi, tapi karena Jhico datang jadi tertunda.


"Klinik-mu bisa menjamin hidup kalian berdua? Setahu Kakek, Vanilla adalah anak yang sangat dimanja dalam keluarganya. Apa dia mau menerima pekerjaan baru suaminya? Kakek rasa pendapatan klinik-mu tidak sebesar perusahaan yang Kakek miliki. Mengingat klinik itu baru saja beroperasi,"


"Astaga, aku yang bukan cucunya saja muak melihat kakek tua ini. Apa lagi menjadi Jhico ya," Vanilla menggigit bibirnya untuk menghilangkan geramnya sendiri. Benar-benar uji kesabaran datang ke rumah besar itu. Pantas saja suaminya tidak pernah mau bila Ia mengajak ke sana, kecuali kalau Ia sudah memaksa.


Denting sendok mulai terdengar ketika mereka baru saja memulai makan siang. Sebenarnya Jhico dan Vanilla sudah makan di apartemen tadi, tetapi akan semakin panjang urusannya kalau mereka menolak untuk makan bersama. Akan timbul lagi dugaan yang membuat Jhico semakin tersudutkan.


"Aku akan berusaha mencukupi semuanya. Vanilla memang terbiasa dimanja dengan limpahan harta, tapi dia tahu caranya menghargai suami. Kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan uang. Kehangatan yang terjadi diantara kami saja sudah cukup membuat dia bahagia," ujar Jhico seraya menoleh pada Vanilla yang sejak tadi memasang wajah kaku, semakin kaku ketika Jhico menjawab seperti itu.


Arlan mengangguk pelan seraya mengunyah makanan-nya. Mendengar cerita dari Jhico, terlihat sekali cucunya itu begitu bahagia bersama Vanilla. Ia selalu membela Vanilla.


"Kakek sering datang ke sini? untuk apa, Kek? semakin memaksa Papa untuk mengendalikan aku ya?" ujarnya yang membuat Arlan mengerinyit marah. "Apa yang salah kalau Kakek sering datang ke sini?"


"Salah, Kakek bukan lagi suami Nenek, tapi yang aku perhatikan Kakek masih saja menekan Nenek agar bisa menjadikan aku seperti apa yang kalian inginkan. Sepertinya tidak hanya Nenek, Papa dan Mama juga diperlakukan seperti itu oleh Kakek,"


Vanilla menegur suaminya dengan cara mengeratkan genggaman tangan mereka di bawah meja. Satu tangan mereka memang saling bertautan sejak tadi. Seolah saling menguatkan.


Sering sekali ketika Ia menelpon Hawra, Arlan kebetulan sedang datang. Sehingga Hawra tak bisa ketahuan menelpon Jhico, kalau tidak, Arlan akan menggantikan dirinya bicara dengan Jhico. Hawra tidak ingin cucunya mendengar kalimat-kalimat menyakitkan dari Arlan sekalipun dalam telepon. Cukup bila mereka bertemu saja.


*********


"Terima kasih sudah datang, sering-seringlah datang ke sini," ujar Karina seraya memeluk Vanilla. Saat mereka sedang berpamitan, datang seorang perempuan yang langsung membuat Jhico senang. Senyumnya terbit, Ia menyambut perempuan itu dengan pelukan.


"Astaga, Fionna sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu,"


"Makanya aku datang. Aku merindukan kamu sahabat kecilku,"

__ADS_1


Hawra tersenyum hangat memperhatikan mereka berdua. Ia mendapat pelukan dari Fionna.


Ia yang tahu betul siapa gadis itu. Namanya Fionna, gadis kecil yang selalu menjadi teman Jhico karena kebetulan rumah mereka bersebelahan. Hampir setiap hari mereka bermain. Jhico, Fionna dan satu lagi sahabat kecilnya yang laki-laki bernama Dion. Mereka selalu menjadi teman Jhico karena tahu Jhico adalah anak yang begitu kesepian di rumahnya yang bak istana itu dan sekarang bagaikan neraka untuknya. Fionna dan Dion pindah kota untuk melanjutkan pendidikan mereka. Jhico mengundang keduanya untuk datang ke acara pernikahannya. Tetapi mereka tidak bisa datang.


"Maaf baru bisa datang sekarang. Kamu mengatakan sudah pindah ke aprtemen. Sekarang kembali lagi tinggal di sini atau bagaimana?"


"Tidak, kebetulan aku dan istriku sedang berkunjung ke sini,"


Arlan, Thanatan, Karina, dan Vanilla hanya bisa menyaksikan keakraban mereka. Terlihat sekali mereka saling merindukan. Vanilla tersenyum hangat menyapa Fionna yang menatapnya.


"Ini istriku, Vanilla. Nillaku, ini Fionna sahabat sewaktu aku kecil,"


"Oh sekarang bukan sahabat lagi?"


"Tentu saja masih," sahut Jhico dengan tawa ringannya. Sampai kapanpun Ia tidak akan lupa dengan orang-orang yang pernah menemaninya dulu.


"Kau sudah bertemu dengan Dion kah?"


"Tidak, aku kehilangan kontak anak itu,"


"Kita bertiga wajib bertemu dan melepas rindu,"


"Ya, itu harus. Kita akan mengenang masa kecil yang menyenangkan,"


"Sekarang kalian mau pulang?"


"Iya, kami harus segera pulang,"


"Dia tidak nyaman berada di rumah orangtuanya sendiri, Fionna." ujar Arlan menyindir Jhico yang tak peduli lagi dengan ucapan kakeknya. Hanya buang-buang energi saja meladeni Arlan.


"Iya, Jhico lupa dimana dia dibesarkan dulu,"


Fionna melirik Jhico yang diam dengan wajah datarnya. Tidak seharusnya Arlan dan Thanatan berkata seperti itu di depan orang luar sepertinya. Ia bukan bagian dari keluarga, tetapi kenapa mereka sangat mudah sekali menyebarkan keburukan tentang Jhico? Fionna tahu betul bagaimana kehidupan Jhico dulu. Rasanya wajar kalau Jhico kurang nyaman, karena sejak dulu Ia seperti anak yang tidak dianggap. Hanya Hawra yang selalu berada disampingnya sementara kedua orangtua Jhico sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Aku pulang dulu, Fionna. Kamu akan lama berada di sini? sebaiknya jangan, orang dalam saja diperlakukan seperti ini,"


--------


HELLAWW PLIEZZ LIKE, VOTE DAN KOMEN YAK. TERIMA KASIH BUAT KAMU YANG BAIK HATI DAN PENGERTIAN 😊

__ADS_1


__ADS_2