Nillaku

Nillaku
Nillaku 387 Undangan yang datangnya terlambat


__ADS_3

Raihan lupa mengatakan pada putrinya bahwa Ia menginginkan Grizelle datang ke acara pembukaan playground milik Auristella.


Saat playground milik Grizelle resmi dibuka, Auristella dan kedua kakaknya tak bisa hadir sebab mereka belum kembali dari perjalanan bisnis ayah mereka.


"Pagi ini ya, Pa?"


"Iya, Sayang. Sudah mau mulai,"


"Hah? ya ampun, Pa, Icelle dan Jhico sedang jalan-jalan keluar. Kalau aku di rumah. Aku saja yang datang bagaimana? karena aku tidak tahu Icelle an Jhico kapan sampai di rumah,"


"Tapi kamu akan tergesa-gesa nanti. Papa khawatir kalau kamu seperti itu. Ya sudah, tidak usah, Sayang,"


"Serius, Pa?"


"Aku bisa ke sana sekarang walaupun nanti sedikit terlambat,"


"Ya sudah, tapi jangan tergesa-gesa ya. Terlambat juga tidak apa,"


"Iya, Pa. aku ke sana sekarang. Masalahnya Jhico tidak bawa ponsel. Kalau dia bawa, aku bisa hubungi sekarang supaya segera membawa Icelle pulang"


"Tidak apa, Sayang. Biarkan Griz dengan ayahnya menikmati waktu berdua. Kamu saja yang datang tidak masalah,"


"Iya, Pa. Aku ke sana sejarang,"


Vanilla segera mempersiapkan dirinya sebelum berangkat ke playground Auristella.


Raihan tak mempermasalahkan kalau Vanilla datang terlambat. Sebab Raihan tahu bahwa Ia yang salah, terlambat memberi tahu Vanilla. Seharusnya memang semalam Ia beri tahu, tapi Ia benar-benar lupa, Istrinya pun demikian. Baru Ia beri tahu begitu tiba di playground dan acara segera dimulai. Raihan khawatir bila anaknya datang tergesa-gesa, maka tadinya Ia melarang Vanilla untuk datang. Tapi sepertinya Vanilla ingin datang mewakili anaknya yang diundang, jadi Ia tak melarangnya lagi.


******


"Pupu, kita ke rrlumah Trliple A pakai ini bisa tidak?"


"Bisa saja, tapi memangnya kakak Icelle mau? bukankah lebih nyaman naik mobil biasa daripada golf cart ini"


"Hmm...sebenarrlnya (sebenarnya) nyaman juga. Tapi, tidak jadi lah,"


"Kenapa?"


"Tidak jadi, nanti saja lain kali. Atau nanti siang kita ke rrlumah (rumah) merrleka (mereka) ya, Pu. Naik mobil biasa kata Pupu,"


"Oh iya,"


"Tapi aku banyak tugas untuk besok. Tidak jadi, Pu,"


Jhico terkekeh karena sudah dua kali anaknya berubah pikiran dan masih dengan hal yang sama yaitu ke rumah triple A, sepupunya.


"Kita ke taman dulu?"


"Iya, boleh"


Grizelle tertarik juga untuk singgah di taman padahal sebelumnya Ia mengatakan tidak ingin kemanapun hanya jalan-jalan saja.


Jhico membantu anaknya turun. Saat Ia akan menggendong, Grizelle menolak tegas.


"Aku bisa jalan sendirrli (sendiri) nanti Pupu keberralatan (keberatan)lagi kalau gendong aku"


"Tidak apa. Sampai kapanpun kalau kamu meminta Pupu untuk menggendong kamu, pupu akan siap,"

__ADS_1


"Sekalipun aku sudah besarrl (besar)?"


Jhico mengangguk yakin. Masih jecil maupun nanti sudah besar, perilakunya terhadap Grizele tidak akan berubah. Sampai besar nanti bila Grizelle seandainya minta digendong, ia tak masalah. Asalkan Ia masih bisa, akan Ia lakukan dengan senang hati. Tapi masalahnya entah sampai kapan Ia kuat menggendong Grizelle.


"Tapi kalau nanti Pupu sudah jadi kakek bagaimana? memang masih bisa gendong aku, Pu?"


Jhico terkekeh bingung juga menjawab apa. Ia sendiri tak bisa memastikan apa Ia masih bisa menggendong anaknya atau tidak.


Jhico membantu Grizelle untuk duduk di kursi taman. "Aku ke taman lagi. Tadi taman di rrlumah (rumah) sekarrlang (sekarang) di sini,"


"Lebih luas taman ini tapi ya?"


"Iya, taman kita kecil, Pu. Coba dibuat besarrl (besar),"


"Ah tidak ada yang suka taman, Sayang. Mumu sukanya dapur,"


Grizelle terkekeh lebar. Vanilla sukanya dapur karena memang setiap hari ke sana.


"Nanti kalau aku dan adik sudah besarrl (besar) taman itu akan kami rrlawat (rawat),"


"Woah terimakasih,"


Jhico yang gemas tiba-tiba saja merangkum wajah anaknya dengan gigi beradu. Ia benar-benar gemas dengan anak ini. Ingin rasnaya menggigit.


"Pupu mau gigit Kak Icelle,"


"Tidak boleh! aku 'kan bukan makanan,"


"Boleh, Pupu kan yang punya anak,"


Grizelle merengut, karena status itu Pupunya jadi mau menggigit. "Gigit saja," Ia justru menantang.


"HAAAA PUPU JAHAT! KENAPA DIGIGIT?!"


"Tadi kamu yang minta,"


"Tapi 'kan itu tidak serrlius (serius),"


"Oh, begiu. Kirain benar-benar boleh Pupu gigit,"


"Lagipula Pupu kenapa menggigit sih? sudah seperrlti (seperti) buaya di rrlumah (rumah) Grrlandpa saja,"


"Kamu pernah melihatnya menggigit?"


"Iya, dia kalau menggigit kelihatan sekali galaknya,"


"Apa yang digigit? pipi Icelle?"


"Haaa bukan, Pupu," Grizelle merengek kesal. Membayangkan pipinya digigit buaya, itu adalah mimpi buruk untuk Grizelle.


Jhico terkekeh puas. Tahu kalau anaknya pasti langsung membayangkan makanya Ia merengek.


"Lalu apa?"


"Makanannya yang digigit. Dan makanan dia bukan pipi aku!"


"Oh ya? Pupu kira begitu,"

__ADS_1


Grizelle membuang wajahnya seraya bersedekap dada. Jhico menggeleng pelan. Semakin bertambah saja gaya anaknya ini kalau sudah merajuk. Bagainana Ia tidak tambah gemas dan ingin menggigit kalau sudah melihat Grizelle seperti ini.


"Griz mau makan apa dulu sebelum pulang? kita cari makanan mau tidak?"


"Makanan apa?"


"Huh cepat menoleh saat Pupu bilang makanan," Jhico medelek anaknya hingga kembali kesal. Grizelle menatap ayahnya tidak suka. Dan bibirnya merengut.


"Ya sudah, aku tidak mau,"


"Benar tidak mau? kita cari makanan dulu sebelum pulang ke rumah. Tapi makanan apa ya, Pupu bingung,"


"Tadi 'kan sudah makan,"


"Iya, tapi pupu masih mau makan sesuatu. Tapi tidak tahu apa,"


"Aku mau donut," cetus Grizelle.


"Oh sudah mau? tadi katanya tidak mau,"


Jhico belum puas membuat anaknya itu jengkel. Buktinya Ia mengingatkan Grizelle akan ucapannya sendiri tadi.


"Mau donut!"


"Iya, Pupu bercanda. Ayo, kita cari,"


"Sekalian sama minuman hangatnya,"


"Mau apa?"


"Apa saja yang penting hangat,"


"Okay, ayo kita cari,"


"Ada di dekat sini,"


"Iya, kita ke sana,"


Jhico meraih anaknya dalam gendongan. Benar-benar tidak mau anaknya banyak berjalan sebab Ia masih khawatir terhadap luka yang dialami Grizelle.


"Aku 'kan sudah sembuh, Pupu"


"Tetap saja Pupu khawatir,"


"Pupu ini susah kalau diberrli (diberi) tahu," celotehnya yang mengundang decakan Jhico.


"Kamu yang susah diberi tahu, bukan Pupu,"


"Sudah aku bilang jangan menggendong aku nanti Pupu keberalatan (keberatan) aku 'kan sudah tambah berralt (berat),"


"Ya biar saja. Masih berat kasih sayang dan cintanya Pupu untuk Icelle,"


"Aduh,"


Grizelle terkekeh menanggapi ucapan Pupunya itu. Ia senang sekali saat ayahnya terang-terangan mengatakan tentang sebanyak apa rasa kasih sayang dan cinta yang dimiliki untuk dirinya. Ia pun sama, begitu menyayangi dan mencintai kedua orangtuanya.


"Kenapa aduh?"

__ADS_1


"Aku senang, Pu,"


Jhico tersenyum melihat reaksi anaknya yang kini tersenyum lebar menatapnya hingga matanya sedikit meredup.


__ADS_2