
Setelah tidak kuliah hampir dua minggu, hari ini Vanilla datang ke kampusnya dengan suasana hati yang berbeda dari beberapa bulan yang lalu.
Semua mata memandang ke arahnya. Vanilla sudah bisa melihat kembali sehingga tidak butuh tongkat sebagai alat yang membantunya berjalan.
Joana menyambut kesembuhan Vanilla dengan pekikan bahagia, tidak peduli reaksi orang disekitarnya yang menganggap Ia berlebihan.
"Ya Tuhan, ini seperti mimpi. Aku senang melihatmu sembuh, Vanilla."
"Terima kasih atas kebaikanmu selama ini,"
Hari ini kampus Vanilla memperingati ulang tahunnya. Semua orang yang berjasa dalam pengembangan kampus turut hadir termasuk Raihan.
Vanilla melihat Renald yang baru saja turun dari stage usai mengatur posisi segala properti yang dibutuhkan selama acara berlangsung.
Ia ingin menghampiri namun langsung menghentikan langkah saat melihat Raihan lebih dulu mengajak Renald berbincang tepat di bawah panggung.
"Van, bagaimana kalau kita duduk?"
Vanilla tersentak saat bahunya di sentuh oleh Joana. Ia menatap ke arah Renald. Ia masih terlibat pembicaraan dengan papanya, akhirnya Vanilla mengikuti Joana untuk duduk .
Jane menjadi salah satu pengurus acara. Ketika melihat sepupunya hanya diam memandang Renald dari kejauhan ditemani Joana di sampingnya, Jane memutuskan untuk mendekati.
"Kamu dan Renald baik-baik saja? apakah ada perkembangan dalam hubungan kalian?"
"Joana, aku akan cerita kalau memang ada sesuatu,"
"Hey! kamu tidak mencariku?"
Jane mengejutkan Vanilla. Ia masih saja belum bisa menghilangkan rasa bahagia ketika Vanilla bisa melihat lagi. Jane menekan kedua pipi Vanilla dengan gemas.
"Setiap aku datang ke mansion, kamu selalu tidak ada,"
"Jane sibuk berkencan, Vanilla. Pernah bertemu dengan aku,"
"Oh ya? dimana? hotel?"
Mendengar cerita temannya mengenai Jane, Vanilla bertanya penasaran. Kepalanya didorong dengan telunjuk oleh Jane.
"Sembarangan! Richard laki-laki baik,"
"Ya, aku tahu. Lebih baik dari kamu,"
Vanilla terkekeh menggoda sepupunya yang langsung mencibir ketika dikatakan tidak lebih baik dari kekasihnya, Richard.
Renald sedang menyempurnakan dekorasi tanaman-tanaman hijau di bawah stage dan Raihan berada di dekatnya memperhatikan.
"Tidak heran kamu diangkat menjadi kepalanya. Kerjamu sangat bagus," pujian itu membuat Renald terkekeh. Setelah sekian lama tidak bertemu, Raihan tetap sama seperti yang dikenalnya selama ini.
"Masih berteman dengan Vanilla bukan?"
"Masih, Tuan. Hanya saja sekarang kita jarang berkomunikasi. Karena aku perhatikan akhir-akhir ini Vanilla hanya sesekali datang ke kampus dan aku pun sibuk mengurus beberapa acara yang berlangsung selama satu bulan ini,"
"Ya, Vanilla memang sibuk dengan kehidupan barunya,"
Renald menoleh sebentar lalu mengerinyit tidak mengerti. "Kehidupan baru?"
"Ya, Vanilla tidak kuliah karena beberapa alasan. Selain karena kondisi kesehatannya, Ia juga harus mengurus--"
"Pa, kalian bicara apa? sedari tadi aku menunggu Papa di sana,"
Vanilla menunjuk barisan kursi yang sudah tertata begitu bagus. Sebenarnya itu tempat untuk para mahasiswa. Dan untuk petinggi, sudah disediakan tempat khusus. Tapi saat ini Vanilla tengah mengeluarkan alasannya agar bisa dekat dengan Renald untuk beberapa saat.
"Papa akan pulang setelah memberi sambutan nanti,"
Vanilla bersorak dalam hati. Ia yakin Raihan memiliki jadwal di awal untuk memberikan kata sambutan dalam acara yang sedang berlangsung ini. Artinya Ia akan sedikit bebas. Kenapa hanya sedikit? karena masih ada Jane di sekitar Vanilla. Gadis itu tidak akan membiarkan Vanilla menghabiskan waktu lebih lama bersama Renald.
__ADS_1
******
"Sudah lama kita tidak berbicara berdua seperti ini,"
Renald duduk di kursi yang ditempati Joana, tepat di samping Vanilla. Gadis itu sedang sibuk bersama teman-temannya yang lain sama seperti Jane.
"Aku senang melihatmu sembuh,"
"Ya, ini alasanku menghilang beberapa hari terakhir,"
"Beruntung aku tidak mengganggu,"
Vanilla tersenyum tipis. Padahal Ia berharap Renald menghubunginya paling tidak lima menit saja. Sayangnya Renald memilih untuk menjauh. Mungkin tanpa disadari sudah terbangun pembatas yang kokoh diantara mereka berdua.
"Vanilla, Papa kira kamu sudah pulang,"
Raihan bergabung dengan santai pura-pura tidak melihat reaksi anaknya yang terkejut ketika mendapatinya masih ada di sini.
"Bukankah Papa sudah pulang?"
Raihan menggeleng lalu menjawab dengan jujur, "Tidak, Papa mengawasimu."
Raihan masih menahan dirinya untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Renald. Raihan yakin sampai saat ini Renald tidak tahu kalau Vanilla sudah menikah. Raihan ingin Vanilla yang mengatakan hal itu sendiri. Raihan menahan geramnya pada sang anak.
"Sepertinya kamu sudah bisa pulang. Kamu tidak ada tugas apapun di acara ini bukan?"
"Ya-ya, tapi aku akan pulang nanti,"
"Pandai-pandailah mengingat status, Sayang."
Kalimat terakhir yang diucapkan Raihan sebelum Ia meninggalkan Vanilla yang terdiam membeku serta Renald yang kebingungan.
Raihan segera menghubungi Jhico untuk cepat membawa Vanilla pulang tanpa mengatakan alasan apapun. Raihan merasa khawatir akan kelangsungan rumah tangga anaknya. Tapi Raihan tidak bisa terlalu ikut campur. Ia tidak mengatakan apapun pada Jhico dan juga Renald. Biarkan Vanilla yang mengambil keputusan sebelum semuanya hancur.
Tanya supir pribadi Raihan untuk memastikan. Raihan mengangguk sebagai jawaban. Sebelumnya Raihan juga menyuruhnya untuk mengemudikan mobil menuju mansion, tapi kenyataannya malah berbalik arah lagi. Ia ingin kembali ke tempat acara hanya untuk mengawasi Vanilla secara langsung.
******
"Jhico, berhubung kemarin-kemarin aku meninggalkan banyak sekali kuis dan tes, rencananya esok dan beberapa hari ke depan adalah jadwalku melakukan semua itu untuk menyusul ketertinggalan,"
Vanilla tengah berkutat dengan buku catatan dan laptopnya di depan televisi yang menjadi hiburan Jhico malam ini.
Ia berada di lantai, sementara suaminya berbaring di atas ranjang dengan raut wajah lain dari biasanya.
"Jhico, kamu dengar aku?" tanya Vanilla karena Ia tidak mendapat jawaban apapun dari Jhico.
"Jhico..."
"Apa?"
"Bantu aku,"
"Kenapa harus aku? minta bantuan dengan laki-laki yang tadi saja. Dia pasti bisa,"
Vanilla berdecak seraya memutar matanya. Sikapnya yang menyebalkan kembali lagi. Entah apa maksud Jhico mengatakan itu. Tidak mungkin Ia cemburu dengan teman sekelas Vanilla yang tadi ditemuinya sedang bersenda gurau dengan Vanilla, bukan?
Beruntung bukan Renald yang dilihatnya. Kalau Renald, mungkin Vanilla akan lebih disindir lagi. Mengingat sudah dua kali Jhico melihat Renald bersama Vanilla.
"Aku sudah menghafal materi. Kamu koreksi kalau aku mengulang hafalan nanti, ada yang salah."
"Tidak sekalian diajari?"
"Aku sudah mengerti. Kamu tidak perlu bersikap seolah paling pintar, menyebalkan kedengarannya,"
"Kenapa setiap dengan aku, kamu selalu seperti ini? sementara dengan orang lain, kamu begitu hangat?"
__ADS_1
"Jhico, jangan membahas sesuatu yang tidak penting. Aku tidak ada waktu. Aku membutuhkan bantuanmu bukan kalimatmu yang tidak sesuai dengan topik pembicaraan,"
Dengan bersungut Jhico mulai membuka satu persatu binder yang ada di tangan istrinya. Kemudian memeriksa laptop Vanilla juga.
"Catatanmu hanya sedikit?"
"Ini termasuk banyak. Dulu, tidak pernah aku mencatat materi. Diterangkan, lalu setelahnya lupakan,"
"Astaga, Vanilla... Vanilla... Lalu bagaimana bisa berubah jadi sedikit rajin seperti ini?" Jhico menekan kata 'sedikit 'sehingga mengundang tangan Vanilla untuk memukul lengannya.
"Setelah buta aku sadar akan banyak hal,"
Jhico mengangguk paham. Lalu memposisikan dirinya dengan tepat di hadapan Vanilla. Kemudian Ia menyuruh Istrinya itu untuk mengulang hafalannya.
"Lain kali aku harus mencari tahu semua tentang kamu lebih banyak lagi,"
"Hmm... silahkan, kalau bisa."
Jhico menjawil hidung istrinya dengan senyum miring, "Kamu menantangku, Nilla? hati-hati, lelaki simpananmu bisa aku ketahui secara diam-diam."
"Itu lagi yang dibahas. Kamu menuduhku?!"
"Astaga, hey! bicara yang baik pada suamimu,"
Jhico mengelus dada saat Vanilla berseru marah, bahkan sampai mendekatkan wajah padanya seraya melotot tajam.
"Setelah sembuh kamu semakin kurang ajar,"
"Tentu saja, karena bukan kamu yang menyembuhkanku, kamu tidak bisa menepati janjimu sebelum menikah, jadi tidak masalah kalau aku bersikap seperti ini. Kamu mengira aku berselingkuh terus. Mau melihatku seperti itu? iya? baik, besok aku bawa laki-laki idaman yang sudah menjalin hubungan denganku,"
"Jadi benar kamu selingkuh?"
Vanilla membanting bindernya dengan kasar. Kapan Ia belajar kalau seperti ini terus yang terjadi? sementara esok Ia harus menghadapi beberapa tes untuk menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu melakukan itu.
"Sudahlah, lebih baik kamu tidur. Aku ingin belajar sendiri,"
"Tidak, aku bantu!"
"Kamu---" Vanilla mengeraskan kedua tangan dan rahangnya. Ia menggeram tertahan. Jhico seperti perempuan yang sedang kedatangan tamu bulanan. Tidak jelas sikapnya. Tadi marah-marah, setelah disuruh tidur malah bersikeras ingin membantu Vanilla.
"Ya sudah, cepat sebutkan apa yang sudah kamu hafal. Karena setelah ini aku akan memberi pelajaran untukmu,"
Suara Jhico sangat dalam. Matanya pun menampilkan sisi seduktif yang membuat tubuh Vanilla merinding dan kaku.
"Pelajaran?"
"Iya, kemarin aku mengatakan kalau aku akan membuat kamu hamil. Agar kalimatmu yang mengatakan tidak mungkin, berubah menjadi sangat mungkin,"
cup
Jhico mengecup bibir istrinya dengan cepat.
"JHICO!"
Vanilla langsung menampar Jhico spontan. Ia kaget sekaligus kesal karena Jhico mengambil kesempatan ditengah rasa kesal dan bingungnya atas kalimat Jhico tadi.
--------
SEMANGAT MULAI KENDOR NIH KEKNYA. ASUPAN (Like, komen, vote) JGN SAMPE BERKURANG MAKANYA, HARUS BERTAMBAH TRS JD AKU SEMANGAT 45.
FOLLOW AKUN INI DONG JGN MINTA NEXT AJA TP GA NYUMBANG APAPUN TERMASUK GK NGEFOLLOW :( *guengemis*đŸ˜‚BODOAMAT :P
MAMPIR JG KE INSTA & TWIT AKU YAKSS! USER DI BAWAH đŸ‘‡
__ADS_1