
Mereka menginap di sebuah bungalow yang letaknya sedikit menepi dari keramaian kota. Jhico sengaja memilih tempat itu karena selain memiliki pemandangan yang benar-benar sedap dipandang mata, terdapat anak sungai yang dangkal dimana nantinya mereka bisa bermain di sana. Saat Jhico kecil, Ia dan keluarga besarnya pernah juga berkunjung ke tempat yang sama. Banyak sekali ikan-ikan kecil, dan airnya
sangat jernih sehingga Jhico yakin Adrian dan Andrean juga suka bermain di sana.
Hanya beberapa meter dari anak sungai tersebut, Jhico menggunakan bungalow sebagai tempat untuk mereka beristirahat.
"Ayo, turun! kamu jauh-jauh kesini hanya untuk duduk di tepi?"
Saat ini musim semi. Adrian yakin air di anak sungai dingin. Ia sepertinya tidak akan kuat. Sebenarnya melibat Jhico, Vanilla, dan Andrean masuk ke dalam aliran air, Ia juga menginginkan hal yang sama.
"Adrian takut, Uncle."
Jhico sedikit menepi. Ia berjalan menghampiri Adrian, sementara Andrean dan Vanilla sedang menangkap ikan kecil di tengah-tengah anak sungai.
"Takut apa? di sini tidak ada binatang yang berbahaya,"
"Pasti airnya dingin,"
"Tidak terlalu, ini wajar. Kamu akan menyesal tidak masuk ke dalam,"
"Aunty, lihat! aku dapat banyak ikan,"
Vanilla yang berada tak jauh dari Andrean sedang memancing sementara Andrean menunggu jaring-jaring ikan yang semakin lama terisi dengan banyak ikan kecil.
"Ya, Aunty juga merasa pancingan ini sedikit berat. Sepertinya sudah ada yang menjadi korban," kekeh Vanilla dan dengan pelan-pelan Ia mulai mengangkat alat pancing yang ada di tangannya. Benar, ada dua ikan tak terlalu besar sudah tersangkut di alat pancing.
Andrean dan Vanilla bersorak senang. Vanilla segera meletakkan kedua ikan tersebut ke dalam jaring yang dijaga oleh Andrean.
"Kita satukan ikanmu dan ikan Aunty,"
Jhico menjulurkan tangannya pada Adrian. Adrian menggeleng tidak ingin.
"Lihat Aunty dan Andrean. Mereka bermain di sana. Kalau hanya diam seperti ini lebih baik di bungalow saja tadi,"
"Ah, tidak seru kalau hanya diam di bungalow,"
"Ya, sudah. Ayo, kita masuk ke dalam air,"
Jhico mengangkat tubuh kecil Adrian dengan tiba-tiba sehingga anak itu berteriak nyaring karena terkejut. Ia meronta dalam gendongan Jhico. Ketika Jhico mulai menurunkan tubuhnya, ternyata tidak terlalu dingin, suhu air biasa saja.
Akhirnya Ia tidak berontak lagi. Justru malah tertawa menikmati air dan menghampiri sang kakak.
"Aku juga ingin ikan banyak,"
"Tangkap saja. Itu, jaringnya ada di sana,"
Adrian mengambilnya dan mulai menjerat ikan. Baru lima menit Ia sudah bosan mencari. Akhirnya Ia memutuskan untuk mengambil ikan milik kakaknya.
Andrean berseru marah. Ia yang sedang ikut memancing bersama Vanilla langsung menghampiri Adrian dengan cepat.
"Itu ikanku! kamu carilah sendiri, jangan mengambil milik orang lain,"
"Sudah dicari, tapi hanya lima ekor yang dapat," keluhnya.
"Syukuri jangan malah mengambil punyaku,"
"Ada apa? kenapa bertengkar?"
"Aku minta ikan milik Andrean tapi dia pelit, Uncle."
__ADS_1
"Kita cari berdua saja bagaimana?" Jhico menunjuk dirinya dan Adrian. Daripada bertengkar hanya karena perkara ikan, lebih baik Jhico membantu Adrian agar mendapatkan ikan lebih banyak.
"Okay, Uncle harus bantu Adrian agar mendapatkan ikan yang jauh lebih banyak daripada Andrean,"
Tidak hanya mencari ikan di dalam anak sungai itu, Jhico juga membawa mereka semua menaiki sebuah perahu kecil. Ini adalah kali pertama untuk Vanilla, Adrian, dan Andrean. Sementara untuk Jhico ini sudah ke sekian kalinya. Namun rasanya memang tidak sebahagia ini. Beberapa kali ketika Ia masih kecil, keluarga besarnya mengajak berlibur ke sini. Tapi mereka sibuk sendiri, sementara Jhico lebih memilih untuk bermain bersama Neneknya.
*****
Setelah beristirahat sebentar, sore ini Jhico membawa keponakan dan istrinya ke sebuah festival makanan yang diadakan sekali dalam satu tahun oleh penduduk asli.
"Adrian mau satai,"
"Tidak ada di sini. Kamu pikir ini Indonesia?"
"Suruh penjual di sini buatkan untuk Adrian,"
Jhico menghela napas seraya menggeleng pelan. Ia pikir orang-orang di sini bekerja padanya untuk menuruti semua keinginannya?
"Adrian dengan segala keanehannya," gumam Andrean menahan sabar.
"Ya sudah, kita cari makanan yang mirip-mirip satai,"
Mereka tadinya sudah berhenti di stand yang menjual cruyff sejenis kue donat yang diisi es krim dan ditaburi topping sesuai selera, seperti permintaan Adrian sebelumnya. Tapi ternyata beberapa detik setelahnya keinginan Adrian berubah lagi. Ia menginginkan satai.
Mata mereka menjelajahi makanan yang dijual satu persatu. Kebetulan mereka belum makan, jadi rasa lapar benar-benar tengah menggerayangi perut mereka.
"Itu ada!"
Adrian menunjuk salah satu truk yang bertuliskan 'shish taouk' dimana penjualnya tengah menyajikan daging ayam yang sudah direndam dengan bumbu bersama tusukan satai, kemudian disayat dan diselipkan ke dalam roti pita yang lengkap dengan sayuran acar dan juga hummus.
"Aku mau clam chowder, Uncle. Bukan itu,"
"Ya, Andrean. Nanti kita cari ya? sekarang pesan ini dulu,"
Andrean mengangguk lalu mengikuti Jhico dan Vanilla duduk di dalam stand makanan yang diinginkan Adrian itu.
"Uncle dan Aunty tidak cari makanan juga?"
"Kalau semuanya cari makanan kapan pulangnya?!" Vanilla menggerutu dalam hatinya.
"Kita samakan saja," putus Vanilla. Ia lelah menjelajah. Sebenarnya ingin juga mencari makanan yang sedang diinginkan, namun mereka akan semakin lama berada di sini kalau semuanya mencari makanan sesuai keinginan masing-masing Lebih baik Ia dan Jhico mengalah saja, mengikuti apapun keinginan kedua anak kembar itu.
"Setelah makan clam chowder, Kita pulang ya?"
"Pulangnya nanti malam, kata Uncle."
"Maksud Aunty, beristirahat di bungalow,"
********
Vanilla langsung membanting tubuhnya di atas ranjang yang begitu Ia idamkan sejak tadi.
"Aku tidak mau berjalan kaki lagi. Rasanya kakiku ingin lepas,"
"Karena kamu belum terbiasa, Nillaku."
Berbeda dengan Vanilla, Jhico tidak langsung beristirahat. Ia menyalakan televisi di dalam kamar mereka setelah mencuci tangan dan kakinya.
"Bersihkan dulu tubuhmu,"
__ADS_1
"Sudah mandi tadi sebelum ke festival,"
"Ya, cuci tangan dan kaki. Mereka saja pintar," Dagu Jhico mengarah ke kamar mandi dimana kedua keponakannya sedang membersihkan bagian tubuh yang sedari tadi dipakai berjalan dan makan itu.
"Kamu jangan membuat aku sulit! kita punya mobil kenapa harus berjalan?" ujar Vanilla lagi.
"Saat kita ke sana, Kamu melihat orang membawa mobil tidak?"
Vanilla diam merasa salah. Semuanya berjalan kaki. Memang Ia saja yang sudah terbiasa hidup seperti putri raja. Kemanapun selalu menggunakan mobil. Tidak sama dengan Jhico yang justru menyukai hal itu.
"Sudah?"
"Sudah, Uncle. Lihat! sudah bersih."
Jhico mengangguk seraya tersenyum pada mereka. Adrian melompat ke atas ranjang membuat tubuh Vanilla sampai terangkat.
"Astaga, Aunty sedang lelah, bisa tidak buat ulah, Adrian?"
Mereka bisa melihat dengan jelas siapa yang sengaja membuat Vanilla terganggu. Tentu Adrian, karena kakaknya bahkan belum menyentuh ranjang.
"Maaf, tidak lihat ada Aunty di sini,"
"Haish! mulutmu ingin aku lempar bom ya?"
Jhico terbahak mendengar kalimat keponakan sulungnya. Sependiam apapun Andrean, kalau Adrian sudah berbuat ulah, tetap saja keluar juga kalimat kejamnya.
*****
Malam hari mereka telah siap meninggalkan bungalow dan kembali ke pusat kota Manhattan.
Jhico sudah memasukkan semua barang-barang yang mereka bawa ke bagasi mobilnya. Vanilla menyiapkan sandwich untuk dimakan selama perjalanan. Pengalaman ketika berangkat kemarin, Jhico sudah membelikan makanan-makanan ringan untuk di perjalanan tapi tetap saja mulut Vanilla mengidamkan makanan yang lebih berat dan mengenyangkan.
"Aunty, kita tidak lama di jalan. Kenapa membawa sandwich?"
"Memang kenapa? Aunty mau, jadi tidak ada salahnya,"
"Aunty makan terus seperti Aunty Jane saja," komentarnya lagi.
"Keinginan adik bayi, Adrian."
"Huh? kata siapa?"
"Mommy waktu menghamili Auristella seperti itu bukan?"
Adrian langsung mengarahkan wajahnya pada Vanilla dan Jhico secara bergantian. Wajah suami istri itu kaku karena kalimat Andrean.
"Tidak, tidak mungkin." sanggah Vanilla dengan gelengan kencangnya. Lucu. Bagaimana ceritanya Ia hamil? sementara kegiatan mereka selama di atas ranjang hanya tidur dalam arti yang sebenarnya.
Rahang Jhico mengeras. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri, tidak peduli kedua anak itu memperhatikan mereka.
"Akan aku buat menjadi mungkin. Lihat saja, Nillaku."
-------
HELLAWWW MET SIANG🙋MENIKMATI HARI SABTU INI? STAY HEALTHY MANTEMANQUW SEMUANYAAAA
KALAU ADA KALIMAT RANCU KASIH TAU AKU DIMANANYA YAAK.
__ADS_1