Nillaku

Nillaku
Nillaku 367 Tidak menerima kata lumayan. Dan tidak mau hanya sekedar terimakasih


__ADS_3

"Kenapa tidak jadi beli brownies, Mu?"


"Kebetulan Mumu mau buat cake rumput laut ini, Sayang. Griz tetap mau beli brownies?"


"Hmm tidak usah, Mu. Aku juga suka ini,"


"Iya, Griz 'kan suka dengan cake ini sama dengan Mumu,"


"Suka sekali malah,"


Grizelle masih dengan kompres di dahinya begitu menikmati cake buatan Mumunya.


Bangun tidur, Ia merasa lapar tapi tidak mau makan selain yang manis-manis.


Vanilla senang sekali saat anaknya mau menikmati cake nya. Ia buat itu karena memang ingin sekali.


"Nanti kalau Griz masih mau brownies, Mumu belikan. Atau Mumu minta tolong Pupu. Hmm tapi sepertinya Pupu di di jalan pulang,"


"Tidak usah, Mu. Aku tidak mau itu lagi. Ini saja sudah cukup,"


"Habis ini minum obat ya?"


"Okay, Mu,"


Grizelle terbatuk ditengah kunyahannya. Kemudian ia hampir muntah tapi beruntungnya tidak benar terjadi.


"Makan nya pelan-pelan, Sayang,"


Vanilla memberikan air minum pada putrinya. "Sudah pelan, Mumu. Tapi tenggorlokan (tenggorokan) aku gatal,"


Vanilla memasukkan beberapa slice cake di piring dan kini sudah hampir habis.


"Pupu kemana ya? belum sampai juga,"


"Tunggu, Sayang. Tidak lama lagi Pupu pasti datang,"


Grizelle sudah menunggu kedatangan ayahnya sejak tadi. Namun belum juga tiba di rumah.


"Griz ganti baju saja dulu ya,"


Grizelle mengangguk, Ia melepas pakaiannya sementara Vanilla menyiapkan pakaian untuk putrinya kenakan.


"Mumu bersihkan dulu badannya,"


Vanilla melarang anaknya untuk mengenakan pakaian sediri. "Oh iya, lupa,"


"Nanti Griz tidak nyaman tidurnya kalau hanya ganti pakaian,"


*****


Devan menatap puas hasil kerja kerasnya setelah satu jam lebih berkutat di dapur membuat mac and cheese untuk kedua kalinya.


"Akhirnya berhasil juga. Semoga rasanya lumayan memuaskan,"


Devan membuat ini lebih banyak sebab untuk ketiga anaknya, Lovi, dan dirinya sendiri. Ya, Ia juga ingin makan hasil masakannya. Maka Ia buat lebih banyak.


"Permisi room service datang,"


Mereka menolah pada Devan yang hanya membawa dua piring mac and cheese.


"Cuma dua, Dad? yang benar saja. Aku 'kan mau yang banyak, satu piring. Biar aku makannya puas," kata Adrian.

__ADS_1


Adrian tidak terima dijala ayahnya hanya membawa dua dan itupun langsung diberikan pada Auristella dan Lovi.


"Tenang, ada di pantry. Kita bertiga makan di sana,"


"Kenapa tidak makan di sini saja"


"Ya sudah, kalian berdua ambil sendiri. Kan tidak sakit ya?"


Adrian dan Andrean bergegas keluar dari kamar adiknya menuju pantry.


Devan mengikuti, anak-anaknya segera kembali lagi ke kamar Auristella ingin makan bersama Lovi.


Devan menghela napas. Ia jadi makan sendirian? ah lebih baik ikut mereka saja. Tadinya Ia ingin makan di pantry saja dengan kedua anak laki-lakinya. Tapi ternyata mereka memilih untuk makan dengan adik dan mommy mereka.


"Daddy makan di sini juga?"


"Iya, Daddy tidak mau makan sendiri. Tadinya Daddy pikir kalian berdua mau makan dengan Daddy di pantry,"


"Bagaimana rasanya?"


Adrian mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, gayanya persis menyamakan seorang juru masak yang tengah menilai masakan peserta nya.


"Lezat, Dad." ujar Andrean yang langsung membuat hati Devan senang.


"Yang benar?"


"Iya, aku suka," kata Andrean lagi.


"Bagaimana, Ian?" tanya Adrian. Anak pertamanya sudah meberi penilaian,tapi anak kedua dan ketiga belum.


"Lumayan,"


"HIH LUMAYAN?! INI LEZAT, IAN. ENAK, RASANYA LEZAT! TAHU TIDAK?!"


jelas-jelas rasanya lezat apalagi untuk devan yang jarang memasak atau turun ke dapur.


"Iya, ini rasanya sudah hampir persis dengan buatan Mommy," cetus Lovi.


"Lumayan, masih lezat punya Mommy,"


Devan menggigit bibirnya gemas mendnegar penuturan Adrian. "Kamu menyamakan masakan Daddy dan Mommy. Jelas beda! Daddy jarang memasak. Kalau Mommy setiap hari memasak. Wajar saja lebih lezat punya Mommy,"


"Ian jahat dengan Daddy," kata Auristella menatap tajam pda kakaknya.


Adrian segera menatap ayahnya. Kemudian memeluk erat. "Ini lezat, Dad. Aku hanya bercanda tadi. Rasnaya lezat! tidak lumayan!"


"Hah begitu lah. Hargai usaha Daddy," puas Devan mendengar penilaian anaknya. Ia tidak terima kata lumayan! karwna Ia harus esktra berusaha untuk bisa menyajikan makanan ini. Sekalipun kata orang ini masakan yang tidak sulit.


"Okay, habiskan ya. Jangan sampai dibuang,"


"Tidak akan mungkin, Dad. Aku malah mau lagi. Masih ada?"


"Tidak ada, sudah habis, Auris. Ini ambil punya Daddy,"


Devan akan memberikan bagiannya pada Auristella,tidak semua hanya sebagian. Tapi Aurisella langsung menolak tegas. Ia tidak mungkin tega menganbil bagian ayahnya yang sudah lelah membuat ini.


"Tidak jadi, Dad,"


"Tidak apa, Sayang. Ayolah terima,"


Auristella menahan tangan ayahnya yang akan memberikan mac and cheese miliknya ke piring Auristella.

__ADS_1


"Tidak mau. Ini saja sudah cukup,"


"Tadi katamu, kurang,"


"Tidak jadi," bantah Auristella.


"Ya sudah, kalau Auris tidak mau, buat aku saja,"


Adrian akan mengambil alih namun Auristella menatapnya kesal.


"Bercanda! ah kamu ini serius terus hidupnya,"


"Ian mau? ya sudah,ini ambil punya Dadsy,"


"Tidak, Dad. aku hanya bercabda  Punyaku sudah cukup. terimakasih ya, Dad,"


"Aku juga berterima kasih," imbuh Andrean yang juga dilakukan oleh Auristella, "Dad, terimakasih sudah buatkan aku mac and cheese lagi,"


"Iya, sama-sama,"


"Seharusnya Auris tidak djbuatkan lagi, Dad. Dia kan sudah tadi,"


"Daddy tidak mungkin tega membiarkan Auris gigit jari melihat kita makan,"


Devan mencontohkan bila anaknya menggigit jari. Ia gogit jari telunjuknya dan itu mengundang gelak tawa ketiga anaknya dan juga Lovi.


"Ehem,"


Devan tiba-tiba berdehem yang membuat keempatnya menatap ke arahnya.


"Kenapa, Dad? gatal tenggorokannya?" tanya Auristella serius menatap sang ayah.


"Mommy kenapa belum mengatakan 'terimakasih'pada Daddy ya?"


Mulut Adrian dan Auristella membulat "Oh," sempat mengira kalau Devan batuk.


"Terimakasih, Dad," tulus sekali Lovi mengatakannya.


"Hanya itu?" tanya Devan jahil menatap istrinya sekilas tapi Ia masih sibuk menyuapkan mac and cheese ke dalam mulut.


"Ya, memang masih kurang ucapan terimakasih dariku,"


"Iya, kurang, Lovi,"


"Tadi anak-anak juga mengatakan terimakasih saja tapi kamu tidak protes,"


"Itu 'kan beda,"


"Ya apa bedanya? porsi mac and cheese nya saja sama. Masa kamu mau minta lebih?" sungut Lovi yang membuat Devan mendengkus.


"Jangan mulai ya," desis Lovi menatap tajam Devan yang wajahnya menyebalkan sekali. Senyum jenaka, lalu alisnya sengaja dibuat bertaut dan naik.


"Mulai apa?"


"Apa sih Daddy dan Mommy ini. Aneh,"


Aurustella mulai merasa gerah dengan ayah dan ibunya yang kini hanya komunikasi dengan mata saja.


"Jangan dilihat kalau aneh,"


"Ada di depan mataku. Masa iya aku tidak lihat?! kamu ini lebih aneh lagi!" Auristella mengepalkan tangan ke arah kakaknya dengan geram tapi tidak Ia layangkan pada Adrian walaupun ingin selali melakukannya.

__ADS_1


"Ah sudahlah,"


Devan akan minta yang lebih dari ucapan terimakasih pada Lovi. Tapi nanti kalau mereka sudah berdua saja. Ya, minimal satu kecupan dari Lovi tidak masalah. 


__ADS_2