Nillaku

Nillaku
Nillaku 39


__ADS_3

"Kali ini aku merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan lagi,"


Jhico datang ke rumah sakit dimana Riyon bertugas. Ia menceritakan semua keluh kesahnya pada Riyon setelah sahabatnya itu rehat sejenak. Jarak antara apartemen dengan rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh. Jhico pergi meninggalkan Vanilla yang sedang menikmati makanan ringannya di rooftop seraya menikmati sore hari.


"Entah kenapa aku berpikir, mungkin ini sudah menjadi bagian dari rencana kakekmu,"


"Memang iya. Aku sudah yakin. Kakek semakin parah menyiksaku,"


"Tenang... Tuhan tidak tidur. Siapapun yang menebar kebaikan pasti akan dibantu oleh Tuhan,"


"Vanilla tahu kamu mengundurkan diri dari rumah sakit?"


"Sepertinya sudah curiga,"


"Kenapa tidak kau beri tahu? jangan ada yang disembunyikan, Co."


"Dia tidak ingin tahu jadi untuk apa aku memberi tahu?"


"Hubungan kalian semakin dingin?"


Riyon sadar bahwa Ia telah memasuki ranah yang sangat pribadi untuk orang luar sepertinya. Namun melihat temannya kacau seperti ini, Riyon juga tidak bisa diam saja.


"Perdebatan dalam rumah tangga sudah biasa. Aku tidak tahu apa masalahnya. Tapi aku harap kalian lebih dewasa lagi dalam menyelesaikannya,"


"Aku sudah berusaha untuk memahami Vanilla. Aku juga akan mempertahankan apa yang sudah aku miliki,"


"Sekalipun menyakitkan?"


Jhico terkekeh menutupi rasa sedihnya. Ah, Ia terlalu banyak bicara. Hampir saja mulutnya mengeluarkan keburukan sang istri.


"Aku bahagia. Tidak ada kata 'menyakitkan' bila itu dengan Vanilla,"


*******


Sudah tiga hari Jhico tidak bekerja, dan Ia berpikir banyak mengenai nasibnya sekarang. Lelaki itu memutuskan untuk membuka tempat praktik sendiri. Ia rasa itu adalah jalur aman. Tidak ada lagi yang akan mengusik kerja kerasnya.


"Jhico, kamu tidak bekerja lagi?"


"Pulang kuliah langsung bertanya seperti itu. Ada apa memangnya?"


"Aku hanya bertanya. Karena aku selalu melihat kamu di apartemen sekalipun itu pagi hari. Biasanya kamu selalu pergi bekerja setelah membuat sarapan,"


"Tidak senang aku lebih banyak waktu di apartemen?"


Vanilla bersedekap dada dan menatap suasana di luar melalui jendela mobil. Dan Jhico mulai melajukan kendaraannya.


"Bagaimana kuliahnya?"


"Berjalan dengan baik,"


Jhico mengangguk saja. Ia kembali fokus mengendarai sementara Vanilla sibuk dalam lamunan.


"Sejak beberapa hari yang lalu aku mengundurkan diri," keluar juga beban pikirannya. Jhico merasa sedikit lega. Padahal Vanilla belum memberi reaksi apapun.


"Apa yang terjadi?"


"Kakek menguasainya lagi. Aku tidak ingin berada di bawah pimpinan Kakek,"


Vanilla mengusap wajahnya gusar, "Astaga. Sebenarnya Kakek menginginkan apa?"


"Aku, tentu saja."


"Ya, Sudah. Bergabung saja dengan Kakek dan Papa,"


"Mudah sekali kamu bicara seperti itu,"


"Daripada kamu seperti ini?"


"Apa maksudmu? aku masih bisa memberi semuanya untuk kamu. Dan perlu kamu tahu, aku sudah mengurus izin, bangunan, dan semua yang dibutuhkan untuk membuka tempat praktik sendiri,"


"Aku tahu kamu masih bisa menghidupi aku. Tapi maksudku bukan seperti itu,"


"Apa? kamu terlihat tidak mendukung keputusanku sama sekali,"


"Jhico, aku kasihan saja melihat hidupmu yang selalu dibatasi. Daripada seperti itu, lebih baik penuhi apa yang mereka inginkan,"


Satu telapak tangan Jhico menepuk lembut kepala Vanilla. Bila sedang berbicara mengenai hal seperti ini, Vanilla terlihat hangat sekali. Jhico lupa dengan kalimat 'aku kasihan' yang diucapkan Vanilla tadi. Ini bukan bentuk perhatian.


"Kalau aku menjadi apa yang mereka inginkan, duniaku akan semakin sempit, Nilla. Semuanya akan diatur, dan aku tidak ingin seperti itu,"

__ADS_1


"Kamu tidak suka diatur?" tanya Vanilla dengan polos. Jhico menggeleng setelah menoleh sekilas padanya.


"Tapi kalau aku atur, kamu tidak pernah protes,"


"Memang pernah kamu mengaturku? rasanya tidak. Kamu selalu sibuk sendiri,"


Vanilla diam tak menanggapi. Hal yang tidak asing lagi kalau Jhico selalu menggiring setiap pembicaraan ke arah sana, dimana Vanilla akan merasa sangat tersindir.


"Kamu tidak berganti baju dulu?"


"Tidak, langsung saja ke tempat acaranya,"


******


Seperti rencana yang dibicarakan Jhico hari senin lalu, bahwa hari minggu ini Fenelly, teman Jhico akan merayakan hari ulang tahun anaknya yang ke satu tahun.


Jhico berhasil membawa Vanilla ke pesta yang dipenuhi dengan dekorasi kartun tinkerBell itu.


"Kalau hadir di acara seperti ini jadi ingat keponakanku," gumam Vanilla melihat-lihat suasana restoran yang disulap menjadi tempat berlangsungnya pesta ulang tahun yang begitu meriah.


"Kartun apa yang mereka sukai?"


"Thomas and friends,"


"Wow rupanya masih ada juga yang suka dengan kereta itu. Sejak aku sekolah, kereta Thomas sudah ada. Dan aku salah satu pengagumnya, tidak pernah melewatkan serialnya di televisi," Ujar Jhico mengenang masa lalunya yang kesepian itu. Hanya Hawra dan televisi yang menemani keseharian Jhico.


Vanilla dan Jhico menyerahkan kado yang mereka bawa, lebih tepatnya yang disiapkan oleh Jhico. Nama Vanilla hanya sebagai pelengkap di samping nama Jhico ketika menulis ucapan 'selamat ulang tahun'.


"JHICO!"


"HEY, KEMARI!"


Teman-teman Jhico yang pernah bekerja di tempat yang sama dengannya memanggil Ia agar ikut bergabung ke dalam perkumpulan mereka di ujung ruangan yang berdekatan dengan jendela. Vander, Nares, dan Denaya menyambut Jhico dengan hangat.


"Baru beberapa hari tidak bertemu, aku sudah rindu,"


Hanya ingin tahu, Jhico melirik Vanilla untuk melihat reaksi istrinya itu setelah mendengar ucapan Denaya. Yang dilihatnya, Vanilla biasa saja. Bahkan ikut duduk di samping tubuhnya dengan tenang usai menyapa mereka semua.


"Sekarang sudah bisa mengajak istri kemanapun ya?"


"Tahan, Vanilla. Disinggung karena buta itu sudah biasa kamu dengar,"


Saat Jhico bangkit ingin mengambil minuman, Vanilla menahan lengannya. Ia menatap Jhico seraya bertanya, "Kemana?"


"Ambil minum, aku haus."


"Kamu tidak bertanya aku mau apa?"


Jhico mendengus dengan satu alis yang menukik. Ia tidak menawarkan Vanilla karena takutnya membuat gadis itu sakit hati lagi. Mengingat kondisi Vanilla sudah baik-baik saja, Jhico pikir Vanilla bisa melakukan semuanya sendiri. Kalau Ia terlalu perhatian, Vanilla pasti akan protes.


"Mau apa?"


"Minuman sama seperti kamu,"


"Tapi cari sendiri,"


Vanilla melepas tangan suaminya dengan kesal. Saat ini mereka menjadi perhatian teman-teman Jhico.


Vanilla benar-benar mencarinya sendiri. Sementara Jhico juga melakukan hal yang sama. Mereka menyibukkan diri agar tidak saling bersinggungan.


Vanilla menemukan lemon tea. Kebetulan Ia sedang butuh sesuatu yang mendinginkan. Vanilla baru selesai kuliah dan tanpa mandi Ia langsung pergi menghadiri acara ini. Tubuhnya benar-benar penat.


"Aduh, hati-hati,"


Vanilla meringis saat gaun sabrina yang dikenakannya basah oleh anak yang tidak sengaja menumpahkan sup kerang kental.


"Maaf-maaf, Aunty. Aku tidak sengaja,"


Vanilla menggeram pelan. Kulitnya terasa cukup panas. Namun Vanilla berusaha tersenyum. Melihat anak itu ketakutan, Ia menjadi tidak tega.


"Iya, tidak apa-apa."


Jhico mendekati istrinya dengan dua gelas hot chocolate di tangannya. Minuman itu untuk Ia dan sang istri.


Anak itu pergi dan Jhico menyentuh pinggang Vanilla dengan lembut, membuat istrinya menoleh.


"Ada apa? gaunmu kenapa seperti ini?" tanya lelaki itu seraya menyentuh bagian gaun yang basah. Ia menatap istrinya penuh tanya.


"Biasa, kecerobohan anak kecil."

__ADS_1


"Ayo, kita duduk."


Tangan Vanilla menunjuk dua kursi kosong yang letaknya jauh dari kumpulan teman-teman Jhico.


"Di sini saja ya?"


"Kenapa tidak ingin bergabung dengan mereka lagi?"


"Belum terbiasa, aku kurang nyaman."


Akhirnya Jhico menggenggam tangan Vanilla ke kursi yang dimaksud Vanilla tadi. Ia meletakkan minuman di atas meja, begitu pun dengan Vanilla.


"Makanannya?"


"Tidak, aku makan di rumah saja."


"Setelah minum, kita pulang." putus Jhico yang akhirnya disambut senyuman Vanilla. Jhico tahu istrinya itu lelah. Jadi lebih baik beristirahat di apartemen. Yang terpenting mereka sudah memberikan kado dan ucapan selamat.


"Ini untuk siapa?" tangan Vanilla meraih gelas yang dibawa Jhico tadi.


"Untuk siapa saja yang mau,"


Vanilla meneguknya sedikit, Ia menganggukkan kepala seraya berbicara, "Aku minum ini saja. Tidak jadi lemon tea,"


Jhico mengusap kepala Vanilla dengan lembut. Lalu mereka menuntaskan rasa haus sebelum akhirnya kembali ke apartemen.


******


"Kamu menghindariku setelah kejadian pada malam itu,"


"Kalau aku boleh tahu, laki-laki itu siapa? dia saudaramu? kalian pasti ada hubungan keluarga,"


"Kalian sangat dekat. Bahkan aku melihatnya, dia seperti Devan. Sangat menyayangimu sampai kamu dijemput usai kuliah,"


"Vanilla, kenapa diam saja?"


Vanilla akhirnya kembali bertemu dengan Renald. Siang hari Renald datang ke kampusnya untuk bekerja, dan tidak sengaja melihat Vanilla. Ia langsung mengajak gadis itu untuk duduk di taman kampus guna membicarakan peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu.


"Renald, dia---"


Renald menatap dalam-dalam manik Vanilla yang kini menunduk. Lelaki itu menggenggam tangan Vanilla dengan erat. Jantungnya berdentum tidak beraturan seolah sudah tahu kalau Vanilla akan mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


"Dia suamiku,"


Tautannya langsung terlepas seketika. Renald mencari sorot serius di mata Vanilla, dan Ia menemukannya. Vanilla tidak sedang berguyon?


Ya Tuhan, rasanya sesak sekali. Tenggorokannya terasa dicekik dengan ribuan tangan kokoh yang siap membunuhnya.


Pengakuan ini benar-benar tidak diharapkannya. Renald sudah yakin bahwa Vanilla tidak akan membohonginya. Mereka masih ada kesempatan untuk bersatu, Ia belum terlambat. Tapi kenyataannya sangat pahit dan tidak pernah terbayangkan oleh Renald sebelumnya bahwa Ia akan ditinggal menikah oleh gadis yang sudah lama Ia cintai. Karena keberaniannya yang sangat sedikit, akhirnya Renald kehilangan Vanilla. Ada lelaki lain yang sudah lebih dulu memiliki gadis cantik bermata biru ini.


"Kamu sedang bergurau, Vanilla?" suaranya begitu pelan, tertelan oleh rasa sakit.


Vanilla menggeleng dengan rintik air yang mulai jatuh dari pelupuk matanya. Renald sakit, Ia juga sama, bahkan lebih sakit. Vanilla harus melakukan ini agar tidak ada yang terluka semakin parah.


"Tapi kita tetap bisa dekat," ujar Vanilla menenangkan.


Jangan Renald kira setelah Ia jujur, hubungan mereka akan renggang. Vanilla masih perlu teman. Dan Renald adalah laki-laki yang Ia anggap paling bisa menerima bagaimanapun keadaannya.


"Vanilla..."


"Renald, aku mohon jangan seperti ini," Vanilla semakin tidak berdaya saat melihat laki-laki yang begitu diinginkan olehnya terlihat putus asa seperti ini.


"Lalu bagaimana dengan perasaanku, Vanilla?"


"Kamu bisa mencari seseorang yang lebih baik dari aku,"


Vanilla membuat pilihan lain padahal hatinya sendiri tidak sanggup melihat Renald yang akan bahagia bersama perempuan lain.


Renald menggeleng kuat. Vanilla berbicara begitu mudah seolah perasaannya bukanlah hal yang patut untuk dipikirkan. Mereka sudah sejauh ini, lalu tanpa disadarinya Vanilla sudah menyakiti terlalu dalam.


"Seharusnya kamu tidak memberikan aku peluang dari awal, Vanilla. Aku sangat yakin bahwa kita akan bersama. Nyatanya...."


Vanilla memeluk Renald sangat erat, seolah tidak siap untuk melepas laki-laki itu. Vanilla juga merasa sangat bersalah. Sedari awal, hatinya memang tidak pernah yakin dengan Jhico, bahkan sampai saat ini pun masih sama.


"Renald, kita akan tetap baik-baik saja."


-------


UWUWWW LANJOOTT GK NIH? CUSSSS RAMEIN DULU LAPAKNYA

__ADS_1



__ADS_2