
Ia yang mendengar kalimat itu saja sangat sakit. Apa lagi cucunya? Ya Tuhan, Jhico terlalu baik untuk disakiti. Hawra tidak bisa melihat cucu laki-lakinya masuk ke dalam kubang kepedihan lagi.
"Nenek mohon, jangan kecewakan Jhico,"
Tidak salah bukan kalau Ia memohon pada Vanilla untuk lebih memikirkan perasaan cucunya? Hawra bisa menilai betapa berharganya Vanilla di mata Jhico. Bila Vanilla menciptakan luka barang setitik, apa yang akan terjadi? bagaimana dengan Jhico nantinya?
"Aku harap juga seperti itu, Nek. Jhico terlalu baik untuk aku sakiti. Tapi masalah perasaan, siapa yang bisa mengendalikan? aku tidak mungkin bertahan terlalu lama bila tidak mempunyai alasan yang kuat untuk bertahan,"
Hawra menangis, Vanilla membuat wanita tua yang disayangi Jhico meneteskan air matanya. Vanilla tidak bermaksud untuk berperan sebagai sosok antagonis dalam cerita ini. Ia juga ingin menerima Jhico. Tapi tidak semudah itu. Apalagi untuk mencintai, apakah bisa? Sedari awal Vanilla membenci lelaki yang telah merebut kebahagiaannya itu.
Sosok yang tengah dibicarakan ternyata sudah pulang. Dan dalam keadaan lelah, Ia mendengar semuanya. Dada Jhico naik turun berusaha mengatur emosi agar tidak menampar Vanilla yang dengan seenak hati membuat neneknya bersedih. Apa sulitnya berpura-pura agar Hawra baik-baik saja?
Jhico segera menarik pergelangan tangan Vanilla lalu dibawanya ke kamar. Jhico menghempas tubuh Vanilla hingga mendarat di atas ranjang.
Vanilla hanya bisa menunduk. Bibirnya terkunci rapat. Kedatangan Jhico yang tiba-tiba lalu membawanya ke kamar tanpa menunggu waktu lama sudah memberi tahu Vanilla bahwa ada hal penting yang akan dibahas oleh laki-laki itu.
Jhico bertolak pinggang di depan Vanilla. Ia berjalan ke sana kemari untuk menetralisir amarah yang meluap. Tetap tidak bisa. Vanilla benar-benar keterlaluan.
"Kamu sengaja membuat Nenek menangis, Vanilla?"
Ciri-ciri ketika Jhico marah adalah memanggil Vanilla bukan dengan sebutan khusus. Vanilla sampai hafal dengan hal sekecil itu.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Jhico. Aku rasa pernikahan ini tidak bertahan lama, apa salahnya aku mengungkapkan itu sedari awal?"
"SALAH!"
Belum usai, Jhico masih mengumpulkan kekuatan suara dan batinnya untuk kembali mengeluarkan suara keras. Sungguh ini bukan keinginannya. Sisi jahat di tubuh Jhico lah yang patut disalahkan.
"KAMU MELUKAI HATI NENEK, KAMU MEMBUATNYA MENANGIS. DIMANA OTAKMU, VANILLA?!"
Prang
Prang
"Jhico..."
Lelaki itu sudah hilang kendali. Ia menghempas barang-barang yang ada di nakas hingga terpelanting ke lantai.
Vanilla menutup kedua telinga seraya memejamkan mata erat-erat. Ini untuk pertama kalinya Jhico melampiaskan emosi dengan sikap kasar walaupun tangan Jhico tidak sampai menyakiti Vanilla. Ia lebih memilih benda mati sebagai bahan untuk dijadikan pelampiasan daripada istrinya.
Jhico selalu kalap bila menyangkut neneknya. Hawra adalah bagian terpenting dalam hidupnya dan Vanilla sudah membuat Ia memohon sampai menangis pilu seperti tadi.
"Kamu belum tahu aku seperti apa bukan? inilah aku kalau kamu berani menyakiti Nenek,"
Jhico meraih dagu Vanilla untuk mendongak. Gadis itu tidak menangis hanya terdapat gurat resah di wajahnya. Itulah yang membuat Jhico belum puas membuat Vanilla ketakutan. Vanilla seperti tidak ada perasaan bersalah.
"Tidak perlu membuat orang lain mengetahui pernikahan kita yang tidak wajar. Dan ingat sekali lagi, pernikahan ini akan tetap ada sampai kapanpun. Jangan berharap kamu bisa lepas. Kamu milikku, Vanilla."
Jhico menatap manik biru itu dengan pandangan dingin. Mata yang selalu bisa membuatnya luluh padahal Ia tidak berbuat apapun.
"Kamu berharga, Nillaku."
__ADS_1
*****
Setelah kejadian beberapa waktu lalu hubungan Jhico dan Vanilla semakin dingin. Jhico yang biasanya selalu berusaha memasuki hati Vanilla, kini berubah menjadi tidak acuh. Vanilla pun tetap pada kebiasaannya. Ia tidak begitu mempermasalahkan perubahan Jhico. Vanilla mengakui kesalahannya di hadapan Jhico namun bila suaminya belum membuka diri, Vanilla harus apa?
Meskipun begitu, Jhico tetap membantu Vanilla dalam segala hal. Ia hanya menjadi dingin, tidak sehangat biasanya. Sekesal apapun Jhico terhadap istrinya, bila melihat Vanilla kesulitan pasti Ia tidak akan diam.
Seperti saat ini, Vanilla sedang mengemasi pakaian karena Jhico tidak melakukannya semalam.
Vanilla yang melipat dan Jhico yang memasukkannya ke dalam koper kecil milik mereka.
"Menyulitkan diri sendiri saja. Kenapa tidak meminta bantuan pelayan. Huh!"
Enggan berurusan dengan hal-hal kecil merupakan kebiasaan Vanilla sejak dulu. Suasana hati mereka juga masih kurang baik sehingga berada dalam radar yang dekat seperti ini rasanya sangat kaku.
Berbeda dengan Vanilla, Jhico justru sebaliknya. Berhubung Ia terbiasa ditinggal oleh kedua orangtuanya, Jhico menjadi sosok yang mandiri walaupun di rumahnya pun ada pelayan yang siap membantu. Karena mandiri yang dimilikinya itu Jhico bisa bertahan di apartemen seorang diri. Pihak apartemen hanya diizinkan membersihkan bagian ruang tamu saja dan juga melaundry pakaian kerja Jhico. Selain dari itu, Jhico yang melakukannya.
"Untuk apa Deni datang ke sini?"
Semalaman lelaki itu tidak membahas Deni, sekarang kenapa jadi membawa nama itu? apa Ia mencoba untuk kembali menciptakan perdebatan lagi?
"Dia hanya mengantarku pulang,"
"Kenapa harus diantar? aku sudah katakan padamu kalau setiap kamu kuliah, aku yang akan mengantar jemputmu,"
Jhico bertanya pada teman sekelas Vanilla. Tidak cukup satu orang, karena Ia kurang percaya saat mereka mengatakan Vanilla sudah pulang. Padahal Jhico pulang cepat hari itu dan rencananya ingin membawa Vanilla makan di luar.
"Aku sempat tidak sadarkan diri di kampus. Dan Joana yang menghubungi dia,"
"Joana temanmu?"
"hm,"
"Jawab yang benar, Vanilla!"
"Iya! Joana temanku,"
"Seharusnya kamu memperkenalkan dia dengan aku,"
"Apa?!" Vanilla mengerinyit bingung. Tujuannya apa? Jhico sendiri yang mengatakan bahwa Vanilla adalah perempuan yang berarti. Sejak awal pernikahan, lelaki itu tidak henti memperlakukan vanilla bagaikan barang yang mahal.
"Oh kamu mau menikahi dia setelah kita berpisah,"
Jhico menggeleng tidak habis pikir. Padahal maksudnya mengatakan itu agar bila terjadi sesuatu dengan Vanilla, Joana tidak lagi mengandalkan Deni. Ia suaminya, bukan Deni.
"Otakmu sudah dipenuhi dengan hal-hal yang buruk. Jadi prasangka terhadap orang lain pun tidak kalah buruk," tukas Jhico dengan dingin.
****
"Kamu menghubungi Vanilla lagi? sudah berapa kali, Deniele? kamu bisa mengganggunya,"
"Aku khawatir dengan dia, Keynie. Setelah kejadian kemarin, aku khawatir kondisinya belum membaik,"
__ADS_1
Mereka berdebat sementara pelaku yang sengaja menyembunyikan ponsel Vanilla dari pemiliknya sedang berpura-pura tidur karena istrinya mencari-cari benda tipis tersebut.
Vanilla meraba-raba semua meja di apartemen yang sekiranya sering Ia gunakan sebagai tempat untuk meletakkan ponsel.
Vanilla berdecak, Ia mulai kelelahan mencarinya. Tidak mungkin hilang. Karena ketika sampai di apartemen, Vanilla masih sempat menggenggam benda itu.
"Siapa yang menyuruhmu untuk membuat aku cemburu? rasakan saja akibatnya. Ini baru ponsel yang aku sembunyikan. Kalau kamu seperti itu lagi, kira-kira benda apa yang harus aku musnahkan?" Jhico berbisik seorang diri seraya terkekeh pelan saat Vanilla tidak ada di kamar. Ia yakin Vanilla sedang sakit kepala mencarinya.
Karena sudah terlalu lelah dan bingung, akhirnya Vanilla memutuskan untuk kembali ke kamar dan membangunkan suaminya yang baru tertidur. Barangkali Jhico tahu dimana ponselnya berada. Ia terpaksa melakukan ini karena Vanilla benar-benar butuh untuk membahas materi kuliahnya bersama Joana.
"Jhico, kamu melihat ponselku tidak?"
Jhico tidak menanggapi. Ia masih diam dalam tidur pura-pura. Lelaki itu malah membuang wajahnya tidak ingin berhadapan dengan Vanilla.
"Jhico, bangun sebentar. Ponselku dimana?"
"Ya mana aku tahu?!" jawabnya dengan nada sangat pelan tapi garangnya tidak hilang.
Vanilla menggeram kecil. Ia juga malas berurusan dengan Jhico untuk saat ini. Karena suaminya juga terlihat seperti itu. Bahkan untuk berbicara panjang lebar saja Jhico sangat enggan. Ia masih marah.
"Kamu benar-benar tidak tahu? aku serius bertanya,"
Jhico berbalik dan menatap tajam istrinya. Ia bangkit dengan gerak yang tiba-tiba sampai membuat Vanilla terkejut.
"Memang sepenting apa ponsel itu sampai kamu mengganggu tidurku? Kamu tahu besok aku bekerja?"
"Tahu, tapi aku juga butuh ponsel,"
"Untuk apa? menghubungi laki-laki yang mana lagi?"
Wajah Vanilla mundur dengan refleks.
"Dia kenapa?" Vanilla bingung dengan sikap Jhico. Tidak biasanya bicara seperti ini.
"Aku sudah meminta maaf padamu bahkan bukan sekali saja. Kenapa sikapmu masih seperti ini? kekanakan sekali,"
"Berkaca, hey! yang kekanakan itu kamu. Untuk apa mengumbar hal-hal yang menyangkut pernikahan kita pada orang lain? tujuannya apa? agar Nenek memberi tahuku, lalu aku sedih dan depresi, setelahnya aku membiarkan kita berpisah, begitu?"
"Aku tidak mencintai kamu! kenapa tidak mengerti juga?!"
"Bagus! dia tidak membahas ponsel lagi," batin Jhico bersorak senang.
Jhico bangkit setelah menggigit pelan bibir istrinya, bukan mengecup seperti biasa.
"Aku tidak peduli, Nillaku."
--------
SELAMAT PAGIIIIII. Semangat berkegiatan yaaa. Inget bsk hr libur, jd jgn bete wkwk. KOMEN, SIAPA AJA YG KERJA HARI INI? ATAU SEKOLAH?
__ADS_1