Nillaku

Nillaku
Nillaku 383 Vanilla malu menceritakan keburukan di masa lalu pada anaknya


__ADS_3

"Jane, kamu ke sini hanya untuk menenangkan pikiran kamu. Tempat kamu itu ada di samping Richard. Mengerti maksudku 'kan?"


Vanilla tidak bisa membiarkan Jane lari dari suaminya. Richard harus benar-benar memberi izin untuk Jane menenangkan diri ke tempat kelahirannya dan juga tempat Ia tumbuh besar sebelum akhirnya dipinang oleh Richard.


"Tapi aku ingin tinggal di sana lagi, Van. Aku akan mencari rumah dan tidak masalah aku tinggal sendiri,"


"Kamu tidak bisa seperti itu. Rundingkan dulu dengan Richard. Kamu itu sudah punya suami. Aku bukannya ingin mengaturmu atau ikut campur dalam permasalahan kalian, tapi menurutku akan lebih baik dibicarakan dulu baik-baik dan masalah kepindahan kamu ke sini, itu menjadi keputusan Richard juga. Kamu tidak bisa memutuskan seorang diri karena kamu istrinya,"


"Ya ampun, Van. Kalau dia masih menggap aku ini istrinya,wanita yang dia nikahi, dia akan bersikap tegas pada keluarganya. Selama ini aku sudah bertahan, aku memilih diam, menelan semuanya meskipun pahit dan sakit sekali karena aku merasa disalahkan atas sesuatu yang bukan kehendak aku,"


Vanilla menghela napas pelan. Ia memang tak ada di posisi Jane. Ia tidak tahu bagaimana rasnaya ditekan oleh keluarga suami karena masalah belum memiliki keturunan.


Hanya Jane yang tahu bagaimana sakitnya dibicarakan, "Belum ada tanda-tanda, Jane? ini sebenarnya kamu yang bermasalah atau Richard sih? tapi kata kalian, semua baik-baik saja. Kalian juga sudah periksa ke dokter. Tapi belum juga ada hasilnya!"


"Menyenangkan sekali kalau punya cucu. Sayangnya, aku belum diberikan cucu juga sampai sekarang oleh Jane,"


"Yang rajin usahanya, Jane. Biar cepat dapat cucu. Sudah enam tahun lebih kalian menikah,"


"Ah lama-lama aku mengambil anak saja di yayasan supaya aku bisa merasakan punya cucu,"


"Jane, kapan kamu memberikan aku keponakan? lama sekali sih,"


Dan masih banyak lagi perkataan keluarga Richard yang jelas sekali menyalahkan dirinya. Ya ampun, setiap mendengar itu semua, rasanya Jane ingin melakukan hal kasar pada mereka. Sayangnya, Jane masih sangat menghargai.


Kemudian Jane akan merasa ingin pulang. Sebab Ia yakin keluarganya bisa memulihkan rasa sakit hatinya.


"Vanilla, aku akan berangkat besok," sekali lagi Jane mengulangi ucapannya yang tadi.


"Ya, kapanpun kamu ingin datang padaku, pintu rumahku akan selalu terbuka,"


"Aku pindah ke sana dan akan mencari rumah, tidak mungkin tinggal di rumahmu,"


"Tidak apa sebenarnya. Kamu bisa menjadi baby sitter anak keduaku nanti,"


"Sialan!"


Vanilla terbahak mendengar makian Jane. Kemudian Jane mengatakan ingin mengemasi pakaian yang akan Ia bawa pulang.


"Hati-hati ya,"


"Iya, Van. Terimakasih,"


"Pastikan kamu sudah mendapat izin dari Richard, okay,"

__ADS_1


Hanya terdengar deheman dari sana kemudian panggilan dimatikan. Vanilla mendengkus, sepupunya masih keras kepala. Sepertinya Jane akan tetap ke sini sekalipun suaminya tak memberikan izin.


"Mumu, lama sekali teleponnya,"


Grizelle berseru memanggil Mumunya dari ruang makan, disela kegiatannya mengunyah makanan.


"Nanti tersedak. Makan saja dulu, jangan bicara," tegur ayahnya dengan lembut.


"Mumu lama," Grizelle mencibir.


Vanilla datang bergabung di meja makan. Ia meminta maaf karena lama baru bergabung.


"Jane mau ke sini, Jhi,"


"Oh ya? berlibur? atau bagaimana?"


Biasanya Jane kalau datang ke sini karena memang ingin berlibur saja, sekaligus mengenang masa-masa ketika Ia berada di negara ini.


"Ada masalah dengan Richard," ujar Vanilla pelan pada suaminya yang duduk tepat di samping dirinya.


Jhico memelankan gerak mulutnya yang tengah mengunyah begitu mendengar penuturan sang istri.


"Masalah? sampai harus ke sini? mereka berdua ke sini?"


"Oh untuk menenangkan pikiran ya?"


"Maksudku begitu. Tapi kata Jane, dia mau pindah,"


Jhico terperangah, terlalu kaget mendapat kabar itu tiba-tiba. Selama ini kelihatannya Jane nyaman saja bersama suaminya, di belahan bumi lain. Bahkan bila Vanilla meminta untuk kembali tinggal di sini, Jane menolak, mengatakan ingin selalu bersama suaminya. Saat ini rupanya keputusan perempuan itu berubah.


"Aku sudah katakan padanya untuk bicara baik-baik, dan izin dulu pada Richard sebelum ke sini. Dan untuk masalah pindah, aku katakan padanya kalau itu tidak bisa dia putuskan sendiri, suaminya juga berhak untuk memutuskan,"


Jhico mengangguk pelan. Ia menyetujui perkataan Vanilla. Sehancur apapun hubungan mereka saat ini tapi mereka adalah suami istri. Apapun itu harus dirundingkan berdua.


"Siapa yang mau pindah?" Sekian lama terdiam karena menekuri makan malamnya, akhirnya princess kecil Jhico angkat suara juga. Tidak sekali ia mendengar kata 'pindah' makanya Ia bertanya.


"Aunty Jane. Memang kamu tidak dengar siapa yang kami bicarakan?"


"Dengarrl (dengar) Mumu. Tapi aku tidak paham,"


Vanilla terkekeh menatap anaknya yang makan dengan lahap. Rasa penasarannya tinggi dan ia tidak paham dengan apa yang dibicarakan Mumu dan Pupunya.


"Kenapa Aunty Jane ingin pindah?"

__ADS_1


"Entahlah, mungkin sudah bosan tinggal di sana," sahut Vanilla tanpa mau menjelaskan yang sebenarnya pada Grizelle yang tadi mengaku tidak paham maka ia tak berusaha membuatnya untuk paham karena bukan porsi Grizelle juga untuk mengetahui itu.


"Tapi aku senang kalau Aunty Jane jadi pindah ke sini. Biarrl saudarrla (biar saudara) kita yang dekat berrltambah (bertanbah) ya, Mu,"


"Ya, selama ini kita jarang komunikasi dengan Aunty Jane ya,"


Grizelle mengangguki, jarang sekali sampai terkadang ia lupa kalau punya Aunty yang jauh tinggalnya.


"Jahat tidak kalau aku serrling (sering) lupa punya aunty yang tinggalnya jauh,"


Kedua orangtuanya terkekeh menanggapi. "Tidak, namanya manusia wajar lupa,"kata Pupunya.


"Tapi jangan terlalu sering lupa. Nanti kalau Aunty Jane tahu, woah bisa gawat, Griz"


"Oh iya,Aunty Jane 'kan---"


Grizelle sedikit memajukan kepalanya mendekat pada kedua orangtuanya yang duduk berhadapan dengan dirinya saat ini.


"---galak," Ia mengatakan bahwa Auntynya yang saat ini tengah sedih adalah sosok yang galak.


"Dulu Aunty itu sahabat dekatnya Mumu, Griz,"


"Iya, Pu?"


"Iya, mereka berdua seperti kakak dan adik kandung. Nanti kamu dan Auris juga seperti itu,"


Jhico menceritakan bagaimana kedekatan istrinya dengan Jane yang bahkan sempat menjadi manager Vanilla.


"Iya, benar. Mumu dan Aunty itu dulu dekat sekali sebelum Griz ada. Sampai clubbing bersama, apapun dilakukan bersama,"


"Clubbing itu apa?"


"Eh?"


Vanilla menutup mulutnya kelepasan bicara mengenai itu. Ia melirik suaminya yang menatapnya dan Grizelle bergantian.


"Itu---bermain, maksudnya,"


"Oh bermain barrlbie, boneka, make up ya, Mu?"


Vanilla terkekeh meringis dan Ia juga mengangguk. Lebih baik dibenarkan saja daripada Grizelle banyak pertanyaan nantinya.


Tidak mungkin Ja jelaskan kalau dulu itu, Ia seliar apa, begitupun dengan Jane.

__ADS_1


__ADS_2