
"Menurut dokter, Griz baik-baik saja,"
Jhico menyelesaikan kegiatannya terlebih dahulu yaitu memeriksa Grizelle. Ia melepas stetoskop yang digunakannya untuk memeriksa Grizelle lalu mengembalikan baju Grizelle yang tadi sempat disingkapnya. Kemudian lelaki itu menatap Vanilla dengan perasaan bersalah. Untuk menghilangkan perasaan cemasnya, Vanilla memilih orang lain untuk memeriksa anak mereka.
"Maaf, Nilla."
"Maaf kenapa? kamu tidak salah, Jhi. Kamu ada keperluan, jadi harus aku yang memastikan Griz baik-baik saja,"
"Tadi Papa juga memarahiku,"
Jhico duduk di tepi tempat tidur menatap ke lantai, mengingat kejadian tadi. "Karena aku lebih memilih untuk menghadiri acara pernikahan Destira daripada membawa Griz ke rumah sakit,"
"Tidak masalah. Griz baik-baik saja sudah cukup membuatku tenang dan aku tidak ingin mempermasalahkan apapun. Tapi apakah benar Papa seperti itu padamu?"
"Iya, Papa juga menegur Keyfa dengan tegas,"
"Maksudmu?"
"Keyfa tidak boleh terlalu dekat denganku,"
Vanilla duduk di samping suaminya. Lalu diam menunggu Jhico melanjutkan ucapannya.
"Keyfa menangis dibuatnya,"
"Tapi dengan begitu, artinya Papa mulai sayang dengan Griz. Menurutku, Papa tidak mau kamu mementingkan hal selain Griz. Aku senang mendengarnya,"
"Tapi Papa membuat Keyfa menangis, Nilla. Kasihan Keyfa, sampai dia meminta pulang,"
Vanilla menghembuskan napas pelan. Reaksi mereka berdua terhadap sikap Thanatan berbeda sekali. Jhico tidak suka ketika Thanatan memperlihatkan kasih sayangnya untuk Grizelle dengan cara menegur Keyfa secara tegas agar Keyfa tidak lagi dekat berlebihan dengan Jhico. Sementara Vanilla merasa tersentuh dengan sikap Thanatan yang menegur Jhico ketika lebih memilih datang ke pesta dan Keyfa yang terlalu dekat dengan Jhico.
Artinya Thanatan mulai menyayangi Grizelle dan Ia tunjukkan dengan cara seperti itu agar Grizelle mendapatkan apa yang memang seharusnya Ia dapatkan dari Jhico yaitu kasih sayang dan perhatian.
"Papa sudah keterlaluan menurutku. Keyfa tidak salah, tapi Papa menghakiminya,"
"Ya sudah, maafkan Papa mu,"
Vanilla tidak ingin Jhico larut dalam rasa kesal dengan Thanatan. Biar bagaimanapun, Thanatan memberi tahu hal yang benar pada Jhico, sayang Jhico kurang bisa menerima dengan baik.
******
"Pa, jangan seperti itu lagi pada Keyfa. Jhico tidak akan suka,"
__ADS_1
"Aku tidak peduli dia mau suka atau tidak. Apapun yang menurutku kurang baik, maka aku berhak untuk memperingatkan. Karena aku orangtuanya,"
Thanatan dan Karina sedang dalam perjalanan pulang. Karina terdiam sejak tadi, memikirkan Keyfa dan Jhico setelah Thanatan berbicara pada mereka. Sejujurnya Ia tidak tega dengan Keyfa tapi hati kecilnya juga merasakan apa yang dirasakan Thanatan yaitu gerah melihat kedekatan Keyfa yang bersikap seolah tidak ingin kalah dengan Grizelle.
"Semoga saja setelah diperingatkan olehku, anak itu tidak lagi mengulangi hal yang sama. Boleh dekat, tapi jangan apa-apa selalu ingin dekat dengan Jhico. Sampai datang ke pesta pun dia ingin ikut,"
"Pa, Itu Jhico yang memintanya. Papa jangan salah paham,"
"Tapi Ia juga mau. Ia menerima tawaran Jhico...." nada bicara Thanatan meninggi.
"Aku rasa banyak yang pernah menjadi pasien Jhico dan seusia dengan Keyfa tapi aku tidak pernah melihat yang seperti Keyfa. Aku hanya khawatir saat Grizelle besar nanti. Apa aku salah berpikir untuk ke depan?"
"Tanyakan pada Grizelle langsung, salah atau tidak," lugas Karina yang ingin sekali Thanatan bertemu atau paling tidak berbicara melalui telepon dengan Grizelle, biar sebentar tidak apa. Ia ingin melihat Grizelle bisa dekat dengan Thanatan sama halnya seperti kedekatan antara Grizelle dengan Raihan.
Karina meraih ponselnya yang Ia masukkan ke dalam tas mahal berwarna mocca miliknya.
Thanatan menoleh sekilas pada istrinya karena Ia harus fokus menyetir. "Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Thanatan yang seperti nya tahu bahwa Karina akan menelpon Jhico atau Vanilla dan bisa jadi menyambungkannya pada Grizelle.
Karina memang menelpon anaknya namun tidak dijawab. Jhico sedang berolahraga. Sementara Vanilla menyusui Grizelle.
"Sudah ya, Griz? jangan banyak-banyak, nanti kamu muntah lagi," ucap Vanilla pada anaknya. Vanilla menutup bajunya lalu mengubah posisi Grizelle agar tidak berbaring lagi. Perempuan itu mengusap pelan punggung buah hatinya sembari menunggu Grizelle bersendawa.
Ia menoleh saat ponselnya menyala. Vanilla melirik seseorang yang menelpon. "Kenapa Nenekmu menghubungi Mumu ya, Griz?"
"Bagaimana kondisi Griz? kata Jhico tadi, dia mual dan muntah?"
"Iya, tapi Griz baik-baik saja, Ma. Tadi sudah diperiksa dokter. Ia terlalu kenyang dan perutnya memang sedikit kembung,"
"Oh sudah diperiksa?"
"Iya, aku memanggil dokter untuk datang ke apartemen,"
"Syukurlah Griz baik-baik saja. Sekarang Griz sedang apa?"
"Baru selesai menyusu,"
Karina mengangsurkan ponselnya pada sang suami. Thanatan menggeleng enggan. Karina pikir, barangkali Thanatan mau bicara dengan Vanilla atau Grizelle.
"Mama menghubungi Jhico tapi tidak dijawab. Apa dia kesal dengan Mama juga?"
"Hhmm? oh tidak, Ma. Jhico tidak kesal dengan siapapun. Jhico sedang olahraga,"
__ADS_1
"Sepertinya Dia kesal dengan Papa karena menegur Keyfa. Ia menganggap Papa tidak bisa menjaga perasaan Keyfa. Kamu tahu permasalahan tadi 'kan? Jhico sudah cerita?"
"Sudah, Ma."
"Iya, Papa melakukan itu tentu ada maksudnya, Vanilla."
"Iya, aku tahu, Ma. Terimakasih,"
Vanilla tahu Thanatan dan juga Karina menyayangi anaknya. Oleh sebab itu Ia mengucapkan 'terimakasih'.
"Kalau kamu merasakan hal yang sama seperti Papa, kamu bisa bicara dengan Jhico,"
"Sudah, Ma. Dan reaksinya sama seperti tadi. Dia tidak terima dan pada akhirnya kami berdebat," jawab Vanilla dalam hatinya.
"Baiklah, Mama sudahi telepon nya ya? semoga kalian sehat selalu. Maaf belum bisa datang mengunjungi Griz,"
"Iya, Ma."
Vanilla menghampiri suaminya. Sampai di sana, lelaki itu sedang berlari di atas treadmill.
"Jhi, Mama menelpon tidak kamu jawab. Tidak tahu atau memang tidak mau menjawab?"
"Aku sedang olahraga,"
"Artinya kamu tahu kalau Mama telepon? seharusnya berhenti dulu olahraga nya lalu jawab telepon Mama. Kamu kesal juga dengan Mama? bukankah Mama tidak salah? hanya Papa yang menegur Keyfa tadi,"
"Bukan karena apapun aku tidak menjawab panggilan Mama. Aku sedang olahraga, Nilla."
"Keterlaluan sekali kalau kamu kesal dengan orangtua demi membela orang lain," ucap perempuan itu menekan kata 'orang lain'.
*******
Karina menghela napas lega setelah bicara dengan Vanilla di telepon. Ia sudah tahu kondisi cucunya. Dan sudah tahu juga kalau putranya ternyata sudah sampai di apartemen.
"Dia kesal dengan aku karena menegur Keyfa sampai kamu ikut terbawa juga,"
"Tidak, Jhico tidak kesal dengan siapapun. Dia tidak menjawab telepon ku karena sedang olahraga kata Vanilla tadi,"
"Biasanya sesibuk apapun, kalau kamu yang telepon pasti Jhico jawab. Apalagi belakangan ini kamu dan Jhico semakin dekat, tidak seperti dulu. Berbeda cerita dengan aku,"
******
__ADS_1
Haiii semuanyaaa akyu up lagee niyy. Makasih yaa udh meluangkan waktu untuk baca dan beri dukungan.