
Pukul delapan, Jhico sudah datang menjemput Keyfa di rumahnya. Keyfa sudah menunggu di depan rumah dengan penampilan yang begitu cantik. Ia mengenakan gaun bermotif bunga dan pita di rambutnya membuat anak itu tampak menggemaskan.
Ia sudah bangun sejak pagi-pagi buta. Bahkan Ayah dan Ibunya belum bangun, Keyfa sudah bangun lebih dulu. Ia semangat sekali ingin ikut dengan Jhico ke panti.
Jhico keluar dari mobil dan langsung berjalan cepat ke arah Keyfa. Ia memeluk Keyfa dengan erat dan mengecup puncak kepala anak itu.
"Cantik sekali kamu,"
"Terima kasih, Kakak dokter." ujarnya tersipu malu. Jhico berpamitan pada kedua orangtua Keyfa sebelum mereka berangkat.
"Tidak ingin Ibu temani?" tanya Vivy pada Keyfa. Keyfa langsung menggeleng. "Ada kakak dokter yang menemaniku,"
Vivy terkekeh lalu membiarkan mereka pergi. Jhico dan Keyfa melambai sebelum memasuki mobil.
"Wow sudah diambil kebutuhan pokok nya?"
Keyfa terkejut saat melihat di mobil Jhico sudah dipenuhi dengan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari telur, gula, dan lain-lainnya.
"Sudah, sebelum aku ke sini, aku sudah mengambilnya di toko,"
Jhico sengaja datang ke toko lebih cepat agar lebih cepat juga bertemu dengan Keyfa. Lagipula Ia sudah merasa tenang karena Vanilla berangkat ke kampus sudah sarapan dan membawa bekal makan siang.
"Kakak dokter langsung bekerja nanti?"
"Iya, Keyfa. Aku harus bekerja,"
"Oh okay,"
Selama di perjalanan banyak sekali topik pembicaraan yang mengisi keheningan di dalam mobil. Keyfa menceritakan kehidupannya selama beberapa bulan tidak bertemu dengan Jhico.
"Oh ya, aku sudah memiliki istri, Keyfa. Lain kali kamu harus berkenalan dengannya,"
"Istri?"
"Iya, seperti Ayahmu yang memiliki Ibumu. Aku juga begitu," Jhico menjelaskan, mungkin Keyfa belum terlalu memahami siapa itu istri.
"Oh, dia baik sepertimu, Kakak dokter?"
"Tentu saja, dia juga sangat menyayangi anak kecil," ujar Jhico. Tangannya terangkat untuk mengusap kepala Keyfa dengan pandangan yang masih fokus ke depan.
"Dia cantik? lebih cantik dari aku?"
"Kalian sama-sama cantik,"
Keyfa tiba-tiba saja bersedekap dada. Wajahnya terlipat dan hal itu belum disadari Jhico.
"Aku lebih cantik dari dia. Harus begitu, Kakak dokter."
Jhico terkekeh kecil. Ia diam seraya menunggu waktu yang tepat untuk memberikan jawaban. Setelah lampu lalu lintas menghentikan laju mobilnya, barulah Ia menatap Keyfa.
"Iya, kamu lebih cantik. Tapi menurutku Vanilla juga sangat cantik,"
"Namanya Vanilla? seperti rasa di makanan saja,"
Tawa Jhico meledak. Baru Keyfa yang protes setelah mendengar nama istrinya. Apa yang dikatakan anak itu memang benar. Keyfa berucap dengan raut bingung yang lucu.
"Vanilla identik dengan manis. Istriku memang manis,"
"Aku manis juga tidak? atau pahit?"
"Tidak pahit, kamu juga manis."
"Barangkali saja aku pahit. Karena aku sering mengonsumsi obat,"
Walaupun Keyfa mengatakannya seraya tertawa kecil, tapi Jhico tahu anak itu tengah menceritakan apa yang dia alami selama ini. Akrab dengan obat adalah jalan hidupnya.
"Kamu bisa sembuh. Asalkan jangan nakal. Kalau sudah waktunya periksa, maka periksa. Apapun yang dokter katakan, harus kamu patuhi..."
TIN
TIN
TIN
Jhico terlalu fokus dengan Keyfa sampai tidak menyadari kalau lampu lalu lintas telah berubah warna. Ia segera memegang kemudinya lagi.
"Istriku juga sedang hamil. Kalau anakku sudah lahir, kamu bisa menjadikannya teman bermain nanti,"
"Hamil? berapa bulan?"
"Sudah mau empat bulan sebentar lagi,"
"Kakak dokter tidak sayang lagi dengan aku nanti,"
Wajah Keyfa semakin murung. Bahkan matanya berkaca. Ia tidak siap kehilangan Jhico lagi, cukup beberapa bulan yang lalu saja.
"Kata siapa? kamu adikku, tidak ada seorang kakak yang tidak sayang pada adiknya."
"Jangan pernah tinggalkan aku ya, Kakak dokter."
Jhico sampai kesulitan mengambil oksigen mendengar permintaan anak itu yang begitu menyayat hati. Setiap melihat Keyfa, Jhico semakin bersyukur dengan semua yang telah Tuhan berikan padanya. Ia sehat dan bisa berkegiatan normal sejak kecil. Sementara Keyfa tidak merasakan itu semua.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku menyayangimu,"
****
"Tiga hari lagi kita tunangan, dan bajumu belum siap?"
"Aku bingung memilihnya,"
"Astaga, Jane. Kenapa tidak mengatakannya padaku sejak awal?"
Richard menggeram kesal pada calon istrinya. Richard yang sibuk tiba-tiba saja ditelpon oleh Jane lalu gadis itu minta ditemani ke butik untuk mencari baju yang akan dikenakan saat hari tunangan mereka nanti.
"Jadi kamu enak, tidak perlu pusing. Ada orangtua yang peduli mengurus semuanya. Sementara aku?!"
Jane melampiaskan rasa kesalnya. Richard menjadi pangeran di keluarganya. Begitu tahu Richard akan menikah, orangtua Richard sangat senang. Sementara kedua orangtuanya malah bergeming, tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Malah Rena yang sangat peduli terhadap segala persiapan.
"Tapi Aku tahu Aunty Rena sudah menawarkan diri untuk membantu kamu. Kamu malah mengatakan ingin mencari baju tunangan sendiri. Jadi ini bukan salah orangtuamu atau Aunty Rena!"
Jane dan Richard tidak terlihat sedang berdebat. Mereka bicara masih baik-baik, hanya saja posisinya Jane berada di luar mobil sementara Richard berada di dalamnya.
Vanilla dan Joana yang baru saja pergi ke supermarket untuk membeli makanan, melihat mereka. Joana menghentikan mobil Vanilla di dekat mobil Richard.
Vanilla segera keluar dari mobilnya sementara Joana mematikan mesin mobil. Vanilla mendekati mereka.
"Kamu mau kemana Jane? jam kuliah sudah selesai?"
Biasanya kalau ada Richard di kampus, Jane sudah siap untuk pulang. Tapi aneh saat melihat mereka bicara di area parkir kampus seperti ini, bukannya langsung pulang seperti biasa.
"Sudah,"
"Terus kenapa masih di sini?"
"Lagi berdebat dulu, Van." Sahut Richard membuat Vanilla mengerinyit. "Ada apa sebenarnya?"
"Pakaian dia untuk tunangan belum siap padahal tinggal tiga hari lagi. Dan sesantai itu dia baru mengatakannya padaku. Aku pikir sudah selesai semua. Mamaku sudah katakan, biar beliau saja yang mengurus. Tapi Jane mau khusus bajunya, Ia sendiri yang akan menyiapkannya. Selain menolak tawaran Mamaku, niat baik Aunty Rena pun dia tolak," jelas Richard panjang lebar. Kemudian Ia menyuruh Jane untuk segera masuk mobil.
__ADS_1
"Ayo, kita cari bajunya sekarang. Cari yang sudah jadi, jangan yang belum dijahit karena tidak akan bisa selesai pada hari tunangan,"
"Sinting orang ini," Vanilla mencibir sepupunya yang aneh itu. Dibantu tidak mau, tapi tidak bisa menyelesaikan sendiri. Bagaimana Richard tidak tarik urat?
"Jangan-jangan pakaian pernikahan kalian belum disiapkan juga?" Vanilla bertanya histeris. Wajahnya terlihat lucu, seolah sedang menemukan sesuatu yang horor.
"Mamaku sudah mengurus itu dan sudah siap,"
Mendengar jawaban Richard, Vanilla menghela napas lega. Ia mengusap-usap dadanya tenang.
"Baju wisuda mu sudah ada, Jane?"
"Belum lah! buat tunangan saja belum, bagaimana ceritanya baju---"
"Sudah, baju wisuda sudah."
Richard menatap calon istrinya dengan tajam, terkejut, bingung, dan tak habis pikir. Baju untuk tunangan yang dilaksanakan lebih dulu daripada wisuda belum dipersiapkan. Sementara baju wisuda yang baru akan dilaksanakan menjelang hari pernikahan malah sudah siap.
Vanilla dan Joana meledakkan tawa mereka. Vanilla sampai memijat kepalanya tak habis pikir dengan sepupunya yang stress itu.
"Aku rasa kamu stress ya, Jane? terlalu banyak acara penting jadi lupa mana yang harus didahului, mana yang tidak."
"Selama ini dia terlihat santai ternyata baju tunangannya belum siap," sahut Joana dengan sisa tawanya.
Jane berseru pada mereka berdua agar pergi karena Ia akan menutup pintu mobil. Vanilla dan Joana cepat-cepat menjauh.
"Sumpah, aku tidak menyangka. Aku kira dibalik santainya selama ini, semua persiapan untuknya menikah sudah selesai. Ternyata---"
Vanila tidak bisa melanjutkan ucapannya karena perutnya kembali tergelitik. Joana sampai menepuk bahunya agar wanita hamil itu berhenti tertawa. Vanilla sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena tawanya dan hal itu membuat Joana khawatir.
"Kamu sudah bisa menertawakan orang dengan puas, karena kamu sudah menikah ya? jadi tidak takut lagi kalau kejadian seperti Jane kamu alami juga,"
"Iya, benar."
****
Jhico sempat menemani anak-anak panti bermain bersama dengan Keyfa juga. Jhico tidak henti tersenyum melihat mereka bahagia. Sambutan mereka seperti biasa, sangat hangat terhadapnya dan Keyfa. Mereka sudah merindukan Keyfa yang berbulan-bulan tidak datang menemani Jhico.
Setiap Jhico datang hanya sendiri tidak bersama Keyfa, anak-anak di sana pasti bertanya. Dan Jhico hanya bisa menjawab, "Doakan saja semoga secepatnya aku dan Keyfa bisa datang bersama lagi ke sini,"
"Sebelum pulang, kita foto bersama dulu seperti biasa. Boleh 'kan, dokter?" tanya pengurus panti pada Jhico. Jhico mengangguk seraya menjawab, "Boleh, ayo kita foto."
Semuanya berkumpul. Jhico dan Keyfa berada di tengah-tengah kerumunan penghuni panti. Setelah foto bersama, saatnya Keyfa dan Jhico pulang.
"Hati-hati, dan terima kasih sekali lagi atas semua yang telah kamu berikan, Nak."
Jhico menerima uluran tangan pemilik panti yang sudah berusia senja, lalu Jhico mengecup punggung tangan waniita tua itu. Setiap melihat pemilik panti, Jhico jadi teringat neneknya. Mereka juga sangat dekat karena Jhico adalah salah satu relawan tetap untuk panti tersebut.
Jhico memeluk erat seraya mengucapkan "Sama-sama, Nek. Aku juga berterima kasih. Karena Nenek, aku bisa belajar untuk selalu bersyukur dan saling menghargai,"
"Terima kasih ya, anak cantik. Semangat untuk sembuh,"
Keyfa mengangguk saat diberi pesan seperti itu. Ia tersenyum hangat dan mengharapkan hal yang sama. Ia harus semangat, karena semua anak-anak di sini juga semangat untuk melanjutkan hidup walaupun kesulitan yang mereka hadapi berbeda.
"Kalian sehat-sehat terus ya. Doakan aku juga seperti itu,"
"Pasti, Keyfa. Semangat!"
Keyfa melambai pada teman-temannya. Setelah masuk ke dalam mobil, Ia membuka jendela nya untuk sekedar memberikan salam perpisahan. Jhico dan Keyfa selalu merasa berat untuk meninggalkan tempat yang penuh dengan kehangatan itu.
****
"Padahal kamu hidup berdampingan dengan Lovi dan Aunty Rena yang menjadi perancang busana. Apa sulitnya meminta bantuan pada mereka? sampai sekarang aku masih bingung,"
"Seperti yang dikatakan Vanilla, aku stress sepertinya."
Beruntungnya Richard bertanya mengenai kesiapan busana Jane untuk tunangan nanti. Mungkin kalau tidak ditanya, Jane akan lupa sampai saatnya hari tunangan itu tiba. Rasanya tidak ada calon pengantin seperti dirinya. Melupakan busana untuk acara yang berkaitan dengan pernikahan adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh semua orang. Dan Jane sudah mengalami itu.
Mereka pergi ke butik yang sudah menjadi langganan orangtua Richard. Begitu sampai, Richard langsung minta ditunjukkan gaun terbaik di butik tersebut untuk dikenakan istrinya tiga hari lagi.
Diberi beberapa pilihan. Dan tema acara pertunangan mereka adalah garden party, sama seperti pernikahan nanti.
Warna tuxedo yang akan dipakai Richard adalah silver. Dan begitu melihat gaun berwarna silver ada diantara banyaknya pilihan, maka Richard langsung memilihnya.
"Aku ingin yang ini,"
"Itu warnanya tidak sesuai dengan konsep. Aku berwarna silver, dan ini pastel."
"Tapi aku suka modelnya,"
"Paha kamu kemana-mana. Ngapain suka yang ini? jatuhnya tidak elegan,"
"Oh okay,"
Jane tak bisa lagi melanjutkan perdebatan. Selera dirinya dan Richard memang berbeda. Ia lebih suka memakai yang terbuka, sementara Richard tidak suka melihatnya.
****
"Hallo, Nilla?"
"Iya, ada apa, Jhi?"
"Kenapa menelpon aku tadi?"
"Huh? memang iya? oh mungkin tidak sengaja karena ponselku berada di saku sejak tadi,"
"Hmm begitu. Kamu pulang seperti biasa 'kan?"
"Iya, aku tutup teleponnya ya. Dosen ku sebentar lagi datang,"
"Okay, Nillaku. Semangat ujiannya,"
Vanilla memberikan kecupan dari seberang sana lalu sambungan telepon diputus oleh istrinya itu.
"Kakak dokter menelpon siapa?"
"Istriku,"
"Aku memanggilnya apa ya?"
"Terserah padamu saja."
"Kalau aku panggil kakak manis boleh? kata kakak dokter, dia manis."
Jhico terkekeh tapi tak pelak mengangguk. Panggilannya terdengar lucu dan menggemaskan. Vanilla pasti suka mendengarnya. Semoga mereka bisa segera bertemu.
"Boleh, Vanilla pasti senang mendapatkan panggilan itu dari kamu,"
Mereka kembali diam menikmati perjalanan. Ada alunan lagu yang mengisi kesunyian di dalam mobil. Sebenarnya Jhico jarang sekali menikmati lagu di dalam mobil. Tapi karena Keyfa memintanya, maka Ia tak bisa menolak.
"Kita makan dulu. Setelah itu, aku mengantar kamu ke rumah."
"Aku makan di rumah saja, kakak dokter,"
"Tidak, kita makan bersama sebelum aku mengantar kamu ke rumah. Kamu mau makan dimana?"
"Terserah kakak dokter,"
__ADS_1
"Okay, kita makan di tempat biasa ya."
Keyfa mengangguk, Ia merindukan restoran yang menjadi tempat favorit mereka setiap pergi bersama. Dulu, mereka sering juga menghabiskan waktu akhir pekan untuk bermain. Setelah bermain, pasti akan datang ke restoran itu.
****
"Kamu tahu tidak, kalau orang yang panik itu bisa cepat lapar. Sebenarnya aku sudah mak---"
"Ya, kita makan sekarang. Mau makan dimana?"
Jane tersenyum senang. Kode nya berhasil. Ia tidak mengatakan lapar secara terang-terangan tapi Richard mengerti apa yang Ia butuhkan sekarang, makanan.
"Dimana saja. Terserah kamu, yang penting aku makan."
Richard mengangguk sementara Jane pergi ke kursi tengah untuk mengambil makanan ringan di sana. "Anggap mobil sendiri," kata gadis itu seraya membongkar boks berisi banyak snack yang memang diletakkan Richard di dalam mobil.
Calon istrinya makan, Richard mengangkat telepon dari seseorang. Jane tak mendengar jelas karena Ia sibuk memandangi jalan dan mengunyah.
"Kenapa bisa tertangkap?!"
"Bodoh, aku sudah katakan lewati jalur selatan saja,"
"Tidak bisa, Tuan. Ada banyak penjagaan ketat di sana,"
Richard tengah membicarakan bisnis gelapnya. "Kamu belum juga berhenti?" Jane tiba-tiba saja bertanya seperti itu setelah beberapa saat terdiam. Richard tidak menjawab karena Ia sedang fokus mendengarkan ucapan seseorang di seberang sana.
Pasukannya tertangkap lagi oleh pihak keamanan negara di bagian laut. Padahal sudah secerdik mungkin mencari jalan aman.
"Segera selesaikan semuanya!"
Richard mematikan telepon secara sepihak. Ia menggeram marah. Padahal negara tujuan bisnisnya kali ini dapat memberikan hasil yang menjanjikan.
"Astaga, aku akan menikah dengan penjahat?"
"Kamu tahu semuanya, Jane. Dan tidak akan protes, ingat ucapanmu 'kan?"
"Tapi aku kira kamu sudah tidak lagi---"
"Aku belum bisa berhenti,"
"Sampai kapan? lihat Devan, dia bisa---"
"AKU BELUM BISA! MEMANG KAMU PIKIR MUDAH PERGI DARI DUNIA YANG SELAMA INI MENJADI BAGIAN DARI HIDUPKU?!"
Jane tersentak kaget. Ia menghela napas pelan. Beruntung Ia duduk di kursi tengah, jadi Richard tidak bisa menatapnya langsung bak seorang pembunuh. Richard hanya bisa melakukannya melalui pantulan cermin dan Jane langsung menunduk.
"Kamu kasar lagi padaku,"
"Kamu yang memancing aku. Aku tidak pernah kasar padamu kalau tidak ada sebabnya. Kamu mengusik hidupku, itu yang tidak aku sukai."
Jane menggeleng pelan. Sekejam apapun Richard padanya, Ia tetap mencintai Richard. Bahkan setiap saatnya rasa itu semakin besar.
****
Suasana di restoran yang sederhana itu cukup ramai karena ini waktunya makan siang. Banyak orang datang untuk mengisi perut mereka dan meninggalkan sejenak rutinitas yang membuat penat.
Jhico dan Keyfa duduk di sudut restoran yang berdekatan sekali dengan jendela. Deru angin menjelang musim dingin menyapa wajah mereka.
"Keyfa mau apa? katakan pada waitress,"
Sementara Keyfa mengatakan keinginannya pada pelayan, Jhico menyempatkan diri untuk bertanya mengenai kabar istrinya sekarang.
Nillaku : Aku sudah pulang, Jhi.
Jhico membaca satu pesan yang masuk beberapa menit lalu, dan Ia mengerjap terkejut. Tadi Vanilla mengatakan bahwa Ia akan pulang dengan jadwal seperti biasa.
Jhico : Cepat? bukannya pulang nanti?
Jhico memesan makanan terlebih dahulu, baru kemudian fokus lagi dengan ponselnya.
Nillaku : Aku sudah selesai ujian. Aku tunggu kamu ya. Kamu sudah di jalan menuju kampus 'kan?
Jhico jadi bimbang sekarang. Ia dan Keyfa sudah memesan makanan. Dan Keyfa juga sudah lapar. Ia tidak tega kalau Keyfa sampai tidak jadi makan.
Jhico : Nilla, aku ada keperluan sebentar. Tidak apa 'kan kalau menunggu sedikit lama?
Setelah membaca pesan dari Jhico, Vanilla langsung menelpon suaminya itu. Ia berharap Jhico menjawab panggilannya walaupun katanya Ia ada keperluan.
"Hallo, Nilla. Aku belum bisa ke kampus. Nanti ya,"
"Kapan? jadi aku harus menunggu?"
"Iya, sebentar saja. Aku usahakan cepat ke sana,"
"Hmm okay, aku tunggu. Jangan lama!"
"Minta ditemani Joana sebentar ya, Nilla."
"Tidak bisa, dia ada urusan keluarga."
"Jadi kamu menunggu aku sendirian?"
"Iya, tidak apa. Memang aku anak kecil yang harus selalu ditemani?"
Makanan datang dan Jhico bersyukur karena tidak perlu berlama-lama Ia sudah bisa makan, lalu setelah itu mengantar Keyfa ke rumahnya. Kemudian menjemput sang istri, barulah Ia bisa tenang bekerja.
"Hati-hati ya. Aku tutup teleponnya,"
"Kakak manis yang telepon?"
"Iya, ayo kita makan."
"Suapi aku ya, kakak dokter."
Jhico memenuhi permintaannya. Ia segera meraih makanan milik Keyfa lalu menyuapi anak itu. Ia tidak tenang sebenarnya. Karena membuat Vanilla sengaja menunggu. Jhico terlalu memikirkan istrinya, sampai jarang sekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Hal itu tak luput dari perhatian Keyfa.
"Kenapa hanya aku saja yang makan? kakak dokter tidak,"
"Sebenarnya aku masih kenyang,"
Bukan kenyang, tapi Jhico tidak bisa tenang karena saat ini Vanilla sudah menunggu kedatangannya di kampus untuk menjemput.
"Aku suapi kakak dokter juga ya?"
"Aku keny--"
"Kenapa tidak mau aku suapi?" tanya anak itu dengan raut sedih. Padahal Ia ingin melakukan apa yang dilakukan Jhico terhadapnya, tapi Jhico menolak.
"Okay, Keyfa suapi aku sekarang."
 -----------
Kebanyakan yg komen kemarin maunya anak Nilla dan Jhico itu twins. Emg knp, Guysss? biar samaan kyk double A?😂 kasih alasannya yaaa di kolom komen.
MAMPIR KUYY KE LAPAK DOUBLE A+SINGLE A \= TRIPLE A 👇
__ADS_1