
Raihan sedang mengerjakan proyeknya di sekitar sekolah Grizelle. Kalau ada waktu nanti, Ia ingin sekali singgah diwaktu Grizelle pulang lalu membawanya ke rumah.
Proyeknya sekarang adalah memegang pembangunan sebuah tempat bermain anak yang luas tanahnya mencapai tiga hektar.
Baru kali ini ada yang berani membuat tempat bermain. Lingkungan ini adalah kawasan yang sangat elite. Harga tanahnya tak main-main begitupun dengan izin untuk pembangunannya yang tak mudah. Dekat sekolah memang tepat dibuat tempat bermain. Itu hal yang menguatkan Raihan daripada orang lain yang ingin membangun hotel.
Rencana selanjutnya usai membuat resort, adalah tempat bermain. Ia mulai mencari-cari tempat yang sekiranya tepat saat Ia bingung ingin didirikan dimana. Setelah memerlukan waktu untuk mencari, akhirnya Ia bertemu dengan lahan yang cukup besar tak jauh dari yayasan pendidikan Grizelle berdiri.
Sudah satu tahun pembangunan itu berlangsung, hasilnya mulai terlihat. Bahkan bisa dikatakan sudah jadi hampir sembilan puluh persen.
"Ada tempat belmain (bermain) sedang dibagun dekat sekolahku. Nanti aku belmain (bermain) di sana ya, Pu,"
Belum ada yang tahu bahwa Raihan yang mendirikannya. Rencananya saat pembukaan nanti, Ia akan mengajak Grizelle. Ia ingin tahu bagaimana reaksi cucunya itu.
"Salah satu alasan buat di sini karena ada cucu yang sekolah di sini?"
Raihan tertawa saat salah satu pekerjanya bertanya seperti itu. "Ya, dan kebetulan lokasinya juga tepat,"
"Selain bisa bermain di sekolah, bisa juga datang ke sini,"
Raihan mengangguk, membenarkan. Memang itu tujuannya. Ia ingin menyediakan fasilitas untuk anak-anak di lingkungan itu.
"Ya sudah, aku pergi dulu kalau begitu. Semoga pembangunan berjalan sesuai dengan harapan,"
Raihan selesai melihat perkembangan tempat bermain itu. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya.
"Griz belum pulang," gumamnya.
Akhirnya Ia memilih untuk kembali ke gedung perusahaannya yang megah itu.
Entah jadi atau tidak Ia menjemput Grizelle. Tergantung bagaimana pekerjaannya hari ini, apa bisa Ia selesaikan dengan tepat waktu atau sebaliknya.
*****
Grizelle mengerinyit serius mengerjakan tugasnya kali ini membuat roket kecil dari daya baterai lagi.
"Huh susah juga ya. Dia tidak mau hidup-hidup," gumamnya kesal karena baterainya belum juga berhasil menerbangkan roket kecil yang sudah Ia rangkai.
"Aku bisa,"
Grizelle menoleh pada temannya yang berseru senang. Ia memicing menatap hasil karya temannya itu kemudian menatap miliknya sendiri. Ia mencoba meneliti apa yang sekiranya salah dari buatannya itu.
"Oh, batelai (baterai) nya dimasukkan ke dalam kotak kecil ini,"
Grizelle menepuk keningnya pelan. "Ngapain aku pegang-pegang batelainya?" Ia bertanya pada diri sendiri. Bukannya dimasukkan ke dalam kotak kecil yang sudah dibuatnya, baterai itu malah Ia pegang. Jelas saja roketnya tidak bisa hidup karena baterai seharusnya diletakkan ke dalam tempatnya yang sudah ada komponen untuk membantu penyambungan daya baterai ke roket.
__ADS_1
Setelah memastikan baterai aman di tempatnya, Grizelle mencoba untuk menghidupkan lagi.
Masih belum berhasil. Roket kecilnya belum bisa terbang. "Aduuuh bagaimana ini," Ia mulai geram sendiri. Padahal temannya yang lain pun banyak yang belum berhasil.
Ia mencari kesalahan lain dari roket buatannya. Ia pandang roketnya dengan seksama. Sampai Ia sadar bahwa letak baterai salah. Dengan cepat Ia membetulkan. Ketika Ia coba lagi, roket itu sudah bisa terbang.
"Yeaayy aku juga bisa,"
"Ahh kurang seru ya karena roketnya kecil, bukan roket besar seperti di luar angkasa,"
Grizelle mengangguk. Roket buatan mereka hanya bisa terbang setinggi kurang dari dua meter.
"Nanti kalau sudah besar buat yang seperti itu ya,"
"Iya, Ms. Cita-citaku 'kan ingin membuat roket, pesawat, dan mobil terbang,"
"Mobil tidak bisa telbang (terbang)," sahut Grizelle yang merasa aneh dengan cita-cita temannya.
"Nanti aku yang buat,"
"Semoga telcapai (tercapai) ya,"
"Cita-citamu apa?"
Grizelle menggeleng dengan polosnya. "Aku bingung cita-citaku apa ya?"
"Hmm...yang penting bisa buat Pupu dan Mumu bangga, senang. Sudah, itu saja lah,"
Terkadang Ia ingin menjadi dokter seperti Pupunya, Ia ingin terjun ke dunia entertain sebagai model dan influencer seperti Mumunya, dan terkadang Ia juga ingin menjadi seperti staf pengajarnya yang begitu sabar dan tulus mengajarinya. Sampai sekarang Grizelle belum tahu pastinya Ia ingin jadi apa. Tapi yang sudah pasti, Ia ingin menjadi Grizelle yang bisa membuat Mumu dan Pupunya bangga dan bahagia.
*****
Vanilla penasaran dengan hasil kerja keras suaminya ketika Ia pergi kemarin. Ia ingin melihat kamar anaknya yang sudah ditata ulang oleh Jhico.
"Aku punya teman design interior, nanti aku minta masukan dia supaya kamarnya lebih bagus lagi. Aku juga mau kamar Griz dan kamar kita dirubah. Biar ubah suasana," begitu ucapan Jhico tadi malam.
Saat Ia tiba, Ia ingin langsung melihat kamar anak keduanya, tapi Ia benar-benar kelelahan. Setelah tiba, Ia banyak istirahat.
Boks bayi dipindahkan, almari pun begitu, nakas, dan yang lainnya juga sama.
"Ini sudah bagus. Kenapa harus dirubah lagi sih?"
Vanilla bingung maksud suaminya apa. Menurutnya semua sudah bagus, berubah dari sebelumnya. Karena pindah-pindah posisi, menurutnya kamar itu kelihatan semakin luas.
"Mungkin kurang puas dengan hasilnya sendiri," gumamnya.
__ADS_1
Padahal kelahiran anaknya masih lama sekali. Tapi memang Jhico antusias sekali. Bahkan saat Ia mengandung kedua waktu itu, Jhico langsung mengisi kamar yang memang sengaja dikosongkan itu dengan barang bayi. Belum banyak, baju pun belum ada, tapi Jhico terbilang sudah niat sekali.
*****
"Glandpa, aku mau buaya,"
"Dipelihara dimana?"
"Di lumah Glandpa saja. Jangan di lumahku (rumahku). Nanti mumu malah (marah),"
Raihan jadi menjemput cucunya ke sekolah. Driver yang menjemput Grizelle sudah terlanjur berada di sekolah. Ia yang sudah minta izin pada Jhico, akhirnya langsung mengambil alih kartu identitas sebagai penjemput Grizelle dari driver lalu ditunjukkan pada sekolah setelah wajahnya juga disensor sebagai bentuk antisipasi bila seandainya terjadi sesuatu pada siswa, wajah yang telah disensor itu bisa mudah dicari oleh pihak yang berwajib.
"Nanti Grandpa cari dulu ya,"
"Okay, Glandpa,"
"Akhirnya Grandpa bisa culik kamu ya,"
"Hah? culik? tidak ada yang bisa menculikku. Sekolahku aman!"
"Griz, Grandpa benar-benar akan menculikmu. Apa kamu tidak takut?"
Dengan santai Grizelle menggeleng, tak terpengaruh sama sekali meskipun kakeknya berusaha menakuti.
"Tidak, Glandpa bukan olang (orang) jahat!" katanya.
Raihan kembali tertawa. Polos dan tulus sekali cucunya ini. Selalu menilai orang itu dengan baik.
"Griz..."
"Iya, kenapa, Glandpa?"
"Meskipun kamu bertemu orang yang kamu nilai baik, tapi kamu harus tetap waspada. Sekolah aman juga tidak menjadi jaminan setiap siswa bisa terbebas dari kejahatan," pesannya pada Grizelle. Ia khawatir dengan Grizelle. Terlalu baik dan polos, takutnya dijadikan sebagai kesempatan oleh orang yang sebenarnya Ia anggap baik, namun ternyata sebaliknya.
"Iya, Glandpa. Aku selalu waspada. Mumu dan Pupu juga selalu mengingatkan aku supaya hati-hati. Tapi 'kan kalau sekalang (sekarang) aku dijemputnya dengan Glandpa, tidak mungkin Glandpa jahat sekalipun Glandpa tadi menakutiku,"
"Kalau Grandpa berubah jadi jahat sekarang, bagaimana?"
Interaksi antara Raihan dan cucunya duduk di tengah, beberapa kali mencuri perhatian driver Raihan yang hanya bisa menyaksikan dari kaca di depannya. Mereka berdua akrab sekali dan hangat. Ia jadi kagum dengan Raihan yang begitu bijaksana, tegas, dan dingin dengan orang lain tapi dengan cucunya sendiri bisa sehangat ini.
Raihan memasang raut menakutkan malah mengundang tawa geli Grizelle. Raihan menggelitiki anak itu hingga tawanya semakin pecah.
"Kamu bukannya takut malah tertawa ya,"
"Klena (karena) Glandpa bukan olang (orang) jahat jadi aku tidak mungkin takut,"
__ADS_1
-----
Holaaa selamat pagi. Udh pd bangun? Yok semangat yok. Semangat beraktivitas untuk kalian semua. Sehat-sehat yaa😊