Nillaku

Nillaku
Nillaku 151


__ADS_3

Grizelle lama-lama terlelap menemani Pupu nya makan. Sembari makan, Jhico berbincang dengan Vanilla. Hingga akhirnya Grizelle tidur tanpa kedua orangtuanya sadari.


"Aku mau bekerja boleh tidak?"


"Hmm? kita sudah pernah bahas ini sebelumnya. Kamu akan bekerja kalau Griz sudah sedikit besar paling tidak sampai Grizelle bisa mengonsumsi makanan selain susu dari kamu,"


"Tapi Grizelle pintar. Dia tidak rewel kalau aku tinggal. Aku tetap bisa mmenuhi semua kebutuhannya meskipun aku bekerja,"


Jhico memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada siapapun selain mereka bertiga di ruang makan.


"Kenapa kamu bekerja? apa karena kondisiku sekarang begini?"


"Aku hanya ingin bekerja,"


Jhico menghela napas pelan. Ia yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan Vanilla. Istrinya itu tidak ingin jujur ketika Ia mengatakan kenapa mau bekerja. padahal sebelum Grizelle lahir semua itu sudah dibahas. Ia tidak ingin Vanilla bekerja ketika anaknya masih sangat kecil.


"Kita bicarakan di kamar ya," ujar Jhico yang merasa kamar adalah tempat terbaik untuk membahas sesuatu yang sifatnya pribadi dalam rumah tangganya.


Jhico menatap Grizelle yang nyaman dalam balutan tangan Vanilla. Ia menunjuk Grizelle dengan dagunya untuk memberi tahu anaknya sudah tidur.


"Grizelle malah tidur saat kita bicara. Bawa Grizelle ke kamar. Nanti aku menyusul,"


Vanilla mengangguk patuh. Ia segera membawa anaknya ke kamar lalu membaringkannya di ranjang. Meski Grizelle sudah ada tempat tidur khusus untuknya, tapi tetap saja Grizelle tidur bersama dengan kedua orangtuanya.


Pada akhirnya Jhico menghabiskan burger nya sendiri. Karena Vanilla tidak mau diajak makan berdua. Dia mengatakan perutnya sudah penuh.


Setelah selesai, Jhico membawa piring dan gelas nya ke sink kitchen lalu membasuhnya sendiri. Setelah itu, Ia beranjak ke kamarnya.


Vanilla sudah berbaring dan hampir terlelap saat suaminya masuk ke kamar. "Nilla..." panggil Jhico yang membuat Vanilla segera menatapnya.


"Kamu ingin bekerja karena kondisiku seperti ini?"


Vanilla segera duduk. Ia harus bicara secepatnya mengenai rencananya untuk bekerja.


"Aku masih bisa mencukupi kehidupanmu dan Grizelle. Kamu jangan pikirkan ekonomi keluarga kecil kita,"


"Iya, aku tahu kamu masih memiliki penghasilan. Tapi aku ingin bekerja,"


"Kenapa?"

__ADS_1


Vanilla sebenarnya sungkan untuk mengatakan tujuan Ia bekerja karena Ia mulai khawatir pemasukan suaminya pada bulan ini berkurang sebab Jhico tidak turun langsung ke klinik. Otomatis penghasilan dari klinik hampir seluruhnya untuk orang-orang yang telah bekerja keras di klinik selama Jhico tidak ada. Meskipun itu klinik Jhico, tapi Jhico tidak mungkin memberikan penghasilan untuk mereka seperti biasanya karena kerja keras mereka lebih besar dari sebelumnya saat Jhico bekerja.


"Klinikmu saja hanya ada satu dokter. Mungkin karena itu, kualitas pelayan bisa berkurang dan tidak menutup kemungkinan pemasukan klinik berkurang. Sementara kamu harus tetap mengeluarkan penghasilan klinik untuk semua pegawaimu. Mereka bekerja dua kali lipat setelah tidak ada kamu. Tentunya jumlah yang mereka terima harus lebih besar---"


"Iya, aku tahu. Oh iya aku lupa memberi tahumu, klinik sudah ada dokter baru. Semoga saja kualitas pelayanan tidak menurun,"


"Tapi aku tetap ingin bekerja. Boleh ya?"


"Nilla, aku tidak mau kamu kelelahan. Kamu harus mengurus Grizelle, lalu bekerja. Aku tidak bisa membayangkan akan sebesar apa lelah yang kamu rasakan,


"Aku strong woman. Kamu tidak perlu khawatir,"


"Jangan, untuk saat ini jangan dulu. Percaya padaku, aku bisa memulihkan ekonomi kita. Tabungan kita terkuras karena biaya pengobatanku. Dan sampai satu atau dua bulan ke depan, uang kita masih akan terus keluar untuk pemulihan cedera yang aku alami. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin Tuhan selalu memberi jalan untuk aku memenuhi kebutuhan kita,"


"Itulah sebabnya aku ingin membantu kamu. Aku tahu kamu pusing memikirkan keadaan ekonomi kita. Kamu pun harus memikirkan cedera yang kamu alami,"


"Tidak, aku tidak pusing. Keadaan ekonomi kita sebenarnya baik-baik saja. Kita hanya perlu waktu untuk mengembalikannya seperti semula..."


"Kamu tidak usah khawatir dengan keuangan kita. Meskipun aku lumayan menghabiskan uang untuk berobat, tapi tabunganku masih ada untuk kehidupan kita,"


"Jangan lupakan semua pegawai mu, Jhi."


Jhico mengusap lengan Vanilla yang kini melamun. Lelaki itu juga menyematkan kecupan di kening pujaan hatinya.


"Sudah, jangan berpikir untuk bekerja saat ini karena Griz masih sangat-sangat membutuhkan kamu setiap waktu,"


"Jhi, aku ingin sekali membantu kamu,"


"Apa yang harus dibantu, Nilla sayangku? aku tidak merasa kesulitan sama sekali untuk saat ini. Kalau aku butuh bantuan, tentu kamu adalah orang pertama yang aku cari,"


Jhico memeluk istrinya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi di seluruh bagian wajah istrinya.


"Grizelle tidur. Kamu belum mau tidur 'kan?"


"Hah? aku--"


"Griz memberikan waktu untuk kita berdua,


"Waktu untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk ini,"


Cup


Jhico mengecup bibir manis istrinya yang suka selali bicara polos lalu menarik lengan istrinya agar berdiri. Tangannya memeluk pinggang Vanilla.


"Kamu yakin?" tanya Vanilla setelah suaminya memberi jarak diantara keduanya.


"Iya, sudah hampir dua bulan lebih tubuh kita tidak saling menyapa, Nilla."


Jhico membaringkan Vanilla di ranjang lalu mematikan lampu tidur. "Lebih baik Griz di letakkan dalam boks nya,"


"Jangan, nanti dia bangun dan menangis mencari aku," cegah Vanilla saat suaminya akan mengangkat Grizelle dari ranjang.


"Sebelum dia menangis kamu langsung menghampirinya, Nilla."


"Kalau kamu sedang melakukan itu bagaimana?"


"Tidak apa, anak lebih penting daripada---"


Jhico mendekatkan bibirnya ke telinga Vanilla lalu berbisik pelan, "Nafsu."


Vanilla merinding setelah deru napas Jhico terasa di sekitar leher dan telinga nya. Jhico langsung menggendong anaknya dengan hati-hati lalu meletakkannya di dalam boks tempat tidur nya yang jarang sekali dipakai bahkan sepertinya belum pernah dipakai karena sejak Grizelle lahir, Vanilla tidak pernah membiarkan anaknya tidur sendiri di boks nya sebab usianya juga masih terlalu kecil.


Bayi itu membiarkan kedua orangtuanya merajut kasih malam ini. Jhico dan Vanilla memang tidak melakukan kontak fisik yang sangat intim sejak Vanilla melahirkan buah hati mereka karena Jhico mengerti istrinya perlu jeda setelah bertaruh nyawa demi anak mereka.


Deru angin dari pendingin ruangan menyeimbangi api gairah yang sedang membakar keduanya. Detak jarum jam menjadi musik yang menghantarkan keduanya pada puncak.


Jhico melakukannya dengan begitu tenang sekalipun seluruh tubuhnya memanas karena sangat mendambakan Vanilla. Cedera yang dialami seolah sudah sembuh setelah disajikan keindahan istrinya. Keduanya sama-sama aktif namun pandai mengendalikan diri karena tahu bahwa semua yang terjadi sekarang harus menjadi bagian dari memori mereka.


Setiap sentuhan yang diberikan Jhico berhasil membuat Vanilla lupa dengan rasa kantuknya. Sama halnya dengan Jhico yang dalam sekejap lupa dengan semua cedera yang Ia alami.


 


Hallo para Aunty dedeq Icell. Maap yak aku cut coz aku tak pandai untk buat adegan yg terlalu maniezzz😂😂 kelean bayangin kemanisan dan keuwuan itu sendiri aj yaakk wkwk.


ADDICTED UDAH UP YAAAA. KLIK PROFIL AKU DAN SILAHKAN MAMPIR DI LAPAK-LAPAK YG AKU BUAT


__ADS_1


__ADS_2