Nillaku

Nillaku
Nillaku 318 Devan membuat Jhico dan Vanilla tak berkutik


__ADS_3

Vanilla terbangun pukul empat pagi. Ia meregangkan seluruh ototnya yang terasa kaku usai berkelana dengan suaminya sampai pukul tiga.


Ia terbangun karena tiba-tiba anaknya hadir dalam mimpi. Bukan mimpi buruk tapi berhasil membuatnya terjaga.


"Ah aku harus segera mandi lalu pulang ke rumah untuk mengambil pakaian sekolah Griz, setelah itu ke rumah Devan," pikirnya tanpa basa-basi lagi beranjak meninggalkan tempat tidur. Kenyamanan yang ditawarkan hotel itu sangat luar biasa tapi entah mengapa Ia tak bisa begitu menikmatinya mungkin karena tidak bersama Grizelle.


Inginnya Ia cepat-cepat pagi dan ke rumah kakaknya untuk bertemu sang putri yang masih dua malam lagi tak tidur di rumahnya.


*****


"Huh, Mumu kenapa lama datangnya ya?"


Grizelle sudah tak sabar juga bertemu dengan Mumunya. Tapi sampai Ia selesai mandi, Vanilla belum juga tiba di kediaman Uncle dan Aunty nya.


"Mungkin sebentar lagi, Icelle. Sabar,"


Auristella tengah bercermin. Ia sudah siap dengan pakaian sekolahnya.


"Ayo, kita sarapan,"


Grizelle mengangguk dan mengikuti langkah Auristella menuju ruang makan.


Sekarang belum tepat jam enam pagi. Grizelle dan Auristella sudah mandi hanya Grizelle yang belum siap dengan pakaian sekolah.


"Hallo, Sayang. Selamat pagi," Lovi tengah menyajikan sarapan dan Ia menyapa dua gadis kecil yang belum tiba di meja makan tapi harum khas anak-anak sudah menguar sampai pada indera penciumannya.


"Pagi, Mommy,"


"Pagi, Aunty,"


"Icelle belum pakai baju sekolah?"


"Tidak dibawakan oleh Mumu. Nanti diantarrl (diantar) kata Mumu,"


"Oh iya, Aunty lupa. Ayo, duduk. Biar Aunty panggilkan Uncle dan dua kakakmu yang lain,"


Lovi mempersilahkan Grizelle dan Auristella untuk duduk sementara Ia beranjak menuju kamarnya dan kedua putranya yang belum selesai juga bersiap.


Ia menghampiri kamar Adrian terlebih dahulu. Ia menemukan anaknya itu baru keluar dari kamar mandi.


"Kenapa belum ke meja makan? ayo sarapan,"


"Perutku mulas, Mom,"


"Oh, sekarang sudah lega?" tanya Lovi dengan senyum jahilnya. Ia terkekeh saat Adrian menepuk pelan perutnya dan menjawab, "Sudah, Mom. Lega sekali."


"Ya sudah, ayo kita sarapan,"


Setelah itu Ia ke kamar milik Andrean bertepatan dengan keluarnya anak itu.


"Mommy kira habis mandi ketiduran,"


"Tidak mungkin, Mom," jawab Andrean. Ia dibangunkan oleh Mommynya dan langsung bergegas ke kamar mandi tadi dan tidak mungkin berbaring lagi.

__ADS_1


Setelah kedua anaknya keluar dari kamar menuju ruang makan, Ia menghampiri suaminya yang belum juga keluar dari kamar.


"Awas saja kalau kamu ternyata tidur lagi setelah aku bangunkan, Devan," batinnya bersiap akan meledakkan kekesalan bila sampai hal itu benar terjadi.


Tapi syukurnya begitu Ia memasuki kamar, Ia tak melihat Devan yang masih di atas ranjang. Dari kamar mandi juga tak ada suara. Maka Ia pastikan suaminya di walk in closet.


Ia beranjak ke sana dan Ia melihat suaminya tengah mengenakan dasi di depan cermin. Rambut dan pakaiannya sudah rapi dan Ia terlihat sempurna, seperti biasa.


"Sayang, ayo sarapan,"


"Huh menghangat hatiku pagi ini dipanggil sayang olehmu," sahut Devan seraya menoleh padanya dan mengerlingkan matanya.


"Padahal sudah sering aku panggil begitu,"


"Ah tidak, Lov,"


Usai mengenakan dasi, tangan Devan menarik pinggang ramping istrinya yang tengah melipat kerah kemejanya.


"Sudah, sekarang kita sarapan ya,"


"Okay, Tuan putri,"


Saat Lovi akan melangkah menjauh, tangan Devan menahan pinggangnya lagi.


"Kenapa?" tanya Lovi pada suaminya.


"Pasangkan jam tangan ku," jawab Devan seraya menyerahkan arlojinya pada sang istri agar segera dilingkarkan pada pergelangan tangannya.


"Hah manja,"


Devan tersenyum menatap istrinya yang tengah menunduk memasangkan benda dengan mesin waktu itu di tangannya.


"Sudah, apalagi, Tuan?"


Devan terkekeh mendengar sebutan dari istrinya. Ia menggeleng kemudian membawa tangan sang istri ke dalam genggamannya. Dan mereka berjalan menuju ruang makan.


Tapi sebelum itu, Lovi mengambil tas kerja milik suaminya dulu yang sudah tergeletak di ranjang usai diambil lelaki itu dari ruang kerja setelah berpakaian tadi.


"Selamat pagi. Dua putri cantik dan dua putra tampan," Devan menyapa keempat anak kecil yang sudah duduk dengan tenang berhadapan dengan sarapan.


"Kenapa belum makan?"


"Tunggu Daddy,"


"Makan lebih dulu juga tak apa,"


"Lebih nikmat kalau berrlsama (bersama)-sama, Uncle,"


"Okay, maafkan Uncle kalau lama ya?"


"Iya, lama sekali, Dad. Aku sudah lapar sekali ini,"


Devan melirik anak yang bicara seperti itu siapa lagi kalau bukan Adrian?

__ADS_1


"Daddy tidak meminta agar ditunggu olehmu, Ian,"


"Ya, tapi aku ingin makan dengan Daddy,"


"Ya sudah ayo makan. Jangan bicara lagi,"


Adrian membungkam bibirnya dan itu membuat Grizelle menahan tawa. Wajah Adrian lucu kalau sudah dititah ayahnya seperti itu.


"Hai, aku datang,"


Mereka yang sedang menekuri sarapan, menoleh bersamaan ke sumber suara yang tak lain adalah Vanilla. Wanita dengan perut yang mulai membesar itu tampak menjinjing satu goodie bag yang diyakini Grizelle adalah pakaian sekolah dan beberapa buku yang belum Grizelle bawa untuk sekolah.


"Mumu,"


"Sayang,"


Vanilla berjalan cepat menuju anaknya dan memberikan ciuman di dahi dan kedua pipinya terakhir di dagunya.


"Ayo sarapan, Vanilla,"


"Iya, Lovi. Kebetulan aku memang belum sarapan. Habis dari hotel langsung ke sini,"


Jhico nampak hadir juga di tengah mereka. Jhico pun melakukan hal yang sama pada putrinya. Ia mencium Grizelle yang langsung merangkul lehernya ketika Ia menunduk dan memberi ciuman.


Vanilla dan Jhico diminta duduk oleh Lovi. Mereka diajak Lovi untuk sarapan bersama.


"Hotel?" tanya Devan masih belum paham dengan ucapan adiknya.


"Iya, semalam aku dan Jhico menginap di sana,"


Devan tampak melipat bibirnya ke dalam dan menganggukkan kepalanya sementara Lovi tersenyum menatap Vanilla.


"Kenapa ke hotel? bukankah di rumah juga bisa? tidak ada Griz justru lebih aman 'kan?"


Vanilla dan Jhico sontak menatap Devan yang mengatakan itu dengan santai seraya mengunyah makanan.


"Jangan bicara begitu, Devan," Jhico mencibir kakak dari istrinya itu. Devan membuatnya sedikit kalang kabut pagi ini karena ketahuan menggunakan kesempatan untuk bermalam di hotel dengan istrinya. Lagipula Istrinya juga salah. Kenapa harus terlalu jujur?


"Tidak apa sebenarnya. Aku paham, pasti ingin suasana yang baru ya? ah mungkin biar sama seperti ketika honeymoon. Iya 'kan?"


Devan benar-benar berhasil membuat sepasang suami istri itu tersipu malu.


"Siap-siap hadir yang ketiga. Tapi yang kedua saja belum lahir," lanjut Devan yang masih belum puas membuat adik dan suaminya kehabisan kata untuk membalas kejahilannya pagi ini yang membahas persoalan bermalam di hotel ketika Grizelle tidak menginap di rumah.


"Tidak apa, lanjutkan-lanjutkan. Selagi ada kesempatan. Nanti malam masih di hotel 'kan?"


Lovi mengguncang lengan suaminya dengan siku mengisyaratkan agar suaminya berhenti menggoda sepasang suami istri itu karena mereka sudah terlihat pasrah sekali dibuat oleh Devan.


"Daddy sedang bicara apa sih? aku tidak mengerti,"


Devan mengangkat alisnya menatap Auristella yang bertanya polos. Lupa bahwa kini tak hanya mereka berempat saja yang ada di meja makan melainkan ada empat orang lagi yang usianya masih kecil. Beruntung masih kecil jadi tidak akan paham.


"Daddy tadi suruh aku diam. Sekarang malah bicara terus. Tidak jelas juga apa yang dibicarakan. Aku tidak paham," kata Adrian mengingatkan Devan yang sebelumnya meminta Ia untuk tak bicara tapi rupanya Ia sendiri bicara panjang lebar sejak tadi tapi sayangnya Ia tak memahami apapun.

__ADS_1


"Makan saja dulu, Dad. Bicara tidak jelasnya nanti saja,"


Vanilla menjulurkan lidahnya ke arah Devan saat ketiga keponakannya berhasil membuat Devan bungkam. Tak hanya Adrian dan Auristella, bahkan Andrean pun tanpa sengaja telah mengeluarkan Ia dari situasi canggung tadi. Andrean meminta ayahnya untuk makan dengan tenang tanpa bicara yang Ia tak pahami apa maksudnya.


__ADS_2