
Sebenarnya membuat Grizelle bahagia adalah hal yang mudah. Diajak ke kedai ice cream saja sedih yang sebelumnya Ia rasakan langsung hilang. Sama halnya dengan Adrian, kakak sepupunya, Grizelle sangat menyukai ice cream sampai pernah Ia meminta Vanilla untuk membuat ice cream namun Vanilla belum bisa memenuhi keinginan nya itu, malah Vanilla membeli banyak ice cream sebagai stok di rumah. Padahal Grizelle ingin ice cream buatan Mumu nya.
Jhico menggenggam tangan putrinya memasuki kedai ice cream. Raut wajah Grizelle perlahan kembali berwarna, begitu Jhico mengajaknya pergi ke kedai ice cream yang menjadi salah satu tempat favorit Grizelle selama ini.
"Griz ingin varian apa?"
"Hmm seperti biasa, Green tea, Pu."
"Yang lain?"
"Hmm..."
Grizelle melihat-lihat menu ice cream. Berhubung Ia belum bisa lancar membaca, akhirnya Ia mengandalkan gambar yang tertera.
"Ini anggur atau blueberry, Pu? warna nya sama-sama purple tapi tidak ada gambar buah nya,"
"Ini tulisannya Blueberry, Sayang."
"Okay, aku mau ini juga,"
"Apa lagi? sudah?"
"Pupu tumben membolehkan aku minum ice cream banyak-banyak," celotehnya yang mengundang tawa kecil Jhico. Jhico yang terbiasa menyingkirkan makanan atau minuman yang sekiranya kurang baik untuk dikonsumsi apalagi dalam jumlah yang berlebihan, saat ini malah menawarkan ice cream lagi pada Grizelle padahal sudah dua varian yang Grizelle pesan.
"Khusus hari ini saja, agar Griz tidak sed---"
"Aku tidak sedih. Pupu jangan bicara begitu terus,"
"Iya, maaf."
Grizelle tidak ingin orang lain mengatakan bahwa Ia sedih walaupun seperti itu kenyataan nya. Ia menyangkal bahkan sejak masih di rumah kakeknya tadi.
Ice cream yang mereka pesan datang. Grizelle langsung menyantapnya. "Hmmm lezat, dingin."
"Namanya juga ice cream, Griz. Pasti dingin,"
Drrtt
Drrtt
Grizelle meraih ponsel Pupu nya dengan cepat. Ia berusaha membaca nama orang yang menelpon Jhico.
"Ke---Key--ini apa sih? sebentar, Pu."
Jhico mengangguk pasrah karena ponselnya ditahan oleh sang putri. Ia yakin bukan telepon penting, oleh sebab itu Ia tidak masalah sekalipun anaknya sedang menggunakan ponselnya untuk belajar membaca.
"Key-aa. Eh salah, Key---Fa. Iya, Ini Keyfa bukan, Pu?"
Grizelle menyerahkan ponsel pada pemiliknya. Jhico membaca sekilas. Kemudian mengangguk. "Iya benar,"
"Yeayyy aku bisa baca nama Keyfa,"
Jhico terkekeh kemudian Ia mengacak pelan rambut putrinya. Melihat Grizelle senang seperti ini, Jhico seperti melihat tujuan hidupnya.
__ADS_1
Membuat Grizelle dan Vanilla bahagia, adalah tujuan hidup lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu. Menurutnya, semua sudah berhasil Ia wujudkan, tapi untuk satu hal itu, Jhico akan selalu berusaha mewujudkannya. Ia tidak pernah merasa puas membuat keluarga kecilnya bahagia.
"Hallo, Keyfa. Ada apa?"
"Kakak dokter, aku baru selesai control. Sekarang aku akan pergi ke wahana bermain. Grizelle tidak ingin ikut denganku? dimana Grizelle? apa kakak dokter sekarang di klinik?"
"Tidak, aku sedang bersama Grizelle di kedai ice cream,"
"Woahhh selamat menikmati ice cream kalau begitu. Maaf, aku mengganggu,"
"Kamu tidak mengganggu, Keyfa. Selamat bersenang-senang untukmu. Tetap jaga kesehatan, jangan lupa patuhi apa kata dokter agar kamu cepat sembuh,"
"Okay, Bye, Kakak dokter."
Jhico melihat anaknya yang fokus memperhatikan Ia bicara dengan Keyfa. Selesai bicara, Grizelle kembali melahap salah satu ice cream favorit nya, Green tea.
"Kenapa suka green tea, Griz?"
"Hmm? kenapa Pupu bertanya seperti itu?"
"Hanya bertanya, tidak dijawab juga tidak apa,"
"Aku suka Green tea karena Mumu juga suka,"
"Jadi karena Mumu?"
"Iya, tidak. Eh hmm bisa jadi,"
Grizelle yang ragu dengan jawabannya membuat Jhico tersenyum. Apa yang disukai Vanilla bisa dibilang menurun juga ke Grizelle. Memang tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu.
Vanilla memasuki rumahnya setelah langit gelap. Ia pikir suami dan anaknya sudah pulang, ternyata begitu Ia masuk ke dalam kamar, Ia tidak menemukan keberadaan mereka.
Vanilla bertanya pada Bibi yang sedang berbincang dengan perawat Grizelle. "Griz dan Pupu nya belum pulang?"
"Belum, Vanilla. Mungkin sebentar lagi. Kamu darimana tadi?"
"Hmm aku ke kamar lagi ya, Bi. Mau mandi dulu,"
Vanilla malas untuk cerita. Ia memilih untuk menghindar. Ia sudah mendapat jawaban bahwa sang suami dan anaknya memang belum pulang sejak kepergian mereka ke rumah Thanatan tadi, usai Jhico bekerja.
"Mereka seperti menghukum ku. Aku dibuat kesepian," gumam perempuan yang sedang merendam dirinya di dalam bathup.
Baru kali ini Ia merasa suami dan anaknya tega. Apa mereka memang benar-benar marah hanya karena ia tidak memenuhi keinginan anaknya untuk pergi ke rumah Thanatan?
Biasanya kalau mereka pergi berdua, Vanilla tidak nelangsa seperti ini. Justru senang karena tidak setiap hari Grizelle bisa quality time dengan ayahnya yang bekerja sebagai dokter itu. Sekarang Ia merasa sedih mungkin karena sebelumnya Jhico sempat menegurnya tegas, seolah marah pada dirinya. Ditambah lagi Ia merasa bersalah telah membuat Grizelle sedih karena merasa dihalangi untuk bertemu dengan kakeknya.
Vanilla duduk tegap setelah sebelumnya Ia menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air. Merasa kesulitan bernapas, akhirnya Ia mengangkat kepala dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
Hidung dan matanya terasa perih karena dimasuki air terlalu banyak. Vanilla menghalau rambutnya yang menutupi mata.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Vanilla berdiri untuk membuka pintu kamar mandi. Sebelumnya, Ia mengenakan bathrobe terlebih dahulu.
"Nilla, ini aku. Buka pintunya,"
Sebenarnya Vanilla juga tahu siapa yang mengetuk pintu. Pasti suaminya atau anaknya. Karena tidak mungkin Bibi atau Nada, pengasuh Grizelle. Untuk apa mereka mengganggu aktifitas Vanilla di kamar mandi.
"Nilla--"
"Iya, sebentar."
Jarak pintu dengan bathup seberapa jauh sebenarnya? Kenapa Vanilla merasa sangat jauh sampai lama sekali tiba di dekat pintu. Apa karena langkahnya yang sangat pelan. Vanilla memang hampir limbung ke lantai karena Ia merasa pusing ketika tiba-tiba saja berdiri.
Cklek
Jhico memperhatikan istrinya dari bawah sampai atas. "Mandi? baru sekarang?"
"Iya, aku baru pulang,"
"Darimana?"
"Coffee shop,"
"Baru pulang?"
"Iya, tadi aku terlalu nyaman di sana. Begitu sampai di rumah, aku kira kamu dan Griz sudah pulang. Ternyata belum, beruntung aku lama di coffee shop, jadi aku tidak terlalu lama kebosanan menunggu kalian,"
"Keluar dulu, aku ingin buang air kecil," ujar Jhico pada istrinya. Vanilla segera mengangguk dan melangkah keluar dari kamar mandi.
Vanilla mengenakan pakaian lalu menghampiri anaknya di kamar. Ia melihat Grizelle tengah berganti pakaian dibantu Nada.
"Griz tidak mandi dulu?"
"Tidak, Mu. Sekarang sudah malam,"
"Oh iya,"
Vanilla mendekati anaknya. Ia yang turun tangan membantu Grizelle. Mulai dari memakaikan celana stelan baju tidurnya sampai melepas ikatan rambut anaknya yang asal-asalan, Vanilla tebak itu karena suaminya yang memang tidak pernah bisa mengikat rambut putri mereka. Nada sudah pergi dari kamar Grizelle, atas permintaan Vanilla yang memberinya isyarat dengan mata.
"Pasti Pupu yang mengikat rambutmu ya?"
"Iya, tadi kami ke kedai ice cream. Dan saat aku minum ice cream, rambutku mengganggu. Jadi diikat oleh Pupu,"
"Tapi berantakan, hasil yang buruk,"
"Iya, Pupu tidak sehebat Mumu kalau masalah itu,"
------
Grizelle adalah aku wktu kecil yg gk prnh rapih rambutnya kl diiketin sama Papa😂ada yg sama kek aku dan icelle?
ADDICTED UP👇
__ADS_1