Nillaku

Nillaku
Nillaku 157


__ADS_3

"Kapan kamu mulai melanjutkan kuliah?"


"Satu bulan lagi, Devan."


"Berarti libur tiga bulan ya?"


"Iya,"


"Belajar semakin giat! sudah punya anak harus tambah baik lagi dalam segala hal,"


"Tapi jujur setelah punya anak aku malah berkeinginan untuk berhenti kuliah saja. Karena aku merasa otakku tidak kuat lagi. Mungkin sudah banyak yang dipikirkan, dan pendidikan sudah menjadi nomor sekian,"


Disamping otaknya yang sudah sulit diajak kompromi, Vanilla juga ingin sekali memangkas pengeluaran salah satunya dengan berhenti kuliah. Tapi Vanilla ingin hanya Ia saja yang tahu alasan itu.


"Jangan begitu lah. Semua bisa kamu lakukan secara beriringan. Mengurus anak sembari kuliah pasti bisa kamu lakukan. Lovi saja sudah mulai melanjutkan pendidikannya lagi,"


"Oh benarkah, Lovi?"


Lovi mengangguk, membenarkan ucapan suaminya. Ia lupa tepatnya kapan, yang jelas Ia sudah mulai melanjutkan pendidikannya karena pendidikan tinggi perlu menurutnya meskipun Ia perempuan. Karena biar bagaimanapun seorang perempuan adalah guru pertama untuk anak-anaknya.


"Aku rasa Jhico pun tidak setuju kalau kamu tidak mau melanjutkan kuliah,"


"Pasti, dia pasti tidak setuju,"


"Ya sudah, kenapa masih berpikir untuk tidak melanjutkan pendidikan? suamimu sudah mendukung, keluarga juga,"


"Karena otakku semakin hari semakin beku rasanya,"


Devan berdecak lalu mengetuk kening adiknya. "Supaya tidak beku lagi," ujarnya membuat Vanilla berdecak kesal dan Lovi terlekeh pelan.


*******


Karena Adrian sudah membuatnya melepas baju dan Ia tetap memaksa agar Jhico ikut renang bersamanya, akhirnya Jhico turun juga ke kolam renang.


Keduanya berenang sampai hampir satu jam. Itupun masih kurang lama untuk Adrian.


"Jangan terlalu lama. Kamu akan pulang. Mungkin Mommy dan Daddy mu sudah sampai di apartemen,"


"Aku berenang nya lama supaya tidak pulang, Uncle."


"Nanti pasti disusul ke sini,"


"Huh, ya sudah lah. Aku naik kalau begitu,"


Sebelum benar-benar meninggalkan kolam, Ia berenang satu kali lagi dari satu sudut ke sudut lain. Setelahnya barulah Ia naik ke tepi kolam renang. Jhico pun melakukan hal serupa.

__ADS_1


Jhico memberikan handuk yang Ia bawa pada Adrian. Tapi Adrian menolak.


"Handuknya buat Uncle saja. Harus mengutamakan orang yang lebih tua,"


"Haishh bawa-bawa usia,"


"Heheheh,"


Akhirnya Jhico lah yang mengeringkan tubuh Adrian karena Adrian menolak. Setelah itu mereka naik ke lantai empat puluh dua dimana unit apartemen nya berada.


"Beruntungnya Uncle ingat melepas baju dan celana sebelum berenang,"


"Beruntungnya juga Uncle mengenakan kaus tidak berlengan dan celana lain jadi bisa dipakai berenang," tambah Adrian seraya terkekeh.


Jhico berenang menggunakan kaus tidak berlengan dan celana pendek sebagai busana untuk bagian dalamnya. Dan busana luarnya seperti celana kargo serta baju kaus sempat Ia lepas dulu meskipun Ia cemas sekali karena tiba-tiba saja Adrian diam di dalam permukaan air seperti tenggelam.


Sampai di tempat yang dituju, mereka dibukakan pintu oleh Bibi. Wanita itu tersenyum mendapati Adrian dan Jhico yang memang sudah ditunggu-tunggu kehadirannya oleh Devan dan Lovi.


Sepasang suami istri itu akan mengajak ketiga anaknya pulang tapi Adrian belum juga kembali ke apartemen.


"Kamu berenang terlalu lama, Adrian."


"Tadinya mau lebih lama lagi, Mom."


"Kamu bisa sakit nanti. Besok harus sekolah,"


"Dia mengerjai aku tadi. Tiba-tiba diam di permukaan air. Aku kira dia tenggelam. Saat aku sudah melepas baju dan celana, dia tertawa kencang sekali sampai aku yang sedang khawatir dibuat terkejut tapi lega juga karena dia tidak apa-apa,"


"Adrian....Adrian... siapapun kamu kerjai. Jahil sekali,"


"Supaya Uncle mau berenang, Dad. Tadinya Uncle hanya diam saja di tepi kolam renang. Kalau aku pura-pura tenggelam, Uncle pasti turun ke kolam. Ternyata benar dugaanku,"


Devan mengacak pelan rambut putra keduanya. Lalu Ia memanggil Andrean dan Auristella yang bersama Vanilla dan Grizelle di playground.


"Kami pulang dulu. Terimakasih sudah menerima kehadiran anak-anakku di sini dan mengizinkan mereka bermain dengan Griz,"


"Seharusnya aku dan Jhico yang mengucapkan terimakasih pada kalian, Lovi. Dengan kehadiran mereka bertiga, Griz senang sekali."


"Besok ke sini lagi ya, Mom?"


"Besok? cepat sekali datang lagi ke sini,"


"Tidak apa, tidak ada yang melarang juga. Ini apartemen milik Uncle dan Aunty ku,"


Adrian menjawab tak acuh. Ia merasa bebas ingin ke sini karena memang tidak ada yang melarang, baik Jhico maupun Vanilla sendiri. Justru sambutan mereka setiap Ia datang ke sini sangatlah hangat karena dengan kehadirannya Grizelle punya teman.

__ADS_1


"Aunty, kapan Griz punya adik lagi? Semoga saja adik nya Griz nanti laki-laki,"


"Aduh, Adrian. Entah kapan ada adiknya Griz. Griz saja masih kecil begini," Vanilla menggeleng belum sanggup. Memory saat melahirkan saja masih terbayang-bayang di kepalanya. Rasa sakit yang Ia alami juga masih terasa nyata padahal sudah berlalu.


"Doakan saja secepatnya ya, Adrian."


"Okay, aku doakan selalu, Uncle."


Vanilla melotot pada suaminya. Kalimat Jhico seperti mengisyaratkan bahwa tidak lama lagi Jhico akan mewujudkan keinginan Adrian.


********


"Jhi, kalau aku tidak lanjut kuliah lagi, boleh ya?"


"Memang kenapa? aku mau kamu menyelesaikan pendidikan dengan baik, Nilla,"


"Tapi, lebih baik aku menghabiskan waktu bersama kamu dan Griz. Uang untukku kuliah juga lebih baik untuk menambah tabungan masa depan Griz,"


"Jadi sebenarnya kamu tidak ingin melanjutkan kuliah karena masalah uang?"


"Ti---ti--tidak, Jhi. Tapi---"


"Aku sudah pernah katakan padamu, terima apa yang aku beri. Kamu tidak usah pikirkan masalah keuangan. Sudah kewajibanku untuk menghidupi kamu dan Griz. Aku ingin memfasilitasi semua keperluan kalian berdua salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan itu penting, selain untuk diri kamu sendiri, penting juga untuk Grizelle memiliki Ibu yang cerdas..."


Vanilla melihat kesungguhan di mata suaminya. Jhico begitu tulus menyayanginya. Bahkan tidak ingin Ia merasa kekurangan padahal kondisi Jhico yang tidak turun langsung ke klinik saat ini jelas saja mempengaruhi penghasilan Jhico tapi Jhico tetap berusaha untuk mencukupi.


"Orangtuamu mati-matian merawat kamu sejak dalam kandungan karena kamu berlian bagi mereka. Tidak mudah melepaskan kamu untuk menikah denganku. Maka aku harus memberikan yang terbaik untukmu,"


Benar dugaan Vanilla saat bicara dengan Devan tadi. Jhico pasti tidak setuju dengan keputusannya yang ingin berhenti kuliah dan lebih memilih fokus untuk menjadi seorang Ibu serta istri.


"Kalau kamu terus-terusan membahas uang, jujur saja aku merasa sedih. Tadi, aku tahu kenapa kamu tidak jadi perawatan. Pasti karena menurutmu perawatan itu akan menghabiskan uang,"


"Memang aku sedang malas saja untuk perawatan,"


Jhico terkekeh pelan seraya menggeleng. Ia tidak percaya dengan istrinya yang menjawab dengan santai itu. Ia tahu Vanilla sedang berusaha untuk tidak membuat hatinya tersinggung.


"Maaf kalau membuat kamu sedih. Aku yakin kamu masih sangat mampu menghidupi aku, tapi apa salahnya aku membantu dengan cara berhemat. Saat Aku ingin bekerja, kamu melarang,"


"Sejak hidup denganku, kamu memang sudah hemat, Nilla."


"Itu bagus. Setidaknya kamu membawa pengaruh baik untuk hidupku. Dulu, aku tidak kenal yang namanya hemat,"


 --------


Nilla mikirnya Jhi udh jatoh sejatoh jatoh nya yaaa. Pdhl duwidd Jhi mah buanyaakk Vanilla sendiri jg tau krn duid suami, duid istri 😂😂 tp jiwa emak-emak ank satu yg hemat dlm diri Vanilla meronta meskipun isi ATM msh mayaann. Jhi kan gk borozzz dr msh bujang. Beda sama Vanilla yg borozzzz syekaleee kek akyu. Onty-onty nya Griz yg baca ini ada yg borozz jg?

__ADS_1


ADDICTED UP GUYSS. MAU UP TIAP HARI? KENCENGIN LIKE & KOMEN YAKK. MAACIW🙏


__ADS_2