
"Oh my god, begah sekali perutku,"
Vanilla bersandar di kursi seraya mengusap-usap perutnya yang terasa sangat penuh. Penuh karena Ia terlalu banyak minum. Mulutnya terasa panas akhirnya Ia menggunakan minum sebagai penolongnya.
"Jhico dimana ya? kenapa belum pulang,"
Vanilla segera berjalan ke kamar. Ia melihat Grizelle masih tidur. Lalu perempuan itu mengambil ponselnya di nakas.
Dan Ia kembali lagi ke balkon. Vanilla menelpon Jhico untuk menanyakan keberadaannya.
"Hallo, Nilla."
"Belum selesai?"
"Sudah, aku akan pulang sekarang,"
"Okay, hati-hati ya,"
"Griz dimana?"
"Tidur, Griz masih menangis sampai apartemen. Lalu aku susui dan tak lama Griz tertidur,"
"Oh kasihan anakku. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya,"
******
Thanatan memasuki balroom hotel dimana pesta pernikahan anak dari rekannya berlangsung.
Banyak dari orang di sana menyapa nya. "Karina tidak ikut? atau kalian lagi ada masalah?" tanya salah satu rekannya dengan nada canda. Thanatan menimpali dengan tawa kecil.
"Menemani anakku ke rumah sakit,
"Oh Jhico sakit? anak kuat itu bisa sakit juga? dia tahan banting dengan kearoganan ayahnya, sekarang hal apa yang membuat Ia sakit?"
"Kecelakaan,"
"Ya Tuhan, semoga cepat pulih. Sampaikan salamku untuk Jhico. Maaf belum bisa menjenguknya karena aku juga baru pulang dari mengurus pekerjaan di negeri orang,"
"Iya, akan aku sampaikan. Terimakasih atas doanya untuk putraku,"
Thanatan selalu bangga bila menyebut 'putraku' karena memang Ia akui, Jhico selalu membuatnya bangga dengan caranya sendiri.
Hampir dari semua rekannya tahu bahwa Jhico adalah korban keegoisan Thanatan tapi Ia berhasil untuk membuktikan bahwa Ia bisa sukses sekalipun tidak menjadi apa yang diinginkan Thanatan.
Mereka tahu bahwa Thanatan adalah orang yang begitu arogan bahkan dengan anaknya sekalipun, disamping Ia merupakan sosok yang bijaksana dan disiplin terutama dalam hal pekerjaan.
Thanatan memberikan ucapan selamat kepada mereka yang akan menempuh perjalanan baru yaitu kehidupan rumah tangga.
"Terimakasih sudah menyisihkan waktu untuk hadir ke pernikahan anakku. Sampaikan salamku pada Karina dan Jhico ya," ujar orangtua dari pengantin perempuan, yang tak lain adalah rekan kerjanya yang cukup dekat dengannya.
Usai bertemu dengan pengantin, Ia langsung bergegas pulang. Kalau Ia pergi bersama Karina, pasti Karina akan marah kalau Ia mengajak pulang cepat-cepat sebab Karina ingin berbincang dulu dengan rekan-rekan Thanatan terutama dengan istri mereka. Jarang bisa berkumpul dan berbincang kalau tidak di acara-acara seperti ini.
*******
"Kakak dokter, jadi sekarang Kakak dokter tidak bekerja ya?"
"Aku tidak datang ke klinik tapi tetap memantau,"
"Aku akan merindukan klinik kalau begitu. Biasanya setelah aku periksa rutin, aku sering ke klinik Kakak dokter,"
"Sekarang kalau mau bertemu dengan aku, datang saja ke apartemen. Kamu bisa bermain dengan Grizelle juga kalau di sana,"
__ADS_1
"Iya, aku seperti punya adik perempuan. Grizelle menggemaskan sekali seperti boneka,"
"Bukan seperti joker lagi? katamu begitu tadi,"
"Hahahha tidak, joker seram. Tapi kalau Griz cantik. Aku jujur, Kakak dokter,"
"Ya, aku tahu. Anakku memang cantik bahkan sangat cantik. Terimakasih atas pujiannya,"
"Yang seharusnya mengucapkan 'terimakasih' adalah Griz,"
"Dia belum bisa bicara,"
"Ya sudah, nanti saja dia ucapkan itu setelah bisa bicara,"
Di dalam mobil celotehan Grizelle menjadi penghibur untuk Karina dan Jhico apalagi saat ini mereka sedang diserang kemacetan meskipun tidak terlalu parah.
*******
Vanilla membawa mangkuk dan gelas kosong yang tadi Ia pakai ke dapur untuk Ia basuh. Setelah itu, Ia kembali lagi ke kamarnya menemani Grizelle tidur. Tadinya Ia ingin menonton bersama Bibi di ruang tengah. Tapi Ia khawatir meninggalkan Grizelle sendirian di kamar terlalu lama.
Sembari menemani Grizelle terlelap, Vanilla memutuskan untuk mengulas materi-materi kuliahnya. Jujur Ia rindu dengan kuliah. Tapi saat ini Ia masih meliburkan diri usai melahirkan.
Vanilla berkutat dengan laptop tanpa mengganggu Grizelle yang lelap sekali tidurnya.
"Aku rasa setelah kembali kuliah nanti, otakku beku karena sudah hampir dua bulan tidak diajak berpikir. Astaga, susahnya jadi orang bodoh. Tidak kuliah sebentar saja, otak terasa beku," gumamnya mengejek diri sendiri. Diajak mengingat materi sebelumnya saja susah minta ampun. Apalagi kalau sudah bertemu materi baru nanti. Pasti kecepatan otaknya dalam mencerna semakin buruk.
Cklek
"Nilla..."
Vanilla menoleh saat Ia mendengar suara pintu kamar dibuka dan juga Jhico yang memanggilnya.
"Secara keseluruhan sudah baik,"
"Ya, aku bisa melihat itu,"
Gayanya saat mengucapkan itu seperti seorang dokter dan Jhico terkekeh dibuatnya.
"Griz belum bangun juga. Kamu sedang apa?"
"Mengulas materi kuliah. Ternyata aku sudah lupa, Jhi. Astaga, bagaimana ini? otakku memang benar-benar menyebalkan,"
"Makanya diulas setiap hari,"
"Iya, kemarin-kemarin aku malas sekali buka laptop,"
"Kalau sudah punya kesibukan lain memang begitu, Nilla,"
Jhico berganti baju lalu bergabung ke atas ranjang bersama Istri dan anaknya. Vanilla menepuk paha suaminya yang mencium Grizelle.
"Awas saja kalau Griz bangun,"
"Aku hanya menciumnya, kenapa tidak boleh?"
"Nanti saja kalau dia sudah bangun,"
"Aku inginnya sekarang,"
"Erghh terserah lah. Keyfa sudah pulang?"
"Oh iya, Astaga. Dia masih ada di sini,"
__ADS_1
Jhico bangkit dari ranjang seraya menepuk keningnya. Ia membiarkan Keyfa hanya dengan Bibi. Sementara Karina sudah pulang usai mengantarnya kembali ke apartemen.
"Griz dimana, Kakak dokter?"
"Griz sedang tidur,"
"Aku ingin pulang sekarang,"
"Okay, sebentar. Aku hubungi Ayahmu dulu untuk menjemput,"
Keyfa mengangguk menunggu kedatangan ayahnya yang sedang dihubungi Jhico. "Keyfa, mau pulang sekarang?" tanya Bibi, teman mengobrolnya tadi.
"Iya, Bi."
******
Vanilla keluar dari kamar mandi usai menuntaskan rasa mulasnya. Ia meringis seraya mengusap perutnya.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak makan pedas jadi perutku kaget setelah aku beri ramen yang benar-benar pedas,"
Jhico memasuki kamar usai Keyfa pulang. Ia menutup pintu dan menatap Vanilla yang berdiri di depan pintu kamar mandi. "Kenapa? sakit perutnya?"
"Tidak,"
"Yang benar?"
"Iy---"
Prutt
Vanilla melotot kaget saat sesuatu keluar dari bagian bawah tubuhnya. Jhico langsung menjauh dengan raut wajahnya yang aneh.
Vanilla tertawa melihat itu. "Maaf, Jhi. Aku tidak sengaja mengeluarkan gas. Gas nya tidak izin dulu denganku,"
"Sejak kapan gas bisa minta izin?"
"HAHAHAHA,"
Vanilla terbahak saat suaminya mendumal. "Seharusnya kamu bersyukur. Dengan aku membuang gas di dekatmu seperti ini, artinya tidak ada lagi yang aku tutupi dari kamu. Baik buruknya aku sudah kamu ketahui semua,"
Jhico membuka pintu balkon guna menetralisir hidungnya yang baru saja diracuni oleh aroma tidak sedap.
Tawa Vanilla tidak terkendali lagi beruntung nya buah hati mereka tidak terbangun dari tidurnya.
"Jhi, maaf ya. Aku tidak sengaja,"
"Iya, tidak apa, Nilla."
Vanilla segera mendekati suaminya lalu memeluk Jhico dari belakang masih dengan tawa yang belum reda. Jhico pasrah sekali lebih tepatnya Ia memahami setiap kekurangan pasangannya salah satunya tidak protes bila Vanilla tidak sengaja membebaskan gas dari tubuhnya.
Pruttt
Vanilla langsung melepas lingkaran tangannya di pinggang Jhico lalu Ia mencubit punggung Jhico.
Jhico berbalik dengan tawa kecilnya. "Aku juga tidak sengaja mengeluarkan gas. Maaf, ya. Kamu tidak boleh protes. Tadi saat kamu buang gas sembarangan, aku tidak protes,"
 --------
Dua-dua nya sama aj yak😂😂 pasangan semprul wkwkwk. Maapin yak kl ada yg jijay dgn scene di atas (scene tentang pruttt alias KENTUT)😂😂😂😂
ADDICTED BELUM UP KRN LIKE & KOMEN DIKIT DAN AKU JUGA LAGI MAGERRRR. NNTI AKU UP KL UDH MOOD AWOKWOK😂
__ADS_1