Nillaku

Nillaku
Nillaku 27


__ADS_3

Kedatangan Hawra pagi ini membuat Vanilla bingung. Ia menyambut dengan canggung. Tidak ada Jhico yang membantunya keluar dari situasi kurang nyaman ini. Mengingat mereka pernah terlibat pembicaraan serius tempo hari dan berujung Hawra yang menangis, sehingga membuat Vanilla tidak tahu harus kembali memulai semuanya darimana.


"Nek, mau minum apa?"


"Boleh Nenek minta minum di sini?"


Hawra tersenyum melihat gestur aneh istri dari cucunya itu. Ia menggeleng pelan.


"Kita baik-baik saja sebelumnya. Bahkan seperti teman. Kenapa sekarang terasa berubah ya?"


"Aku takut salah bertindak lagi, Nek." Vanilla hanya bisa menjawab dalam hati. Peringatan Jhico akan diingat sampai kapanpun. Mungkin Vanilla terlalu berlebihan. Namun ketakutan akan membuat kesalahan lagi terhadap wanita tua ini benar-benar membuat Vanilla kaku.


"Jhico sangat menyayangi Nenek. Terkadang sikapnya dalam menjaga Nenek memang berlebihan. Jadi apapun yang dikatakannya, tolong jangan terlalu kamu pikirkan,"


Vanilla mengangguk patuh. Ia kembali bertanya hal yang sama seperti sebelumnya. Dan Hawra menjawab, "Nenek ingin teh saja."


Sembari menunggu Vanilla membuat teh di dapur, mata Hawra menjelajahi apartemen cucunya. Selalu seperti ini kondisinya. Tertata baik dan cukup bersih.


Vanilla memijat pelipisnya bingung. Selama menikah dengan Jhico, bisa dihitung dengan jari Ia memasuki area dapur. Ia tidak tahu dimana letak teh dan gula! karena Jhico yang selalu membuatnya.


Vanilla meraba kabinet dapur satu persatu. Membuka pintunya dengan pelan, takut-takut barang di dalamnya keluar dan terjatuh lalu suaranya memekik nyaring. Kalau ini di mansionnya sendiri, tidak masalah bila ada barang yang terjatuh lalu pecah. Ini di tempat orang lain, dan ada Hawra juga. Vanilla akan kebingungan meletakkan wajahnya dimana bila rasa malunya sudah keterlaluan.


"Ah, dapat juga akhirnya." gumamnya dengan perasaan lega. Setelah menutup pintu kabinet, Vanilla mulai meraih mug dan gula.


Bunyi bel terdengar sehingga membuat Hawra menoleh. Wanita tua itu segera bangkit untuk membuka pintunya.


Di sana, berdiri seorang perempuan berseragam khas bagian kebersihan di apartemen ini dengan satu alat pembersih di kedua tangannya.


"Maaf, Nyonya. Aku datang untuk membersihkan apartemen, seperti biasa."


"Oh, ya. Silahkan kalau begitu,"


Hawra menyingkirkan tubuhnya sedikit agar perempuan itu masuk ke dalam dan melakukan tugasnya.


"Sepertinya kita pernah bertemu beberapa kali,"


"Saya menjadi petugas kebersihan untuk beberapa unit apartemen di sini, Nyonya. Salah satunya adalah milik Tuan Jhico,"


Hawra menganggukan kepalanya seraya memperhatikan orang itu mulai mengangkat permadani yang ada di depan televisi untuk membersihkan lantainya.


"Selama Jhico menikah, kamu tetap membersihkan ruangan ini?"


"Ya, Nyonya."


"Aku kira Vanilla yang sudah mengambil alih tugasnya," gumam Hawra sangat pelan.


"Ada apa, Nyonya?" Rupanya suara Hawra sampai di telinga Aneth, begitulah tulisan yang terpampang di papan namanya.


Hawra memejamkan matanya seraya menggeleng. Tentu saja Jhico tidak membiarkan Vanilla membersihkan apartemen ini. Kondisi Vanilla tidak memungkinkan. Hawra baru ingat, bahwa Ia tidak bisa menyamakan Vanilla dengan gadis lain yang mungkin bisa dengan mudah melakukan tugas seorang istri karena kondisi mereka baik.


Ia tidak bisa menegur selagi Vanilla belum sembuh. Ia memang berharap yang terbaik untuk sang cucu. Tapi Bukan berarti Ia bisa bebas melakukan aksi protes tanpa memikirkan perasaan Vanilla. Hawra akan membimbing Vanilla dengan cara sehalus mungkin.


"Nek, ini tehnya. Maaf, aku lama membuatnya,"


"Tidak masalah, Vanilla. Terima kasih sudah menyambut Nenek dengan baik,"


Ada suara lain dari balik gordyn. Vanilla belum tahu kalau ada Aneth yang tengah membersihkan bagian dalam jendela.


"Aneth sedang melakukan tugasnya. Lebih baik kita ke ruangan lain saja. Biarkan Aneth di sini,"


Vanilla mengikuti Hawra yang membawanya ke ruangan kosong apartemen ini, letaknya di depan kamar Vanilla dan Jhico. Hanya ada sofa dan perapian. Biasanya tempat ini juga digunakan Jhico untuk bersantai.


****

__ADS_1


"Jhico, kamu tidak makan dulu? sedari tadi ke ruangan pasien lalu kembali lagi ke sini,"


Jhico enggan menoleh. Ia kembali fokus pada buku di tangannya. Bila ada sedikit waktu luang, Jhico menggunakannya untuk membaca buku kalau Ia sudah bosan bermain game di ponselnya.


"Aku akan makan nanti,"


"Kalau kamu malas mencari makan di rumah sakit, kenapa tidak meminta dibuatkan bekal oleh istrimu?"


Denaya tahu bahwa Jhico memang tipe orang yang malas untuk mencari-cari makan ditengah pekerjaannya. Sesekali saja Jhico melakukan itu bila kebetulan Ia diajak temannya atau memang sudah terlalu lapar. Kalau masih bisa ditahan, lebih baik Ia menyelesaikan pekerjaannya dulu baru kemudian makan. Bisa di restoran atau memasak begitu sampai di apartemen.


Tapi setelah ada Vanilla, Jhico lebih suka pilihan kedua. Jhico memang laki-laki yang terkadang melupakan kesehatannya. Tapi Ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Bahkan tidak makan seharian pun tidak masalah. Kalau ada waktu kosong ditengah kesibukannya, Jhico lebih memilih untuk istirahat daripada mengisi perutnya.


Dia memang dokter yang payah. Meminta orang lain untuk menjaga kesehatan mereka, tapi kesehatan sendiri tidak dipedulikan.


"Aku akan makan bersama Vanilla nanti,"


"Kenapa tidak sekarang? kamu terlalu sering menunda,"


"Aku masih harus bekerja sampai satu jam kedepan. Sudah, jangan ganggu aku!"


"Saat ini kamu memiliki waktu luang, lebih baik makan daripada membaca buku,"


"Kenapa kamu tidak urus pasienmu saja? jangan karena terlalu sibuk dengan urusanku, kamu sampai lupa dengan kewajiban,"


"Tenang, semuanya sudah aku tangani,"


Jhico tidak tertarik untuk menanggapi lagi. Interaksi mereka memang sudah biasa saja, layaknya teman. Namun Jhico sudah tahu batasan yang tercipta setelah Ia memiliki Vanilla. Lebih baik menjauh agar semuanya baik-baik saja. Bukan hanya tentang hubungannya dengan Vanilla saja. Biar bagaimanapun Jhico harus menghargai pujaan hati Denaya.


*****


"Nillaku, nanti sahabatku ingin datang ke sini. Kalau kamu tidak nyaman, diam saja di kamar ya?"


"okay,"


"Jangan keluar dari kamar hanya dengan mengenakan ini. Kalau perlu sesuatu di dapur, katakan saja padaku,"


Vanilla merasa tidak nyaman saat Jhico membenarkan letak tali baju yang dipakainya setelah mandi sore tadi.


"Kamu yang menyiapkan ini. Kamu lupa?"


"Oh ya, tadi aku tidak ingat dengan rencanaku dan mereka semua sampai mengambil baju secara asal untukmu. Sekarang, ganti saja bajunya!"


Sebenarnya bukan asal. Tapi Jhico penasaran dengan rupanya tubuh Vanilla setelah mengenakan pakaian yang menurut Jhico lumayan terbuka itu. Sementara untuk Vanilla, ini tidak ada apa-apanya. Karena dulu, Ia sering mengenakan yang lebih dari ini. Namun, kenapa sekarang rasanya tidak nyaman? apa karena Jhico? tetapi biasanya Vanilla santai saja bila dilihat oleh banyak mata laki-laki nakal. Ia sebebas itu dulu dan semua orang tidak akan merasa heran.


Panjang baju yang dipakai Vanilla juga terbilang sopan, karena mencapai jauh ke bawah lutut. Ukuran tali di pundaknya juga tidak terlalu kecil. Sekitar tiga ruas jari tangan. Tapi percaya atau tidak, reaksi yang ditunjukkan tubuh Jhico tidak bisa dibilang biasa saja.


"Posesif, heh?"


"Iya, aku tidak terima bila semua yang ada pada diri kamu, bisa disaksikan oleh orang selain aku,"


****


"Kebohongan apa yang ada pada dirimu sekarang? Kau dapat truth!"


"Tidak ada,"


Dante menatap sahabatnya yang baru menikah itu dengan pandangan tidak percaya. Riyon melempari Jhico dengan bantal yang ada di atas sofa.


"Cepat jawab!"


"Aku sudah menjawabnya,"


"Coba ingat-ingat dulu. Barangkali kamu sedang menutupi sesuatu dari orang lain,"

__ADS_1


Jhico benar-benar berpikir keras, mengingat-ingat sesuatu yang mungkin hanya Ia sendiri yang tahu.


"Oh, aku ingat!"


"Apa-apa? cepat!" Tiano berseru tidak sabaran. Melihat orang lain jujur adalah sesuatu yang menyenangkan. Walaupun Ia sendiri kerap berbohong, terutama bila terlambat menepati janji dengan pujaan hati.


"Aku--"


"Sebenarnya aku sedang berbohong sekarang. Dengan Vanilla,"


"Huh?!"


"Apa yang kau sembunyikan dari dia? jangan macam-macam, Jhico! ingat, kalian sudah menikah. Aku kira, kau tidak akan sejahat itu menutupi sesuatu dari istrimu sendiri,"


Jhico terkekeh ditengah rasa bingungnya. Apa maksud ucapan Tiano sebenarnya? memang kebohongannya sebesar apa sampai mereka panik seperti ini?


"Aku menyembunyikan ponsel Vanilla,"


"Apa?! maksudmu? kau kurang pekerjaan atau bagaimana sampai-sampai mencuri ponsel istri sendiri,"


"Bukan mencuri! aku hanya menyembunyikannya karena dengan ponsel itu, dia bisa berkomunikasi dengan siapapun tanpa sepengetahuanku,"


"Oh, jadi kau pernah cemburu hanya karena ponsel?"


"Ya, aku mengakuinya. Aku tidak suka bila dia terlalu dekat dengan laki-laki lain,"


"Bicarakan baik-baik, bodoh! jangan seperti anak kecil. Kau pikir dia tidak membutuhkan ponsel? dan Vanilla juga bodoh sekali. Kenapa dia tidak membeli yang baru? uangnya bahkan lebih dari cukup untuk membeli sendiri tanpa meminta padamu,"


"Hmm, dia memang sebodoh itu."


Jhico saja yang tidak tahu kalau Vanilla sudah menggenggam ponsel lain miliknya yang Ia ambil di kamar saat berkunjung ke mansion kemarin. Vanilla tidak hanya memiliki satu, tentu saja. Mengingat dia pernah bekerja sebagai gadis yang begitu aktif di sosial media sehingga memiliki lebih dari satu ponsel adalah sebuah kewajiban baginya. Untuk bekerja menggunakan ponsel lain, dan untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman pun lain lagi.


Cklek


Vanilla keluar dengan langkah terbata seperti biasanya. Gadis itu mencuri perhatian Jhico dan teman-temannya yang sedang sibuk bermain truth or dare.


"Nillaku, kamu perlu sesuatu?"


"Aku ingin menerima makanan yang aku pesan dengan online tadi,"


Kening Jhico mengerinyit, butuh waktu beberapa saat untuk mencerna kalimat Vanilla. Sementara ketiga temannya sudah menahan tawa.


"Ternyata hanya kamu yang bodoh, Co."


Rupanya Jhico tidak salah dengar. Dante mengejeknya seperti itu tidak mungkin tanpa sebab. Pasti karena tahu, kalau Vanilla sudah kembali memiliki ponsel.


"Sebentar ya,"


Vanilla berjalan ke arah pintu yang sudah diketuk oleh seseorang di luar sana. Sementara Vanilla menerima pesanannya, Dante, Tiano, dan Riyon puas tertawa.


"Percuma kau sembunyikan. Ternyata dia ada yang lain,"


Jhico memaki Riyon yang berbisik padanya. Menyebalkan sekali mereka. Tapi yang lebih menyebalkan adalah Vanilla! kenapa dia tidak mengatakan hal itu sejak tadi? dia lupa atau memang tidak ingin memberi tahu Jhico?


----------


SIANG GENGSSS🙋MAKASIH YAAA UDH DUKUNG NILLAKU SAMPAI SEKARANG. LOPYU💙


KOMEN DI BAWAH, PAS DAPET NOTIF INI KALIAN LG APA? MAKAN, NONTON, KERJA, CEKULAH, MASAK, ATAU ANGKAT JEMURAN?🤣



RAMEIN KOLOM KOMEN SKUYY!!!

__ADS_1



__ADS_2