
"Mumu, kalau bisa setiap harrli (hari) jemput aku ya,"
"Iya, Sayang,"
Grizelle mengangguk puas setelah mendapat jawaban itu dari Ibunya saat sarapan.
Tak diminta pun Vanilla selalu menyempatkan diri untuk datang ke sekolah anaknya. Apalagi kalau anaknya sudah meminta seperti itu.
Setiap mendekati waktu pulang sekolah Grizelle, Vanilla sudah berangkat. Terkadang menyetir seorang diri, tak jarang juga meminta disupiri oleh driver. Biasanya bila Ia mengendarai sendiri, karena ingin singgah dulu sebelum pulang ke rumah. Seperti Grizelle yang pada pagi harinya meminta untuk pergi ke tempat bermain usai pulang sekolah, atau pergi ke pusat perbelanjaan.
Hari ini mereka langsung pulang ke rumah. Setelah itu makan siang bersama. Dan kemudian menonton film.
"Mumu besok kita memperbarrlui (memperbarui) rrlambutku (rambutku) ya?"
"Setelah Griz sekolah?"
"Iya, benarrl (benar), Mu,"
"Mau diperbarui seperti apa? bukankah Griz mau rambutnya diperpanjang saja? sekarang masih pendek sehabis di potong waktu itu,"
"Aku mau diperrrlcantik (dipercantik) saja," katanya yang membuat Vanilla menahan senyum gelinya. Grizelle seperti perempuan remaja yang sedang gila-gilanya dengan penampilan.
"Sebenarrlnya (sebenarnya) aku mau diwarrlnai (diwarnai) seperrlti (seperti) itu, Mu," Grizelle menunjuk seorang wanita di televisi.
"Tapi sepertinya tidak dibolehi Pupu," ucap Vanilla yang langsung diangguki anaknya itu.
"Iya, Mu,"
Waktu itu Grizelle pernah meminta diwarnai pink seperti rambut barbie namun Jhico tak mengizinkan. Grizelle rasa, saat ini pun demikian.
"Padahal rrlambut (rambut) pink itu bagus, cantik,"
"Tapi belum waktunya Griz diwarnai seperti itu. Biar rambut Griz natural saja,"
"Lalu kapan waktunya, Mu?"
Vanilla mengangkat bahunya, Jujur Ia tidak tahu. Sepertinya Jhico belum siap melihat perubahan dari rambut anaknya yang begitu mencolok selain dari potongan rambutnya. Sekalipun diwarnai mungkin inginnya Jhico tak warna pink juga.
"Besok jangan lupa datang ya, Mu,"
"Iya, Sayang. Mumu ingat,"
"Iya, jangan sampai lupa. Karena nanti aku sedih kalau Mumu sampai lupa,"
"Pasti Mumu datang,"
"Yeayy Mumu temani aku cooking class," Grizelle mengangkat tangannya seraya bersorak senang. Esok ada kegiatan di sekolahnya yaitu cooking class bersama Ibu.
Ia berharap sekali Vanilla tak pernah absen lagi dari acara yang penting untuk kian mempererat hubungan antara anak dan ibu yang memang sengaja dibuat oleh pihak sekolah itu. Vanilla pernah tidak hadir karena kesibukannya. Dan Grizelle berharap Vanilla tak mengulanginya lagi. Karena Ia benar-benar sedih bila ibunya itu tak datang menemaninya. Semua teman-temannya datang bersama ibunya lalu mereka masak bersama. Ketika Vanilla tidak datang, perasaannya hancur sekali. Namun begitu pulang ke rumah dan setelah Vanilla pulang, Ia terlihat baik-baik saja. Vanilla tidak ingat dengan acara itu. Sampai di rumah Ia bertemu Grizelle yang terlihat baik-baik saja maka semakin lupa lah Ia bahwa ada acara. Sampai akhirnya Jhico yang memintanya agar meminta maaf pada Grizelle. Saat itulah Vanilla ingat bahwa Ia telah absen dari acara tersebur padahal sebelumnya Ia telah janji akan hadir.
"Permisi, apakah kedatangan saya mengganggu?"
__ADS_1
Raihan berjalan pelan di belakang mereka yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Setelah itu Ia berujar tiba-tiba yang membuat sepasang anak dan ibu itu menoleh terkejut.
"Grrlandpa?"
Grizelle segera menghampiri kakeknya yang tiba-tiba datang. Kemudian menghambur dalam pelukan sang kakek.
"Grrlandpa tiba-tiba datang. Ada apa?"
"Oh, jadi Grrlandpa tidak boleh datang?"
Raihan melepas pelukan. Lalu memasang raut sedih mendengar cucunya bicara seperti itu.
"Bukan tidak boleh, Grrlandpa. Tapi aku hanya berrltanya (bertanya),"
"Benarkah? bukannya karena tidak senang Grandpa datang?"
"Hah kata siapa aku tidak senang?"
"Oh ternyata senang,"
"Iya, tentu saja, Grrlandpa,"
"Grandpa datang ke sini karena ingin membawa kucing Grandpa yang sudah selesai sekolah,"
"Woahh sudah selesai sekolah?"
"Sudah, ada di mobil Grrlandpa"
"Kenapa tidak dikeluarrlkan (dikeluarkan)?"
Grizelle segera berlari ke garasi mobil untuk menghampiri mobil kakeknya.
Saat Raihan akan menyusul sang cucu, Raihan mendengar Vanilla mendengus dan mencibir.
"Sampai lupa menyapa anaknya sendiri. Begitu datang langsung cucunya yang dipeluk,"
Raihan terkekeh dan kembali berbalik untuk menghampiri putrinya.
Ia mengacak lembut rambut Vanilla yang merengut menatapnya. "Lupa ya ada aku di sini, Pa?"
Raihan tertawa mendengar sindiran anaknya itu. Ia menggeleng, "Tidak mungkin Papa melupakan mu, putriku satu-satunya,"
"Tapi tadi tidak menyapaku,"
"Kalau sudah punya cucu memang begitu, Van. Cucu yang nomor satu,"
Vanilla merengut mendengarnya. Memang itu yang Ia rasakan. Bukan orangtuanya bermaksud untuk menghiraukan tapi memang anaknya lah yang utama.
"Apalagi nanti kalau sudah lahir yang kedua,"
"Nah itu dia. Kamu siap-siap ya makin terbelakang. Oleh Papa, Mama, bahkan suamimu sendiri,"
__ADS_1
Vanilla merengek mendengar itu. Sepertinya memang itu akan menjadi kenyataan. Tapi tak apa lah. Kehadiran anak keduanya sudah sangat dinantikan terutama olehnya. Justru ia senang karena nantinya sang anak akan mendapat perhatian sepenuhnya dari orang-orang di sekitarnya.
"Tidak apa, aku tidak boleh iri. Justru seharusnya aku senang karena banyak yang menyayangi anakku,"ujarnya sersya tersenyum.
Grizelle kembali dengan membawa satu kotak di tangannya. Ia kelihatan keberatan ketika membawanya. Saat akan diambil alih oleh Raihan, Ia menggeleng tak ingin dibantu.
"Aku mau lihat kucingnya"
Ia membuka pintu dari kotak iu dan hewan berkaki empat dengan bulu halusnya keluar dari dalam sana.
Grizelle berseru senang melihatnya. Ia bertepuk tangan ringan.
"Yeaay kamu sudah selesai sekolah ya. Bagaimana? apa sekarlang (sekarang) kamu sudah pintarrl (pintar)?" Ia mengajak kucing itu bicara. Belum sempat kucing berlari, Ia sudah menahannya kemudian menggendongnya.
"Sudah Grandpa bawa kucingnya ke dalam rumah,"
"Kenapa tidak di biarkan dalam tempat tinggalnya saja, Grrlandpa?"
"Dia sudah pintar. Grandpa bawa ke dalam rumah karena gemas seperti boneka. Tapi terkadang Grandpa kembalikan ke tempat tinggalnya,"
"Dia sudah pintarrl (pintar) ya?"
"Sudah, maka sudah sleesai sekolahnya karena dia sudah pintar,"
"Dia tinggal di sini saja ya, Grrlandpa,"
"Hah? tidak, Griz. Mumu tidak suka, nanti rumah kita jadi kotor," ucap Vanilla pada anaknya.
"Dia 'kan sudah pintar, Mu,"
"Mumu tidak mau ada hewan di sini. Apalagi nanti akan ada adikmu,"
"Tapi adik belum lahir, Mu,"
Vanilla menggeleng tegas. Meskipun anaknya belum lahir tapi tetap tidak ingin ada hewan apapun di kediamannya. Ia takut hewan tersebut juga tidak terurus, maka lebih baik biarkan saja di rumah orangtuanya yang sudah pasti ada orang yang merawat.
"Haaa tapi aku mau, Mu,"
"Griz, memang sebaiknya jangan dulu, Sayang. Mumu sedang mengandung," Raihan memberi pengertian pada cucunya dengan lembut.
"Ya memang kenapa, Grrlandpa?"
"Mumu tidak suka ada kucing di rumah. Maka turuti saja. Dia sedang mengandung,"
"Hmm ya sudah, aku tidak memaksa,"
"Jangan digendong kucingnya. Memang kamu tidak berat?"
"Tidak, Mu. Aku kuat,"
Seraya menggendong, Grizelle mengayun-ayun juga. Layaknya Ia tengah memperlakukan seorang bayi manusia.
__ADS_1
"Aduh, lama-lama berrlat (berat) juga ya," Tak lama mengaku kuat, Grizelle mengeluh juga dengan beban kucing yang Ia timang tadi.
Raihan terkekeh mendengar cucunya yang mengeluh. Meskipun berat badan kucing itu sudah tak lagi berlebihan tapi tetap saja akan berat bila ditimang oleh Grizelle yang masih kecil.