Nillaku

Nillaku
Nillaku 139


__ADS_3

"Pulang lah, Nilla. Aku khawatir dengan Griz di apartemen. Dia mungkin menunggumu,"


"Tidak, aku dapat kabar dari Mama katanya Griz tidur dengan Auris,"


"Ada Auris di apartemen?"


"Iya, ada kedua kakak nya juga bersama Mommy mereka,"


"Griz banyak teman bermain hari ini,"


"Griz tidak rewel, Vanilla?"


Vanilla menoleh ke arah Karina yang sedang membaca artikel di ponselnya. "Tidak, Ma. Dia jarang rewel,"


"Anakku pintar, Ma. Dia mandiri seperti Pupu nya," sahut Jhico seraya tertawa kecil.


Sejak lahir Grizelle terbiasa bersama Vanilla. Tapi setelah Jhico mengalami kecelakaan, Vanilla bisa dibilang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Jhico namun Grizelle mengerti akan hal itu. Ia kerap dijaga oleh neneknya. Saat Ia masih dirawat di rumah sakit, Karina yang menjaganya. Dan saat Ia sudah di apartemen, Rena yang lebih banyak waktu bersama Grizelle.


Pintu ruangan Jhico yang tidak terkunci tiba-tiba saja dibuka dari luar. Ketiga orang di dalamnya menoleh ke arah pintu. Mereka terkejut saat mendapati Thanatan yang datang.


"Ada apa, Pa?" tanya Karina pada suaminya. Karena biasanya kalau Thanatan sudah datang, pasti ada tujuan.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Thanatan pada anaknya, mengabaikan pertanyaan sang istri.


Thanatan memang bertanya mengenai kondisi Jhico, namun beberapa menit kemudian setiap ada celah pasti Ia berkata tajam pada Jhico seolah Jhico baru saja melakukan kesalahan.


"Sudah lebih baik, Pa." jawab Jhico. Kemudian lelaki itu beralih pada Istrinya.


"Kamu tidak pulang?"


Vanilla tahu kenapa suaminya bertanya begitu. Pasti karena Jhico takut Vanilla mendengar perdebatan yang mungkin diciptakan oleh Thanatan.


"Nanti saja, lagipula Griz sedang tidur,"


"Jaraknya lumayan jauh. Mungkin sebentar lagi Griz bangun,"


Jhico masih mengusir sang istri secara halus. Namun Vanilla tetap bertahan di sampingnya. Grizelle bersama dengan Rena. Vanilla tidak begitu khawatir.


"Tapi--"


Cklek

__ADS_1


"KAKAK DOKTER,"


"Keyfa!" Vivi langsung menegur anaknya yang langsung masuk ke ruangan Jhico setelah sebelumnya Ia berseru memanggil Jhico dengan volume suara yang lumayan kencang.


"Maaf, Ibu." ujar anak itu.


Keyfa segera mendekati Jhico. Ia berdiri di depan Vanilla yang duduk di salah satu sisi bangsal Jhico. Sehingga menciptakan jarak antara Vanilla dengan Jhico.


Vanilla berpindah tempat duduk. Masih ada sisi kiri yang kosong dan kenapa Keyfa tidak di sana saja?


Vanilla menghembuskan napas pelan, Ia berusaha untuk tidak mengindahkan rasa tidak nyaman atas kehadiran Keyfa.


"Ingat, Vanilla! dia sudah membantu suamimu keluar dari masa-masa kritis nya," batin Vanilla mengingatkan.


Thanatan duduk di sebelah Karina lalu bertanya, "Siapa dia?"


"Anak yang meminta pada Ibunya agar mendonorkan darahnya untuk Jhico. Dia pernah menjadi pasien Jhico," Karina menjelaskan dengan suara pelan.


Vivi tersenyum menatap Jhico yang beberapa hari lalu sempat tak membuka matanya.


"Jhico sudah lebih baik?"


"Sudah, Ibu. Ini semua berkat Ibu juga,"


"Kakak manis tidak menjaga Grizelle di rumah?"


Vivi menatap anaknya yang bertanya seperti itu pada Vanilla. Menurut sebagian orang mungkin pertanyaan itu tidak bermakna ganda. Keyfa hanya sedang menunjukkan kasih sayangnya terhadap Grizelle yang mungkin dipikirnya sendirian di apartemen. Tapi menurut Vanilla, pertanyaan itu seperti sebuah pengusiran. Entah Vanilla yang terlalu berlebihan dalam memaknai, atau memang kenyataan nya begitu.


"Kakak manis tidak setiap saat di sini," jelas Jhico seraya mengusap kepala Keyfa dengan lembut


"Oh, jadi jarang ke sini ya?"


"Iya, Keyfa. Aku tidak mungkin membiarkan Grizelle sendirian di apartemen. Sekarang ada Grandma dan sepupu nya yang menjaga,"


Thanatan memperhatikan interaksi yang terjadi di depan matanya. Ia tidak tahu sama sekali kalau Keyfa sedekat itu dengan Jhico bahkan tanpa canggung dan ragu sama sekali memutuskan untuk duduk di atas bangsal Jhico dan Jhico juga terlihat tidak keberatan.


"Kapan kita bisa bermain lagi kakak dokter?"


"Aku belum tahu, Key. Aku masih sakit, doakan saja semoga secepatnya ya,"


"Aku selalu mendoakan kakak dokter. Aku sedih melihatmu sakit,"

__ADS_1


Jhico merasa terharu dengan ucapan anak itu. Begitu juga yang dia rasakan setiap kali melihat Keyfa yang memiliki kelainan jantung tiba-tiba saja tumbang.


*******


"Mom, kita menginap di sini saja ya?"


"Lalu Daddy di rumah dengan siapa?"


"Suruh saja Uncle Deni yang temani Daddy,"


"Uncle Deni juga baru memiliki anak. Usianya tidak berbeda jauh dengan Griz. Kamu tahu itu 'kan? Uncle Deni pasti tidak ingin jauh dengan anaknya. Jangan aneh-aneh lah, Adrian."


"Iya, aku tahu Aunty Keynie baru saja melahirkan anaknya setelah Aunty Vanilla melahirkan. Tapi pasti Uncle Deni mau menginap di rumah,"


"Aduh anak ini ada-ada saja. Hey, Uncle Deni punya keluarga," Rena sampai tak habis pikir dengan cucunya yang meminta hal tidak mungkin.


Meski usia kandungan Keynie pada saat itu lebih tua daripada usia kandungan Vanilla, namun yang melahirkan lebih dulu adalah Vanilla karena Vanilla mengalami pecah ketuban sebelum waktunya tepatnya di usia Grizelle yang ke delapan bulan. Deni dan Keynie sedang menikmati masa-masa menjadi orangtua baru. Bagaimana mungkin Deni mau menginap di rumah Devan? memang nya Ia pikir Deni masih belum memiliki anak yang bebas menginap dimanapun? saat belum menikah dulu, Deni memang sering melakukan itu. Sekarang keadaannya berbeda. Deni sudah memiliki tanggung jawab selain dengan Keynie.


"Grandma, Uncle Deni dan Daddy itu sudah jarang sekali bertemu. Mereka seperti bukan sahabat ya. Dulu sering sekali bertemu,"


Lovi dan Rena menggeleng pelan mendengar anak itu berpendapat sendiri. Mulutnya cerewet sekali sampai persahabatan Daddy nya saja dikomentari.


"Jarang bertemu bukan berarti tidak bersahabat lagi. Mereka masih sering berkomunikasi lewat telepon atau pesan singkat. Uncle Deni memang lebih intens bertemu dengan Aunty Vanilla sebelum Aunty Vanilla melahirkan karena mereka terlibat pekerjaan. Tapi kalau ada kesempatan, pasti mereka bertemu. Beberapa kali Uncle Deni datang ke rumah kita. Kamu lupa?"


Lovi menjelaskan pada anaknya agar tidak salah menilai. Kalau Devan dan Deni tidak bersahabat lagi lalu kenapa Deni meminta Vanilla untuk bekerja sama? tentunya karena ada hubungan kedekatan juga dengan Devan yang merupakan kakak dari Vanilla.


"Aku tidak lupa. Tapi Uncle Deni jarang sekali datang ke rumah dan mengajakku bermain. Tidak seperti dulu. Oh mungkin karena sudah punya istri ya? dulu Uncle Deni sering mengajakku bermain mobil-mobilan. Apa Aunty Keynie sering diajak bermain mobil juga?"


Lovi terkekeh mendengar hal itu. Rupanya Adrian yang dulu memang sangat dekat dengan Deni merasa rindu dengan momen dimana Deni sering sekali datang ke mansion lalu mengajaknya bermain sampai terkadang lupa waktu. Momen itu terjadi ketika Adrian dan Andrean masih sangat kecil dan tentunya belum ada Auristella.


"Nanti kalau anaknya sudah besar, dia yang akan menjadi teman bermain mu,"


"Oh iya, anaknya laki-laki."


Senyum mengembang di wajah kakak kedua Auristella itu.


"Akhirnya aku akan punya teman laki-laki. Aku punya adik perempuan, adik sepupu juga perempuan. Huh tidak ada laki-laki. Nanti, aku akan minta pada Aunty Vanilla untuk melahirkan anak laki-laki supaya bisa menjadi temanku juga,"


 


Hellawww semuaa. Kalian nagih up ya biar aku seneng😂😂Ramein komen dgn teror kelean dong gesss. Aku suka diteror bwt up😂 serius deh wkwk. Buat yg kemaren udh neror, maaciw yaakk💙

__ADS_1


WHY bakal up tp aku blm tau kpn :( mood aku bwt nulis belakangan ini ancoorrr bgt. Makanya sempet kemaren tuh jarang up. Aku mohon kalian mengerti ya mantemanku😊Terimakasih untuk dukungannya selama ini. Tetap setia sama karyaku yaaa💙


__ADS_2